Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Thema Khotbah Mimbar Umum
02 Juni 2011
Pertolongan Tuhan. Kenangan Indah Di Masa Lalu
(Bilangan 11:1-6)
Tidak jarang kasih setia Tuhan dan pertolongan-Nya hanya menjadi indahnya kenangan masa lalu; kita tidak mampu melihatnya sebagai cara Tuhan utk meyakinkan kita akan pertolongan-Nya di masa-2 akan datang..
05 Juni 2011
Pertolongan Tuhan. Motivasi Utama Ibadah & Pelayanan Kita
(Yosua 24:1-15)
Tujuan ibadah & Pelayanan hanyalah utk Tuhan. Hal ini dimungkinkan krn kita telah mengecap pertolongan-Nya yg telah menyelamatkan & memelihara. Panjang sabar & kasih setia-Nya yg tak berkesudahan tidak memungkinkan kita utk berkata TIDAK terhadap ibadah & pelayanan kita.
12 Juni 2011
Thema Komsel 17 Juni
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang-2 Percaya
Terkadang kita terlena “mengandalkan” manusia dlm membangun persekutuan orang-2 percaya, padahal sesungguhnya hal ini adalah karya Roh Kudus yg mempersekutukan dlm keperbedaan kita. Seberapa jauh kita sanggup memaknai kehadiran Roh Kudus & mengandalkan-Nya
19 Juni2011
Antara Pertolongan Tuhan dan Tanggung Jawab Umat Tuhan
(Hagai 1:1-14) (Pembangunan Rumah Allah)
Allah yg menolong adalah Allah yg suka menjadikan kita sbg co-worker-Nya yg bersikap co-operative dg-Nya. Bgmn kita mengerjakan hal ini & tidak terlena dlm “pengandalan Tuhan” yg membuat kita pasif & malas?
26 Juni2011
Thema Komsel 01 Juli – Melayani & Dilayani
Terkadang kita menemukan orang-2 yang begitu bergiat dalam pelayanan dan merasa menjadi pahlawan di dalam gereja dan bagi orang lain; sementara di sisi lain ada orang-2 yang enggan melayani dan selalu menikmati untuk dilayani. Melayani dan dilayani adalah sekeping mata uang yang membangun hidup kita sebagai umat Allah.

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Henny Purwoadi, Ev. Jenik Purwoadi, Pdt.
Jhonatan, Ev. Lusiana Roos. Victor Abednego, Ev.

Rabu, 01 Juni 2011

KENANGAN “INDAH” DI MASA LALU

11:1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. 3 Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka. 4 Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israel pun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? 5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. 6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bilangan)

Disebut dengan KENANGAN, pasti sesuatu/peristiwa yang telah terjadi; diri kita pernah terlibat secara langsung dengan sesuatu/peristiwa tersebut sehingga kita memberikan perhatian atau menganggap penting hal tersebut. Sesuatu yang terjadi di masa lalu namun kita tidak pernah berurusan/berespon dengannya, maka hal tersebut tidak akan menjadi kenangan dalam hidup/diri kita. Sesuatu/peristiwa yang indah akan menjadi kenangan yang indah bagi kita, sebaliknya – sesuatu yang buruk akan menjadi kenangan yang buruk bagi kita.
Kenangan yang baik seharusnya membuat diri kita menjadi baik, bukan mengondisikan kita pada sesuatu yang buruk. Namun hal itu sangat mungkin terjadi. Bangsa Israel memiliki kenangan yang baik sekalipun mereka terima tatkala menjadi budak atas Mesir. Kenangan ini menjadi pembanding dalam situasi hidup yang sebenarnya tidak mereka harapkan. Kenangan mereka adalah kenangan yang urusan dengan makan memakan, dengan urusan mulut dan perut. Mereka “mengenang” daging, ikan, mentimun, semangka dan bawang-2an yang diperoleh dg gratis

Perenungan Pemeliharaan Tuhan di masa kini (manna) tidak berarti apa-apa bagi mereka ketika dibandingkan dengan kenangan indah di masa lalu tatkala nafsu rakus mereka terpenuhi. Mungkinkah mulut & perut dapat menjadi takaran untuk menilai kasih & pemeliharaan Tuhan? Mengapa? jp

Kamis, 02 Juni 2011

KENANGAN “INDAH” DI MASA LALU (2)

1:4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku. 5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” 7 Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. 8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” 9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. (Kisah Para Rasul)

Bulan lalu saya melakukan perjalanan pelayanan di salah kota kecamatan di Jawa Timur. Ketika kami melintasi satu jalan saya menunjuk sebuah rumah kepada istri saya dan menceritakan perihal rumah tersebut 30 tahun yang lalu. Waktu itu, rumah itu ditinggali oleh sebuah keluarga yang hampir seluruh kecamatan mengenal dan mengetahuinya. Keluarga ini memiliki gengsi tersendiri, namun memiliki cerita tersendiri pula. Yang jelas saat ini, rumah megah & mewah (utk ukuran dulu) ini telah menjadi reruntuhan yang berhiaskan dengan kayu yang lapuk, genteng yang berserakan dan semak belukar telah menguasai pelatarannya yang luas. Pertanyaan yang diajukan, seandainya kondisinya dipulihkan seperti masa lalu, baik bangunannya, tamannya dan keluarganya? WOW, tentu sesuatu yang indah akan terjadi lagi.
Pertanyaan yang diajukan kepada Yesus mewakili sebuah keinginan untuk merasakan indahnya kerajaan Israel di masa lalu. Entah itu sebagai Negara yang tidak dijajah oleh yang lain; entah itu berkenaan dengan kehidupan masyarakatnya yang “tata tentram kerta raharja,” atau sebagi sebuah negeri yang berlimpah susu dan madunya; atau . . . .
Perenungan Apakah jawaban Yesus menjawab pertanyaan tsb, sekalipun masa & waktunya ada dalam kuasa Tuhan? Ketika Yesus memberikan batas wilayah “sampai ke ujung bumi” dapat dibandingkan dengan batasan kerajaan Israel yg mereka rindu utk dipulihkan? jp

Jumat, 03 Juni 2011

PERTOLONGAN TUHAN.
KENANGAN INDAH DI MASA LALU (3)

1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. (Ibrani)

Sekali waktu saya mengikuti sebuah acara yang dipimpin oleh seorang pembicara yang dipakai oleh TUHAN pada masa ini. Sesi demi sesi saya ikuti dan banyak berkat yang saya terima, yang sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan misi gereja masa kini. Acara tersebut diukti oleh banyak peserta.
Ketika istirahat, kami semua menikmati kudapan yang disediakan oleh panitia. Disertai dengan teh atau kopi kami mengisi waktu senggang tersebut dengan obrolan; baik merespon topic bahasan ataupun pembicaraan “ngalor ngidul” (ke utara ke selatan, yang artinya membicarakan apa saja) dengan rekan-2 yang lama tak bersua. Dan biasa, sang pembicara utama dikerumuni oleh banyak peserta yang mungkin ingin menyampaikan pendapat, komentar atau pertanyaan-2 yang tak terjawab. Sambil ngobrol dengan seorang hamba Tuhan saya juga memperhatikan kerumunan orang bersama sang pembicara. Sekali waktu sang pembicara menoleh dan kami bertemu pandang, lalu ia memanggil nama saya dan menyempatkan diri menghampiri untuk menyalami lalu melanjutkan obrolannya dengan kerumunan orang tersebut. Tentu saja hati saya senang ditegur sapa oleh pembicara ini.
Sejarah paling indah dalam kehidupan manusia adalah tatkala Allah Sang Pencipta alam semesta bertegur sapa dengan manusia. Dan hal itu tidak dilakukan hanya sekali. Alkitab mencatatkan bahwa Allah bertegur sapa dengan manusia secara berulang-ulang dan dengan berbagai cara sampai akhirnya IA bertegur sapa dengan menghadirkan Sang Anak. Bila Allah melakukan hal itu setidaknya kita menyadari bahwa IA adalah Allah yang peduli dan ingin bergaul dan bertegur sapa dengan ciptaan-Nya. Bila anda telah mengalami hal ini, setidak-2nya anda telah memiliki sejarah akan kebaikan Tuhan. Kenanglah tegur sapa-Nya yang membuat anda percaya kepada-Nya, jadikan semangat utk masa depan. jp

Sabtu, 04 Juni 2011

MONUMEN dan SEJARAH

4:21 Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: “Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini? 22 maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! — 23 sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang, 24 supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu.” (Yosua)

Terkadang manusia merespon masa lalu dengan sangat antuasiasnya, seolah-olah manusia tidak ingin kehilangan sesuatu yang dianggap penting di dalam kehidupannya, sekalipun itu telah lama berlalu. Pada sisi lain, manusia juga memperhatikan ada peristiwa-2 penting yang akan terjadi dan manusia tidak ingin kehilangan maknanya begitu saja, sehingga ia harus mempersiapkan sesuatu agar ketika waktu berlalu ada sesuatu yang dapat dipakainya untuk mengingat pada hari ini. Itulah MONUMEN
Batu-batu yang diletakkan menjadi monument penting bagi bangsa Israel, sehingga generasi berikutnya mendapatkan penjelasan yang cukup tentang sejarah Israel dan bagaimana tangan TUHAN yang kuat itu menolong bangsa Israel ini. Tujuan yang penting – supaya mereka semua selalu takut kepada TUHAN.

