Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.
Thema Khotbah Mimbar Umum
03 Juli 2011

Dibentuk untuk Melayani. Melayani untuk Dibentuk
Proses pembentukan Tuhan tidak pernah berhenti sampai “maut memisahkan kita” dan yang pasti Tuhan punya rencana & tujuan mengapa IA membentuk kita. Salah satunya adalah untuk melayani-Nya; dan pelayanan juga dipakainya untuk membentuk kita.
10 Juli 2011
Thema Komsel 15 Juli
Seorang Pelayan di antara Tuhan & Manusia
Seorang pelayan berada di antara Tuhan & manusia, yang sama-2 harus dilayani dan sama-2 minta disenangkan dan dipuaskan. Bagaimana kita berkiblat dan mengaplikasikan pelayanan kita yang tidak mudah ini?
17 Juli 2011
Keseimbangan:
Faktor Internal & Kebersandaran kepada Tuhan
Tidak dapat dipungkiri bahwa kapasitas dan kapabilitas memiliki peranan penting dalam pelayanan seseorang. Bagaimana seharusnya seorang pelayanan Tuhan mengintegrasikan ini semua dengan kebersandarannya kepada Tuhan shg menjadikannya seorang pelayan Tuhan yang berkenan.
24 Juli 2011
Keseimbangan: Keluarga & Pelayanan
Unsur lain yg tidak kalah penting adalah factor keluarga yg menjadi titik berangkat sekaligus tolok ukur pelayanan seseorang. Bagaimana seorang pelayan harus menghidupi pelayanan & keluarganya (hidup dlm keluarga)
31 Juli 2011
Thema Komsel 05 Agust
Seorang Pelayan di tengah-2 Komunita Orang Percaya
Gambaran kawanan domba Allah bagi komunita orang percaya melahirkan tuntutan sendiri bagi seorang pelayan. Bagaimana seharusnya seorang pelayan hidup & melayani komunita orang percaya?

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Antoni, Ev. Henny Purwoadi, Ev. Jenik Purwoadi, Pdt.
Jhonatan, Ev. Sdr. Joel Saragih
Jumat, 01 Juli 2011

YANG DULU DAN SEKARANG

18:13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?” 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: “Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.” 17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.
Keluaran

Musa adalah seorang pemimpin umat yang beruntung, bukan sekedar mendapatkan predikat dari TUHAN sebagai seorang yang lembut hatinya; tetapi ia juga memiliki seorang mertua yang dengan cermat memperhatikan sepak terjangnya untuk melayani bangsa Israel dan memberikan sebuah pendekatan dan metode pelayanan yang jauh lebih efisien dan efektif; Musa dan bangsa itu tidak kelelahan, dan mereka puas dengan layanan yang diberikan.
Pertanyaan Yitro memberikan indikasi bahwa itulah yang dari hari ke sehari dilakukan oleh Musa, dan Yitro menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Musa adalah tidak baik. Padahal bila kita menyimak penjelasan Musa, ia sedang melakukan hal yang mulia yakni melayani umat Tuhan dan membawa mereka mengenal ketetapan-2 dan keputusan-keputusan Allah; apakah itu tidak baik? Saya yakin bukan itu yang dimaksud oleh Yitro, melainkan cara dan pendekatan yang dilakukan oleh Musa dalam menangani kasus yang ada di antara mereka.
Perenungan Pernahkan kita bayangkan apa yang terjadi bila Musa tidak mendapatkan masukan penting ini? Pastilah Musa dan umat Tuhan tidak terlayani dengan baik sehingga ketetapan dan keputusan Allah tidak sampai kepada umat. Mungkinkah kondisi seperti ini dapat terjadi pada pelayanan masa ini? Bukan dikarenakan tujuan pelayanan dan motivasi yang kurang baik, tetapi karena cara & pendekatan yg salah? jp

Sabtu, 02 Juli 2011

TUJUAN PELAYANAN DAN PEMBERDAYAAN MANUSIA

18:15 Kata Musa kepada mertuanya itu: “Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.”
. . . 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. . . . 24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. Keluaran

Bila kita menanyakan secara acak kepada kalayak kristiani tentang alasan mengapa kita melayani, biasanya kita akan menemukan jawaban yang sangat klasik, yakni karena kita telah menerima anugerah keselamatan, dan kita harus mengembalikan dalam bentuk pelayanan kepada Allah dan melayani manusia.
Jawaban ini benar, tidak salah; dan untuk hal seperti itu pulalahn Musa melakukannya. Ia melayani manusia/umat Tuhan yang membutuhkan petunjuk Allah dan memberi tahukan kepada mereka ketetapan dan keputusan Allah. Musa melakukan fungsi kenabiannya untuk mewakili Allah berbicara kepada umat-Nya. pada sisi yg lain ia datang kepada Allah untuk mewakili umat Tuhan. Bila boleh dikristalkan maka pelayanan adalah melayani Tuhan dan umat-Nya.

Perenungan. Yitro sadar benar ttg tujuan utama pelayanan ini, oleh sebab itu ia mengatakan bahwa Musa tidak dapat mengerjakan sendiri, Musa perlu melibatkan orang lain dan memberdayakan mereka dalam pelayanan; tetapi tidak sembarang memilih orang; sekalipun kecakapan dituliskan terlebih dahulu namun hati yang takut akan Allah menjadi bagian terpentingnya. Bagaimana mungkin seorang pelayanan dapat berada di antara TUHAN dan umat dan dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik bila ia tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan? Dapatkan ia memberikan petunjuk dari Tuhan dan menyatakan ketetapan dan keputusan Allah? Layakkah ia berdiri di hadapan Tuhan? jp

Minggu, 03 Juli 2011

DIBENTUK UNTUK MELAYANI. MELAYANI UNTUK DIBENTUK

18:1 Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:
2 “Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” 3 Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. 4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. 5 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: 6 “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! (Yeremia)

Pembentukan TUHAN bagi setiap orang percaya adalah sebuah karya yang tidak pernah berhenti. Allah selalu memiliki berbagai cara untuk membentuk diri dan kehidupan kita; IA adalah Allah yang inovatif dan kreatif untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang dikasihi-Nya (Roma 8:28). Alangkah indahnya bila kita menyadari hal ini dan dengan segala kerelaan membiarkan DIA menjunan kehidupan kita. Ada yang pahit, ada yang getir, ada yang manis dan ada yang indah.
Nats di atas merupakan sebuah gambaran (figurative) tentang pembentukan Tuhan kepada umat-Nya, bagaikan periuk di tangan seorang penjunan – demikianlah kita di tangan TUHAN. Rancangan TUHAN tidak pernah gagal. Allah yang kreatif dan inovatif ini membentuk kita dalam segala aspek kehidupan kita, dan itu juga terjadi ketika kita telah berkecimpung dalam dunia pelayanan. Entah sebagai apa dan mengerjakan kepercayaan apa, Allah selalu turut campur untuk membentuk kita. IA dapat menjadikan kita sebagai pelayan yang terampil walaupun sebelumnya kita tidak dapat berbuat sesuatu yang kita anggap berarti. IA juga sangat tertarik untuk membentuk tabiat, sifat dan karakter kita, agar kita menjadi alat-Nya yang semakin efektif; dan yang terpenting IA berkenan memakai kita sebagai hamba-Nya.
Perenungan. Apakah anda pernah berpikir bahwa Allah akan berhenti membentuk kita dan finalitasnya terjadi ketika kita telah memasuki dunia pelayanan? Dengan kata lain, seorang pelayan Tuhan telah lulus dari pembentukan TUHAN dan tidak perlu lagi dibentuk? jp

Senin, 04 Juli 2011

PELAYANAN DAN PENYERTAAN

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. 2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. 4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya. 5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga. 6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.
7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.
2 Timotius

Walaupun kita tidak mengetahui detail permasalahan pelayanan Timotius, setidaknya kita menangkap bahwa Paulus memberikan kekuatan bagi anak rohaninya ini, agar Timotius menjadi kuat untuk menghadapi problema pelayanan hanya dengan kasih karunia Yesus Kristus.
Setidaknya Paulus menggunakan 3 gambaran dari 3 profesi yang berbeda agar Timotius dapat bertekun di dalamnya, baik bak seorang prajurit; juga seperti seorang olahragawan dan juga sebagai seorang petani yang bekerja dan akhirnya menikmati hasilnya.
Namun sekalipun seseorang sudah mempersiapkan diri dan menguatkan dirinya dengan berbagai disiplin, ketaatan akan aturan-aturan dan rajin & giat bekerja, terkadang ia bisa berada di dalam kondisi dan situasi kebingungan dan ketidak tahuan harus melakukan apa, bertindak bagaimana dan melakukan respon seperti apa. Dalam situasi seperti ini, ayat 7 menjadi sangat penting, yakni tentang penyertaan Tuhan yang dihadirkan-Nya untuk memberikan pengertian (BIS: kesanggupan untuk mengerti) kepada kita yang sedang melayani Tuhan. Betapa pentingnya kita menyadari dan akhirnya membutuhkan penyertaan-Nya dalam melayani TUHAN dan jemaat-Nya

DOA Sekalipun aku mampu dalam segala hal, ingatkan senantiasa bahwa aku memerlukan Engkau ya Tuhan melebihi segalanya. Amin. jp

Selasa, 05 Juli 2011

KE-SALAH KAPRAH-AN
(KEKUDUSAN HIDUP DAN PELAYANAN)

6:5 Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” 6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. 7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” 8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
(Yesaya)

Ada komentar-komentar yang sering kali kita dengar di sekitar kita, khususnya yang ditujukan kepada mereka yang mengambil bagian dalam pelayanan. Misalnya, guyonan dengan menyebut teman yang melayani sebagai malaikat yang untouchable, yang ada lingkaran di atas kepalanya yang menandakan orang suci (orang kudus). Atau, sulitnya kita menerima kegagalan atau kejatuhan seorang pelayan Tuhan. Kita selalu berpikir dan berkata:”Seorang pelayan Tuhan seharusnya begini . . . tidak boleh begitu.”
Saya yakin setiap kita setuju bahwa seorang pelayan harus hidup benar dan hidup kudus, baik di hadapan TUHAN juga di hadapan manusia. Ekstremnya, bagi mereka yang masih melakukan kesalahan tidak boleh melayani TUHAN. Pada satu sisi kita menerima pendapat ini; tetapi pada sisi lain bila kita menerimanya secara kaku, maka sampai bumi berakhir maka tidak pernah akan ada seseorang yang layak dan boleh melayani. Seseorang tidak boleh melakukan kesalahan karena kesalahan identik dengan keberdosaan dan ketidak kudusan. Mengapa demikian? Ya karena seorang yang melayani hidupnyan haruslah kudus dan sudah kudus.
Salah satu akibatnya, tidak terlalu mudah untuk melibatkan orang dalam pelayanan, karena merasa diri tidak layak, belum bisa hidup benar dan masih melakukan kesalahan dan kegagalan dalam hidup ini. Terkadang kita mendapatkan sebuah jawaban yang sesungguhnya penolakan secara halus (entah dg nada sinis atau pesimis) dan berkata:”Nanti kalau saya sudah hidup kudus, saya bersedia melayani TUHAN.” Apakah anda juga berpikir demikian? jp

