Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Thema Khotbah Mimbar Umum
07 Agustus 2011
Ketegangan Dua Nature
Tuhan menciptakan manusia baik sebagai makluk pribadi yang penuh dengan berbagai keinginan, juga sebagai makluk social yang berinteraksi dan penuh dengan batasan2. Sehingga untuk menciptakan komunita yang baik bukanlah sesuatu yang mudah, walaupun harus. Bagaimana merealisasikan?

14 Agustus 2011
Thema Komsel 19 Agust
Komunita yg Memberkati
Salah satu tolok ukur sebuah komunita yang sehat adalah dapat menjadi berkat dan kembali untuk diberkati; walaupun tidak terluput dari berbagai masalah yang hadir di dalamnya
21 Agustus 2011
Berkat bagi “Bangsa-2”
Salah satu janji Tuhan adalah menjadi berkat bagi bangsa-2. Yang harus kita pikirkan bagaimana sebuah komunita dapat bersifat inklusif dan menjadi berkat bagi orang lain di luar komunita tersebut
28 Agustus 2011
Thema Komsel 02 Sept
Christianity & Community
Sekalipun percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat bersifat pribadi, namun pernyataan iman dan bagaimana menghidupi kekristenan tidak pernah terlepas dari sebuah komunitas orang-2 percaya

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Sdr.Daniel Yonathan,Jenik Purwoadi, Pdt.
Sigit Purwadi, Ev. Victor Abednego, Ev.
Antoni, Ev. Sdr. Randy Gunawan, Jhonatan, Ev.

Senin, 01 Agustus 2011
Identitas Seorang Pelayan di Tengah Komunita Orang Percaya
Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, (1Korintus 1:1)
Sebuah studi psikologi menyebutkan bahwa kesadaran atau pemahaman diri yang benar turut membentuk karakter diri dan menentukan perilaku kehidupan seseorang di tengah lingkungan dimana ia berada. Hal yang sama juga berlaku bagi setiap pelayan Tuhan. Bagaimana seorang pelayan bertindak dan mengambil sikap di dalam sebuah komunita orang percaya sangat dipengaruhi oleh seberapa besar kesadarannya terhadap siapa dia sebenarnya.
Dalam 1Korintus 1:1 Paulus menjelaskan bahwa kerasulannya adalah hasil dari panggilan ilahi. Melalui kata “dipanggil”, Paulus ingin menyatakan bahwa dia menerima panggilan dari Tuhan Yesus dan bukan karena keinginannya secara pribadi. Paulus juga menyebutkan “oleh kehendak Allah”. Jika ungkapan “dipanggil” lebih menyoroti aspek proses, ungkapan “oleh kehendak Allah” lebih pada sumber inisiatif dari kerasulan Paulus. Di berbagai kesempatan Paulus menyatakan bahwa inisiatif tersebut bukan berasal dari manusia, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain (Gal 1:1) namun berasal dari Allah sendiri yang sejak dari dalam kandungan telah memilih dia (Gal 1:16-17). Ungkapan “rasul Kristus Yesus” dapat berarti “rasul milik Kristus Yesus” atau juga “rasul yang diutus oleh Kristus Yesus”. Ungkapan ini tampaknya dimaksudkan untuk menekankan bahwa Paulus memiliki tugas kerasulan yang khusus dari Kristus Yesus, yaitu memberitakan Injil. Paulus mengetahui dengan pasti bahwa panggilannya yang terutama dan khusus adalah memberitakan Injil (band. Kis 9:15-16).
Dengan kesadaran bahwa jabatan pelayanannya bersumber dari inisiatif Allah, Paulus ingin menekankan bahwa pelayanan yang ia lakukan bukan berdasarkan kehebatan atau kemampuannya, namun hanya oleh karena Allah sendiri. Oleh karena itu pula, maka sebagai seorang pelayan dia tidak mencari keuntungan materi bagi diri sendiri (Gal 1:10 band. 1Kor 9:12, 15, 18; 2Kor 11:7-9). Kesadaran akan identitas diri seperti ini pula yang hendaknya kita miliki sebagai pelayan-pelayan Tuhan ketika kita ditempatkan ditengah-tengah komunita orang percaya. Kesadaran diri bahwa Allah yang memilih kita—bukan karena kehebatan diri atau inisiatif pribadi—menempatkan kita sebagai pelayan yang rendah hati dan hanya melakukan apa yang Allah—sebagai pihak yang berkehendak memanggil dan mengutus kita—inginkan. Amien. Dan

Selasa, 02 Agustus 2011
Identitas Komunita Orang Percaya di Mata Seorang Pelayan
kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. (1Korintus 1:2)

Selain diperlukan pemahaman terhadap identitas diri, penting bagi seseorang untuk juga memiliki pemahaman yang benar berkenaan dengan orang-orang disekitarnya. Keseimbangan pemahaman yang benar tentang kedua hal ini memungkinkan seseorang untuk memperlakukan diri sendiri dan orang lain dengan tepat.
Setelah Paulus menjelaskan identitas dirinya sebagai penulis (v. 1), sekarang dia memberikan penjelasan tentang identitas penerima suratnya (v. 2). Sekilas kita mungkin menganggap diskripsi ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun Paulus memiliki maksud tertentu mengapa dia memakai penjelasan seperti ini. Dalam dua suratnya yang secara kronologis ditulis sebelum surat 1 Korintus, Paulus memakai diskripsi “jemaat Tesalonika dalam Allah” (the church of the Thessalonians in God, 1Tes 1:2; 2Tes 1:1). Namun berbeda dengan itu, dalam 1Korintus 1:2 ini Paulus memilih “jemaat Allah di Korintus” (the church of God in Corinth, lihat juga 2Kor 1:1). Melalui diskripsi “jemaat Allah” Paulus ingin menyatakan bahwa jemaat di Korintus adalah milik Allah. Hal ini memang perlu ditegaskan Paulus karena mereka seringkali berpikir bahwa mereka milik rasul tertentu (1:12), padahal rasul-rasul itu hanyalah para pekerja saja (3:5-7). Ibarat sebuah bangunan, para rasul hanyalah pekerjanya, sedangkan pemilik bangunan adalah Allah (3:9). Semua adalah milik Allah (3:21-23).
Sebagai seorang pelayan Kristus kita pun juga harus memahami dan mengimani bahwa komunita orang percaya di mana kita ditempatkan bukan milik kita. Mereka bukan orang-orang yang ada karena kita, dan bukan orang-orang yang berada di bawah kendali kita. Komunita orang percaya adalah milik Allah. Pemahaman terhadap hal ini mengantarkan kita untuk menghindari kesombongan atau kearogansian. Kita bisa memandang jemaat sebagai milik Allah dan oleh karenanya, apa yang kita kerjakan bagi mereka merupakan suatu pekerjaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah sebagai yang empunya jemaat. Amien.

Dan

Rabu, 03 Agustus 2011
Keseimbangan Sikap di Tengah Komunita
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
(2Timotius 4:2-3)
Seorang pernah berkata, “kasih tanpa disiplin adalah memanjakan, dan disiplin tanpa kasih adalah penindasan”. Pernyataan ini menunjukkan perlunya keseimbangan di dalam seseorang memperlakukan orang disekitarnya. Hal yang sama juga disampaikan Paulus ketika ia memberikan nasehatnya yang begitu serius tentang pelayanan kepada Timotius, anak didiknya. Keseriusan perintah Paulus dalam bagian ini dapat dilihat dari pemakaian kata “berpesan dengan sungguh-sungguh” yang terdapat pada ayat 1. Selain itu, Paulus juga memberikan perintah ini di hadapan Allah dan Yesus Kristus.
Ayat 2 terdiri dari 4 kata kerja imperatif (perintah) yang semuanya menekankan kesungguhan/fakta dari suatu tindakan. Perintah ke-1 (“beritakanlah Firman”) merupakan inti dari rangkaian perintah ini, sebagaimana terlihat dari posisinya dalam rangkaian tersebut. Perintah yang lain merupakan penjelasan tentang pemberitaan Firman: harus siap dalam segala waktu (ayat 2b), harus menunjukkan kesalahan orang lain (ayat 2c), harus menegur orang yang bersalah (ayat 2c) dan harus menasehati orang yang bersalah (ayat 2d). Paulus selanjutnya menjelaskan bagaimana tugas di ayat 2a-2d tersebut harus dilakukan (ayat 2e). Rangkaian perintah di ayat 2 tidak boleh dilakukan dengan sembarangan. Semua harus dilakukan dalam segala kesabaran dan pengajaran.
Perpaduan antara kesabaran dan pengajaran merupakan kombinasi yang seimbang. Sebagian orang berani menyatakan apa yang benar, tetapi cara mereka seringkali tidak tepat, misalnya cepat menghakimi. Di sisi lain, sebagian orang cenderung sabar terhadap kesalahan orang lain karena mereka tidak berani menyatakan apa yang benar. Keseimbangan ini harus tetap dijaga oleh setiap pelayan Tuhan. Di tengah komunita orang percaya, keseimbangan ini penting untuk tetap dipertahankan agar kebenaran firman Allah tetap diberitakan dengan tetap menunjukkan kasih kepada mereka. Amien. Dan