Perenungan Berbicara tentang sejarah, cenderung membuat manusia mengenang masa lalu dan ada seringkali manusia membutuhkan “monument-2” sebagai pintu masuknya. Seberapa hebatnya sebuah monument tetap tidak dapat sepenuhnya mewakili sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau. INGAT! Monument-2 ini dapat rusak dan hancur, tetapi kenangan masa lalu bersifat evergreen. Kenangan akan selalu lebih besar maknanya ketimbang alat/sarana pengenang. Jangan sampai kita melakukan kesalahan, kita men-sakral-kan sebuah “monument” tetapi kita melupakan sejarah/kenangan yang pernah terjadi. Kita memelihara monument-2 kasih Tuhan, tetapi kita melupakan TUHAN dan karya tangan-Nya yang perkasa. Monument apa yang terpenting dalam hidupmu? jp

Minggu, 05 Juni 2011

PERTOLONGAN TUHAN.
MOTIVASI UTAMA IBADAH & PELAYANAN

24:1 Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. 2 Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. 3 Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya. 4 Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir. 5 Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar. 6 Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau. 7 Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun. 8 Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu. 9 Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. 10 Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga ia pun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya. 11 Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. 12 Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-

binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu. 13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. 14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua)

Selalu ada alasan yang masuk akal mengapa kita beribadah kepada Tuhan; mulai dari alasan yang paling klasik – yakni untuk memuji dan mengagungkan nama Tuhan, sampai ke alasan yang berkenaan dengan sejarah perjalanan hidup kita. Hanya saja ada alasan yang bersifat klise, yang kita lontarkan namun tidak mendarah daging dalam hidup kita dan menjadi alasan sebagian besar orang; namun juga ada alasan yang mendasar yang tidak mungkin dicabut akarnya karena telah men-sejarah sehingga menjadi motivasi dasar mengapa kita beribadah kepada Allah.
Yosua menantang seluruh bangsa kepunyaan Allah ini agar senantiasa takut akan TUHAN dan beribadah kepada-Nya dengan hati yang tulus (tidak dicemari dengan motif yang kurang benar) dan setia. Hal ini diungkapkan setelah dipaparkan kembali tentang perbuatan tangan TUHAN kepada bangsa itu, mulai dengan mengingatkan mereka siapakah sebenarnya nenek moyang mereka dan siapakah yang mereka sembah dahulu – sampai dengan pertolongan-pertolongan yang TUHAN lakukan, bahkan bagaimana Allah menyerahkan bangsa-bangsa lain yang”menghadang” mereka untuk memasuki tanah perjanjian Allah bagi mereka. Belum cukup, mereka akhirnya memasuki negeri perjanjian yang kemakmurannya bukan hasil upaya mereka.

Perenungan
Sejarah ini tidak dapat dihapus, apakah ini alasan yang kurang kuat yang membuat mereka seharusnya beribadah kepada TUHAN? Cukup bukan? Bagaimana dengan anda dan “sejarah” kehidupan anda, cukupkah? jp

Senin, 06 Juni 2011

PEMIMPIN dan SEJARAH

24:1 Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah.

Ada sebuah slogan yang pernah diucapkan Soekarno (Presiden 1 RI) yaitu JAS MERAH yang merupakan akronim dari kalimat JAngan Sekali-kali MEninggalkan sejaRAH. Setidak-tidaknya kita menangkap apa yang disampaikannya sebagai sebuah kebenaran yang krusial. Krusial karena sejarah, yang walaupun bersifat past/lampau atau masa lalu, bukan berarti dapat/boleh ditinggalkan. Krusial karena ternyata sejarah menjadi contributor penting agar manusia dapat membangun dirinya yang penuh dengan pengharapan di masa yang akan datang.
Langkah yang diambil oleh Yosua sangatlah penting dan strategis, di mana ia mengumpulkan segenap orang yang dianggapnya sebagai pemimpin; dimulai dari para tua-tua, para kepala, para hakim sampai ke para pengatur pasukan. Para pemimpin ini harus mengetahui sejarah. Mengapa demikian? Paling tidak ada beberapa kebenaran yang tidak dapat ditolak, antara lain:
 Para pemimpin tahu cikal bakal mereka sampai menjadi bangsa yang besar/bangsa yang dipilih Allah.
 Perjalanan sejarah mereka bukanlah rekaan manusia, namun semata-mata pimpinan Allah. Israel bukan semata-mata the story of people melainkan the story of God atau His story (History).
 Setiap perkara yang mereka lewati tidak terlepas dari pekerjaan tangan Tuhan yang perkasa. Mereka hanyalah orang-2 yang dipakai Allah sesuai maksud rencana-Nya.
 Dengan mengetahui sejarah setidaknya mereka memiliki gambaran bagaimana seharusnya mereka memimpin umat, kepada siapa mereka berharap dan berserah. Sejarah membuat para pemimpin menjadi lebih rendah hati sekaligus berpengharapan dalam melaksanakan tugas tanggung jawabnya.

POKOK DOA
1. Doakan agar para pemimpin menghargai sejarah gereja.
2. Diberikan kepekaan & refleksi utk pelayanan masa depan gereja.

Selasa, 07 Juni 2011

PEMILIHAN dan ANUGERAH TUHAN

24:2 Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. 3 Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya.
Yosua

Kata “dahulu kala”, mengingatkan kita tentang sesuatu yang telah lewat namun tentu saja bukan berarti sesuatu itu terlupakan. Ketika Yosua berbicara tentang “dahulu kala”, ia mau mengingatkan mereka tentang asal muasal mereka, sebagai “orang-orang kafir”, yang beribadah bukan kepada Allah yang benar, tetapi kepada ilah lain.
Disini kita bisa menyimak bahwa kehidupan percaya, mengenal Allah yang menyelamatkan itu seharusnya merupakan hal yang luar biasa dalam hidup mereka, karena itu adalah sebuah Anugerah, yang memang dikhususkan Allah bagi mereka sebagai umatNya.
Bagaimana dengan kehidupan kita “dahulu kala?”. Apakah kita tahu siapa diri kita yang dahulu? Adakah diantara kita yang terlahir sudah “benar”, atau langsung menjadi orang yang dibenarkan? Faktanya dahulu kala, kita semua adalah orang kafir, orang yang tidak mengenal Allah, orang yang mungkin mendengar tentang Allah tetapi yang menuju kebinasaan. Kalau sekarang kita telah menjadi pribadi yang mengenal Tuhan, percaya kepada Tuhan, apa andil kita? Jawabanya tidak ada!
Seperti bangsa Israel yang menerima Anugerah melalui Allah memperkenal diriNya maka sama halnya dengan kitapun demikian. Semuanya adalah inisiatif Allah, pekerjaan tanganNya.
Melihat sejarah membuat kita mengetahui hidup kita yang dahulu, hal itu juga akan menjadikan kita menjadi pribadi yang “tahu berterima kasih dan tahu bersyukur”, dan seharusnya membuat kita menjalani hidup yang berbeda, karena kita telah “dibenarkan”!!