Rabu, 06 Juli 2011

KE-SALAH KAPRAH-AN (2)
(KAPASITAS DAN KAPABILITAS)

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. . . 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. (Keluaran)

Salah satu pergumulan yang muncul di akhir periode pelayanan adalah menyiapkan pengurus (pelayan) yang baru. Tidak jarang antar bidang ataupun dengan komisi terjadi arena rebutan orang yang akan dijadikan calon pelayan di periode berikutnya. Salah satu pertimbangan yang dimunculkan untuk mengajak seseorang utk melayani adalah melihat kapasitas dan kapabilitasnya. Saya pikir alas an ini sah-sah saja dan wajar adanya. Tetapi pertanyaannya, apakah hal ini menjadi prioritas utama dalam pelayanan seseorang? Tidak jarang kita menjumpai kekecewaan yg ditujukan kepada mereka yang berkapasitas dan berkapabilitas namun tidak diimbangi dengan kedewasaan dan karakter yang membangun. tidak sedikit orang-2 seperti ini putus pelayanan di tengah jalan.
Di ayat 18 memberi kesan bahwa Musa adalah seseorang yang memiliki kemampuan (kapabilitas) yang baik, namun kapasitasnya tidak memadahi ketika ia harus mengurus perkara seluruh bangsa. Kapasitas yang terbatas akan membuat kapabilitas tidak terlalu efektif.
Di sisi lain, ayat 21 berbicara ttg kapabilitas/kecakapan (KJV: able man). Ini hal yang penting dan telah menjadi primadona terhadap system nilai untuk manusia. Pada zaman ini manusia berkecenderungan meningkatkan kemanusiaannya melalui peningkatan kapabilitasnya. Namun sayangnya kapabilitas seseorang menjadi tidak terlalu berharga dibandingkan dengan sebuah esensi – hati yang takut akan Tuhan – khususnya dalam pelayanan.
Perenungan. Kapabilitas dapat ditingkatkan melalui pendekatan training/latihan; namun hati takut akan Tuhan merupakan sebuah dinamika rohani yang membutuhkan kedisiplinan rohani yang ketat. Sayangnya, kita acapkali tergiur dg kapasitas dan kapabilitas seseorang. jp

Kamis, 07 Juli 2011

DIBENTUK OLEH SESAMA

5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.
1 Tesalonika

Ketika berada dalam sebuah pertemuan tentang mereka yang menderita ketergantungan obat-obatan, dan kemudian di lanjutkan dengan sesi berbagi dg pendampingnya, ada nasehat-nasehat yang dilontarkan oleh pendamping, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, yaitu pembunuhan. Hal itu terjadi karena sang pembunuh tidak mau di nasehati!
Seberapa diantara kita pernah mengalami susahnya “menasehati” orang lain? Dan seberapa diantara kita yg pernah mengalami betapa susahnya menerima nasehat orang lain, yang kebetulan tidak bersesuaian dengan keinginan hati kita!
Ketka Tuhan menghadirkan orang lain disekeliling kita, itu dengan suatu maksud yang baik, Kata “nasehatilah dan saling membangun mempunyai keterkaitan, artinya menasehati yang sifatnya membangun, kata “saling” itu sendiri menunjukkan kedua belah pihak terkait, bukan sendiri. Dan sifatnya harus saling memberi dan menerima!
Dalam kehidupan melayani, kita tidak bisa menghindar dari “gesekan”, “ketidakcocokan”, perbedaan pendapat dan lain sebagainya. Ketika semuanya terjadi sangatlah tidak mudah untuk melihat kesalahan diri sendiri, akan lebih mudah untuk melihat atau menaruh kesalahan orang lain. Sehingga kalau ada “nasehat” itu akan sulit kita dengar, apalagi kalau berbicara untuk membangun.
Mari kita semua belajar untuk saling melihat dengan kaca mata Tuhan, artinya sesuai dengan Firman Tuhan! Bukan dengan pikiran kita, Baik kita yg menasehati maupun yg menerima nasehat. Karena kalau kita bicara dalam Tuhan, maka akan ada nasehat yg keras yg kita dengar, atau kita harus berkata “keras” karena kita berkata jujur untuk sebuah perubahan.

Perenungan
Siapkah kita? Menjadi “pelayan” itu anugerah, sekarang bagaimana kita menyikapi rekan pelayanan yg Tuhan tetapkan dengan kita, mari menerima dengan baik dan benar. Siapapun dia Tuhan memakainya untuk melengkapi hidup kita, panggilan kita sebagai anakNya. Hp.

Jumat, 08 Juli 2011

DIBENTUK OLEH KESULITAN

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. (2 Korintus)

Seberapa tahan kita akan sebuah “penderitaan”, walaupun dengan kalimat yang nyata dari Firman-Nya, bahwa Ia merancangkan hal-hal yang mendatangkan kebaikkan. Seberapa tahan kita ketika mendengar fitnaan atas diri kita, padahal kita tidak pernah melakukan sesuatu yang difitnahkan kepada kita. Seberapa tahan kita akan sebuah pengkhianatan ketika kita pikir dia adalah saudara dalam Tuhan
Sesungguhnya dipercayai sebuah pelayanan itu sangatlah luar biasa, bahkan Tuhan menyediakan ada rekanan dalam menjalaninya. Tapi kita juga harus jujur, kesulitan itu tidak kemudian berhenti karena semuanya di dalam Tuhan, satu gereja, diikat oleh satu kasih. Bukan cuma orang lain yang pernah berbuat salah, kitapun mungkin pernah melakukannya, melayani itu tidak mudah, banyak pergumulan yang Tuhan ijinkan untuk kita temui, karakter yang berbeda, sifat yang berlainan, semuanya bisa menjadi pemicu “gesekan” antar pelayan Tuhan, lalu bagaimana menyikapinya ( so what gitu lho?). Berhenti pelayanan, ngambek, lempar batu sembunyi tangan? Apa saja kita bisa lakukan, semau kita, tidak ada yang bisa melarang dengan dasar undang-undang. Ketika kita berkata:” Itu hak saya!.” Maka sesungguhnya yang lain harus tersingkirkan.

Perenungan
Tahukah kawan, pada waktu semua permasalahan dan kesulitan itu engkau alami, itulah saat tangan Tuhan yg paling efektif sedang merenda dan menjunan hidupmu? Kita akan semakin mengenal siapakah kita, siapakah orang lain dan siapakah Tuhan. IA selalu efektif bagimu. jp

Sabtu, 09 Juli 2011

DIBENTUK OLEH PERKATAAN

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.
Keluaran

Salah satu bahasan yang disampaikan oleh Pdt. Paulus Kurnia dalam acara Pasutri tanggal 11 Juni yang lalu adalah perihal Bahasa yang Positif. Ia menceritakan tentang seseorang yang dijumpainya di Australia dan menitip salam bagi seseorang di Jakarta yang ternyata adalah guru sekolah di masa kecilnya. Orang ini dibangkitkan oleh kata-2 sederhana sang guru yang membuatnya bangkit dan pada saat ini justru membuatnya sanggup menggeluti pekerjaan yang berbasis pada mata pelajaran yang dulunya sangat dibencinya, Matematika.
Perkataan yang positif diyakini memiliki kekuatan yang dasyat; kekuatan untuk membangun keterpurukan seseorang, membangkitkan seseorang dari kejatuhannya. Sebaliknya, perkataan negative mampu menghancurkan kehidupan seseorang; sanggup melayukan dedaunan yang sedang menghijau. Dapat kita bayangkan bila dalam pelayanan bersama seorang dengan yang lain menggunakan bahasa yang negative, pesimis dan sinis; bagaimanakah suasana pelayanan tersebut? Mungkinkah pelayanan kita berhasil di mata Tuhan dan manusia, dan menjadi berkat bagi mereka yang kita layani?
Hal yang menarik dari nats bacaan kita hari ini adalah ketika Yitro ketika meminta Musa menyimak dan berkata dengarkanlah perkataanku lalu ia melanjutkan aku akan memberi nasihat kepadamu kemudian Allah akan menyertai engkau. Dapatkah kita menyimpulkan bahwa bila Musa mendengarkan perkataan Yitro dan menerima nasehatnya dalam hal menangani bangsa Israel, maka itu berarti Musa menerima penyertaan Allah? Dengan kata lain, penyertaan Allah dinyatakan melalui perkataan dan nasehat Yitro kepada Musa.
Perenungan. Bukan sesuatu yang berlebihan bila kita mengartikannya demikian, karena Allah dapat bekerja dan memberikan penyertaan-Nya melalui apa saja dan siapa saja. Bila demikian, mari kita belajar untuk menerima perkataan dan nasehat sesama pelayan Tuhan atau jemaat sebagai bagian pembentukan kita. Tuhan memberkatimu. jp

Minggu, 10 Juli 2011

Seorang Pelayan Tuhan Adalah Pilihan Tuhan

9:15 Tetapi Tuhan berkata kepada Ananias, “Pergilah saja! Sebab Aku sudah memilih dia untuk melayani Aku, supaya ia memberitakan tentang Aku kepada bangsa-bangsa lain yang tidak beragama Yahudi dan kepada raja-raja serta kepada umat Israel juga.
Kisah Para Rasul