Kamis, 04 Agustus 2011
Kontekstualisasi vs Kompromi
Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya. (1Kor. 9:19, 20, 23)
Secara sekilas tampaknya 1Korintus 9:19-23 ini menyiratkan bahwa Paulus ingin menyenangkan semua orang, baik orang Yahudi maupun orang-orang non-Yahudi. Namun jika kita membaca secara lebih cermat bagian ini serta memperhatikan konteksnya, maka kita tahu bahwa fokus yang ingin Paulus tekankan bukan pada bagaimana menyenangkan semua orang tersebut, tetapi bagaimana agar melalui kehidupannya ia dapat memenangkan beberapa orang. Dengan kata lain Paulus rela melakukan segala hal demi pekerjaan Tuhan (ayat 19-23). Menyenangkan orang lain bukan untuk popularitas dan mencari pengikut, tetapi demi keberhasilan pekerjaan Tuhan (ayat 19b, 20[2x], 21b, 22[2x], 23).
Melalui bagian ini Paulus mengemukakan bahwa ia tidak memakai hak-haknya. Sungguhpun ia bebas dan tidak terikat dengan norma atau adat kebiasaan orang lain, ia siap untuk menjadikan dirinya hamba dari semua orang dan menyesuaikan diri kepada norma dan adat kebiasaan mereka (kontekstualisasi) asal tidak melanggar ‘asas yang benar-benar asasi’, agar ia boleh memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus. Ayat 22 tidak berarti bahwa ia akan berbuat dengan cara tanpa prinsip atau berkompromi dengan asas-asas Kristen; tetapi ia hendak mengorbankan kepentingan dan kesenangannya sendiri secara sempurna, sekalipun kesenangan itu tidaklah salah, asal dengan itu ia dapat menyelamatkan beberapa orang. Ayat 23 memberikan alasan dari tindakan Paulus ini, yaitu karena Injil, artinya karena Injil itu berharga sekali baginya; dan supaya ia tidak gagal mendapat bagian dalamnya (bdk. Ay. 27).
Sebagai seorang pelayan yang berada dalam suatu komunita, perlu bagi kita untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebiasaan orang-orang yang ada dalam komunita tersebut. Namun, seperti yang Paulus lakukan, penyesuaian diri itu bukan untuk menyenangkan orang (agar kita ‘dipandang’ dan diterima), namun agar kebenaran Injil dapat tersampaikan dengan baik dan efektif. Fokus dari tindakan kita harus tetap demi keberhasilan pekerjaan Tuhan, bukan pada manusia. Amien. Dan

Jumat, 05 Agustus 2011
Pelayan di Tengah Komunita—Obscure But Important
Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus. (Kis. 19:29)
Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas–tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu— (Kol. 4:10)
Siapa yang tidak kenal Paulus ?? Seorang hamba Tuhan yang luar biasa, penulis 13 surat dalam Parjanjian Baru, seorang pemberita Injil dan penanam jemaat yang berhasil. Semua orang pasti kenal dia. Tapi siapa yang kenal Aristarkhus ?? nama ini tidak banyak disebut (hanya lima kali dalam sepanjang Alkitab). Tidak banyak informasi yang kita dapatkan mengenai dia selain bahwa dia adalah seorang Makedonia dari Tesalonika (Kis. 20:4, 27:2) dan bahwa dia ikut dalam perjalanan pelayanan Paulus sebagai rekan kerjanya (Flm. 23).
Seberapapun tidak terkenalnya dia, namun Alkitab mencatat bahwa Aristarkhus adalah salah satu pelayan yang berperan penting di dalam keberhasilan pelayanan Paulus. Dalam Kisah Para Rasul 19:29 dan 20:4 Aristarkhus dicatat sebagai seorang yang ‘menyertai’ Paulus (accompany, pendamping), dia juga disebut sebagai ‘rekan sekerja’ (working together with, helping (Flm.23)). Dengan disebutnya ia dalam salam-salam Paulus kepada jemaat Kolose dan Filemon, maka dapat diperkirakan bahwa Aristarkhus sudah dikenal oleh jemaat oleh karena pelayanannya yang ia kerjakan bersama Paulus. Lebih jauh lagi, Paulus menyebutnya sebagai ‘teman sepenjara’ (Kol. 4:10). Sebutan ini dapat berarti literal sebagai orang yang sama-sama dipenjarakan bersama Paulus, atau dalam arti figuratif sebagai rekan pelayanan yang sama-sama merasakan penderitaan dan kesukaran pelayanan (Rm. 16:7, Flm 23). Entah ia ikut dipenjara atau tidak, namun pelayanannya yang luar biasa di tengah kesukaran dan penderitaan memberikan buah yang besar bagi orang-orang percaya. Sebagai pelayan di masa kini hendaknya kita juga meneladani Aristarkhus. Sekalipun mungkin kurang diperhatikan, diabaikan dan tidak dipandang namun biarlah kita memberikan semaksimal mungkin dari apa yang bisa kita kerjakan dalam pelayanan, bahkan memberikan lebih daripada apa yang dituntut dari kita. Seorang pelayan tidak membutuhkan pujian, sanjungan ataupun pengakuan dari jemaat, rekan sepelayanan atau orang lain. Biarlah kita menjadi seorang pelayan yang obscure but important di tengah-tengah komunita orang percaya di mana kita berada, karena fokus pelayanan kita bukanlah diri kita tapi Tuhan yang kita beritakan. Amien . Dan

Sabtu, 06 Agustus 2011
Membangun Komunita Melalui Apresiasi
Roma 16:1-16
Sebuah surat kabar pernah menuliskan berita tentang seorang menantu yang tega menghabisi nyawa mertuanya hanya gara-gara merasa disepelekan dan tidak dihargai. Orang dapat merasa dihargai (atau tidak) melalui ucapan yang keluar dari lawan bicaranya. Sebagai seorang pelayan Tuhan yang sudah ternama, tampaknya Paulus tetap memperhatikan hal ini. Dalam salam penutupnya kepada jemaat di Roma Paulus menunjukkan apresiasinya yang tinggi kepada orang-orang lain disekitarnya.
Secara sekilas mungkin bagian ini seperti suatu penutup surat biasa, namun jika kita perhatikan lebih lanjut maka kita akan menemukan bahwa setelah Paulus menyebut nama seseorang, ia juga menyertakan ‘keterangan tambahan’ mengenai orang itu. Febe disebutnya sebagai ‘saudari kita yang…telah memberikan bantuan’ (v.1-2), Priskila dan Akwila disebutnya ‘teman-teman sekerjaku…telah mempertaruhkan nyawanya’ (v.3-4), Epetenus ‘buah pertama dari daerah Asia’ (v.5), Maria ‘yang telah bekerja keras untuk kamu’ (v.6), Andronikus dan Yunias ‘orang-orang yang terpandang di antara para rasul’ (v.7), Ampliatus ‘yang kukasihi dalam Tuhan’ (v.8), Urbanus ‘teman sekerja kami’ (v.9), Apeles ‘yang telah tahan uji’ (v.10), Trifena, Trifosa dan Persis ‘yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan’ (v.12), Rufus ‘orang pilihan dalam Tuhan’ (v.13), dan sebagainya.
Beberapa dari nama-nama itu mungkin adalah anggota jemaat biasa yang tidak punya jabatan khusus dalam pelayanan. Mungkin mereka tidak terlalu dikenal dan tidak banyak disebut dalam Alkitab. Mungkin mereka tidak memiliki suatu yang luar biasa yang bisa mereka banggakan. Namun hal-hal itu tidak menyurutkan niat Paulus untuk tetap memberikan apresiasi khusus kepada mereka.
Saat ini banyak pelayan Tuhan yang belum mencapai prestasi sekaliber Rasul Paulus tapi merasa sudah ‘di atas awan’ dan tidak membutuhkan orang lain. Marilah kita belajar dari Paulus yang di dalam kesuksesan pelayanannya tetap memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang percaya di sekitarnya. Melalui sikap, tindakan dan ucapan kita, kita dapat menunjukkan apresiasi itu dan meyakinkan mereka bahwa mereka—sebagai anggota dari komunita orang percaya—juga memiliki arti penting bagi pelayanan. Melalui hal sederhana (namun penting) ini kita dapat menciptakan suasana komunita yang bersatu dan saling mendukung sehingga Allah dipermuliakan melalui pelayanan kita bersama. Amien.
Dan

Minggu, 07 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR
(Makluk PRIBADI & Makluk SOSIAL)

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kejadian

Satu fakta yang tidak dapat kita pungkiri adalah TUHAN menciptakan manusia sebagai makluk social, yang berarti tidak hidup sendiri; ada kehadiran orang lain, dan manusia harus berinteraksi satu dengan yang lain. Sementara di satu sisi kita juga mensyukuri bahwa TUHAN menciptakan manusia sebagai makluk pribadi; yakni dirinya sendiri dengan segala keunikan, kelebihan dan kekurangannya.

Yang menjadi perenungan kita, apakah TUHAN menciptakan dua natur dalam diri manusia ini sengaja untuk dipertentangkan atau dikontradiksikan satu dengan yang lain? Seharusnya tidak! Kita harus meyakini bahwa Allah menciptakan manusia untuk berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Bila kita menyimak ayat tersebut di atas,maka dua natur ini bersifat saling mengisi dan melengkapi; di mana kesempurnaan esensi kemanusiaannya justru berada dalam kesatuannya. Firman yang mengatakan – “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” nampaknya akan membuat kita lebih memahami maksud TUHAN mengapa IA menciptakan manusia sebagai makluk social.