DOA:
Terima kasih Tuhan karena aku bukan yg dahulu lagi tetapi telah menjadi umat kecintaan-Mu sehingga hidupku menjadi berarti. Amin hp

Rabu, 08 Juni 2011

SEJARAH dan PERISTIWA-PERISTIWA

24:4 Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir. 5 Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar. 6 Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau. 7 Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun. (Yosua)

MESIR. Bagaimanapun juga tempat ini memiliki tempat tersendiri bagi bangsa Israel. Sebuah negeri di mana Israel (Yakub. Lihat Kejadian 35:10) & keturunannya diperlakukan istimewa krn Yusuf anaknya, & di sanalah mereka bertambah banyak. Namun juga sebuah negeri yg menyisakan kenangan pahit tatkala mereka harus dijadikan budak bahkan ada sebutan sbg bangsa budak bagi Mesir. Di negeri ini pulalah mereka melihat keperkasaan TUHAN yg membebaskan mereka dari perbudakan; menyaksikan kuasa Allah yg dinyatakan utk meyakinkan penguasa Mesir sekaligus bangsa Israel sbg Allah yg lebih besar & perkasa yg tidak dapat dibandingkan dg Mesir & para illahnya; pada akhirnya Allah akan membawa mereka ke tanah perjanjian sebagai mana janji Allah kpd Abraham. Tuhan sendiri berfirman: “ Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Ku lakukan terhadap Mesir.”
Berbicara tentang SEJARAH selalu melibatkan banyak aspek. Pasti ada aspek waktu (waktu yang telah lalu sehingga sejarah menjadi ada); ada aspek manusia dan aspek peristiwa yang saling mengisi dan mempengaruhi satu dengan yang lain. Dan ada aspek terpenting yang justru seringkali diabaikan oleh manusia pelaku sejarah dan manusia peminat sejarah, yakni aspek TUHAN, yakni TUHAN yang melakukan banyak hal di depan mata manusia.
Perenungan Bagaimana aspek TUHAN anda saksikan dalam perjalanan waktu/sejarah GKA Zion Denpasar? Pentingkah DIA? jp

Kamis, 09 Juni 2011

ISRAEL dan PEPERANGAN-NYA

24:8 Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu.
24:11 Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. 12 Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu. (Yosua)

Sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan “Mengapa Tuhan yang berjanji memberikan tanah Kanaan, membiarkan bangsa Israel menghadapi berbagai kesulitan di antaranya peperangan-2 melawan bangsa-2. Tidak bisakah IA memberikannya tanpa permasalahan?”
Tidak dapat disangkali bahwa peperangan merupakan bagian sejarah Israel, yang konon melatih bangsa Israel agar mahir berperang, hal ini dimaklumi sebagai bangsa yang mem-budak yang tidak biasa mengangkat senjata dan bereperang. Boleh-boleh saja orang berkomentar seperti itu. Tetapi melalui bacaan di atas kita memahami maksud Tuhan membawa mereka menghadapi peperangan, yakni agar mereka semakin mengenal TUHAN yang memimpin mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan. Tentu saja hal ini bertujuan agar mereka senantiasa mengandalkan TUHAN. Kata mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu dan Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu menjadi kata kunci yang mengingatkan bangsa ini tentang peperangan dan kemenangan yang mereka dapatkan.
Membandingkan dengan perenungan di awal Minggu tatkala Yosua mengumpulkan para pemimpin, khususnya bagi mereka yang memimpin dan mengatur pasukan menjadi ingatan yang penting. Tokoh utama kemenangan mereka adalah TUHAN sebagai Pahlawan dan Panglima perangnya.
Perenungan Sejarah menggoda kita melakukan penokohan terhadap pribadi-2 tertentu. Awas! Jangan geser TUHAN dengan mereka!

Jumat, 10 Juni 2011

SEJARAH PENGGENAPAN JANJI TUHAN

24:13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. (Yosua)

Menyadari bahwa Allah turut campur dalam kehidupan kita sehingga membuahkan ucapan syukur dan kebersandaran ternyata bukanlah sesuatu yang mudah, khususnya dalam hal-hal tertentu. Ketika kita telah berusaha sekuat tenaga, dengan mencurahkan segenap pikiran dan perhatian, dan akhirnya menuai hasil & kesuksesan – lalu disebutkan bahwa ini semua pemberian Tuhan dan berkat Tuhan, rasanya tidak masuk akal, karena nyata-2 manusia yang berusaha. Padahal bila kita mencoba meruntut segala sesuatunya mungkin karena Tuhan, namun tetap akal kita sulit untuk menerimanya.
Bila kita membiarkan diri dengan cara pikir yang sedemikian, mungkin akan membuat kita menjadi pekerja keras yang dikuasai oleh berbagai obsesi dan akan menikmati kebahagiaan tatkala telah mengalami pencapaian-2. Namun di sisi lain, semakin sulit menyadari campur tangan dan pekerjaan Tuhan di dalam hidup ini; semakin sulit bersyukur dan berserah; dan semakin sulit untuk mengembalikan hak milik TUHAN.
Berseberangan dengan pemikiran di atas, justru Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa pencapaian yang terjadi dalam hidup mereka yakni tanah Kanaan, semua dimungkinkan karena Tuhan. Tuhan ingatkan bahwa negeri yg mereka duduki, kota yang mereka diami, bahkan kebun-2 yang hasilnya mereka nikmati – semuanya bukan hasil jerih lelah mereka, tetapi Tuhan yang menyerahkan semuanya kepada mereka.
Yang perlu kita pikirkan lebih dalam, apakah kita akan meng-identikan sesuatu yang “gratisan” dan pemberian cuma-2 sebagai campur tangan Tuhan dan itu semua hak milik Tuhan? Sementara sesuatu yang diperoleh dengan jerih lelah manusia, sulit bagi kita menyebutkan sebagai campur tangan Tuhan dan milik kepunyaan Tuhan yng dipercayakan kepada kita? Uji kasusnya, coba kita renungkan kembali keluarga kita, harta benda dan pekerjaan kita – milik siapakah itu semua? Mengucap syukurkah kita atas semuanya itu? Relakah bila Tuhan mau memakainya untuk pekerjaan dan kemuliaan-Nya? jp

Sabtu, 11 Juni 2011

IBADAH
SEBUAH PILIHAN dan BUKAN PILIHAN

24:14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua)

Desember di sekolah Minggu, pemimpin kami membahas tentang sebuah keluarga yg membutuhkan pakaian & makanan, yg direkomendasi oleh bidang Diakonia. Pemimpin kami menceritakan ttg keadaan keluarga ini, yg mana terdapat seorang ibu tunggal dg tiga anak, utk mencukupi kebutuhan mereka ia harus bekerja di dua tempat, namun dari hari ke hari selalu habis, tidak pernah bisa menyimpan sedikitpun, bahkan utk natal yg tinggal beberapa hari lagi. Karenanya kami dihimbau agar mau mengambil bagian. Kami semua menyetujuinya, akhirnya nampanpun diedarkan di depan kami satu persatu, sementara itu saya melamunkan natal-2 yg saya lewati selama ini, alangkah sedihnya bila natal tanpa kue, tanpa pakaian maupun makanan bagi anak-2 itu. Hal itu membuatku bertekad memberikan lebih kpd mereka, namun tatkala aku membuka dompetku, aku hanya menemukan 1 dolar, tidak lebih, bahkan ketika nampan itu lewat aku tidak memberinya, aku merasa tidak pantas, terlalu sedikit, tapi aku tak punya lagi, tetapi tiba-tiba aku teringat, kalau aku sering membuat lipatan uang kertas untuk berjaga-jaga dan di selipkan dibagian foto di dompet. Ketika ku buka ada lembaran 100 dolar, sesaat aku berpikir, namun aku menyadari mereka lebih membutuhkan dari pada diriku.
Setiap hari kita di perhadapkan dengan yang namanya pilihan, ketika Yosua menggunakan kata “pilihlah”, sesungguhnya itu bukan berbicara tentang pilihan yang harus dipilih, karena untuk mempercayai Allah yang benar itu bukan sebuah pilihan tetapi keputusan yang tidak bisa tidak harus kita ambil. Yosua dan seisi rumahnya memutuskan untuk beribadah kepada Allah yang benar, Tuhan yang telah bertindak dan yang tak dapat disetarakan dengan allah-allah lain. Hp

Minggu, 12 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (1)
Roh Kudus sebagai Penolong

16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. (Yoh. 14:16-18)
Dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah dunia yang berdosa dan penuh dengan banyak persoalan hidup ini, terkadang kita merasa bahwa kita hidup sendirian, berjuang sendirian, menderita sendirian. Apalagi bagi mereka yang baru menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Mereka yang baru menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadinya, terkadang mereka masih merasa bingung dengan status mereka yang baru di tengah-tengah keluarga mereka yang belum percaya. Apalagi kehadiran mereka sebagai seorang kristen, tidak mendapatkan sokongan yang kuat dari saudara seiman mereka yang baru. Rasa putus asa, kecewa, dan hilang pengharapan, mungkin akan mewarnai perjuangan iman mereka yang baru bersama dengan Tuhan.
Kondisi yang demikian, sangat dipahami dan dimengerti oleh Tuhan Yesus. Pada masa-masa terakhir-Nya bersama dengan murid-murid-Nya, Tuhan Yesus tidak melupakan mereka. Meskipun kembali kepada Bapa, adalah sukacita bagi-Nya, namun meninggalkan murid-murid-Nya berjuang sendirian di tengah-tengah dunia ini tentu bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Oleh sebab itu, Yesus menguatkan hati mereka bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu, tetapi Ia akan mengirimkan Roh Kudus yang akan menjadi penolong yang baru bagi mereka. Roh Kuduslah yang akan memampukan mereka untuk dapat mengerti akan kehendak Bapa. Roh Kuduslah yang akan memberikan keberanian kepada mereka untuk menyaksikan cinta kasih Tuhan yang agung kepada dunia yang berdosa. Roh Kudus pula yang sanggup untuk mempersatukan mereka dengan saudara seiman lainnya.
Persekutuan bersama saudara seiman yang indah, bisa terjadi dan tercipta, bukan semata karena kemampuan kita melainkan sesungguhnya adalah karya dari Allah Roh Kudus yang bekerja di tengah-tengah kita.