Doktrin pemilihan menjadi sebuah doktrin yang sudah tidak asing lagi bagi kita orang Kristen. Doktrin pilihan ini bukan saja menyangkut tentang orang yang dipilih untuk diselamatkan tetapi juga orang yang dipilih untuk melayani Tuhan. Dari bagian firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan ini, kita bisa mendapatkan kebenaran tentang pemilihan Allah atas diri orang-orang yang akan melayani-Nya. Kisah Para Rasul 9 ini merupakan kisah yang sangat luar biasa yang mengisahkan tentang pemilihan/panggilan pelayanan atas diri seorang Saulus. Kita tentunya tahu siapa Saulus itu sebenarnya. Paling tidak kita bisa mendapatkan informasi tentang Saulus dari ayat-ayat sebelumnya. Dituliskan bahwa ia adalah orang menyetujui kalao Stefanus dihukum mati (8:1) dan ia juga adalah seorang yang memiliki ambisi besar untuk memusnahkan pengikut Kristus (9:1-2). Saulus adalah seorang muda yang dipenuhi dengan kebencian terhadap orang-orang yang mengikut Tuhan. Akan tetapi yang menarik di sini adalah pemilihan atas diri seorang Saulus untuk menjadi pelayan Tuhan. Peristiwa pemilihannya pun boleh dikatakan pemilihan yang unik. Panggilan ini diberikan kepadanya pada saat dia ingin memusnahkan pengikut Kristus. Panggilan yang mungkin tidak masuk dalam akal kita. bagaimana mungkin seorang penganiaya dipilih oleh Tuhan untuk menjadi alat di tangan-Nya. Paling tidak inilah yang dirasakan dan dipikirkan oleh Ananias dan para murid Tuhan pada masa itu. Tetapi inilah fakta yang tidak dapat dipungkiri oleh para murid bahwa Saulus si pengaaniaya jemaat tersebut sekarang sudah menjadi bagian dari mereka.

Saudaraku, pemilihan dan panggilan itu adalah hak prerogatif Tuhan. Dia tidak dapat dipengaruhi oleh apapun dan siapa pun termasuk di dalam hal memanggil engkau dan saya menjadi pelayan-pelayan-Nya. Panggilan itu adalah panggilan yang sangat mulia dari Tuhan kepada kita. karena panggilan itu adalah panggilan yang sangat mulia, maka sudah seharusnya kita mengerti akan makna panggilan tersebut di dalam hidup kita. Karena yang memberikan panggilan itu adalah Tuhan maka yang seharusnya menjadi tuan kita adalah Tuhan bukan yang lain. Tema kita minggu ini menantang kita untuk menempatkan diri kita dengan benar di hadapan Tuhan dan manusia. Melalui perenungan selama seminggu ini, kita diajak untuk memikirkan tentang apa tujuan kita melayani Tuhan. Mari kita membuka hati kita dan membiarkan Tuhan bekerja di dlam hidup kita. Amin. Jho

Senin, 11 Juli 2011

Prioritas yang Jelas

19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. 20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”
Kisah Para Rasul 4

Bagian ini sangat jelas membicarakan tentang prioritas pelayanan seorang pelayan Tuhan. Peristiwa ini terjadi setelah peristiwa turunnya Roh kudus atas murid-murid Tuhan Yesus. Setelah mereka mendapatkan kuasa dari Roh Kudus, mereka diberanikan untuk melakukan pelayanan pemberitaan Injil. Keberanian mereka ini memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam sejarah kekristenan di mana begitu banyak orang yang dimenangkan bagi Tuhan. Pergerakan ini mengakibatkan ketakutan tersendiri dalam diri para imam dan ahli Taurat, itulah sebabnya mereka menangkap para pengikut Yesus dan dalam perikop ini mereka menangkap Petrus dan Yohanes. Kedua rasul ini pun diadili. Tujuan penangkapan para pengikut Yesus ini adalah untuk membungkam mereka agar mereka tidak lagi memberitakan tentang Kristus yang mati dan bangkit itu. Mereka takut kalau-kalau orang yang percaya kepada Tuhan Yesus akan semakin bertambah banyak. Tetapi respon yang diberikan oleh kedua rasul ini sangatlah luar biasa. Pada ayat yang kita renungkan ini, kedua rasul mengatakan kepada siapa kami harus taat? Kami tidak bisa menjadi orang yang berdiam diri tanpa menceritakan apa yang lihat dan kami dengar tntang Tuhan. Ketika kedua rasul ini menjawab demikian, para imam tidak lagi memiliki dakwaan terhadap mereka dan akhirnya melepaskan mereka.

Saudaraku, hal menarik yang dapat kita pelajari dari ini adalah tentang prioritas pelayanan. Kedua rasul ini tahu dengan jelas apa yang harus mereka pilih. Mereka sadar bahwa mereka adalah orang yang telah dipilih oleh Tuhan untuk melayani-Nya dan ini berarti mereka harus melayani Dia yang telah memilih mereka. itulah sebabnya mereka tidak takut akan ancaman dari para pemimpin agama Yahudi tersebut. Mereka siap menerima konsekuensi apapun yang akan mereka terima akibat dari pilihan mereka tersebut. Bukankah setiap kita juga pernah mengalami situasi yang sedemikian? Bukankah kita juga pernah diminta untuk menetapkan prioritas pelayanan kita? Ketika kita harus memilih antara Tuhan dan usaha kita. Ketika kita harus memilih antara hobi dan Tuhan. Manakah yang menjadi prioritas kita? Seringkali kita tidak mau dirugikan sehingga akhirnya kita pun memilih untuk mengikuti keinginan kita dan mengabaikan Tuhan yang telah memanggil dan memberikan kesempatan pelayanan itu kepada kita. Mohon belas kasihan Tuhan agar kita dimampukan untuk memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan pelayanan kita. Amin. Jho

Selasa, 12 Juli 2011

Seorang Pelayan Tuhan Tidak Takut Kehilangan Dukungan

13:11 Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,

1 Samuel

Kisah ini merupakan kisah yang cukup ironis di dalam perjalanan hidup seorang raja Israel yaitu Saul. LAI memberikan judul untuk “Ketidaktaatan Saul Waktu Orang Filistin Datang Menyerang” untuk perikop ini. Kisah ini menceritakan kegagalan Saul di dalam menaati apa yang diperintahkan Allah kepadanya melalui Samuel. Dalam kisah ini diceritakan bahwa Saul sedang memimpin bangsa Israel untuk berperang melawan orang Filistin. Bangsa Filistin ini datang dengan kekuatan yang sangat luar bisa; tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut (13:5). Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan jumlah orang Israel yakni dua ribu orang. Jumlah yang sedemikian banyak ini menimbulkan ketakutan dalam diri orang Israel. Mereka gentar sampai-sampai ada yang melarikan diri. Sungguh situasi yang tidak mudah bagi seorang Saul untuk memimpin bangsa yang sedang dalam ketakutan besar. Di tengah-tengah ketakutan besar ini, ia mendapatkan perintah agar ia menunggu Samuel 7 hari lamanya untuk memohonkan pimpinan Tuhan atas mereka dalam peperangan yang akan mereka lakukan. Dituliskan bahwa setelah 7 hari, Saul tidak sabar menantikan kedatangan Samuel sehingga ia mempersembahkan korban ke hadapan Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Saul ini membuat Samuel marah. Ketika ia ditegur oleh Samuel, ia memberikan alasan seperti yang tertulis dalam ayat 11. Ia takut karena rakyat mulai berserak-serak meninggalkan dia. Saul takut kehilangan rakyat yang selama ini ia pimpin. Dia tidak mau kehilangan muka di hadapan rakyat yang dipimpinnya. Sebagai seorang pelayan Tuhan, ia takut kehilangan orang-orang yang mendukungnya. Sungguh ironis karena ia lupa siapa yang memberikan kekuasaan kepadanya.

Saudaraku, sebagai seorang pelayan Tuhan hal seperti ini tidaklah perlu kita takutkan. Memang ada orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitar kita untuk menjadi rekan kerja kita tetapi bukan berarti mereka itu lebih penting daripada Tuhan. Seringkali kita takut kehilangan pelayan yang akan melayani di gereja Tuhan. Kita seringkali mencoba melakukan segala hal untuk menyenangkan rekan tersebut dengan tujuan agar ia tetap melayani di gereja kita. Kita mencoba menahannya. Tetapi sadarkah kita bahwa apa yang kita lakukan itu mendukakan Tuhan? Karena ketika kita melakukan itu, maka sesungguhnya kita melupakan Tuhan yang memberikan kepercayaan dan kesempatan pelayanan itu kepada kita. Amin. Jho

Rabu, 13 Juli 2011

Seorang Pelayan Tuhan yang Taat Pada Perintah Tuannya

12 maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.” 13 Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.
1 Samuel 13

Seorang pelayan yang dipilih oleh Tuhan seharusnyalah menjadi seorang pelayan yang taat sepenuhnya kepada tuan yang telah memilihnya. Akan tetapi raja Saul tidak taat kepada perintah Tuhan. Ketakutannya akan kehilangan dukungan dari rakyat yang dipimpinnya ini membuat dia menjadi seorang yang lancang di hadapan Tuhan. Saul diperintahkan untuk sabar menantikan kedatangan Samuel untuk mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan akan tetapi ia tidak menghormati perintah ini. Dia memberanikan diri untuk membakar korban persembahan yang hanya boleh dilakukan oleh seorang nabi. Saul tentunya tahu akan perintah ini. Tetapi ia tetap saja melanggarnya. Alasannya melakukan itu adalah untuk memohonkan belas kasihan Tuhan akan tetapi kalau kita selidiki lebih dalam lagi maka sesungguhnya itu bukalah alasan yang sebenarnya. Dia takut ditinggal sendirian oleh para prajuritnya. Saul memilih manusia daripada taat kepada perintah yang diberikan Tuhan kepadanya.