Perenungan berikutnya, bila memang tidak bersifat kontradiktif, mengapa manusia mementingkan diri sendiri ketika ia berinteraksi dengan sesamanya? Kehidupan social sering membawa manusia ke dalam permasalahan-2 yang pelik? Lalu manusia mengambil jalan keluar yang tidak merugikan diri sendiri (kalau tidak boleh menguntungkan diri sendiri).. Tidak ada jawaban yang memadahi untuk menjelaskan mengapa semua ini terjadi dalam hidup manusia; kecuali karena DOSA yang telah merasuk diri manusia yang membuatnya sebagai yang utama, lebih penting dari orang lain, bahkan lebih penting dari TUHAN itu sendiri.

Perenungan Allah menciptakan manusia itu baik adanya, dan hal itu terjadi dalam keterpaduan kedua naturnya sebagai makluk pribadi dan social. Namun dosa telah membuat keduanya untuk saling melemahkan bahkan menghancurkan. Bagaimana manusia menyelesaikan masalahnya ini? Tidak ada cara lain kecuali datang kepada TUHAN yg mengampuni dosa dan rela dibentuk sesuai design-Nya yg semula. jp

Senin, 08 Agustus 2011

NATUR SOSIAL dan EKSESNYA

Manusia itu menjawab:”Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang member buah dari pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu:” Apakah yang telah kau perbuat ini?” Jawab perempuan itu:” Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” Kejadian 3:12-13

Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain:” Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu, ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”
Kejadian 4:5-7

Sebagaimana telah kita bahas di hari kemarin, bahwasannya tidak mungkin Allah memberikan natur pribadi dan natur social dalam diri manusia itu bersifat kontradiktif; dan apabila terjadi permasalahan sebagai mana yang kita lihat dan kita alami, hal itu semata-mata hanya dikarenakan oleh dosa yang melanda manusia dan memiliki dampak yang dasyat dan menyeluruh dalam hidup manusia.

Hal di atas dapat kita lihat dalam nats bacaan hari ini yang menjadi bukti kongkrit bahwa dosa membawa ekses natur pribadi dan social ketika manusia bersosialisasi. Adam dan Hawa mencari pembenaran diri ketika mereka berada dalam situasi harus mempertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Dalam rangka melakukan pembelaan manusia tidak segan-segan mencari orang lain untuk dikambing hitamkan (dipersalahkan). Keturunan merekapun masuk dalam problem yang sama, ketidak siapan melihat sesamanya (saudaranya) memiliki yang terbaik membuat manusia berusaha untuk menjadi yang terbaik, yakni meniadakan manusia yang dianggap lebih baik darinya. Dalam hal ini Kain membiarkan dirinya dirasuki oleh kebencian dan yang dibuahi dengan perbuatan.

Perenungan jangan pernah berpikir bahwa kehidupan kita yang bernaturkan pribadi dan social kebal (imun) dari ekses yang dikarenakan oleh natur keberdosaan manusia. Ketika kita sedang berada dalam ketegangan dua natur ini, justru memberitahukan siapakah kita ini. jp

Selasa, 09 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Filipi

Paulus menggantungkan harapannya terhadap jemaat di Filipi melalui suratnya ini agar jemaat di sana mengalami kesehatian. Dan dengan jelas kita dapat simpulkan keinginannya ini mengingat ada permasalahan-2 yang terjadi di tengah-2 mereka khususnya problem kesehatian dalam jemaat Tuhan ini (bandingkan Filipi 4:2). Sekalipun banyak penafsir mengungkapkan bahwa thema utama surat Filipi adalah SUKACITA, dan hal ini diungkapkan oleh Paulus dalam bacaan kita hari ini, bukan berarti jemaat Filipi bebas masalah. Bila kesehatian terjadi dan dialami oleh mereka maka sukacita yang dirasakan Paulus akan semakin sempurna (dilengkapkan).

Hal yang menjadi perenungan kita adalah tidak mudahnya mengalami proses sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan ini. Kata hendaklah menunjukkan keinginan Paulus sekaligus menunjukkan kondisi yang belum terjadi, yakni belum terjadinya kesehatian tersebut. Memang hal ini adalah kondisi ideal yang diharapkan dalam satu jemaat, namun di sinilah terjadinya peperangan/ketegangan yang terjadi antara diri kita dengan orang lain, atau sebenarnya antara diri sendiri sebagai satu pribadi dengan diri kita sebagai bagian dari konteks social.

DOA kami senantiasa memntingkan diri sendiri, itulah yg membuat kami sulit mengalami kesehatian di dalam Engkau. Tolong & ampunilah kami. jp

Rabu, 10 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR
(Siapa yg LEBIH PENTING?)

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Filipi

Istilah Very Important Person (VIP) membuat diri kita berbeda dengan orang lain, apalagi VVIP. Biasanya orang-2 yang dikategorikan VIP akan mendapatkan perlakuan khusus, bahkan boleh dikatakan istimewa. Di samping itu sebenarnya merekalah (para VIP) yang telah berusaha untuk membuat diri mereka menjadi istimewa dan penting, mungkin melalui prestasi mereka, mungkin melalui jabatan, dan hal-2 lainnya. Ini semua adalah sebuah budaya yang wajar dalam kehidupan ini.

Namun dalam kontek bersosialisasi sebenarnya setiap kita juga berpotensi menjadi “VIP” sekalipun orang lain tidak memperlakukan kita sedemikian. Kita akan menempatkan diri kita sebagai yang terpenting dibanding orang lain di sekitar kita. Tidak jarang kita menjumpai orang-2 yang dikorbankan demi kepentingan diri sendiri. Paulus mengingatkan agar kita juga menganggap orang lain itu penting, bahkan lebih utama. WAH ini bukan sesuatu yang mudah, sekalipun Paulus telah memberikan kata kuncinya yakni dengan rendah hati.

Perenungan Dunia yang semakin berorientasi pada diri dan kepentingan diri sendiri ini, dapat mempengaruhi atmosfir kehidupan kita sebagai orang Kristen, di mana lambat laun kita terpengaruh dan mengalami proses pembiasaan dan akhirnya meninggalkan hakekat kehidupan kristiani dalam memandang keberadaan orang lain. jp

Kamis, 11 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR
(Kepentingan SENDIRI & Kepentingan Orang Lain)

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Filipi

Dalam mata kuliah Surat Paulus, seorang dosen mengatakan bahwa manusia akan berusaha semaksimal mungkin agar kepentingannya dapat tercapai. Namun bila kepentingannya ini berbenturan dengan kepentingan orang lain dan sulit untuk meng-gol-kannya, maka manusia agar mengambil jalan keluar untuk saling menyelaraskan dua kepentingan yang berbeda ini, yang mungkin sekarang lebih disebut sebagai win-win solution.

Mungkin bagi kita bertemu dengan orang-2 demikian masih alhamdulilah, karena terkadang kita menjumpai orang-2 (mungkin diri kita sendiri) yang keras dan bersikukuh dengan kepentingannya sendiri dan tidak mau tahu dengan kepentingan orang lain. Walaupun orang-2 demikian menyebut diri mereka sebagai orang-2 yg punya PRINSIP, dan terkadang membuat kita bingung antara prinsip dan keras kepala sangat berbeda tipis.

Perenungan Apakah kita tidak boleh mengurus kepentingan kita? Tentu saja boleh, kalau bukan kita apakah kita akan meminta orang lain mengurus urusan kita? Tentu saja tidak bukan. Namun jangan sampai kita hanya berpusat pada diri sendiri dan kepentingan diri, lalu mengabaikan keberadaan dan kepentingan orang lain. Apalagi dalam kontek bersama, bersosialisasi atau berjemaat, maka kita harus memusatkan pada kepentingan komunal sebagai yang utama. Memang tidak mudah. jp

Jumat, 12 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR
(Kristus sebagai Rujukan)

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Filipi

Dalam tayangan TV tertentu mengangkat 2 acara yang hampir sama maksud dan tujuannya, yakni Secret Millionaire dan Undercover Boss, yang mengisahkan tentang seorang milioner yang terjun di tengah-2 masyarakat dan membangun hubungan dengan berbagai komunita. Mereka menyaksikan langsung apa yang menjadi pergumulan masyarakat bawah dan bagaimana perorangan atau lembaga-2 tertentu berjuang bagi manusia yang lain. Setelah hidup bersama sekian waktu dan merasakan pergumulan bersama – tidak lama kemudian sang milioner membuka kedoknya dan mengontribusikan sesuatu utk masyarakat ini. Demikian undercover boss yang lebih banyak menyamar di lingkungan dunia kerjanya sendiri, yang biasanya sudah multi usaha sehingga sosok sang boss tidak dikenal secara langsung oleh karyawan dan setiap mereka yang bekerja. Sang bos-pun akan membuka kedoknya lalu bertindak sesuatu.