Senin, 13 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (1)
Roh Kudus Sebagai Pemberi Iman
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. (Kis. 2:41)
“Irresistible Grace (Anugerah yang tidak dapat ditolak), merupakan salah satu point dari The five points of Calvinism (Lima pokok Calvinisme) atau yang disingkat dengan “TULIP”. Yang dimaksud dengan, tidak dapat ditolak (irresistible), ialah bila Allah telah memilih orang-orang untuk diselamatkan dan bila Ia memberikan Roh Kudus untuk mengubah mereka dari orang-orang yang penuh kebencian menjadi orang-orang yang penuh kasih, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Ia tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Ia menggenapi apa yang telah direncanakan-Nya. Hal ini juga berarti bahwa Allah memberikan Roh Kudus untuk bekerja di dalam hidup seseorang agar ia secara pasti diubah dari yang jahat menjadi baik. Ini berarti bahwa Roh Kudus pasti – tanpa tambahan dan, atau, tetapi, – membuat setiap orang, yang telah dipilih Allah sejak kekekalan dan yang baginya Kristus telah mati, menjadi percaya kepada Yesus.” (Edwin H. Palmer, Momentum, 2005).
Bunyi pernyataan di ayat 41 tersebut seakan-akan mengindikasikan bahwa penerimaan orang banyak terhadap perkataan yang diucapkan oleh Petrus, dan kemudian mereka memberi diri dibabtis sebagai tanda pengakuan atau penerimaan tersebut adalah berasal dari diri mereka sendiri. Namun jika kita memperhatikan perikop-perikop sebelumnya, maka kita akan menjumpai bahwa orang banyak dapat berespon terhadap berita pertobatan yang disampaikan oleh Petrus, adalah sebagai akibat dari pekerjaan Roh Kudus. Hal ini sejalan dengan ayat 2-4 dari pasal 2 ini, di mana semua orang menjadi heran dengan apa yang terjadi dengan semua murid Tuhan, setelah mereka menyaksikan adanya lidah-lidah apa yang turun ke atas semua orang percaya.
Refleksi: Bersyukurlah kepada Allah, karena Roh Kudus yang dicurahkan, memberikan kita iman untuk percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat dunia.lr

Selasa, 14 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (2)
Roh Kudus Sebagai Guru

Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.
(Kis. 2:42a)

“7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?” Ayat 7 dari pasal 2 ini menggambarkan mengenai sebuah situasi yang terjadi pada hari Pentakosta. Suatu situasi di mana orang banyak bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, terkait dengan sebuah fenomena spektakuler yang sedang mereka saksikan di depan mata mereka sendiri, dan bagaimana mereka sampai dibawa kepada satu titik keheranan yang luar biasa bahkan kepada sebuah luapan ketidakpercayaan karena apa yang mereka saksikan adalah sesuatu yang tidak dapat mereka terima secara logika. Bagaimana mungkin orang-orang Galilea yang selama ini mereka kenal dan mereka lihat, mereka para nelayan sederhana itu, bisa berbicara dalam berbagai macam bahasa yang mungkin bahkan mereka sendiri pun tidak pernah mempelajarinya atau bahkan mendengarnya selama hidup mereka?
Itulah manusia dengan segala keterbatasan pikirannya. Sepintar apapun ia, ia tetap tak dapat menyelami cara kerja Allah yang luar biasa dan maha luas. Siapa yang bisa menduga bahwa orang-orang dari Galilea tersebut, setelah kepergian Guru mereka, mereka bahkan menjadi Soko Guru yang menceritakan kembali kepada orang banyak, ajaran-ajaran iman yang telah ditanamkan oleh Guru mereka.
Ayat 42a, dari pasal 2 ini, memberikan satu gambaran mengenai penggenapan dari janji Tuhan Yesus kepada para murid-Nya sebelum Ia kembali ke Surga. Kini setelah Roh Kudus dicurahkan, Ia (Roh Kudus) yang memimpin dan mengajarkan kepada para murid Tuhan, Ia pula yang menjelaskan kepada mereka megenai segala sesuatu yang harus mereka katakan dan mereka lakukan.
Kepada setiap orang yang telah menerima dan percaya kepada Kristus, Allah telah memberikan Roh Kudus di dalam hatinya, yang akan mengajarkan kepadanya segala sesuatu tentang kebenaran Allah. lr

Rabu, 15 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (3)
Roh Kudus sebagai pemberi Sukacita

42b Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47 sambil memuji Allah. (Kis.2:42b, 46, 47a)
Hidup di dalam Tuhan seharusnya menjadi sesuatu yang menggembirakan. Orang Kristen seharusnya adalah orang yang selalu rindu untuk berbagi hidupnya dengan sesama. Jika kita melihat kehidupan Yesus, Yesus selalu sendirian hanya ketika Ia sedang berdoa kepada Bapa-Nya yang di Surga. Selain dari pada itu, kehidupan Yesus tidak pernah lepas dari orang banyak, termasuk murid-murid-Nya yang selalu mengelilingi-Nya setiap hari. Yesus sangat suka bergaul dengan orang banyak, Ia senang mengajar mereka mengenai Kabar Baik dan Ia juga suka memperkenalkan Bapa-Nya kepada orang banyak tersebut. Intinya adalah Yesus tahu bahwa diri dan kehidupan-Nya di dunia ini, bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan, kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi banyak orang.
Jemaat Kristen mula-mula, pada akhirnya bisa merasakan persekutuan yang indah bersama dan di dalam Tuhan. Mereka yang berasal dari berbagai latar belakang dan budaya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, yang tentu saja bisa menjadi penyebab dari adanya sebuah konflik dan pertikaian, namun bagaimana mereka pada akhirnya bisa bersatu? Tidak lain adalah karena adanya Roh Kudus yang tinggal dan hidup di tengah-tengah mereka. Roh Kudus adalah Roh yang satu dan yang sama, yang bisa mengikat setiap hati, memberi pemahaman dan kesadaran bahwa, semua orang percaya adalah satu keluarga di dalam Tuhan. Dan sebagai satu keluarga, maka apa yang menjadi kekurangan dan kebutuhan dari anggota keluarga yang lainnya, haruslah diperhatikan dan ditopang. Ketika setiap anggota keluarga dapat merasakan sukacita, maka hal itu pun menjadi kegembiraan yang melimpah bagi seluruh anggota. lr

Kamis, 16 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (4)
Roh Kudus Sebagai Pembuat Mujizat & Tanda

Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. (Kis. 2:43)
Penonjolan atau pengagungan yang keliru terhadap salah satu karakter Allah yakni mengenai “Allah yang kasih”, seringkali menimbukan kepincangan iman bahkan menjurus kepada penjerumusan penyimpangan karakter seorang Kristen. Seorang Kristen yang hanya memandang Allah sebagai Bapa yang pengasih dan penyayang, terkadang jatuh ke dalam sebuah sikap menyepelekan kekudusan Allah. Orang seperti ini, akan terlihat hidup seenaknya dan selalu menuruti keinginan-keinginan dagingnya yang berdosa. Ia dapat melakukan perbuatan-perbuatan dosa tanpa sedikitpun merasa gentar kepada Allah yang kudus. Karena baginya, Allah hanyalah sebuah alat atau seorang pribadi yang bertugas untuk melayani kepentingannya. Orang dengan konsep pemikiran yang seperti demikian, telah menjadikan dirinya sebagai Tuhan dan Allah hanya sebagai pembantu atau pelayannya.
Dari kehidupan jemaat mula-mula, sebenarnya kita bisa belajar mengenai, apa itu takut akan Allah. Jemaat mula-mula, yang setiap hari mendengarkan pengajaran para murid, menjadi takut dan gentar kepada Allah. Ketakutan yang kudus ini membawa mereka kepada adanya perubahan karakter dan perubahan hidup serta pertumbuhan iman yang lebih mendalam. Mereka melihat Allah sebagai Allah yang kudus yang harus dihormati dalam sikap hidup mereka yang baru yakni kehidupan yang harus selalu dikuduskan bagi Allah. Dan oleh sebab itu pula maka, Allah pun menyatakan kebesaran dan kuasa-Nya di tengah-tengah mereka, melalui berbagai tanda-tanda ajaib dan mujizat yang Tuhan kerjakan melalui para rasul-Nya.
Refleksi: Rindukah anda menerima dan mengalami tanda & mujizat ajaib di dalam kehidupanmu? Takutlah akan Tuhan dan kejarlah kekudusan-Nya, niscaya Ia akan menyatakan kebesaran-Nya & engkau akan bersyukur.lr