Kalau kita mau jujur, mungkin seringjali kita melakukan hal yang sama. Ketika kita diperhadapkan pada situasi yang mengharuskan kita memilih antara Allah dan manusia maka seringkali kita memilih untuk lebih taat kepada manusia daripada kepada Tuhan. Karena ketika kita taat kepada manusia maka kita merasa “aman” karena orang-orang tidak akan menimbulkan respon yang negatif terhadap kita. untuk sesaat maka perjalanan kita akan lebih tenang jika dibandingkan kita memilih untuk taat kepada Tuhan. Akan tetapi, benarkah perjalanan kita akan lebih tenang? Sesungguhnya tidak karena sebenarnya ketika kita memilih taat kepada manusia, maka kita sedang memasang bom waktu untuk diri kita. Orang-orang dapat melihat mana yang benar dan mana yang salah. Mereka juga akan tahu, pelayan Tuhan yang mana taat pada Tuhan atau yang mencari aman. Sadarilah bahwa sesungguhnya orang-orang di sekitar kita tidak suka kepada seorang pelayan yang tidak taat kepada Tuhan. Sewaktu-waktu bom itu bisa meledak dan bom tersebut akan melukai diri kita sendiri. Oleh karena itu janganlah main-main dengan hal ini. Jadilah seorang pelayan yang taat kepada Tuhan karena itulah yang diharapkan dari orang pilihan-Nya. Amin. Jho

Kamis, 14 Juli 2011

Kemuliaan-Nya Atau Kemuliaanku

7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. 8a Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.
Filipi 3
17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
1 Timotius 1

Bagian ini adalah bagian yang indah dari tulisan rasul Paulus. Dari 13 surat yang dituliskan oleh rasul Paulus, bagian ini selalu ada. Rasul Paulus selalu mengingat untuk mengembalikan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Rasul Paulus seorang rasul besar yang mendapatkan banyak kesuksesan di dalam pelayanan yang dipercayakan kepadanya. Dalam 3 kali perjalanan misinya, rasul Paulus selalu berhasil mendirikan jemaat Tuhan. Segala kesuksesannya yang telah diraihnya tersebut tidak membuatnya menjadi pribadi yang sombong. Paulus tidak menjadi pribadi yang gila hormat yang marah ketika ia tidak dipuji. Kalau Paulus menjadi seorang pelayan yang gila hormat maka catatan dalam 2 Korintus tentang segala macam penderitaan yang dialami oleh Paulus dalam pelayanan tidak akan dicatat. Mungkin Paulus akan melarikan diri tatkala ia kesulitan pelayanan datang menghadang. Rasul Paulus bukan mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri tetapi ia mengembalikan segala pujian hormat kepada Tuhan karena ia sadar bahwa hanya Tuhanlah yang layak untuk menerima segala pujian dan penghormatan tersebut.

Saudaraku, sekarang ini sangat untuk menemukan seorang pelayan seperti rasul Paulus yang tidak gila hormat. Terlalu banyak pelayan Tuhan yang mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri. Terlalu banyak pelayan Tuhan yang kalau dia tidak dipuji dan dihormati, ia akan marah. Kecenderungan yang ada adalah seorang pelayan yang sering merasa “kalau tidak ada saya, pasti pelayanan menjadi kacau”, “kalau tidak ada saya maka…….”. Sadarkah kita kalau apa yang kita lakukan ini sangatlah tidak sesuai dengan status kita di hadapan Tuhan. Kita hanyalah hamba dan Tuhan adalah tuan kita. sudah selayaknyalah Dia yang mendapatkan pujian dan kemuliaan bukannya kita.

Saudaraku, saya mau kita jujur dengan diri kita, sudah sejauh mana kita menempatkan Tuhan sebagai tuan atas hidup kita? sudah sejauh mana kita mengutamakan kemuliaan Tuhan di dalam hidup kita? Jangan mencuri kemuliaan Tuhan karena itu merupakan kekejian di mata Tuhan. Mintalah agar Tuhan senantiasa mengingatkan kita hal ini supaya kita senantiasa menjadi pelayan Tuhan yang ingat akan diri kita. Amin. Jho

Jumat, 15 Juli 2011

Upah Pelayan yang Menempatkan Diri dengan Benar di hadapan Tuhan

7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
1 Petrus 1

Konteks dari perikop ini adalah panggilan untuk bertahan di dalam pendeitaan. Pada ayat 2 dituliskan tentang orang-orang yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah dan yang dikuduskan oleh Tuhan. Sebuah penjelasan yang bersifat umum dan juga khusus yaitu bagi para pelayan Tuhan. Dari bagian dijelaskan bahwa penderitaan itu ada di depan dan siap menghadang langkah dari orang-orang yang sudah dipilih dan dikuduskan ini. Petrus menyadari hal dan Petrus tahu betul tentang kelemahan diri manusia tersebut karena ia pernah mengalami kegagalan sampai dia menyangkal Tuhan. Melalui pengalaman ini Petrus ingin mengajak para orang pilihan Tuhan ini untuk bertahan di dalam situasi yang tidak mengenakkan ini. Panggilan untuk bertahan ini bukan sekedar ajakan omong kosong belaka karena panggilan ini disertai dengan sebuah janji yang sangat luar biasa. panggilan untuk bertahan ini pun diikuti dengan sebuah penjelasan kenapa harus bertahan? Orang-orang pilihan diminta untuk bertahan karena pengalaman ini akan membuktikan kemurnian iman mereka di dalam Tuhan dan setelah kemurnian iman mereka terbukti maka akan ada upah yang didapatkan pada saat Tuhan datang kelak. Para orang pilihan yang dalam hidup mereka mencerminkan kemuliaan Allah pada akhirnya mereka juga akan mendapatkan kemuliaan yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertahan sampai kepada kesudahannya.

Saudaraku, ketika kita berada di tengah-tengah antara Allah dan manusia seringkali mata kita dibutakan oleh kenyamanan yang didapatkan oleh manusia yang memilih untuk menyenangkan manusia. Seakan-akan langkah hidup mereka itu terasa lebih ringan dibandingkan ketika memilih untuk menyenangkan Allah. Menyenangkan manusia memperlihatkan kenyamanan yang instan dan bersifat sementara yang artinya mudah didapatkan tetapi mudah juga hilang. Memilih menyenangkan Tuhan memang terasa berat di depan tetapi kita akan mengalami hal-hal yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. Oleh karena itulah mari kita membuka mata kita lebar-lebar untuk melihat kebahagiaan yang sesungguhnya dan yang bersifat kekal. Terlalu sayang kalau kita mengorbankan hidup dan pelayanan kita kepada hal yang bersifat sementara. Mintalah pimpinan dan penyertaan dari Tuhan sehingga kita tidak salah melangkah dan tidak menyesal di kemudian hari. Amin. Jho

Sabtu, 16 Juli 2011

Kerinduan Untuk Semakin Mengenal Tuhan

10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Filipi 3

Di hari terakhir dalam perenungan kita pada minggu ini, saya ingin mengajak kita untuk memikirkan hal yang terpenting setelah kita memutuskan untuk menyenangkan hati Tuhan. Langkah tersebut adalah bagaimana memelihara passion tersebut. Passion yang tidak kita pelihara, lama kelamaan akan memudar dan membuat kita kembali kehilangan prioritas di dalam melayani Tuhan. Rasul Paulus dalam bagian firman Tuhan di atas menuliskan tentang kerinduan hatinya yaitu untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Rasul Paulus menginginkan pengenalan yang total kepada Tuhan. Dia tidak ingin mendapatkan pengenalan yang biasa-biasa saja. Itulah sebabnya rasul Paulus mengatakan “aku berlari-lari untuk mencapai tujuan”. Sebuah tindakan yang tidak mudah karena dibutuhkan konsistensi dalam melakukannya. Usaha ‘berlari-lari” ini bisa melelahkan kalau Paulus tidak memiliki sumber kekuatan tersebut. Paulus sadar akan hal ini dan pengenalan akan Tuhanlah yang memampukan Paulus melakukannya.

Saudaraku, melayani-melayani dan melayani terus akan terasa melelahkan dan membosankan apabila kita tidak memiliki sumber tenaga yang berlimpah. Sumber tenaga tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan. Mengenal Tuhan akan memperkaya kita dan menguatkan kita. Oleh karena itu mari kita lakukan semuanya itu dengan tekun. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan merenungkan firman Tuhan dan berdoa kepada-Nya. Lakukan disiplin rohani dengan baik dan tekun. Disiplin rohani yang bukan hanya bersifat pribadi (SaTe, doa, puasa, belajar, dll) tetapi juga yang bersifat komunal (ibadah, kebaktian doa, persekutuan) dapat menjadi alat di tangan Tuhan untuk kembali merecharge kita sehingga kita tetap kuat dan bersemangat di dalam menjalani jalan panggilan dan persembahan hidup kita.

Doa: Tuhan, seminggu ini kami belajar tentang bagaimana menjadi seorang pelayan yang dapat menempatkan diri dengan tepat. Belajar menjadi seorang pelayan yang senantiasa menyenangkan hati Tuhan. Tuhan tolong dan mampukanlah kami untuk terus melakukannya dalam hidup kami. Amin. Jho

Minggu, 17 Juli 2011

Bersandar kepada Tuhan
Yer 17:5-8

Ketika kita baru lahir, kita hanya bisa menangis dan 100 % bergantung kepada orang lain. kita masih begitu polos, dan tidak bisa apa-apa, selain menangis dan menangis, serta kadang-kadang belajar tertawa. Tangisan kita membuat hati ibu kita begitu bahagia sebab lewat tangisan kita ia diingatkan kembali betapa kita membutuhkan dia.
Pada dasarnya, sekarang pun kita tidak jauh berbeda seperti pada saat kita baru lahir. Namun pernahkan kita lagi membayangkan, bagaimana lemahnya kita dihadapan Allah, hampir sama seperti kita baru lahir dahulu, sehingga kita tetap membutuhkan pertolongan mutlak dari Allah. Pernahkah juga kita membayangkan bagaimana perasaan Tuhan ketika kita menangis dengan sungguh-sungguh kembali kepadaNya, seperti bayi yang menangis merindukan ibunya? Saya rasa tidak berlebihan jika saya membayangkannya perasaan Tuhan seperti layaknya perasaan seorang ibu yang sangat bahagia ketika ia mendengarkan tangisan anaknya yang baru lahir.
Tangisan bayi yang baru lahir itu menandakan kehidupan baru, serta bayi itu sehat. Demikian juga kerohanian kita. tangisan kita kepada Tuhan membuktikan kebersandaran kita kepadanya, yang menjadi awal dari kehidupan baru rohani kita, setiap hari.
Satu hal yang sungguh mengherankan sekaligus menakjubkan ketika Yesus mengajarkan tentang doa, dimana ia mengajar kita berdoa dengan sebuah sapaan yang jarang bahkan terlarang pada saat itu. Ia mengajar supaya kita memanggil Allah dengan sebutan bapa. Sebutan ini adalah sebuah sapaan yang menyatakan kedekatan yang sangat intim, serta mengajarkan tentang kebergantungan mutlak kita kepada Allah.
Allah dengan tegas lagi lewat nabi yeremia, mengatakan bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan sendiri. Teks yang baru kita baca ini berada di tengah bagian yang berbicara tentang dosa dan tentang kelicikan hati manusia. Teks ini sedang berusaha menunjukkan sifat manusia yang terlalu mengandalkan diri sendiri tanpa menghiraukan Tuhan, hampir selalu diliputi kelicikan (ay 9)dan kecurangan oleh sebab natur dosa yang sudah tertanam dalam diri yang tidak ia sadari. sehingga ketika melupakan Allah, dan semata-mata mengadalkan kemampuan diri dan untuk diri sendiri saja, selangkah lagi kita akan berbuat curang, licik dan dengan sendirinya akan mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri. Tetapi firman Tuhan berkata, orang yang mengandalkan Tuhan serta menaruh pengharapannya kepada Tuhan, akan terus hijau seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang tidak pernah mengalami kekeringan dan tidak berhenti menghasilkan buah, sebab Allah memberkati pekerjaan mereka. Pertanyaanya: Apakah kita mau percaya bahwa Tuhan bertindak ketika kita berserah kepadanya? Joel