Betapa hebatnya para milioner dan bos ini, tetap tidak ada yang sebanding dengan Kristus yang adalah Allah sendiri, Boss dari segala boss dan Millioner sejati karena IA-lah yang memiliki segala sesuatu dalam alam semesta ini. Ketika IA mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia dan tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai hal yang harus dipertahankan; ini semua menjadi tindakan aktif (dg sengaja) hanya semata-mata agar manusia diselamatkan. jp

Sabtu, 13 Agustus 2011

KETEGANGAN DUA NATUR
(Kristus sebagai Rujukan-2)

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Filipi

Perbedaan pendapat menjadi hal yang biasa dan lumrah dalam kehidupan bersosial, yang terpenting bagaimana kita belajar untuk menghargai perbedaan itu sendiri, menghargai pendapat orang lain dan belajar untuk merembug-kan untuk mencari yang terbaik bagi kepentingan bersama, yang artinya bisa 50-50 atau prosentase berapapun, yang terpenting yang terbaik bagi semua.

Surat Korintus menjadi bukti kongkrit adanya pengelompokan-2 yang terjadi dalam tubuh gereja Tuhan. Apakah kelompok Paulus menjadi kelompok yang terbaik, mengingat ia yang menuliskan surat itu? Dalam konteks Filipi, apakah Sinthike atau Euodia yang terbaik tatkala mereka memiliki ketidak sehatian satu sama lain? Yang sering kali menggelitik benak kita ketika kita sedang berada dalam situasi seperti itu adalah, saya mesti berpihak kepada siapa ya? Seringkali keberpihakan kita lebih merujuk kepada siapa yang lebih menguntungkan kita. Dalam kaitannya dengan paragraph di atas, apakah yang lebih menjawab kepentingan bersama dapat dijadikan rujukan? Dalam kasus tertentu mungkin jawabannya adalah YA, dapat. Namun dalam hal bergereja, dalam hal melayani Tuhan & umat-Nya semestinya kita menempatkan sbg rujukannya – Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus

Minggu, 14 Agustus 2011

Komunita yang memberkati dan komunita yang diberkati

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing…Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah…Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis. 2:42, 45-47)

Ketika kita ingin membangun sebuah komunita, maka kita perlu melihat dan belajar dari kehidupan komunita yang dibangun pada awal gereja berdiri. Sebab, komunita yang dibangun pada masa gereja mula-mula memberikan begitu banyak informasi penting sehubungan dengan tugas panggilan gereja, dan bagaimana seharusnya gereja hidup di tengah-tengah dunia. Melalui komunita yang dibangun oleh jemaat mula-mula tersebut, kita juga dapat melihat apa yang sesunggunya menjadi maksud, tujuan, dan rencana Allah mendirikan gereja-Nya.
Salah satu maksud dan tujuan pentingnya adalah supaya keberadaan gereja mampu menjadi berkat bagi banyak orang. Hal inilah yang menjadi salah satu tolok ukur sebuah komunita yang sehat. Jika kita memerhatikan kehidupan komunita dalam gereja mula-mula, maka kita dapat melihat adanya hubungan personal yang hangat dan begitu dekat. Sehingga keberadaan setiap pribadi mampu memberkati sesamanya. Hal tersebut dibuktikan dari kehidupan mereka yang begitu akrab, tekun dalam belajar firman, tekun dalam bersekutu dan berdoa (Kis 2:42). Selain itu, selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya dan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Dampaknya bukan hanya kehidupan dalam komunita tersebut yang diberkati, tetapi keberadan mereka pun mampu memberkati orang lain (Kis. 2:47).
Komunita yang sehat seharusnya mampu menghidupkan kerohanian setiap pribadi yang ada di dalamnya, yang kemudian diwujudnyatakan dalam sikap, tutur kata, karakter, dan tindakan nyata. Dengan demikian keberadaan komunita dapat saling memberkati dan diberkati. Bagaimana dan seperti apa komunita yang sedang kita bangun saat ini? Sudahkah keberadaan setiap pribadi dalam komunita kita mampu memberi dampak dan memberkati orang lain?

Doa: Tuhan, tolonglah kami, agar komunita yang kami bangun mampu member dampak dan memberkati banyak orang, amin.

Senin, 15 Agustus 2011

Saling menguatkan

Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. (Kis. 4:29)

Menjadi orang Kristen tidak menjamin bahwa kehidupan akan berjalan mulus dan terlepas dari berbagai masalah. Buktinya ada orang Kristen yang tetap hidup dalam kesederhanaan atau kekurangan, ditindas, dianiaya, bahkan tidak sedikit yang dibunuh. Ada juga yang mengalami kebangkrutan dalam usaha, mengalami sakit, kecelakaan, dan berbagai bentuk ketidakberdayaan hidup lainya. Seolah hidup bukan semakin mudah tapi justru semakin sulit. Ditengah situasi yang serba sulit dan tidak menentu seperti ini, apakah yang harus dilakukan? Lalu, bagaimanakah sebuah komunita melihat dan menyikapinya?
Menengok kehidupan komunita pada masa gereja pertama, kita dapat melihat bahwa dalam perjalanannya ternyata tidak lepas dari masalah dan tantangan. Dalam Kisah Para Rasul 4 mencatat adanya intimidasi, larangan, dan ancaman dari beberapa pihak yang tidak senang dengan kekristenan (4:1-2, 17-21). Meski mereka menghadapi intimidasi dan ancaman, namun tidak membuat mereka takut atau gentar, dan yang menarik adalah ketika melihat respon jemaat, mereka tidak hanya berpangku tangan atau membiarkan mereka yang ‘menderita’, melainkan bersatu hati saling mendoakan dan menguatkan. Didalam doa mereka bersehati meminta agar Tuhan memberikan keberanian untuk memberitakan firman. Hasilnya, Alkitab mencatat ‘jemaat memberitakan firman Allah dengan berani’ (4:31), dan makin banyak orang percaya Kristus (5:14).
Jadi, kita bisa melihat disini arti pentingnya kehadiran sebuah komunita, harus mampu memberikan dampak yang besar bagi komunita itu sendiri maupun orang lain. Dimana melalui kehadiran komunita mereka yang lemah, putus asa, hilang pengharapan, dan mereka yang sedang dalam keterpurukan mendapatkan kekuatan baru untuk bangkit dari keterpurukannya. Bagaimana sikap dan respon komunita anda tatkala menyaksikan ada orang-orang yang mengalami keterpurukan, penderitaan, dan berbagai ketidakberdayaan?

Doa: Tuhan, ampuni kami, apabila kehadiran kami tidak membawa dampak bagi orang lain, mampukan kami agar kehadiran kami dapat memberikan kekuatan bagi mereka yang tidak berdaya.

Selasa, 16 Agustus 2011

Saling berbagi

Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. (Kis. 4:34-35)

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak orang-orang yang hidup dalam kekurangan, miskin, terlantar, dan orang-orang yang ‘kurang beruntung’ berada di sekitar kita. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang ‘kurang beruntung’ itu mungkin adalah salah satu anggota dalam komunita anda. Namun sayangnya ada banyak diantara mereka yang ‘kurang beruntung’ itu tidak mendapat perhatian yang semestinya, kadang diabaikan, bahkan memang tidak dipedulikan. Melihat realitas tersebut, bagaimanakah gereja atau komunita anda menyikapinya?
Perlu dipahami bahwa gereja baik dalam arti individu atau lembaga, dipanggil untuk menyatakan kasih Allah kepada dunia. Maka, tidak boleh mengabaikan atau bahkan anti terhadap problema social yang terjadi di sekitarnya. Alkitab Perjanjian Lama menyaksikan bahwa orang-orang miskin, terlantar, orang yang tertindas, orang sakit, yang mengalami berbagai kesulitan, dan orang-orang ‘kurang beruntung’ lainya mendapat perhatian khusus dari Allah. Dalam Perjanjian Baru gereja mula-mula juga memberikan prioritas pada pelayanan terhadap orang miskin, janda-janda, orang-orang sakit, dan menolong mereka yang mengalami kesulitan (Kis. 2:44-45, 3:1-10, 4:34-35, 6:1-7). Mungkin ada diantara mereka bukanlah orang yang kaya, namun kerelaan hati mereka untuk berbagi itulah yang perlu diteladani.
Komunita sebagai ‘gereja kecil’ harus menjadi ‘agen’ kasih Allah. Untuk itu harus memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap realitas social yang terjadi disekitarnya. Kepekaan untuk melihat, merasakan penderitaan orang lain, dan kerelaan untuk berbagi dengan sesama sangat dibutuhkan, bukan hanya berkarya dalam ruang-ruang ibadah. Harus diingat bahwa gereja bukan hanya dituntut untuk menekankan pengajaran dan kotbah-kotbah doktrinalnya, melainkan juga harus mampu mewujudnyatakannya dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari.

Doa: Tuhan berikanlah kepada kami kepekaan untuk melihat, merasakan penderitaan orang lain, dan kerelaan hati untuk berbagi dengan sesama, sehingga keberadaan kami mampu menjadi berkat bagi banyak orang.

Rabu, 17 Agustus 2011

Saling membangun

Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. (Kis. 6:5).