Jumat, 17 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (5)
Roh Kudus Sebagai Pemersatu
Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Setiap manusia, ketika memasuki dunia ini, datang dengan tidak membawa sesuatu pun pada kedua genggaman tangannya. Hidup yang ia peroleh sesungguhnya adalah anugerah Tuhan baginya, dan setiap perlengkapan harta yang Tuhan berikan, itupun adalah titipan dari Tuhan, yang tidak akan pernah ia bawa pergi ketika ia dipanggil kembali oleh sang pencipta. Meskipun manusia menyadari akan hal tersebut, namun terkadang sulit baginya untuk berbagi berkat tersebut dengan sesamanya yang lain yang sedang berada dalam kekurangan.
Seorang Kristen yang telah merasakan anugerah Tuhan yang melimpah, tentu harus menyadari bahwa hidup dan segala miliknya adalah berasal dari Tuhan yang sedang Tuhan percayakan kepadanya saat ini. Tuhan merindukan bahwa berkat yang diberikan kepadanya dapat ia pergunakan secara bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama.
Jemaat mula-mula, ketika menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat mereka, maka mata rohani mereka dibukakan. Allah Roh Kudus memberikan pengertian yang baru kepada mereka, bahkan mereka diberikan hati dan pemikiran yang baru yang telah diubahkan dan dimurnikan oleh Tuhan. Sehingga, mereka dapat memandang bahwa harta bukanlah segala-galanya. Sesama saudara seiman adalah harta mereka yang baru, yang dititipkan oleh Tuhan untuk dapat mereka kelola dan perhatikan dengan baik.
Hal ini hanya bisa terjadi karena Roh Kudus yang telah mempersatukan mereka dan memberi mereka kasih yang murni dan yang terus ditumbuhkan-Nya di dalam keseharian hidup dari orang percaya. lr

Sabtu, 18 Juni 2011
Karya Roh Kudus & Persekutuan Orang Percaya: (7)
Roh Kudus Sebagai Pembaharu

Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (Kis. 2:47b)
Hidup damai dengan semua orang, menjadi sebuah kehidupan yang sangat diidam-idamkan oleh setiap manusia. Seorang manusia yang sehat secara jasmani dan rohani, tentu selalu rindu untuk memiliki kehidupan yang nyaman dan tentram dengan siapa saja. Namun di tengah-tengah dunia yang berdosa ini, di mana kejahatan terus meraja lela bahkan terus meningkat dari hari ke hari, menyebabkan banyak orang hidup dalam ketakutan dan kekuatiran setiap waktu.

Dalam dunia yang seperti demikian, orang Kristen tetap dipanggil untuk dapat berkontribusi di dalam mewujudkan adanya damai di tengah-tengah dunia ini. Namun manusia dengan kekuatannya sendiri, tidaklah mungkin untuk sanggup melakukan apa yang bertolakbelakang dengan naturnya yang telah tercemar akibat dosa. Tetapi syukur kepada Tuhan, karena Ia tidak pernah membiarkan manusia untuk dapat berjuang seorang diri. Allah selalu menyediakan pertolongan bagi manusia yang dapat memperbaharui karakternya dari waktu ke waktu.

Kesaksian hidup dari gereja mula-mula, memperlihatkan kepada kita akan karya agung yang luar biasa dari Roh Kudus sebagai pembaharu. Manusia-manusia berdosa yang memiliki kecenderungan untuk merusak dan menghancurkan, kini di persatukan dan dibahkan oleh-Nya. Dan melalui kehidupan mereka yang baru, orang lain boleh melihat cahaya kemuliaan Allah dan akhirnya datang kepada-Nya, tershisap ke dalam persekutuan yang baru bersama dengan umat tebusan-Nya.

Doa: Ya Allah Roh Kudus, Sang Roh pembaharu, baharuilah kehidupanku dan jadikanlah aku agen pembaharu-Mu di mana pun Engkau menempatkanku. lr

Minggu, 19 Juni 2011

ANTARA PERTOLONGAN TUHAN
DAN TANGGUNG JAWAB UMAT TUHAN (Hagai 1:1-2)

1:1 Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya:
1:2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!”

Pasal 1 dari kitab Hagai ini berisi teguran yang disampaikan oleh nabi Hagai kepada umat Tuhan yang tersisa dari pembuangan di Babel. Mereka pada saat itu sudah pulang kembali ke Yerusalem. Hagai menegur umat Tuhan karena mereka melalaikan pekerjaan untuk membangun Rumah Tuhan (Bait Suci).
Enam belas tahun sebelumnya, Raja Koresh mengeluarkan dektrit supaya Rumah Tuhan di Yerusalem dibangun kembali. Dua tahun setelah dektrit ini dikeluarkan, alas Rumah Tuhan pun selesai dibangun. Tetapi pada tahun 520 SM, keadaan berubah sebab para penyogok memutarbalikkan arti usaha umat Tuhan dengan tuduhan yang tidak-tidak (Ezra 4:5). Akhirnya selama 14 tahun pembangunan Rumah Tuhan ini tertunda, tidak dikerjakan lagi, dan alas yang sudah selesai dibangun itu pun, tertutup dengan tanah dan ditumbuhi rerumputan. Dalam kondisi seperti inilah, firman Tuhan datang melalui perantaraan nabi Hagai untuk mendorong mereka agar melanjutkan pekerjaan yang terhenti itu.
Di ayat ke-2, umat Tuhan berkata bahwa sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan. Ini adalah sebuah dalih yang mereka berikan kepada Tuhan. Dengan dalih ini, mereka menjadi santai dan bersikap menunggu (pasif) akan waktu yang tepat untuk membangun Rumah Tuhan tersebut.
Inilah sikap pasif dari umat Tuhan pada waktu itu. Kita harus belajar dari kesalahan yang dilakukan umat Tuhan, kita harus bersikap aktif dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Kita melakukan bersama-sama dengan Tuhan, dengan satu keyakinan bahwa Tuhan akan senantiasa memberikan pertolongan kepada kita. Kita adalah rekan sekerja-Nya dalam melakukan pekerjaan-Nya di dunia ini.

Senin, 20 Juni 2011

BUDAYA MATERIALISME
(Hagai 1:4-5)

1:4 “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
1:5 Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!
Saat ini, budaya materialisme sudah menyatu di dalam sebagian besar gaya hidup setiap orang, termasuk orang Kristen. Budaya ini mementingkan materi di atas apapun juga. Materi mendapatkan tempat nomor satu di dalam hidup mereka yang harus dikejar. Sekilas, materi memang menawarkan kenyamanan, kebebasan dan kemudahan. Namun semuanya itu tidak bersifat kekal. Salah satu bahaya dari budaya materialisme adalah berfokus kepada diri sendiri dan tidak mementingkan orang lain. Tidak heran, banyak kasus di mana demi mendapatkan materi (uang), mereka rela menipu sahabat mereka sendiri.
Budaya ini ternyata juga ada di dalam zaman nabi Hagai. Firman Tuhan datang kepada nabi Hagai yang bunyinya “Apakah sudah tiba bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (ay. 4). Firman ini ditujukan kepada umat Tuhan yang ada di Yerusalem.
Ada kontras yang terjadi antara rumah mereka dengan Rumah Tuhan (Bait Suci). Rumah mereka dipapani dengan baik, sedangkan Rumah Tuhan dibiarkan saja, tidak diapa-apakan, tetap menjadi reruntuhan. Mereka sibuk menghiasi rumah mereka. Mereka ingin memuaskan keinginan sendiri. Rumah telah menjadi materi bagi mereka. Mereka melupakan Rumah Tuhan (Bait Suci) tempat mereka beribadah.
Oleh karena itu firman Tuhan dengan keras mengatakan “Perhatikan keadaanmu!” Dari ayat 4-5 ada tiga kali kata “mu” diulang, yang menunjukkan penekanan kepada umat Tuhan. Firman Tuhan ini menegur umat Tuhan agar memperhatikan keadaan mereka. Mereka harus sadar bahwa mereka seharusnya mengutamakan Tuhan dan bukannya diri mereka (materi). Bagaimana dengan hidup kita?