Senin, 18 Juli 2011

Keseimbangan antara mendengar dan bertindak
Matius 7:21-27

Seorang pendeta membuka khotbahnya dengan mengatakan, “sampai detik ini saya belum mendengar bisikan roh kudus mengenai apa yang harus saya sampaikan pada hari ini. Oleh sebab itu berikan saya waktu sekian menit lagi untuk berdoa meminta tuntunan dari Tuhan, tentang apa yang harus saya sampaikan.”
Mungkin kita geli mendengar hal itu, tetapi pernah ada orang Kristen yang bersaksi bahwa hal seperti ini sudah tidak jarang ia alami. Mungkin saja pengkhotbah tersebut mengimani bahwa “roh kudus akan membuka mulut kita, dan memberikan kesaksan firman pada saat itu juga”, dimana ia harus mulai berbicara.
Apakah beriman dan bersandar kepada Tuhan sama seperti ketika kita menunggu sebuah angkutan umum, di halte bis, dimana kita menunggu dengan harapan akan datang sebuah bis dengan jurusan yang kita tuju. Tampaknya alkitab tidak mengajarkan seperti itu, meskipun adakalanya kita memang harus berdiam diri di hadapan Tuhan, dengan situasi dan kebutuhan tertentu. Tetapi alkitab tidak mengajar supaya kita bersikap pasif, seolah-olah kita menyerahkan dan mengandalkan semuanya kepada Tuhan. Dalam khotbah di bukit ini, ditemukan kesesuaian antara bagaimana beriman kepada Allah, berdoa dan melakukan kehendak Allah.
Tuhan Yesus mengatakan, bukan orang-orang yang berseru “Tuhan-Tuhan, yang masuk ke dalam kerajaan sorga, tetapi dia yang melakukan kehendak Bapa”. Di dalam EE kids yang baru-baru ini diadakan, anak-anak diajarkan bahwa iman yang menyelamatkan artinya “bukan hanya mengaku Yesus di mulut saja, bukan hanya tahu tentang Yesus di kepala saja, juga bukan hanya untuk mendapatkan hal-hal sementara”, tetapi Yesus mengatakan mereka yang masuk ke surga (orang-orang beriman) adalah mereka yang melakukan kehendak bapaku di sorga. Dalam ay 24, Yesus mengatakan, ada banyak orang yang mendengar (dan percaya) namun tidak melakukan. Dalam pengertian yang mendengar seperti ini, mereka ini mengaminkan perkataan Yesus, tetapi setelah itu melupakannya. Beriman itu berarti ketaatan untuk melakukan, apa yang telah didengarkan, serta memiliki pengharapan didalamnya.
Yakobus pernah mengatakan, iman tanpa perbuatan adalah mati(2:17). Hendaklah kita menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar saja, sebab jika demikian kita hanya menipu diri kita sendiri(1:22). Letak perbedaan antara orang yang beriman dengan orang yang hanya tahu teologi, adalah dalam hal melakukan firman Tuhan. Kapasitas mendengar dan berbicara tentang firman Tuhan tidak menjamin ia seorang percaya yang baik. Percuma saja kita rajin beribadah, tetapi kita tetap berlaku curang, dan tidak melakukan apa yang telah kita dengarkan. Joel

Selasa, 19 Juli 2011

Keseimbangan: antara iman, perasaan dan rasio
Roma 12: 1-3

2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 3)… Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Seorang penginjil A berkata, “kasihilah Allah dan perbuatlah apa yang anda ingin lakukan, maka anda akan melihat kehendakNya. Tetapi yang lain, B berkata, “untuk mengetahui kehendak Allah, kita harus menyangkal diri. Yang lain lagi C mengatakan, “kehendak Allah biasanya paling logis”. Sedangkan ada juga mengatakan, “kehendak Allah seringkali tidak logis, contohnya Abraham. Ada lagi mengatakan, anda dapat mengetahui kehendak Allah melalui intuisi atau gerak hati, tetapi yang lain juga mengatakan, jangan percaya kepada perasaan, sebab perasaan seringkali menyesatkan.
Mungkin kita tergoda untuk hanya percaya salah satu dari nasehat diatas, tetapi tampaknya alkitab tidak memutlakkan satu metode saja bagaimana kita dapat mengetahui kehendak Allah. semua metode tersebut betul, tetapi tidak meniadakan yang lain. beberapa pengajar telah jatuh kepada doktrin yang terlalu memutlakkan satu metode sampai kemudian ajarannya menjadi aneh. Sebuah buku Kristen yang sangat laris terjual dengan jutaan copy mengajarkan tentang bagaimana orang-orang Kristen harus memikirkan secara persis serta melukiskan apa yang menjadi keinginannya, kemudian mengimani bahwa itu sudah dijawab oleh Allah, maka dengan mujijat hal itu pasti akan terjadi atau terkabul. (judul buku: DR Cho, kami ingin mobil Volkswagen. terjemahan.).
Paulus menasehatkan, supaya sekalipun kita bertindak dalam iman, tetapi tetap menggunakan rasio dengan benar dan semestinya. Paulus mengatakan “berubahlah oleh pembaharuan budimu,(akal/ rasio) sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah.(ay 2) Janganlah memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan!. (ay 3). Kita diberikan Allah kemampuan dan berbagai hal yang luar biasa: baik rasio, perasaan, emosi, hati nurani, bahkan mimpi sekalipun dapat kita gunakan untuk mengenali kehendak Allah, dan Paulus mengingatkan supaya kita menggunakan semuanya dengan baik, sesuai dengan ukuran iman. Semuanya harus diperbaharui oleh firman, dan hendaklah semuanya itu membuat kita semakin mengenal apa yang baik dan berkenan kepada Allah, dan yang sempurna, serta peka terhadap apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. GB. Joel

Rabu, 20 Juli 2011

Keseimbangan: Antara aku dan Tuhan di dalam perencanaan
Yak 4:13-15
Setiap kita mungkin sedang memiliki sebuah rencana kedepan yang akan kita lakukan, sebagaimana yang sudah biasa kita lakukan, baik dalam hal pekerjaan/ program kerja, keluarga, studi, bahkan mungkin untuk refreshing. Mungkin ada yang berhasil dan ada yang tidak. Apa yang alkitab katakan tentang perencanaan, salah satunya jelas dalam surat Yakobus ini. Ia memberikan tanda awas bagi kita: libatkan Tuhan!.
Alkitab tidak pernah melarang kita untuk merencanakan sesuatu, tetapi dalam surat yakobus ini melarang kita membuat rencana-rencana yang terlalu sombong seolah-olah kita adalah Allah. hendaknya kita sadar, bahwa Allah adalah pemilik rencana yang agung, sehingga yang terbaik adalah kita mengatakan “jikalalu Allah menghendaki, kita akan melakukan. Allah selalu berada di urutan pertama, dalam segala hal termasuk dalam perencanaan. Bahkan kadang kita tidak berencanapun, Allah telah merencanakan sesuatu kepada kita. Kita ingat peristiwa yusuf. Dia tidak pernah merencanakan meninggalkan rumah, apalagi sampai ke mesir. Dia hanya tahu kewajibannya adalah melakukan apa yang benar dan tetap memiliki pengharapan, sekalipun ia diperlakukan tidak adil. Tetapi siapa sangka, justru Allah telah merencanakan dia menjadi seorang raja, tanpa sedikitpun melibatkan perencanaan yusuf atau keluarganya. Yusuf sendiri baru menyadari hal itu setelah Allah menggenapi rencana itu, dan dia berkata kepada saudara-saudaranya yang merekakan kejahatan kepadanya“engkau mereka-rekakan kejahatan, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan” yaitu untuk memelihara bangsa yang besar (kej 50:20).
Kita juga menemukan Nehemia yang membuktikan tentang perencanaan yang mencari dan mengetahi kehendak Allah akan melahirkan sesuatu yang sangat besar dan melampaui akal pikiran manusia. keberhasilannya dalam membangun kembali tembok yerusalem tidak lepas dari campur tangan Allah di dalam rencana besar nehemia untuk membangun kembali tembok yerusalem. Kita tahu bahwa rencana rencana awal nehemia adalah sesuai kehendak Allah adalah dimana rencana nehemia lahir dari keprihatinan dan belas kasih. (Baca neh 1:4-11, 2:5). Prinsip inilah yang paling penting dari perencanaan: perencanaan yang timbul dari keprihatinan dan belas kasih, dan untuk orang banyak, serta tidak akan bertentangan dengan kehendak Allah. Kita harus menghindari perencanaan, yang semata-mata bersifat keegoisan seperti yang digambarkan yakobus (ay 13), sementara kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Rencana yang semata-mata untuk diri sendiri, akan lenyap ketika kita meninggal(bdk dgn ay 14 b), tetapi rencana untuk orang banyak, tetap bermanfaat bagi kemuliaan Allah. Bukankah kita ingin meninggalkan teladan dan peninggalan yang baik bagi orang lain? Joel