Konflik tidak hanya dialami oleh orang-orang di luar gereja. Di dalam gereja pun juga sering terjadi konflik. Ada yang disebabkan karena perbedaan pendapat atau pandangan, ada yang disebabkan adanya ambisi pribadi, ada pula karena kelalaian-kelalaian, dan sebagainya. Permasalahannya terletak pada bagaimana gereja melihat dan berespon terhadap berbagai masalah atau konflik yang terjadi tersebut?
Dalam perkembanganya komunitas orang percaya di Yerusalem mengalami pertumbuhan yang progresif (baik kuantitas maupun kualitas). Kisah Para Rasul 6 mencatat bahwa jumlah murid atau orang percaya semakin bertambah banyak. Ketika jumlah komunita semakin bertambah banyak, maka mulailah timbul berbagai permasalahan dalam komunita tersebut. Salah satunya adalah adanya sungut-sungut atau keluhan karena pelayanan social kepada para janda terabaikan. Menyikapi hal tersebut para rasul tidak membiarkannya berlarut-larut, melainkan bertindak dengan cepat. Mereka mengumpulkan para murid, dan mengusulkan agar dipilih tujuh orang diaken untuk membantu pelayanan para rasul. Usul tersebut disambut dan diterima dengan baik oleh seluruh jemaat. Dengan ditetapkanya tujuh orang diaken, maka pelayanan dapat berjalan dengan lebih baik, dan semakin berkembang.
Tidak bisa dipungkiri bahwa seringkali konflik juga terjadi dalam sebuah komunita. Sepertinya semua sudah berupaya untuk memberikan yang terbaik, namun kadang masih saja ada hal-hal yang terabaikan. Pertanyaannya adalah bagaimana sebagai komunita melihat dan menyikapinya? Belajar dari gereja Yerusalem, hendaknya jangan cepat menghakimi dan hanya menyalahkan orang lain. Jauh lebih baik apabila duduk bersama, mencari solusi, dan bila memang perlu ada koreksi, berikan koreksi yang baik untuk membangun orang lain. Dengan demikian pelayanan akan semakin maju dan berkembang.

Doa: Tuhan, jadikan kami orang-orang yang mampu membangun orang lain, bukan menjadi orang-orang yang pandai mengkritik atau cepat menghakimi orang lain, sehingga kami bisa melayani dengan lebih baik.

Kamis, 18 Agustus 2011

Saling melengkapi

Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka. (Kis. 6:5-6)

Ada satu pengalaman menarik sewaktu saya masih kuliah. Pada waktu menjelang perayaan paskah, kami ditunjuk menjadi panitia pelaksananya. Kami mulai mempersiapkan drama untuk acara tersebut, dan saya ditunjuk sebagai coordinator pementasan drama. Naskah drama sudah saya siapkan, hanya belum diketik. Lalu teman-teman menunjuk seorang teman untuk mengetiknya. Saya sempat meragukan loyalitas dan kemampuan orang tersebut, tapi ternyata penilaian saya salah, tidak sampai satu hari naskah drama itu selesai dia ketik.
Saya menyadari bahwa acara perayaan paskah itu tidak mungkin saya kerjakan sendiri. Butuh orang lain atau rekan kerja untuk membantu mempersiapkan acara tersebut. Dari pengalaman itu saya juga diingatkan bahwa dalam diri setiap orang, Tuhan memberikan kemampuan, talenta, dan karunia yang berbeda. Mengapa demikian? Tujuannya adalah supaya kita saling melengkapi. Pada waktu jumlah orang percaya semakin bertambah banyak, maka semakin banyak pula pelayanan yang harus dikerjakan. Dan tidak mungkin semuanya itu dikerjakan oleh para rasul. Permasalahan yang muncul dalam pasal 6 diizinkan terjadi, supaya gereja menyadari arti pentingnya setiap pribadi dalam sebuah komunita. Sebab, ada hal-hal tertentu yang tidak mungkin dikerjakan para rasul, maka perlu dipilih tujuh orang diaken untuk membantu pelayanan para rasul. Dampaknya pelayanan menjadi semakin efektif, firman Allah makin tersebar, dan jumlah orang percaya semakin bertambah banyak (6:7).
Pesan penting bagi kita adalah: saya dan anda adalah bagian dari tubuh Kristus, dan setiap bagian memiliki peran yang sangat penting. Tidak semua menjadi tangan, atau menjadi kaki. Ada yang menjadi tangan, tapi ada yang menjadi kaki, atau mata, dan semuanya saling melengkapi. Jadi, komunita yang sehat seharusnya berperan untuk memberi ruang kepada setiap pribadi agar saling melengkapi sehingga pelayanan lebih efektif.

Doa: Tuhan terimakasih untuk talenta atau pun karunia yang Tuhan berikan bagi setiap kami, pakailah itu untuk memperlengkapi orang lain.

Jumat, 19 Agustus 2011

Bukan sekedar membangun keakraban

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. (Kis. 2:42; 5: 12b)

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa komunita yang sehat adalah bilamana didalamnya terjalin keakraban antara satu dengan yang lainnya. Sehingga untuk membangun dan memelihara keakraban itu maka diadakan makan bersama, rekreasi bersama, bersukacita bersama, menanggung beban bersama seperti cara-cara yang biasa kita lihat di sekitar kita. Hal tersebut tidak salah, akan tetapi perlu dipahami bahwa membangun sebuah komunita bukan hanya sekedar membangun keakraban. Jika hanya bertujuan untuk membangun keakraban, maka apa bedanya dengan orang-orang dunia? Sebab mereka pun juga bisa.
Hal mendasar yang harus dibangun dalam sebuah komunita adalah membangun ‘persekutuan tubuh Kristus’. Persekutuan tubuh Kristus tidak ada di dalam dunia dan tidak mungkin ada, sebab ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah lahir baru, mengalami keselamatan, dan didasari oleh kasih Kristus. Hal inilah yang dilakukan oleh gereja mula-mula, bukan hanya sekedar berkumpul untuk membangun keakraban dalam kasih persahabatan, namun lebih dari pada itu adalah didasari semangat untuk membangun persekutuan tubuh Kristus. Dan persekutuan yang didasari oleh kasih Kristus tersebut, menumbuhkan keakraban yang berbeda dari biasanya. Sebab mampu menjadikan setiap pribadi menjadi orang-orang yang makin mencintai Tuhan, makin dekat dan makin erat satu sama lain, serta menumbuhkan kepedulian yang besar terhadap sesama.
Komunita yang sehat adalah komunita yang mampu menghidupkan dan membangun persekutuan tubuh Kristus, bukan sekedar membangun kebersamaan atau keakraban. Komunita seperti apakah yang sedang anda bangun? Apakah hanya membangun keakraban dan kebersamaan ataukah membangun persekutuan tubuh Kristus?

Doa: Tuhan, tolong kami agar kami tidak hanya membangun keakraban semata, tapi yang terpenting pakailah kami untuk membangun gerejaMu. 

Sabtu, 20 Agustus 2011

Bertumbuh bersama

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. (Ef. 4:16)

Dalam sebuah komunita, di dalamnya ada orang-orang yang lemah, ada yang lebih ‘kuat’; ada yang kekanak-kanakan, ada pula yang lebih dewasa. Dan Allah ingin memakai anak-anak-Nya yang sehat untuk merawat yang sakit dan terluka, yang lebih dewasa membimbing yang lemah, sehingga seluruh bagian tubuh Kristus bertumbuh menjadi dewasa dalam Kristus. Untuk tujuan itu Allah tidak hanya memakai para rohaniwan dalam pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus. Walaupun mereka memiliki peranan khusus, seperti mengajar firman dan pembinaan rohani, tetapi secara umum Allah menghendaki agar setiap orang percaya dengan peranan mereka yang unik juga melayani orang Kristen lain.
Dalam surat yang ditujukan kepada jemaat di Efesus khususnya pasal 4, rasul Paulus menjelaskan bahwa setiap pribadi memiliki peranan penting dalam pembangunan tubuh Kristus, yaitu untuk membantu orang lain bertumbuh. Sebab dengan menolong orang lain bertumbuh, maka kita sedang membangun tubuh Kristus. Untuk itulah Allah menempatkan orang-orang disekitar anda, supaya melalui keberadaan mereka menolong anda maupun orang lain agar semakin bertumbuh dalam Tuhan. Oleh sebab itu, keberadaan komunita sangatlah penting, guna memberi wadah dan kesempatan bagi setiap pribadi, agar menjalankan pelayanan sesuai dengan bagian yang Tuhan telah percayakan. Supaya melalui pelayanan bersama satu terhadap yang lain, kita membangun tubuh Kristus, dan pada saat bersamaan membantu orang lain untuk bertumbuh dalam iman.
Kehadiran komunita seharusnya mampu menolong setiap pribadi untuk bertumbuh pengenalan akan Kristus, semakin dewasa rohani, membentuk karakter setiap pribadi agar semakin serupa dengan Kristus. Sesuai dengan tujuan Allah, yaitu untuk pembangunan tubuh Kristus sampai tercapai kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Kristus, kedewasaan penuh, serta keserupaan dengan Kristus, sehingga kita tidak terombang-ambing oleh ajaran sesat (4:12-14).

Doa: Tuhan, ampuni kami jika keberadaan kami menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan mampukan kami agar kehadiran kami dapat menolong orang lain semakin bertumbuh dalam Tuhan.