Selasa, 21 Juni 2011

KITA MEMBANGUN – IA MEMBERKATI
(Hagai 1:7-8)

1:7 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu
1:8 Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.
Ini adalah kali kedua firman Tuhan yang sama ditujukan kepada umat Tuhan di Yerusalem. Mereka kembali diingatkan untuk memperhatikan keadaan mereka, melihat seberapa jauh mereka telah menyimpang dari kebenaran. Selanjutnya mereka juga diperintahkan untuk naik ke gunung dengan membawa kayu dan membangun Rumah Tuhan (Bait Suci) (ay. 8a). Perlu diketahui bahwa pada saat itu kayu merupakan bahan yang mudah diperoleh dan menjadi bahan dasar untuk membuat rumah.
Pada saat umat membangun Rumah Tuhan, maka Tuhan akan berkenan dan akan menyatakan kemuliaan-Nya di dalam Rumah Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan akan memberkati pembangunan Rumah Tuhan tersebut.
Dalam membangun perlu adanya tindakan aktif dari para pekerja. Itu juga yang nyata dalam ayat ke-7, disana ada tiga kalimat perintah, naiklah, bawalah dan bangunlah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam membangun Rumah Tuhan perlu ada tindakan aktif bukan pasif.
Gereja kita saat ini sedang membangun, baik itu pastori di Denpasar maupun gereja di Pos PI Singaraja. Kita, sebagai warga gereja, harus bersama-sama bertindak aktif dalam membangun, yaitu dengan mendukung pembangunan-pembangunan tersebut, baik dalam hal doa, dana dan daya. Ketika kita membangun (melakukan tindakan aktif), maka Tuhan akan memberkati.

Perenungan: Tindakan aktif apa yang sudah kita lakukan dalam mendukung pembangunan-pembangunan yang sedang dilakukan di gereja kita? Mari bagi kita yang belum mengambil bagian, hari ini kita berkomitmen untuk melakukan tindakan aktif bagi pembangunan-pembangunan yang dilakukan di gereja kita.

Rabu, 22 Juni 2011

KITA, KAWAN SEKERJA ALLAH (GOD’S FELLOW WORKERS)
(1 Korintus 3:9)

3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Kita, sebagai orang-orang percaya adalah kawan sekerja Allah. Artinya kita bekerja bersama-sama dengan Allah. Bekerja dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia ini. Allah tidak membeda-bedakan mereka yang mau bekerja bagi Dia. Allah tidak melihat latar belakang, status, kedudukan, kekayaan, dan lain sebagainya. Allah mau memakai setiap orang percaya yang bersedia untuk menjadi kawan sekerja-Nya.
Di kota Korintus, terdapat dua golongan besar, yaitu golongan Paulus dan golongan Apolos. Mereka berselisih tentang siapa yang paling penting dari antara mereka. Dari golongan Paulus berkata “Aku menanam,” sedangkan dari golongan Apolos berkata “Aku menyiram.” Manakah yang paling penting? Dalam ayat ke-7 jelas dikatakan bahwa Allahlah yang memberikan pertumbuhan. Baik yang menaman ataupun menyiram itu sama saja di hadapan Allah. Karena mereka adalah kawan sekerja Allah.
Pelayanan adalah milik Allah, bukan milik golongan atau kelompok tertentu, oleh karena itu setiap orang yang melayani jangan merasa bahwa pelayanan ini berhasil karena “saya” yang melayani di dalamnya dan kalau bukan “saya” pasti pelayanan ini tidak akan berhasil. Hati-hati dengan anggapan seperti ini. Gereja, adalah tubuh Kristus di mana setiap orang di dalamnya memiliki peran yang penting, sekecil apapun perannya. Orang-orang yang melayani di dalam gereja perlu menyadari bahwa mereka adalah sama di mata Allah. Allah tidak melihat besar kecilnya pelayanan sebab Allah memandang setiap orang yang melayani sebagai kawan sekerja-Nya.
Biarlah ladang Allah dapat tumbuh subuh karena orang-orang yang bekerja di dalamnya menyadari bahwa mereka adalah kawan sekerja Allah. Biarlah bangunan Allah berdiri kokoh dan tegak karena orang-orang yang tinggal di dalamnya menyadari bahwa mereka adalah kawan sekerja Allah. Mari sebagai kawan sekerja Allah kita bersama-sama melayani-Nya, sama-sama saling membangun dan memberikan yang terbaik bagi Allah.

Kamis, 23 Juni 2011

MANDAT BUDAYA ADALAH BUKTI ALLAH INGIN BERKERJA SAMA DENGAN ORANG PERCAYA
(Kejadian 1:28)

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

Mandat budaya adalah perintah yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Mandat budaya memerintahkan manusia untuk memiliki keturunan dan memelihara bumi. Manusia diberikan kuasa oleh Allah untuk menguasai alam ciptaan-Nya.
Perintah ini diberikan oleh Allah kepada manusia pertama (Adam) dan juga kepada setiap kita. Ini adalah bukti bahwa Allah ingin bekerja sama atau dengan kata lain Allah ingin menjadikan manusia sebagai partner kerja-Nya di dunia ini. Allah tidak bekerja sendiri, namun Ia bekerja sama dengan manusia.
Sebelum manusia diberikan perintah mandat budaya ini, Allah memberkatinya. Allah ikut campur tangan ketika manusia menjalani perintah mandat budaya ini. Manusia tidak bekerja seorang diri saja, seolah-olah Allah adalah bos yang tinggal duduk saja melihat karyawannya bekerja. Tetapi Ia adalah Allah yang aktif.
Mandat budaya ini harus dilakukan dengan bertanggung jawab. Karena ini adalah perintah Allah. Manusia tidak hanya duduk diam, menantikan Allah bekerja, namun manusia dituntut untuk berperan aktif dalam menjalankan mandat budaya ini. Misalnya dalam menjaga lingkungan sekitar tetap bersih, kita harus membuang sampah pada tempatnya. Coba bayangkan jika kita membuang sampah di kali, ketika musim penghujan datang, maka tidak heran banjir pun terjadi karena saluran air tidak lancar akibat sampah tersebut.
Agar mandat budaya ini dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan kerjasama antara Allah dengan manusia. Manusia harus senantiasa takut akan Allah dan taat pada perintah Allah.

Jumat, 24 Juni 2011

AMANAT AGUNG ADALAH BUKTI ALLAH INGIN BEKERJA SAMA DENGAN ORANG PERCAYA
(Matius 28:19-20)

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Amanat agung (the great commision) adalah perintah terakhir yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Tuhan Yesus naik ke surga. Tuhan Yesus menginginkan agar murid-murid-Nya pergi untuk memberitakan Injil kepada semua orang.
Amanat agung ini juga berlaku bagi orang percaya di zaman sekarang. Kita juga diperintahkan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Kita menjadi saksi Tuhan bagi mereka. Tuhan dapat menggunakan apa saja untuk memberitakan Injil kepada semua orang, namun Ia memiliki kita (manusia), orang-orang percaya untuk melakukan tugas yang mulia ini.
Ingat ada penyertaan Tuhan ketika menjalankan amanat agung ini. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan juga bekerja sama dengan kita. Penyertaan Tuhan membuat kita kuat menjalani amanat agung ini. Penyertaannya bukan bersifat sementara, hanya dalam hitungan hari, minggu, bulan atau bahkan tahun. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa penyertaan Tuhan diberikan kepada manusia sampai kepada akhir zaman.
Berbahagialah setiap kita yang mau bekerja sama dengan Tuhan dalam menjalani amanat agung ini. Ini adalah pekerjaan besar. Kita tidak boleh puas dengan diri kita, karena kita telah mengenal Tuhan dan telah memperoleh keselamatan. Tetapi kita harus memiliki hati seperti hati Tuhan yang memiliki belas kasihan ketika melihat jiwa-jiwa yang telantar (Mat. 9:36). Mari kita menjadi rekan sekerja Allah dengan menjalankan amanat agung.