Kamis, 21 Juli 2011

Menyelidiki manusia batiniah dan lahiriah
II kor 10:3-6

Paulus pernah mengungkapkan satu kalimat yang sangat pendek yaitu :tetaplah berdoa. (I tes 5:17). Penyataan ini adalah mutlak harus kita lakukan setiap hari sebagai orang percaya. Pernyatan ini muncul dari kesadaran pribadi bahwa kita membutuhkan sesuatu yang dapat menghidupi manusia batin kita, yaitu Allah. Mengapa kita harus berdoa, sebab kita masih hidup dalam tubuh yang fana ini, dan tidak bisa mengabaikan kewajiban-kewajiban lahiriah yang harus kita lakuklan juga. Dengan demikian ada dua sifat di dalam diri kita, yaitu manusia batiniah dan manusia lahiriah. Kedua-duanya harus ada kesesuaian, supaya kita dapat hidup menyenangkan hati Allah.
Ada tiga pokok penting yang harus kita renungkan tentang manusia batiniah kita. apakah saya selalu berhubungan dengan Kristus?, apakah saya hidup dengan pengakuan terus menerus? Apakah saya hidup dengan pengendalian Kristus? Mengapa kita perlu menanyakan tiga hal ini, adalah untuk mengatahui bahwa roh Allah sedang bekerja dalam diri kita dan mengendalikan hidup kita. paulus menyadari betapa pentingnya senjata perlengkapan kuasa Allah dalam hidupnya, sebab tugas yang dia emban adalah hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan Allah, sehingga tidak bisa ia mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. hanya Allah yang bisa menaklukkan keangkuhan pikiran manusia.
Tetapi hidup kita di dalam Kristus tentu tidak selalu berupa kesukaan batin. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Kristus hidup dalam batin kita, tetapi tindakan kita tidak ada faedahnya bagi orang lain. kita harus membuktikan juga bahwa Allah memakai kita menjangkau orang lain. setidaknya kita bisa menyelidikinya dengan cara: menanyakan “apakah saya berhubungan dengan orang lain dalam semangat ucapan syukur? Apakah saya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan? Apakah saya memperhatikan kebutuhan sesame saya, dan menolong mereka? Apakah saya bersedia meluangkan waktu saya bagi orang lain, dan apakah saya dapat memenangkan orang lain bagi Kristus?
Dari pertanyaan-pertanyaan ini kita dapat mengetahui seberapa jauh Allah menguasai hidup kita dan memakai kita, dan seberapa banyak kita telah berbuat atau berusaha untuk dia. Kita tahu bahwa sebagia orang percaya, tanpa adanya kuasa Allah dalam hidup kita dan kita berusaha untuk melakukan pekerjaan Allah, kita samasekali tidak ada faedahnya bagi diri kita sendiri, apalagi bagi orang lain. itu sebabnya perlu bagi kita menyelidiki kedua hal ini. Ketaatan dan sukacita kita dalam mengikut Kristus adalah terletak di kedua hal tersebut: sukacita lahir dan batin. Joel

Jumat, 22 Juli 2011

Keselarasan Iman : kesatuan antara action dan content
1 Samuel 17:37, 45
Hari ini gereja bisa dikatakan terpecah menjadi dua model di dalam berteologi. Yang pertama terlalu menekankan teologi pada action dalam kehidupan rohani. Mereka Terlalu menekankan action, sehingga pengajaran di dalamnya kurang, sehingga banyak ajaran-ajarannya yang menyesatkan. Misalkan dalam menafsir kisah daud ini, semua orang disamaratakan akan bisa memperoleh kemenangan yang sama, asalkan berani maju menghadapi goliath. Yang kedua, terlalu menekankan tentang content/ isi/ ajaran tentang iman, dimana terlalu banyak banyak membahas doktrin, sehingga ketika bertemu dengan situasi yang mirip dengan kisah daud ini, terlalu berhati-hati dan sibuk untuk menyesuaikan dengan ajaran doktrin, apakah sesuai atau tidak, dan tidak jadi melakukan.
Belajar dari daud, kita harus mengakui bahwa antara tindakan dan isi iman, kedua-duanya adalah sejajar, dan penting. Kemenangan daud, harus kita akui adalah sebuah mujijat yang pernah terjadi dalam Perjanjian Lama. Sebab bagaimanapun, secara logika, daud tidak mungkin menang melawan goliath, sebelum kita melihat akhir dari peperangan itu. Apa yang menarik dari kemenangan daud adalah tentang keberanian/ kenekadan Daud. Daud mengambil satu tindakan yang bagi orang-orang lain konyol, dan terlalu nekad, tetapi Daud tidak menghiraukan itu, sebab ia meyakini kemenangannya di dalam Allah, tetapi bukan dengan iman yang buta. Ia berani bertindak, sebab ia memiliki pengenalan yang benar akan Allah, serta tujuan dan alasannya yang jelas, mengapa ia harus melakukan hal itu. Daud telah bertahun-tahun memiliki pengalaman mengalahkan hal-hal yang diluar kemampuannya, dan dia tahu bahwa Allah menyertainya. Daud tahu betul bahwa siapapun yang menghina Allah, akan ditumbangkan oleh Allah, dan Allah tidak terbatas memakai siapapun dan alat apapun untuk melakukan hal tersebut. Daud juga tahu persis bahwa kemampuannya dapat Allah pakai untuk menjatuhkan goliath, dan dia tidak semata-mata mengandalkan kemampuannya sendiri, tetapi dalam nama Tuhan. Akhirnya daud menentang goliath yang tampaknya sebagai tantangan yang besar, lalu kemudian mengalahkannya dalam nama Tuhan.
Sama seperti daud, Iman, teologi, dan pengenalan kita kepada Allah harus di tuangkan dalam bentuk tindakan, barulah hal itu ada manfaatnya. Percuma saja jika daud tahu banyak tentang Allah, jika ia tidak mau berbuat. Percuma saja kita memiliki doktrin yang tinggi, tetapi kita tidak melakukan sesuai dengan apa yang kita ketahui. Sebaliknya, tanpa pemahaman yang jelas, dan pengenalan yang benar, janganlah kita berlaku terlalu mudah dan memandang remeh hal-hal yang kelihatannya kecil, seperti yang dilakukan oleh goliath. Kita memerlukan kesejajaran antara pengetahuan dan perbuatan untuk melihat perbuatan Allah yang besar. Joel

Sabtu, 23 Juli 2011

Allah telah menyesuaikan: Semua ada waktunya
Pengkhotbah 3: 1-14

Kita sering kali tergoda untuk terlarut dalam suatu situasi tertentu, dan yang membuat kita kadang-kadang menjauh dari Allah. ketika kita sedih, kita terlalu lama memikirkannya, sehingga kita seperti tidak punya pengharapan, dan sepertinya segala-galanya sudah tidak berarti lagi, padahal kita masih memiliki pengharapan di dalam Tuhan. Pada saat yang lain kita mungkin mendapatkan atau mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan, dan untuk beberapa waktu semuanya berjalan lancar, sehingga kita mungkin terlalu larut di dalamnya, yang juga membuat kita tidak ada lagi pergumulan, dan melupakan Tuhan.
Pengkhotbah mengatakan segala sesuatu ada waktunya. Kita mungkin sedang mengalami pergumulan, tetapi itu akan berakhir. Mungkin kita juga lagi sukses, kita sebaiknya jangan terlalu puas, sebab akan ada saatnya kesuksesan menurun. Ada saatnya kita berusaha sekuat tenaga, tetapi ada saatnya kita harus beristirahat. Ada saatnya beruntung, tetapi mungkin ada saatnya kita merugi. Dan segala sesuatu ada saatnya, Tuhan telah mengatur semuanya baik, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kita masing-masing. Mungkin kita hanya mengharapkan yang positifnya saja, seperti pada saat panen, untung, sukacita, tertawa, menari dan sebagainya. Tetapi Allah tidak menetapkan seperti itu. Allah menetapkan ada saatnya kita sakit, bersedih, kehilangan, dan meninggal. Semua itu Allah tetapkan untuk menjaga keseimbangan, dan supaya manusia tetap ingat kepada Allah.
Allah mengajarkan kita supaya di dalam hidup ini kita tetap mendapatkan hak dan kewajiban sebagai manusia biasa yang memiliki musim dan peristiwa yang silih berganti. Hal itulah yang membuat hidup ini menjadi terasa indah, dan memaksa kita untuk terus mengingat dan mengagumi pencipta kita. Dialah yang membuat semua itu demikian dan indah adanya. Bagian kita adalah menikmati dan mensyukurinya secara layak. Seandainya tidak ada tidak ada sakit, kita tidak tahu apa itu sehat. Seandainya tidak ada rugi, kita tidak mengerti apa itu untung. Seandainya tidak ada menangis, kita tidak tahu apa itu tawa, seandainya tidak ada perang, kita juga tidak tahu apa itu damai. Semuanya itu membuat hidup ini terasa menjadi indah. Masalahnya adalah bagaimana sikap kita menghayati itu semua? Apakah hal itu membuat kita semakin mengenal Allah, ataukah justru semakin menjauh darinya.
Hal itu mengajarkan kita satu hal, bahwa bukan kita yang mengatur, tetapi Allah. bukan juga kita yang menentukan, tetapi Allah, tetapi kita menentukan sikap kita sendiri untuk menerima itu semua dengan ucapan syukur. Ucapan syukurlah yang membuat kita mampu menghadapi apapun dalam hidup ini. Joel

Minggu, 24 Juli 2011

Keseimbangan dukungan sesama rekan dalam pekerjaan dan pelayanan
Kisah Para Rasul 18:1-17

Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. … Priskila dan Akwila menyertai dia. (Kis. 18:3,18)

Sebelum menikah dengan Pangeran William pada 29 April 2011 yang lalu, terungkap bahwa Kate Middleton juga mengadakan pesta lepas lajang bersama keluarga dan teman-teman dekatnya. Pesta ini biasanya diadakan sebagai bagian penting dari hidup seseorang sebelum berumah tangga. Mereka boleh melakukan apa saja mumpung masih bujang karena esok mereka akan terikat dengan sebuah lembaga, yakni lembaga pernikahan. Hingga akhirnya pernikahan dipandang sebagai sebuah lembaga yang mengikat sehingga mengurangi kebebasan seseorang.Dan pemikiran ini diteruskan tanpa didasari oleh pemikiran hasil pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.
Memang perihal membatasi atau justru membangun kebersamaan yang lebih luas ketika seseorang memasuki kehidupan berumah tangga tergantung dari sudut pandang kita. Akan tetapi membaca bagian Kisah Para Rasul 18, dimana tercatat disana ada sepasang suami-istri Akwila dan Priskila. Mereka berdua bekerja sebagai pembuat tenda. Suami-istri ini sehati sepikir dalam bekerja dan melayani Tuhan. Mereka tahu bahwa ada risiko yang harus dihadapi ketika mendukung Paulus dalam hal menjadi pemberita Injil. Karena memang pada waktu itu Paulus sedang berhadapan dengan Galio –gubernur di Akhaya— dan juga orang-orang Yahudi yang membencinya. Menjadi rekan Paulus berarti juga telah menempatkan diri mereka sebagai oposisi pemerintah dan masyarakat. Namun demikian Priskila dan Akwila tetap mendukung dengan setia serta menyertai Paulus bahkan menghantarnya sampai di Efesus (Kis. 18:18-19).
Dari teladan ini sesungguhnya nyata bahwa pernikahan Akwila dan Priskila sama sekali bukan menjadi pembatas untuk mereka bekerja dan melayani Tuhan. Kuncinya adalah kesehatian mereka berdua. Bagaimana dengan pernikahan Anda, apakah dipandang sebagai penghambat yang membatasi ruang gerak Anda dalam pelayanan? Jika ya, mungkin ada yang hilang dalam pernikahan itu, yakni perasaan sehati dan sepikir.
DOA:
Tuhan, berikanlah kepada kami keluarga yang sehati sepikir agar pernikahan bukan menjadi rintangan untuk kami berkarya. Amin.