Minggu, 21 Agustus 2011

ALLAH YANG MEMBERKATI

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, … Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka …
Kejadian 1:27-28

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Bilangan 6;24-26

Di zaman ini sering kali berkat Tuhan diukur hanya dari kelimpahan materi yang dimiliki oleh seseorang. Sesungguhnya berkat Tuhan tidak bisa direduksi hanya sebatas materi / kekayaan yang Tuhan berikan, tetapi berkat Tuhan berarti segala sesuatu yang baik yang Tuhan berikan kepada manusia. Bilangan 6:24-26 mencatat berkat yang diberikan Tuhan berupa perlindungan Tuhan, kehadiran Tuhan di tengah umat-Nya (persekutuan) dan damai sejahtera-Nya. Damai sejahtera tidak sekedar mengacu pada keadaan yang bebas dari peperangan, tetapi mengacu pada seluruh keadaan positif dari kebenaran dan kebaikan yang sempurna, yang tentu saja asalnya hanya dari Tuhan. Maka kelimpahan, kesuburan, keamanan hanya merupakan hasil dari keadaan tersebut.
Sejak menciptakan alam semesta dan manusia Tuhan telah memberikan berkat-Nya (Kej. 1:28). Ketika Tuhan memberikan perintah agar manusia bermultiplikasi dan memenuhi bumi, Ia mau melalui manusia berkat Tuhan hadir di dunia. Sayangnya manusia telah jatuh ke dalam dosa dan melawan Tuhan dan kebenaran-Nya, namun demikian Tuhan masih terus menyatakan berkat-Nya kepada manusia melalui Nuh (Kej. 9:1), Abraham dan keturunannya (Kej. 12:1-3; 22:17-18; 25:11; 26:2-4; 27:27-29; 49:28), Musa (Ul. 28:1-14), dan orang-orang pilihan-Nya yang lain. Bahkan Ia sendiri datang ke dunia dan bersekutu dengan manusia dalam rupa seorang manusia, yaitu Yesus Kristus. Di dalam diri Tuhan Yesus, Allah menyatakan kebenaran-Nya dan melalui-Nya manusia diberkati.
Mari lihat hidup kita, bukankah telah begitu banyak kebaikan yang Tuhan nyatakan kepada kita? Mungkin kita tidak menikmati berbagai kelimpahan materi, tetapi bukankah kita mengalami perlindungan dan penyertaan-Nya yang memungkinkan kita bisa ada pada hari ini? Bahkan di tengah persoalan hidup yang melanda kita kita masih bisa mengalami damai sejahtera-Nya ketika kita datang kepada-Nya. Hitunglah berkat-Nya dan bersyukurlah karena berkat itu terlalu banyak untuk dihitung. -va

Senin, 22 Agustus 2011

BERKAT TUHAN DAN KETAATAN MANUSIA

Jika engkau baik-baik mendengar suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: …
Ulangan 28:1-14

Kemarin kita telah merenungkan bahwa berkat Tuhan adalah seluruh kebaikan Tuhan yang diberikan kepada manusia dan Tuhan kita adalah Tuhan Allah yang selalu memberkati umat-Nya. Tetapi kita juga perlu sadar bahwa berkat Tuhan juga berkaitan dengan ketaatan manusia. Ulangan 28:1-14 adalah janji berkat yang akan Tuhan berikan ketika umat-Nya yang sudah Ia tebus dan selamatkan mau hidup taat kepada Tuhan. Hal ini dapat kita saksikan di sepanjang PL. Ketika umat Tuhan hidupnya taat kepada Tuhan, maka Tuhan menurunkan segala kebaikan bagi mereka, tetapi ketika mereka melawan Tuhan, mereka menghadapi berbagai hal yang buruk bahkan sampai dibuang oleh Tuhan. Contoh ketaatan yang sangat jelas dalam Kitab Kejadian adalah Abraham yang taat untuk meninggalkan tanah kelahirannya (Kej. 12:4) dan rela mengorbankan anak tunggalnya (Kej. 22:16-18). Melalui ketaatannya kepada Tuhan, akhirnya janji berkat Tuhan diturunkan kepada keturunannya yang kemudian menjadi satu bangsa pilihan Tuhan.
Sering kali kita berpikir bahwa berkat Tuhan adalah hal yang sudah memang biasa dan seharusnya kita dapatkan (take it for granted), apalagi setiap minggu hamba Tuhan di gereja selalu menyampaikan ucapan berkat. Tetapi coba disimak lagi, sebelum ucapan berkat disampaikan, biasanya didahului dengan satu ucapan pengutusan yang di dalamnya mengandung perintah untuk melaksanakan firman Tuhan.
Tuhan mau memakai umat-Nya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain, menghadirkan seluruh kebenaran dan kebaikan Tuhan di dunia, tetapi terlebih dahulu kita harus taat kepada-Nya dan berkat-Nya hadir dalam hidup kita.

Doa: Ampuni kami, Tuhan, jika kami sering menganggap berkat Tuhan sebagai hal yang biasa untuk kami terima tanpa harus taat kepada-Mu. Kami mau belajar untuk taat sehingga berkat-Mu turun atas kami dan kami boleh menjadi berkat bagi orang lain. Amin. -va

Selasa, 23 Agustus 2011

KOMUNITA YANG MENJADI BERKAT BAGI BANGSA-BANGSA

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1:8

Jika kita mengingat kembali pada renungan dua hari lalu, Tuhan ingin agar segala berkat-Nya dapat dialami oleh seluruh umat manusia di bumi. Untuk itu Tuhan memakai kita, umat tebusan-Nya, untuk menyalurkan berkat-Nya kepada orang-orang yang belum mengenal Dia. Orang percaya yang hidupnya taat kepada Tuhan, membagi segala kebaikan Tuhan kepada orang-orang di sekitarnya akan membawa orang lain mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup mereka. Jemaat mula-mula merupakan contoh nyata. Mereka mempelajari dan menghidupi firman Tuhan dan selalu saling berbagi, sehingga hal tersebut menjadi kesaksian yang baik bagi komunita di luar mereka, sehingga jumlah mereka terus bertambah.
Sebuah syair karya Ira B. Wilson kiranya menjadi doa kita pada hari ini:

Di dalam hidup yang penuh liku, banyak yang berbeban berat dan sedih.
Bawalah terang di mana kegelapan melanda,
membuat yang bersedih menjadi gembira.

Beritakan kisah Kristus yang indah dan kasih-Nya;
Beritakan kuasa pengampunan-Nya.
Orang lain akan percaya pada-Nya hanya jika engkau membuktikan kebenaran-Nya dalam setiap momen hidupmu.

Berilah sebagaimana Allah telah memenuhi kebutuhanmu;
Kasihilah sebagaimana Tuhan telah mengasihimu.
Jadilah penolong bagi yang membutuhkan pertolongan sampai misimu terpenuhi.

Jadikan aku berkat
Kiranya sinar Kristus terpancar dalam hidupku
Jadikan aku berkat, O Juruslamat, ini doaku
Jadikan aku berkat bagi seseorang hari ini

Rabu, 24 Agustus 2011
Menjadi Berkat Melalui Perkataan
“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” Amsal 18:21
Salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah perkataan yang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan ada banyak orang yang enggan dan menolak kekristenan oleh karena kegagalan orang percaya dalam mengendalikan perkataan. Kata-kata mempengaruhi setiap orang yang kita ajak bicara karena sesungguhnya perkataan memiliki kekuatan untuk menolong dan menyembuhkan, atau juga sebaliknya kekuatan untuk merusak dan melukai. Selain bagian yang telah ditulis di atas maka beberapa kali penulis Amsal juga menuliskan kuasa perkataan demikian: “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan,” tulisa Raja Salomo (Amsal 12:18). Sebagian orang Kristen kata-katanya menikam seperti pedang kedalam jiwa seseorang, menyebabkan luka batin pasangan mereka, anak, tetangga, pelayan, operator telepon, atau orang lain yang menghalangi mereka.
Firman Tuhan mengatakan bahwa apa yang kita ucapkan dapat mengendalikan keseluruhan hidup kita. Perkataan yang positif akan memberikan dampak yang positif juga bagi hidup kita, apalagi jika kita memperkatakan Firman Tuhan. Firman Tuhan akan membentuk kehidupan kita dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang tidak tahu menjadi berhikmat, dari yang tidak punya menjadi punya, dari yang sakit menjadi sehat, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dari yang kecil menjadi besar. Pertama kali Tuhan Allah menciptakan dunia ini beserta isinya dan alam semesta adalah dengan memperkatakan firman: “Jadilah….”, maka semuanya itu tercipta. Dalam setiap pelayanan-Nya, Tuhan Yesus juga selalu memperkatakan firman Tuhan. Ketika Dia dicobai oleh iblis, yang keluar dari mulutNya adalah firman Tuhan. Oleh Firman-Nya itulah siasat si iblis dapat dikalahkan. Tuhan adalah pencipta, dengan firman-Nya hidup kita dapat diciptakan seturut dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, perkatakanlah firman Tuhan dalam setiap langkah hidup kita, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, bahkan dalam keadaan kehilangan harapan sekalipun. Tanpa kita sadari, Firman yang kita perkatakan akan bekerja secara ajaib membentuk, menciptakan, mengubahkan keseluruhan hidup kita sesuai dengan rencana-Nya.
Tetapi, Perkataan-perkataan yang negatif akan membentuk hal-hal yang negatif juga dalam kehidupan kita. Hal ini nampak jelas ketika kita mengalami kesulitan yang membuat kita merasa tidak mampu, kelelahan, putus asa, kecewa, marah dan hilang pengharapan. Biasanya kita sering mengeluarkan kata-kata yang negatif dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sadar atau tidak, apa yang kita ungkapkan dan katakan tidak akan membuat masalah kita menjadi selesai, tetapi justru akhirnya dapat memperburuk keadaan. Kata-kata negatif yang keluar dari mulut kita dapat menjadi kutuk atas kehidupan kita bahkan kutuk bagi orang lain jika diucapkan terhadap orang lain. Kutuk ini akan mengikat hidup kita sehingga kita tidak bisa memperoleh berkat yang sudah Tuhan sediakan bagi kita.
Ucapkanlah hal-hal positif, perkatakanlah Firman Tuhan dan mengucap syukur atas segala hal.