Sabtu, 25 Juni 2011

HANYA DIA SUMBER PERTOLONGANKU
(Mazmur 121:1-2)

121:1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?
121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Penulis Mazmur 121 tidak diketahui dengan pasti. Walaupun demikian, Mazmur ini merupakan salah satu Mazmur yang terkenal. Bahkan di Indonesia pun ada lagi rohani yang dikarang berdasarkan Mazmur ini.
Mazmur ini mengisahkan bahwa ada seseorang yang sedang mencari pertolongan. Ia melayangkan matanya ke gunung-gunung dengan pengharapan bahwa ia akan mendapatkan pertolongan. Namun apa yang terjadi? Apakah ia mendapatkan pertolongan?
Orang ini ternyata tidak mendapatkan pertolongan, sebab ia telah menempuh jalan yang salah (wrong way) dalam mencari pertolongan. Ia salah jalan karena mencari pertolongan di gunung-gunung yang adalah benda mati, tidak mempunyai kuasa untuk menolong. Bersyukur, pada akhirnya, ia menyadari bahwa gunung-gunung tidak dapat memberikan pertolongan. Hanya Tuhanlah sumber pertolongan baginya. Hanya Tuhan jalan yang benar (right way) yang dalam mencari pertolongan. Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi dan segala isinya. Tuhan yang maha Kuasa, Tuhan yang maha Besar. Tuhan yang menciptakannya. Tuhan yang hidup.
Mungkin seringkali, ketika kita sedang membutuhkan pertolongan, kita meminta pertolongan kepada orang-orang “pintar” seperti dukun atau peramal. Atau juga kita mengandalkan diri sendiri, dengan merasa bahwa kita bisa mengatasi masalah yang sedang kita hadapi.
Melalui renungan hari ini, kita diingatkan bahwa kita mempunyai seorang Pribadi yang berkuasa dan sanggup untuk memberikan pertolongan kepada kita dengan cara dan waktu yang tepat. Pribadi itu ialah Tuhan yang menjadikan langi dan bumi, dan juga telah menjadi kita, manusia. Ketika kita membutuhkan pertolongan, carilah Tuhan, karena hanya Dia sumber pertolongan bagi kita.

Minggu, 26 Juni 2011

Melayani dan Dilayani: Sebuah Teladan Pelayanan

13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Yohanes 13

Bagian firman Tuhan ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi setiap kita. Mungkin ayat ini juga seringkali kita jadikan senjata untuk menyerang pemimpin-pemimpin yang hanya mau dilayani aja. Tetapi pada kesempatan ini saya ingin menegaskan bahwa ini harus dilakukan oleh orang mengaku Kristen ataupun yang dikenal oleh orang lain sebagai orang Kristen. Itu artinya adalah Anda dan saya orangnya. Dari nats yang kita baca hari ini, Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Ia telah memberikan sebuah teladan kepada para murid perihal melayani sesama. Dalam perikop ini Tuhan Yesus melayani para murid dengan cara membasuh kaki para murid. Dalam hal ini Yesus mempraktekkan sebuah hati pelayan yang sesungguhnya. Yesus sebagai seorang Guru dan Tuhan, Ia mengambil pelayanan yang sangat hina. Dalam tradisi Yahudi, biasanya sebelum seorang tamu masuk ke dalam rumah orang yang dikunjunginya maka kakinya akan dibasuh oleh seorang hamba yang memang telah ditugaskan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang hina pada masa itu. Tetapi lihatlah, Yesus melakukan tugas yang hina tersebut. Kalau seorang hamba terpaksa melakukannya karena ia diperintahkan untuk melakukannya, Yesus tidak. Ia melakukannya dengan sukarela. Ia melakukannya bukan karena adanya perintah dari orang lain. Tetapi Ia melakukannya dengan inisiatif sendiri. Ia basuh semua kaki murid-Nya termasuk kaki Petrus murid yang akan menyangkali-Nya nanti dan Yudas yang akan mengkhianati-nya. Yesus membasuh kaki mereka tanpa memilih orang-orang yang akan dilayani-Nya.

Saudaraku, sebagaimana yang telah saya tegaskan di awal renungan ini maka pada kesempatan ini juga mau mengajak setiap kita untuk mengikuti teladan yang telah Yesus tinggalkan bagi setiap kita. Mari kita lakukan pelayanan kita tanpa memandang bulu. Mari kita berikan pelayanan kita kepada siapapun yang kepadanya kita harus melayani. Mari kita lakukan dengan inisiatif dari diri kita sendiri bukan karena diminta oleh hamba Tuhan maupun para pengurus. Ikutilah teladan dari Tuhan Yesus dan belajarlah terus untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan Yesus yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan pelayanan bagi kita semua. Amin. Jho

Senin, 27 Juni 2011

Melayani dan Dilayani

10 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10

Tema ini kita minggu ini adalah melayani dan dilayani. Setiap manusia mempunyai sebuah tendensi ingin dilayani. Hal serupalah yang terjadi di dalam kehidupan dua orang murid Tuhan dalam perikop yang kita baca hari ini. Perikop ini dituliskan setelah Tuhan Yesus memberitahukan perihal penderitaan yang akan dialaminya nanti dan ini adalah pemberitahuan yang ketiga. Seharusnya suasana yang terbangun adalah suasana yang sedih karena guru mereka akan mati disalibkan di kayu salib. Tetapi justru sebaliknya, Yohanes dan Yakobus datang pada Tuhan dan mengajukan permohonan yang tidak tepat. Mereka datang dan memohonkan agar mereka diberikan tempat di sebelah kanan Tuhan ketika Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya kelak. Duduk di sebelah kanan memiliki pengertian yang sangat dalam. Duduk di sebelah kanan adalah menjadi orang kepercayaan. Dan inilah yang diminta oleh Yohanes dan Yakobus dari Tuhan Yesus. Permintaan dari dua orang murid ini menimbulkan respon dari kesepuluh murid yang lain. Mereka menjadi marah (ay. 41). Pertanyaannya adalah mengapa mereka marah? Apakah kemarahan itu muncul karena kedua murid tersebut tidak mengerti kesedihan hati Tuhan karena Ia akan mati? Atau karena hal yang lain? Di dalam perenungan saya, saya mendapati ada 2 kemungkinan yaitu, pertama, mungkin mereka marah karena kedua murid ini tidak bijaksana sebab mereka tidak melihat sikon yang ada. Guru mereka sedang dalam kesedihan karena saat kematian-Nya sudah dekat. Kedua murid ini kurang berempati terhadap guru mereka. Kemungkinan kedua adalah mereka marah karena mereka juga menginginkan hal yang sama. Mereka ingin menjadi orang yang duduk di sebelah kanan Tuhan Yesus pada saat Ia datang dalam kemuliaan-Nya tetapi mereka takut untuk mengutarakannya dan mereka didahului oleh kedua murid itu. Saudaraku, Yesus menjawab mereka dengan jawaban yang sangat luar biasa. Sebagai Tuhan, Ia datang ke dalam dunia untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Ia datang untuk mati menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada para murid agar mereka menjadi orang yang melayani orang layani dan bukannya ingin dilayani.

Bagaimanakah dengan kita saat ini? Adalah mentalitas pelayan ada dalam diri kita atau tidak? Setiap kita dipanggil untuk melayani dan bukan dilayani. Ikutilah teladan Tuhan Yesus yang datang untuk melayani manusia yang berdosa ini. Amin. Jho

Selasa, 28 Juni 2011

SIAPA TUAN? SIAPA HAMBA?
(Lukas 17:7-10)

(8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
(10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.

Saat ini, mayoritas seorang pemimpin tidak lagi seperti dahulu yang tinggal duduk saja, tanda tangan surat, dan uang masuk ke dalam rekeningnya. Tetapi belakangan ini muncul gaya kepemimpinan yang dikenal dengan istilah servant leader (pemimpin yang melayani). Pemimpin yang melayani tidak hanya berorientasi kepada tugas, namun juga berorientasi kepada bawahannya. Ia siap sedia membantu bawahannya ketika mengalami kesulitan. Ini kondisi di luar gereja. Lalu, bagaimana dengan para pelayan Tuhandan jemaat di dalam gereja?
Para pelayan Tuhan di dalam gereja, sepertinya memiliki kondisi yang terbalik dengan kondisi pemimpin di luar gereja. Mereka saat ini tidak lagi tulus dalam melayani, melainkan cukup banyak diantara mereka yang merasa menjadi “pahlawan” gereja, mereka berpikir bahwa tanpa mereka gereja ini tidak bisa berkembang. Di sisi lain, jemaat gereja juga sepertinya “nyaman” dengan keadaannya. Mereka hanya setiap hari minggu, duduk diam di gereja dan tidak terlibat dalam pelayanan. Mereka berpikir bahwa dari senin sampai sabtu mereka sudah lelah bekerja, hari minggu adalah waktu istirahat, buat apa sibuk-sibuk melayani. Dengan kata lain, mereka lebih suka untuk dilayani.
Dalam perikop di atas, terdapat gambaran tuan dan hamba. Hamba ini tahu posisi dan tugasnya sebagai hamba. Ia tahu siapa yang ia layani. Inilah yang memampukannya untuk mengatakan “kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan,” perkataan ini mencerminkan ketaatan dari seorang hamba kepada perintah tuannya.
Sebagai orang percaya, kita harus melayani Tuhan. Milikilah hati hamba yang senantiasa melakukan apa yang harus dilakukan untuk Tuhan yang dilayaninya. Siapa tuan? Siapa hamba? Ketika kita bisa menjawab pertanyaan ini, maka diharapkan kita memiliki hati yang mau melayani Tuhan dengan taat. Jho