Senin, 25 Juli 2011

Keseimbangan memandang permasalahan dalam pekerjaan dan pelayanan
Ayub 1-2

Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” (Ay. 2:9)

Dunia dengan pemikirannya mengajarkan kepada kita bahwa tentunya ada karma dalam setiap penderitaan dan kebaikan. Akibat pemikiran ini maka orang kemudian beranggapan bahwa setiap persoalan yang muncul dalam hidup manusia itu diakibatkan karena perbuatannya, baik yang langsung dilakukan maupun disebabkan oleh perbuatan nenek moyangnya. Dan pemikiran ini celakanya juga memasuki pemikiran orang-orang percaya. Apa yang ada dalam benak kita apabila kita mendengar dan melihat rekan pelayanan kita mengalami ujian yang beruntun sebagaimana dialami oleh Ayub. Tentunya lantas terlintas dengan cepat bahwa rekan pelayanan kita telah melakukan kejahatan dan dosa yang besar.
Ayub adalah salah tokoh Alkitab yang mendapatkan ujian dari Allah. Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya kehilangan harta kekayaan saja, badannya pun tersiksa karena dipenuhi dengan barah yang busuk. Ayub hidupnya ketika itu benar-benar sengsara. Yang menarik perhatian adalah ada perbedaan respon Ayub dan istrinya terhadap ujian yang ia terima.Maka berkatalah isterinya kepadanya: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”Perkataan isteri ayub ini cermin dari ketidakseimbangan dalam memahami pemeliharaan dan kemahakuasaan Allah atas hidup orang percaya. Dia hanya memandang hidup hanya dari pemikiran sempit bahwa hidup orang percaya pastinya akan senantiasa mengalami kecukupan materi dan bahkan berkelimpahan. Jikalau muncul masalah maka sudah saat beralih ke ilah yang sanggup memberi kelimpahan materi. Dan ini sungguh berbeda dengan respon Ayub yang tetap menghormati Allah. Tidak ada satupun kata-kata kutukan kepada Allah yang dikeluarkan dari bibirnya. Malahan dengan bijaksana ia menjawab perkataan isterinya yang justru memintanya untuk mengutuki Allah yang disembahnya selama ini: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”
Mungkin hari-hari ini Anda yang mengalami sesuatu yang buruk di dalam kehidupan Anda. Anda merasa Allah tidak ada bersama dengan Anda, namun lewat kesaksian hidup Ayub diatas kita menjadi tahu bahwa kita harus menerima semuanya itu dan tetap memandang DIA sebagai Tuhan atas kehidupan Anda.Ingatlah, sesuatu yang buruk yang Anda terima bersifat sementara karena itu sebenarnya merupakan ujian dari Allah. Pada saat Anda telah lulus dari semuanya tersebut, maka berkat-berkat yang melimpah dicurahkan Allah dengan segeranya ke dalam hidup Anda.

DOA:
Tuhan, apapun keadaan yang kami alami, ajarlah supaya kami tetap bisa berkata bahwa
Allah itu baik !Amin.

Selasa, 26 Juli 2011

Keseimbangan untuk hidup jujur dalamkeluarga dan pelayanan
Kis. 5:1-11

Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus … engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” (Kis. 5:3-4)

Di sebuah gereja terdapat satu keluarga aktif melayani Tuhan. Si Bapak sebagai ketua pria kaum bapa, si ibu bendahara kaum ibu, sedangkan anak-anak melayani sebagai guru sekolah minggu. Keluarga ini juga terlibat aktif dalam doa dan ibadah setiap minggu. Pokoknya, meskipun tidak bekerja full time di gereja, keluarga ini punya motto “Tiada hari tanpa pelayanan”. Rasanya semangat demikian lebih dahulu terpancar dalam kehidupan jemaat mula-mula, “sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” (Kis 4:34-35)Demikian juga yang dilakukan oleh suami istri Ananias dan Safira yang juga menjual sebidang tanah untuk diletakkan hasilnya didepan kaki rasul-rasul. Berniat untuk melakukan pelayanan adalah panggilan hidup orang percaya. Dan panggilan pelayanan itu murni didasarkan pada kemurnian hati yang telah disucikan oleh Roh Kudus. Namun tidak demikian dengan keluarga ini. Dalam kesepakatan yang telah dibuat, mereka telah mendustai Roh Tuhan. Ingin mendapatkan nama baik dihadapan manusia dengan menipu dalam pelayanan. Jelas disini memang ada motivasi untuk dipuji manusia bahwa Safira & suaminya mempersembahkan seluruh hasil penjualan.
Itu adalah penghinaan bagi Allah! Karena tidak jujur, Ananias harus menanggung akibat yang sangat fatal: “Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya.” (Kis. 5:5a). Apa yang dialami Ananias juga menimpa isterinya : “Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya” (Kis. 5:7, 10a) Tidak ada dosa yang tidak diketahui Allah, di hadapan Dia semuanya telanjang dan terbuka. Maka dari itu jangan pernah main-main lagi dengan dosa.

DOA:
Tuhan,memangada harga yang harus dibayar untuk setiap pelanggaran terhadap firman Tuhan yang kami lakukan! Jauhkanlah kami dari pelanggaran dan pencobaan. Amin.

Rabu, 27 Juli 2011

Keseimbangan materi dalamkeluarga dan pelayanan
Kejadian 19:1-29

Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. (Kejadian 19:26)

Sodom dan Gomora terletak di lembah Yordan yang berlimpah air, sehingga Lot memilihnya ketika akan berpisah dengan Abram. Namun, karena kejahatan penduduk kota tersebut, Sodom dan Gomora hendak dimusnahkan. Meski demikian, Tuhan memberi kesempatan kepada Lot untuk menyelamatkan diri dengan berlari ke Zoar. Sayangnya, istri Lot tak menuruti petunjuk malaikat Tuhan. Ia menoleh ke belakang-seakan-akan ia tidak rela meninggalkan kota tempat tinggalnya yang nyaman tersebut. Dan ia pun menjadi tiang garam.
Tentunya keluarga Lot termasuk istrinya berteman dengan orang-orang Sodom yang terkenal dengan kejahatannya. Setidaknya hal ini mungkin saja memberi andil besar terhadap keputusannya melalaikan perintah Allah. Ada keengganan dan rasa berat hati untuk meninggalkan kota itu. Di samping harta mereka yang banyak, teman-teman mereka juga tidak sedikit jumlahnya. Bahkan Tuhan Yesus ketika menerangkan kedatangan Kerajaan Allah menyinggung peristiwa ini dengan berkata, “ingatlah akan istri Lot,”(Luk. 17:32) untuk mengingatkan betapa setiap orang percaya harus memandang penting untuk segera menghindar dari kebinasaan dengan mengabaikan segala bentuk tawaran materi yang bisa membuat hati kita berpaling dari Allah dan keselamatan.
Hal-hal pada masa lalu kita mungkin sudah nyaman dan menyenangkan bagi kita. Akan tetapi, sebagaimana kehidupan Lot, ada kalanya Allah melihat sesuatu yang takkan berakibat baik apabila kita terus ada di tempat atau situasi yang sama. Dan, mempertahankan semuanya hanya akan membuat kita terhambat dan tidak akan maju. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki hati pasrah bersandar kepada Tuhan; kemudian menata hati, bersiap menyambut hal-hal baru yang mungkin akan hadir. Dia jauh lebih tahu mana yang paling penting dan berharga dari hidup kita.

DOA:
Tuhan,kamimembutuhkan kesungguhan akan kesanggupan menanggung hal-hal yang tidak mengenakkan selama mengikut Tuhan Yesus. Mampukan ya Tuhan karena Kerajaan Allah memang menuntut prioritas yang mutlak diatas semua urusan-urusan pribadi kami. Amin.