Kamis, 25 Agustus 2011
Menjadi Berkat Melalui Kesulitan Yang Dihadapi
“Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”
(Roma 8:34-37)
Dalam bukunya “Harmagedon”, Billy Graham pernah menuliskan kata- kata sebagai berikut, “Alkitab dan sejarah Gereja menunjukkan bahwa jalan keluar dari Allah bagi penderitaan umat-Nya tidak selalu berarti bebas dari penderitaan itu sendiri, melainkan kuasa untuk dapat bertahan dalam penderitaan.” Apa yang dikatakan Billy Graham menyadarkan kita bahwa sesungguhnya setiap kesulitan yang dialami oleh umat Tuhan dapat diubah Tuhan untuk menjadi jalan berkat bagi bangsa lain. Seringkali kita menjadi sangat mengasihani diri ketika kita terlibat dengan begitu banyak persoalan hidup. Sampai muncul pertanyaan dengan nada pesimis “Apakah umat Tuhan bisa hidup bebas dari segala tantangan dan kesulitan? Apakah senantiasa harus pikul salib terus?” Sesungguhnya sangat manusiawi kalau kemudian kita menjadi demikian. Tetapi pengalaman Paulus justru menyadarkan kita bahwa melalui tantangan dan kesulitan yang dialami akan terbuktilah kemenangan yang dari Tuhan bagi umat-Nya. Seorang pemenang adalah dia yang telah mengalahkan segala kesulitan dan tantangan di dalam hidupnya. Dan juga telah nyata bahwa firman Tuhan tidak mengajar kita untuk lari dari kesulitan. Jikalau kesulitan itu datang dan dikehendaki oleh Tuhan, maka mintalah hikmat dan kekuatan daripada-Nya untuk menaklukkan segala kesulitan sebagaimana Rasul Paulus tuliskan.Dan yang jangan pernah kita lupakan adalah jangan memahami dan mengartikan kemaha-kuasaan-Nya sebagai Allah yang mampu mengubah semua situasi-kondisi yang sulit dalam hidup kita. Tapi kita lupa, bahwa Allah yang maha kuasa juga mampu mengubah sikap hati kita terhadap kesulitan yang sedang dihadapi.
Pada waktu Yesus berada di Taman Getsemani, Ia minta jikalau boleh, cawan kepahitan itu dilalukan daripada-Nya. Tetapi Bapa-Nya di Sorga tetap menghendaki Yesus meminum cawan itu. Bapa mengirim seorang malaikat untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Lukas 22:43). Salib itu tetap harus dipikul, namun sikap hati manusia Yesus telah diubah dan dikuatkan. Hasilnya, Yesus dapat tegak berdiri untuk menghadapi salib dengan sikap hati yang tangguh (bandingkan Yohanes 18:4-8).
Sejumlah besar pujian yang terkenal digubah pada saat pengarangnya sedang mengalami tantangan dan cobaan yang begitu berat. Charlotte Elliot telah mengubah lagu “Sebagai-mana Adaku” (“Just As I Am”, tahun 1836) pada waktu ia mengalami cacat tubuh dan tak berdaya. H.G. Spafford mengubah lagu “Nyamanlah Jiwaku” (“It is Well with My Soul”) pada waktu musibah secara beruntun menimpa hidup dan keluarganya. Perusahaannya mengalami pailit, lalu kedua anaknya meninggal dunia dalam suatu musibah karam kapal. Fanny Crosby menggubah ribuan lagu pujian dalam keadaan buta selama puluhan tahun sampai ia meninggal dunia. Dalam segala kesulitan yang dialami oleh orang-orang tersebut di atas, mereka tidak mengeluh kepada Tuhan, tetapi malah mengarang syair-syair, lagu-lagu yang membangun, serta hasil riset yang telah menjadi berkat bagi jutaan orang. Mereka telah keluar sebagai “lebih dari pemenang”. Bagaimana dengan kita?

Jum’at, 26 Agustus 2011

KAMU, BANGSA YANG TERPILIH (1 PETRUS 2:9)

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan
Hidup manusia selalu bergantung pada Allah. Sebagai contoh: manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri atau dengan kata lain manusia tidak dapat keluar sendiri dari “kegelapan rohani.” Puji Tuhan, Allah kita memiliki insiatif untuk mengangkat kita dari kegelapan tersebut kepada terang.
Ayat ini secara langsung ditujukan kepada para pembaca waktu itu. Pembaca waktu itu adalah orang-orang Kristen yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Mereka pada waktu itu sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus menggunakan empat gelar kehormatan dari Perjanjian Lama untuk menggambarkan Gereja (orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib) sebagai “Bangsa yang terpilih,” “Imamat yang rajani,” “Bangsa yang kudus,” dan “Umat kepunyaan Allah”
Bagian ini menunjukkan bahwa para pembaca mendapatkan hak istimewa menjadi umat pilihan Allah, di mana hak menjadi umat pilihan Allah tadinya hanya dimiliki oleh bangsa Israel. Namun, hak ini juga dikaruniakan oleh Allah kepada bangsa-bangsa di luar Israel (non-Yahudi), mereka menjadi “Israel milik Allah.” Mereka mempunyai tugas untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain dengan memberitakan perbuatan-perbuatan Allah. Mer eka dipilih untuk memuliakan Allah.
Hak istimewa menjadi umat pilihan Allah juga dikaruniakan kepada kita, sebagai orang-orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (gereja). Sebagai umat pilihan ada tugas yang harus kita emban di selama kita hidup di dunia ini, yaitu menjadi terang bagi orang-orang di sekitar kita yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bersama membagikan berkat Tuhan (karunia Tuhan berupa hak istimewa menjadi umat Tuhan) kepada orang-orang yang belum percaya. Ini tugas kita yang harus kita lakukan. Jangan sia-siakan waktu yang ada
Randy

Sabtu, 27 Agustus 2011

KEMULIAAN TUHAN BAGI BANGSA-BANGSA (YESAYA 60:1-7)

60:1 Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 60:2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. 60:3 Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. 60:4 Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. 60:5 Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. 60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN. 60:7 Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.
Dosa yang dilakukan manusia membuatnya berada di dalam gelap, terpisah dengan Tuhan, itulah yang terjadi pada bangsa Israel dimana karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan maka Tuhan menghukum mereka melalui pembuangan ke Babel. Di Babel, mereka merasakan kegelapan dalam hari-hari yang mereka jalani.
Bersyukur dalam Yesaya 60, Tuhan berjanji bahwa kemuliaan-Nya akan dinyatakan. Kegelapan yang meliputi seluruh muka bumi dan kekelaman yang dirasakan bangsa Israel tidak bersifat kekal, sebab terang Tuhan hadir atas mereka. Ketika bangsa Israel menerima terang Tuhan, maka terang itu bukan hanya “eksklusif” bagi mereka saja, namun bangsa-bangsa lain juga akan datang kepada terang itu. Itu adalah berkat Tuhan. Selain itu ada berkat-berkat lain yang Tuhan berikan. Ayat 4-7 menggambarkan dengan jelas berkat-berkat Tuhan yang Tuhan berikan bagi mereka. Semua bangsa di luar Israel (Yerusalem) akan datang berhimpun di Yerusalem untuk menyembah Tuhan.
Kondisi ini serupa dengan kondisi dimana kita hidup. Kita sebagai orang percaya (anak-anak terang) merupakan “minoritas.” Kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang belum percaya (anak-anak gelap). Tetapi ada saatnya bahwa orang-orang yang belum percaya akan melihat TERANG. Pada nantinya kita bersama-sama dengan mereka menyembah kepada Tuhan di dalam bait-Nya yang kudus. Randy

Minggu, 28 Agustus 2011

Kekristenan dan Komunitas

18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Kejadian 2

Ayat ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Ayat yang seringkali dikhotbahkan pada saat membahas tentang rencana Allah dalam hidup seorang pria dan seorang wanita. Saya tidak memungkiri ayat ini mengandung makna seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang. Tetapi pada hari ini saya ingin mengajak kita untuk melihat lebih dalam lagi tentang apa yang menjadi tujuan Allah menciptakan seorang penolong bagi Adam pada saat itu. Bagian ini dituliskan pada saat penciptaan yang dilakukan Allah atas dunia ini sudah berakhir. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah itu menjadi penguasa yang diberikan mandat secara khusus untuk menguasai dan mengelola bumi ciptaan Tuhan itu (1:28). Sebagai penguasa yang diberikan kuasa oleh Allah, manusia menjalankan tanggung jawab tersebut dengan baik (2:20). Manusia memberi nama untuk semua binatang yang ada di taman Eden pada waktu itu. Akan tetapi Alkitab mencatatkan bahwa manusia itu tidak mendapatkan seorang penolong yang sepadan baginya yaitu ciptaan yang sama dengan dia yang segambar dan serupa dengan Allah. Dia tidak menemukan seorang penolong yang dapat mengerti tentang perasaan hatinya. Dia tidak menemukan seorang penolong yang dapat menjadi tempat dia mengutarakan isi hatinya. Adam butuh seorang penolong yang dapat sepadan agar dia bisa bersekutu dengan penolongnya tersebut. Melihat akan hal ini maka Allah menciptakan Hawa untuk menjadi penolong sehingga Adam bisa bersekutu dengan Hawa.