Rabu, 29 Juni 2011
Melayani dan Dilayani:
Melayani dengan anugerah dari Allah

10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. 11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. (1 Pet. 4:10-11)
Kata pelayan mungkin adalah sebuah kata yang tidak ingin dikenakan oleh seseorang ketika menyebutkan mengenai status pekerjaannya, meskipun pada kenyataannya demikian. Jika ada kata yang lebih modern atau lebih terlihat eksklusif, mungkin hal itu akan lebih bisa diterima, meskipun kata tersebut adalah sebuah kata serapan dari bahasa asing yang artinya tetaplah sama. Mengapa hal tersebut terlihat sulit untuk bisa diterima? Oleh karena kata tersebut seakan-akan menjelaskan mengenai status “lebih rendah” dari seseorang terhadap orang lain yang dilayaninya.

Pemahaman tersebut di atas, jika dilihat dari pandangan dunia, mungkin bisa berarti demikian. Namun dalam kekristenan, kata “pelayanan” memiliki makna yang sangat penting dan sangat mendalam, karena seorang pelayan sebenarnya adalah seseorang yang mendapatkan kepercayaan dari pihak lain atas miliknya, untuk dikelola dan dikembangkan dengan baik demi keberlangsungan hidup dari sang pemilik.

Rasul Petrus dalam bagian ini, menasehatkan supaya setiap umat Tuhan dapat mempergunakan karunia yang dipercayakan Tuhan kepadanya dengan sebaik mungkin di dalam mereka saling memberikan pelayanan satu dengan yang lainnya, karena mereka adalah pengurus dari kasih karunia Allah. Oleh sebab dari pelayanan yang mereka berikan, nama Tuhan akan dipermuliakan di tengah-tengah dunia ini. lr

Kamis, 30 Juni 2011

KEMERDEKAAN KRISTEN DAN HIDUP MELAYANI

… janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. … “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”
Galatia 5:13-14

Kehidupan gereja Galatia bukanlah kehidupan yang mudah karena penuh dengan perekcokan. Beberapa orang memaksakan jemaat non Yahudi untuk menjalankan hukum Taurat agar mereka selamat. Tetapi Paulus dengan tegas mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang sudah menerima Kristus memiliki kemerdekaan yang sejati (5:1), merdeka untuk melayani Tuhan (melakukan kebaikan-kebaikan yang Tuhan kehendaki tanpa dikekang oleh hukum-hukum Taurat yang memberatkan sebagaimana diwajibkan oleh para legalist Yahudi) dan melawan nafsu dosa.
Yang menarik adalah setelah membicarakan tentang kemerdekaan, Paulus justru mengajarkan tentang hidup melayani (douleuo) dalam kasih. Berbicara tentang melayani berarti bicara mengenai penundukan diri layaknya seorang pelayan (douleuo = menjadi pelayan / budak). Merdeka tetapi menundukkan diri? Di sinilah letak paradoks hidup Kristiani. Ketika masih di dalam dosa, hidup manusia diperbudak hanya untuk memenuhi nafsu dirinya yang dikuasai dosa, tetapi di dalam Kristus belenggu dosa itu dipatahkan dan manusia memiliki kemerdekaan untuk hidup benar sebagaimana tujuan manusia itu diciptakan (mengasihi, melayani dan memuliakan Tuhan). Wujud dari itu semua adalah melalui hidup melayani sesama dengan kasih. Ini merupakan penggenapan dari perintah Tuhan (ay. 14). Singkatnya, “kita diselamatkan untuk hidup melayani” (PPR 32). Tuhan Yesus sendiri telah menjadi teladan bagi kita untuk hidup melayani sesama dengan kasih.
Masalahnya adalah sering kali kita masih egois, ingin dilayani karena tidak mau mengorbankan kepentingan kita. Tetapi melalui perenungan hari ini sebagai orang yang sudah dimerdekakan Kristus, mari kita belajar meneladani Kristus (PPK 184 “Ku Mau S’rupa Hu) yang adalah Tuhan tetapi hidup melayani manusia yang membutuhkan-Nya. Va

Gifted Hands

Film ini adalah sebuah film yang sangat bagus, diperankan oleh aktor yang bermain dengan bagus pula, Cuba Gooding Jr. (Kita tahu beberapa film yang dimainkan olehnya juga adalah film yang bagus). Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai seorang dokter bedah otak yang dikenal paling baik pada masanya. Dokter ini bernama Ben Carson.
Film ini menceritakan perjalanan hidup Dokter Carson. Singkatnya beginilah ceritanya:

Ben adalah seorang anak berkulit hitam. Dia hidup hanya dengan kakak laki-lakinya dan ibunya. Ibunya ditinggalkan dari suaminya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari ibunya bekerja sebagai “cleaning-ladies” di rumah orang-orang kaya. Ibu Ben adalah seorang ibu yang sangat luar biasa. Ia selalu memberikan dorongan semangat bagi anak-anaknya. Dia selalu menanamkan pada diri anak-anaknya bahwa mereka mampu, mereka pandai, dan mereka bisa. Tak pernah sekalipun ibunya menyebut anak-anaknya sebagai anak yang bodoh, sekalipun nilai-nilai Ben ketika SD merupakan nilai-nilai yang buruk dan sekalipun Ben dicemooh sebagai anak paling bodoh di kelasnya. Ibunya selalu berkata, “Kamu pintar, hanya saja kamu belum menggunakan kepintaranmu. Allah tidak menginginkan hal itu.” Seberapa pun kenaikan nilai yang diperoleh oleh Ben, sekalipun itu masih termasuk nilai yang buruk, ibunya selalu memuji Ben. Ketika Ben mencapai nilai hampir sempurna, ia mengatakan, “Aku tahu kamu bisa” dengan bangga. Sikap ibunya adalah sikap yang luar biasa, mengingat ibunya ini tidak terpelajar bahkan ia adalah seorang buta huruf.
Salah satu tempat bekerja ibu Ben adalah di rumah seorang Professor. Di rumah professor itu ibu Ben melihat ratusan bahkan ribuan buku, dan professor itu membaca begitu banyak buku-buku itu. Hal ini menginspirasi ibu Ben untuk menyuruh anak-anaknya banyak membaca. Ia menyuruh Ben dan abangnya untuk mengurangi nonton TV dan meminta mereka ke perpustakaan umum untuk meminjam buku. Dari situlah kemudian Ben mulai menyukai membaca dan menemukan berbagai pengetahuan yang baru. Rasa ingin tahunya semakin besar, dan ketika ingin mencari tahu tentang sesuatu, ia pergi ke perpustakaan.
Dari anak bodoh yang diolok-olok di sekolahnya, ia menjadi bintang sekolahnya, sekalipun sekolahnya adalah sekolah orang kulit putih. Sejak itu Ben menjadi seorang siswa berprestasi hingga akhirnya ia masuk ke sekolah kedokteran.
Di dalam film ini juga diceritakan bagaimana Dokter Carson, yang dianggap dokter bedak otak paling wahid saat itu, diminta untuk menangani kasus bayi kembar siam, di mana kepala kedua bayi itu menempel satu dengan yang lain. Bersama dengan tim dokter lain, Dokter Carson berusaha menangani kasus tersebut.
Film ini luar biasa baik untuk disaksikan. Selain menjadi film yang inspiratif dan memberikan motivasi, ada banyak pesan yang baik di dalam film ini. Film ini sudah diputar di Komisi Pemuda dan dari hasil diskusi, para pemuda mendapatkan pesan-pesan positif berikut ini:

– tentang ibu yang memberikan dorongan positif bagi anak-anaknya, berpikir bahwa anak-anaknya mampu, dan ibu yang meneruskan iman percayanya pada Allah.
– Dokter yang tidak mengandalkan kemampuan diri, tetapi mengandalkan Allah di dalam pekerjaannya.
– Kerendahan hati seorang dokter yang hebat.
– Seorang dokter yang diberikan talenta oleh Tuhan dan ia dapat menggunakan talenta itu dengan baik dan bertanggungjawab sehingga menjadi berkat bagi orang lain.
Dan daftar ini akan bertambah lagi, ketika Anda menyaksikannya secara pribadi.