Kamis, 28 Juli 2011

Keseimbangan peran dalamkeluarga, pekerjaan dan pelayanan
1 Samuel 25:3,32-33
“terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.”
(1Samuel 25:33)

Kita semua tahu siapa Hillary Clinton, dia menjadi sosok utama keberasilan suaminya menjadi presiden. Bahkan pada saat kampanye Clinton berkata (bercanda tapi mungkin juga serius) “jika anda memilih saya, anda akan mendapat 2 presiden” maksudnya Hillary adalah perempuan yang “cakap” dan berperan banyak dalam keberhasilannya. Dan itu terbukti, ketika Clinton dilanda “kasus” yang sensitif, Hillary tampil sebagai pendamping yang setia, tidak peduli mungkin kasus suaminya itu sungguh menyakitkan hatinya. Dan Clinton pun selamat dari kasus yang menimpanya. Selanjutnya ketika Clinton sudah tidak menjabat presiden lagi Hillary tetap maju dalam dunia politik dan menjadi senator. Ini adalah cerminan perempuan pintar dan cakap tetapi tetap sebagai “penolong” yang setia. Tentunya tidak mudah untuk dapat menjalankan peran sebagai istri yang bijak apabila memiliki suami yang gagal dalam menjalankan perannya sebagai suami yang baik. Apa yang pernah dilakukan oleh Hillary tentunya tidak pernah lepas dari nilai-nilai kekristenan yang dianutnya.
Jauh sebelum Hillary hidup, Tuhan juga memakai seorang wanita bernama Abigail. Abigail datang mengingatkan Daud tentang kehendak Allah dengan berkata, “demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku! Tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan.” (1Sam. 25:26,31). Sesungguhnya dalam kemarahan, Daud terburu-buru memutuskan untuk membunuh Nabal dan semua laki-laki di rumahnya. Ketika Abigail mendengar apa yang terjadi, ia cepat-cepat mengumpulkan banyak makanan, menahan Daud beserta para prajuritnya, dan dengan rendah hati meminta ampun atas perlakuan suaminya yang tidak ramah. Daud segera menyadari bahwa wanita itu telah mencegahnya untuk melakukan keputusan yang penuh dendam, dan ia pun memuji Allah (1 Samuel 25:32).
Abigail adalah seorang wanita yang luar biasa! Ia adalah pembawa damai sejati. Karena keberaniannya, calon raja Israel tidak jadi melakukan suatu dosa yang mengerikan.Dia bukan hanya telah memerankan seorang istri yang baik bagi Nabal dan menutupi serta menerima segala kekurangan suaminya tetapi juga telah berani untuk menyuarakan suara kenabian bagi Daud. Tentunya keteladanan inilah yang dinantikan dapat dimiliki oleh keluarga orang percaya. Menantikan sosok istri yang bijak dan pemberani dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga yang melayani suami dan keluarganya serta bagi sesamanya.

DOA:
Tuhan,kamimembutuhkan hati yang bijaksana dalam menyikapi banyak kekurangan dalam keluargaku. Amin.

Jumat, 29 Juli 2011

Keseimbangan dalammenghargai orang lain dilingkungan keluarga, pekerjaan dan pelayanan
2 Raja-raja 5:1-27
Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” … Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. (2Raj.5:3,14)

Akhir-akhir ini media televisi dan cetak disibukan dengan pemberitaan kasus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mendapat hukuman pancung ketika bekerja di Arab Saudi. Ulasan judul pemberitaan okezone.com menarik untuk direnungkan “Andai Ruyati berdarah Arab,” maka sesungguhnya cerita berbeda akan terjadi pada diri Ruyati binti Satubi, meski melakukan pembunuhan, proses eksekusinya tak akan sedemikian cepat. Terlepas dari persoalan pelaksanaan hukuman, maka yang lebih penting untuk disikapi adalah bagaimana bisa terjadi pembunuhan yang dilakukan Ruyati terhadap tuannya. Pengadilan mengungkap bahwa telah terjadi tidak adanya saling menghargai antara tuan dan hamba, sehingga membangkitkan amarah satu dengan yang lain.
Rupanya persoalan untuk menghargai dilingkungan keluarga, pekerjaan dan pelayanan menjadi penting untuk disikapi bersama. Suami istri Naaman ternyata memberikan teladan yang baik dalam soal menghargai orang lain. Karena bukan hanya istri Naaman mendengarkan cerita hambanya perempuan yang masih sangat muda tentang adanya seorang Nabi Israel yang bisa menyembuhkan sakit suaminya. Terlebih lagi Naaman sebagai seorang panglima perang terkenal juga mempercayai cerita hambanya untuk pergi mencari Elisa. Dan bahkan mau mendengarkan saran dari para pegawainya ketika disuruh mandi tujuh kali di sungai Yordan oleh seorang pembantu Elisa. Sikap-sikap yang baik seperti inilah yang akhirnya dilihat Tuhan sehingga menolongnya memperoleh kesembuhan dari Tuhan.
Tentunya sekarang sikap menghargai dengan penuh kasih menjadi barang yang langka. Karena tingkat kejahatan manusia oleh karena disebabkan oleh ketersinggungan harga diri menjadi sangat tinggi. Paulus juga memberikan nasihat “dan kamu tuan-tuan … jauhkanlah ancaman. Ingatlah bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka”
DOA:
Tuhan,tumbuhkan dalam diri keluarga kami untuk senantiasa saling menghargai dengan penuh kasih bahkan juga kepada orang yang berada disekeliling kami. Amin.

Sabtu, 30 Juli 2011

Keseimbangan dalam memahami pelayanan adalah suatu penghormatan dan bukan beban
1 Timotius 3:1-13
Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah. Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri … seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati anak-anaknya(1Tim. 3:1-4)

Kita acapkali menikmati tayangan di media tentang korupsi yang semakin merajalela yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Sudah menjadi rahasia umum apabila seorang pejabat naik untuk menjabat suatu jabatan tertentu maka saat itu juga saatnya untuk mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan untuk mencapai posisi tersebut. Dan satu-satunya cara dengan melalui korupsi. Belajar dari para pemimpin yang demikian, tentunya tiap saat hidupnya tidak pernah diliputi oleh sukacita. Karena sesungguhnya dalam hati dan pikirannya akan terus berkecamuk berbagai pemikiran untuk mencapai target balik modal dengan cara apapun. Bagaimana jika pengalaman tersebut dialami oleh para pemimpin gereja. Dan bisa saja itu dialami oleh kita. Bila kita diminta untuk menduduki jabatan dalam gereja, bagaimana perasaan kita? Apakah kita merasa diri hebat dan sudah sepantasnya menduduki jabatan tersebut, atau kita merasa tidak layak dan menerima jabatan tersebut dengan perasaan terharu? Bila kita sudah atau sedang menduduki jabatan dalam gereja, apakah pelayanan tersebut terasa sebagai beban yang mendatangkan rasa lelah atau sebagai kehormatan yang mendatangkan sukacita? Bila kita masih merasakan pelayanan sebagai beban, kita perlu merenungkan kembali ketidaklayakan kita di hadapan Allah.
Bagian firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya rasul Paulus juga menyadari ketidaklayakannya. Dia mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa (1Tim. 1:15-16). Tentunya kesadaran akan ketidaklayakannya itu membuatnya untuk rela dan bersedia mengalami kelelahan, dimasukkan ke dalam penjara, menghadapi bahaya maut, disiksa, dan mengalami berbagai macam penderitaan yang berat tanpa mengeluh (2Kor. 11:23-27). Sebaliknya, bila seseorang menganggap pelayanan sebagai beban atau sebagai jasa kepada Allah, maka ia akan mudah mundur dan meninggalkan pelayanan saat menghadapi tantangan dan kesulitan. Satu hal yang harus kita renungkan bahwa kita akan menghargai pelayanan yang dipercayakan kepada kita hanya bila kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak layak menerima tugas pelayanan tersebut.

DOA:
Tuhan,tolonglah kami untuk dengan sukacita menerima tanggung jawab apapun yang Engkau percayakan kepada kami, karena sesungguhnya kami tidak layak menerima jalan panggilan ini. Amin.

Minggu, 31 Juli 2011

SEORANG PELAYAN DI TENGAH-2 KOMUNITA ORANG PERCAYA

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.” (Keluaran)

4:19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. (Kisah Para Rasul)

Di awal bulan kita telah membicarakan hakekat pelayanan yakni melayani Tuhan dan melayani manusia agar mengenal TUHAN lebih dekat, mengenal ketetapan dan keputusan-Nya. Salah satu masalah yang sering timbul adalah kepada siapa seorang pelayan TUHAN harus mengarahkan diri dalam pelayanannya. Jawabannya, kepada TUHAN karena ia adalah pelayan TUHAN. Tetapi apakah masalahnya sesederhana itukah?

Materi Diskusi:
 Menurut anda apa makna kata puas senang dalam Keluaran 18:23 di atas? Bolehkah dalam pelayanan kita memuaskan hati manusia?
 Menurut anda, bagaimana kita dapat memuaskan hati TUHAN dalam pelayanan kita? Bandingkan Matius 25:21-23.
 Mungkinkah memuaskan manusia berada pada posisi yg bertolak belakang dengan memuaskan TUHAN? Apa yg kita lakukan? Bandingkan dengan Kisah Para Rasul 4:19 di atas.
 Kesimpulan. Bagaimanakah seharusnya seorang pelayan Tuhan di tengah-2 komunita orang percaya? jp

Minister Prayer

Oh God, I kneel before You
With a humble heart I pray
May I be Your instrument
and work for You each day

Help me find those lost in sin
and bring them back to You
Let winning others to Your kingdom
be the daily work I do

Guide every word that I should say
And may I always preach
the truth You’re given in Your Word
as You would have me teach

Lord, behold your humble servant
Help me be what You’d have me be
For I’ve heard Your great commission
and I’ve answered, “Lord, send me”
Amen

10 Prinsip Pelayanan

Fondasi dari pelayanan adalah Karakter Rohani
Esensi dari pelayanan adalah Melayani
Motivasi dari pelayanan adalah Kasih
Ukuran dari pelayanan adalah Menyangkal diri sendiri
Otoritas dari pelayanan adalah Ketaatan
Tujuan dari pelayanan adalah Memuliakan Tuhan
Alat dalam pelayanan adalah Firman Tuhan dan Doa
Berkat dalam pelayanan adalah Kemajuan
Kuasa dalam pelayanan adalah Roh Kudus
Teladan dalam pelayanan adalah Yesus Kristus

Pekerjaan & Pelayanan

Bila anda melakukannya untuk mendapatkan nafkah, itu pekerjaan
Bila anda melakukannya karena untuk Tuhan, itu pelayanan
Bila anda keluar karena yang mengkritik, itu pekerjaan
Bila anda terus bekerja sekalipun dikritik habis-habisan, itu pelayanan
Bila anda berhenti karena tidak ada yang berterima kasih, itu pekerjaan
Bila anda terus bekerja walaupun tidak dikenal siapapun, itu pelayanan
Bila anda merasa semakin sulit menikmati yang anda kerjakan, itu pekerjaan
Bila anda semakin sulit untuk tidak menikmatinya, itu pelayanan
Bila yang anda pikirkan adalah sukses, itu pekerjaan
Bila yang anda pikirkan adalah kesetiaan, itu pelayanan
Gereja yang biasa-biasa dipenuhi oleh jemaat yang bekerja,
Gereja yang luar biasa dipenuhi oleh orang-orang yang melayani