Saudaraku, sejak awal design penciptaan yang Allah kerjakan adalah agar manusia hidup di dalam komunitas. Allah menciptakan manusia tidak sendirian tetapi ada penolongnya. Salah satu perintah yang diberikan Allah kepada manusia adalah “beranakcuculah dan bertambah banyak” (1:28) yang artinya manusia diciptakan untuk hidup dalam sebuah kelompok masyarakat. Sebagai orang Kristen, kita harus memahami hal ini dengan benar karena hal ini menjadi hal yang sangat mendasar di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kita tidak dipanggil untuk menjadi orang Kristen yang eksklusif tetapi menjadi orang inklusif. Kita tidak dipanggil untuk memisahkan diri dari komunitas tetapi kita dipanggil untuk masuk dan terhisap di dalam sebuah komunitas. Renungan dalam minggu ini akan mengajak kita untuk melihat pentingnya komunitas di dalam kehidupan kita sebagai anak Tuhan. Amin. Jho

Senin, 29 Agustus 2011

Komunitas Adalah Kerinduan Hati Allah Bagi Orang Kristen

20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17

Perikop yang menjadi perenungan kita hari ini adalah tentang doa Tuhan Yesus bagi para pengikut-Nya. Kalau kita perhatikan dengan seksama pasal demi pasal sebelum (15 dan 16) dan sesudah perikop ini (18) maka kita akan mendapatkan keindahan hidup di dalam Tuhan. Pasal 15 Tuhan Yesus berbicara tentang perumpamaan pohon anggur yang dilanjutkan dengan perintah untuk saling mengasihi. Dari sini kita melihat bahwa kita diminta untuk berbuah bagi Tuhan tetapi kita tidak boleh mengabaikan kasih kepada sesama kita. Kenapa? Jawabannya ada pada perikop berikutnya. Kita dipanggil menjadi milik Kristus, itu artinya kita menjadi seteru dunia ini. Ketika kita menjadi seteru dunia ini maka kita diminta untuk bertekun di dalam kepercayaan yang Tuhan berikan ini karena ada Roh Kudus yang menjadi penghibur bagi orang percaya di dalam menghadapi perseteruan dengan dunia ini. Lalu pada pasal 17 Tuhan Yesus berdoa agar para pengikut-Nya yang telah dipilih-Nya dan diberikan “parakletos” itu bersatu. Tuhan tidak mau para pengikut-Nya terpecah-pecah. Tuhan mau mereka semua bersatu di dalam perjalanan mereka mengiring Tuhan. Tuhan ingin agar semuanya bersatu sama seperti Bapa dan Anak adalah satu sehingga ketika dunia melihat kesatuan para pengikut Tuhan ini, mereka akan percaya bahwa Allah-lah yang telah mengutus Tuhan datang ke dalam dunia ini.

Saudaraku, Tuhan kita adalah Tuhan yang Esa. Doa itu pulalah yang dipanjatkan oleh Tuhan Yesus kepada Bapa-Nya. Sebuah permohonan yang menggamabarkan kerinduan hati Tuhan Yesus untuk melihat semua pengikut-Nya hidup di dalam kasih satu dengan yang lain. Hidup saling memperhatikan satu sama lain, tidak menjadi orang yang mengasingkan dirinya dari hanya oleh karena ia tidak mau direpotkan karena harus memperhatikan dan mengasihi orang lain. Saudaraku, ini tantangan bagi kita semua yang menyebutkan diri sebagai pengikut Kristus. Adakah kerinduan dalam hati kita untuk senantiasa hidup di dalam kesatuan bersama dengan saudara-saudari kita seiman lainnya? Atau justru sebaliknya, kita nyaman dengan kesendirian kita? Renungkanlah hal ini.

Rabu, 30 Agustus 2011

Komunitas Sebagai Identitas Orang Kristen

42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.
Kisah Para Rasul 2

Perikop ini adalah bagian yang dituliskan setelah peristiwa Pentakosta dan khotbah Petrus yang luar biasa di Yerusalem. Melalui Petrus Tuhan bekerja dengan luar biasa mempertobatkan orang banyak dan membawa mereka masuk ke dalam satu komunitas yang baru yaitu komunitas pengikut Kristus. Dalam ayat yang kita baca di atas, kita menemukan gaya hidup yang diperlihatkan oleh komunitas pengikut Kristus ini. Dituliskan tiap-tiap hari mereka berkumpul di Bait Allah untuk mendengarkan pengajaran para rasul lalu memecahkan roti. Mereka hidup bersama. Mereka memuji-muji Tuhan dalam setiap kesempatan yang mereka dapatkan. Bagian terakhir dari ayat ini yang menjadi perhatian kita yaitu jumlah mereka bertambah hari demi hari. Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah apa yang membuat komunitas ini terus bertambah banyak? Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa semuanya itu adalah karya Tuhan semata tetapi ketika saya mencoba merenungkan hal ini maka sebenarnya ada unsur manusia di dalamnya. Apa itu? Kehidupan komunitas yang hangat. Inilah yang menjadi rahasia pertumbuhan komunitas ini. Para pengikut Kristus setelah mengenal Tuhan, mereka tidak mengasingkan diri mereka dan bersembunyi karena ketakutan tetapi justru mereka berkumpul dan memperlihatkan kehidupan komunitas yang hangat bukan saja di dalam lingkup mereka tetapi juga di luar lingkup mereka sehingga orang di sekitar mereka pun tertarik untuk masuk dalam komunitas tersebut.

Saudaraku, kekristenan bukan berbicara tentang satu pribadi tetapi berbicara tentang sekelompok orang yang ada di dalamnya. Kekristenan sangat identik dengan komunitas. Ini adalah salah satu dari identitas orang percaya. Oleh karena itu penting bagi kita untuk membiasakan diri untuk hidup di dalam komunitas karena itulah yang menjadi identitas kita di depan orang banyak. Jho

Kamis, 31 Agustus 2011

Komunitas Sebagai Tempat Saling Menasehati

20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Matius 18

Ayat ini menjadi ayat favorit dari orang-orang Kristen yang dipakai untuk menegaskan tentang kehadiran Allah dalam kehidupan orang-orang percaya. Akan tetapi ayat ini seringkali pula dipakai dalam konteks yang kurang tepat. LAI memberikan judul yang baik untuk perikop ini yaitu “tentang menasihati sesama saudara”. Jadi ayat ini bukan membicarakan tentang kehadiran Allah dalam doa orang percaya tetapi lebih jelas berbicara tentang kehadiran Allah dalam kehidupan saling menasehati sesama saudara. Dalam perikop ini dituliskan bagaimana langkah-langkah yang harus diambil oleh orang percaya di dalam menasehati saudaranya yang melakukan kesalahan. Mulai dari tahapan empat mata lalu bawa saksi dan kalau tidak bisa lagi maka dapat diperhadapkan kepada jemaat Tuhan dan diberitahukan kesalahannya serta pelaksanaan disiplin gerejawi atas dirinya. Kalau kita telisik lebih dalam, perikop ini sedang membahas tentang kehidupan dalam sebuah komunitas. Dalam kita berkomunitas, maka kita tidak akan mungkin terlepas dari kesalahan. Setiap manusia bahkan kita sendiri pernah melakukan kesalahan. Reaksi manusia ketika mengetahui saudaranya berbuat salah adalah berdiam diri. Aksi ini mungkin dilakukan karena takut menyakiti hati saudaranya tersebut. Mungkin ia juga tidak mau disebut sebagai seorang “reseh” yang mau mencampuri urusan orang lain. Mungkin dia takut tidak diterima dalam sebuah komunitas. Dan mungkin masih banyak alasan lagi yang dikemukan dengan maksud untuk membenarkan dirinya. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah sikap ini benar? Jelas sekali sikap seperti ini adalah salah. Karena ketika kita melakukan aksi diam saat melihat saudara kita melakukan kesalahan, maka sebenarnya kita sedang menjerumuskannya ke dalam kesalahan yang lebih dalam lagi. Komunitas orang Kristen bukanlah komunitas yang seperti itu. Komunitas orang Kristen adalah komunitas yang tidak menjerumuskan seseorang jatuh ke dalam dosa tetapi komunitas Kristen adalah komunitas yang mau membantu orang lain bangkit dari kejatuhannya. Komunitas Kristen adalah komunitas yang peduli akan keberadaan saudaranya. Komunitas Kristen adalah komunitas yang menjadi tempat untuk saling menasehati dan menyadarkan orang yang jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu, marilah kita membangun komunitas yang seperti itu. Jangan membentuk komunitas hanya untuk bersenang-senang tetapi bentuklah komunitas untuk mendewasakan Anda. Amin. Jho