Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Thema Khotbah Mimbar Umum
01 Mei 2011
Thema Komsel 06 Mei
Hubungan, Sebuah Kebutuhan
Manusia sesungguhnya tidak akan sanggup untuk mengingkari sebuah kebutuhan terpenting yakni hubungan antar manusia, dan ia akan semakin mengenal hakekatnya sebagai manusia bila ia menghidupi kebutuhannya ini, bukan menjauhi dan menjadi antisocial.
08 Mei 2011
The Art of Relationship (Amsal 25:11-12)
Keinginan untuk dimengerti dan kecenderungan menggunakan metode komunikasi diri sendiri menjadi salah satu penyebab rentannya hubungan antar manusia. Bagaimana sebagai orang-2 percaya kita dapat memperhatikan seni membangun hubungan agar hidup kita menjadi lebih efektif dan menjadi berkat bagi orang lain, dan kasih Allah lebih mudah untuk dinyatakan
15 Mei 2011
Menjaga Kepercayaan Orang Lain (Amsal 25:9-10)
Salah satu rusaknya hubungan yang kita bangun dalam sebuah komunita adalah karena ketidak mampuan kita untuk menghargai kepercayaan yang diberikan orang lain
22 Mei 2011
Ku Tak Dapat Jalan Sendiri
Di tengah-2 jaman yang semakin mementingkan diri sendiri ini, jemaat perlu diingatkan bahwa mereka tidak dapat berjalan sendiri. Benar mereka membutuhkan teman-2 dan Tuhan, yang juga acapkali bekerja melalui orang-2 yang ada di sekitar kita.
29 Mei 2011
Thema Komsel 03 Juni
Belajar Dari Masa Lalu
Sebuah permasalahan terbesar orang Kristen bukanlah tahu atau tidak tahu, bisa atau tidak bisa, melainkan mau mengerjakan atau tidak apa yang Tuhan perintahkan kepada kita.

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Fatieli Daeli, Ev. Henny Purwoadi, Ev.
Jenik Purwoadi, Pdt. Jhonatan, Ev. Lusiana Roos.
Victor Abednego, Ev.

Minggu, 01 Mei 2011
Thema Komsel 06 Mei
HUBUNGAN, SEBUAH KEBUTUHAN

Kej. 2: 18,” Tuhan Allah Berfirman, tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang Sepadan dengan dia.”
Ayat ini mengungkapkan kepada kita, bahwa manusia diciptakan memang bukan seperti supermie, yang gampang dimasak untuk dimakan, tetapi manusia bukanlah seperti superman. Manusia memang bisa melakukan banyak hal dalam hidupnya, tetapi tidak semua hal bisa manusia lakukan. Artinya dia terbatas. Itulah sebabnya ia membutuhkan orang lain disekitarnya. Dan itulah sebabnya Allah menciptakan pendamping bagi Adam, yakni Hawa, agar Adam bisa melakukan apa yang Allah perintakan dalam hidupnya.
Jadi ayat ini juga secara spesifik menyatakan kepada kita bahwa membutuhkan manusia yang berbeda jenis kelamin dengan kita, yaitu wanita. Ada banyak hal manusia( laki-laki) itu tidak bisa lakukan, misalnya menghadirkan keturunan. Memang manusia itu dalam kepiawaiannya berusaha untuk melawan natur ini, dengan ada laki-laki yang dibuat hamil. Dengan cara, alat kelaminnya ditukar melalui operasi sehingga memilki alat kelamin seperti wanita. Tetapi, salah satu yang tidak percaya adalah anda, bukan? Apa yang kita baca di internet, koran mungkin hanya berupa cerita fiksi aja. Kalau ada manusia yang ciri-cirinya membingungkan, dalam arti: kemayu dll, itu akibat dosa manusia.
Juga hadirnya wanita di dalam kelembutannya, kesabarannya membuat kehidupan di dunia ini menjadi lebih indah, lebih sempurna. Menurut penelitian psikhologi, bahwa dalam keluarga yang kehilangan figure ibu, apakah karena terjadi perceraian, atau meninggal dunia, anak-anak yang ada mengalami permasalahan kejiwaan. Maksud saya, bukan berarti gila. Tetapi mengalami permasalahan dalam perkembangan psikhologinya, misalnya: bisa saja si anak menjadi orang keras, sulit merasa iba terhadap sesamanya jika mengalami kesulita. Karena perasaan iba, sifat kelembutan hanya bisa ditranfer dengan sempurna oleh seorang wanita, bukan seorang bapak.
Oleh sebab itu, mari kita bersyukur, sebagai laki-laki, kita hidup menjadi lebih indah, lebih bahagia dengan adanya wanita. Mari kita jagai dan lindungi mereka serta kita dukung di dalam peran mereka di hadapan Allah. Yang wanita, berbanggalah dengan penciptaan anda dan jangan berusaha menjadi seperti laki-laki, karena melalui apa yang pada anda, wanita bisa menyempurnakan hidup seorang laki-laki. Amin.

Senin, 02 Mei 2011

Kej. 2: 18,” Tuhan Allah berfirman,” tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Firman Tuhan ini juga mengingatkan kita akan eksistensi kita sebagai makhluk social. Jadi kita tidak bisa hidup sendiri, kita tidak bisa menyendiri. Untuk dapat hidup dengan normal sebagai manusia yang wajar, kita membutuhkan orang lain untuk melakuakan beberapa dalam hidup kita.
Misalnya: dalam hal makan. Sepiring nasi dan lauk-pauk tersaji di atas meja, tentu itu semuanya ada bukan karena semua pengerjaannya bisa kita lakukan. Kita membutuhkan bantuan petani untuk mengerjakan pekerjaan mulai dari membersihkan tanah dari rerumputan untuk siap ditanam, sampai menjadi beras yang kita beli. Walaupun kita punya banyak uang kalau tidak ada beras karena petani tidak melakukan pekerjaannya, kita akan mengalami kendala yang serius. Mungkin di mulai dengan beras menjadi barang yang langka. Tentu kita tau apa yang terjadi? Harganya mahal, setinggi langit, bukan? Silahkan anda lanjutkan menuliskan apa yang terjadi selanjutnya jika tidak ada beras.
Menurut cerita dari seseorang, tentu cerita ini agak mendekati kebenaran karena ada fakta. Di sebuah daerah di Bali atau sebuah kota kecil, penduduk aslinya tidak mengijinkan pendatang dari suku lain untuk ada dan berdagang di tempat ini. Dari info yang di dapat, itu terjadi karena iri, iri atas keberhasilan suku tertentu dalam berdagang, mereka lihai dan ulet. Ternyata, dalam perjalanan waktu kota kecil ini dibanding dengan kota-kota kecil lainnya, ketinggalan tidak mengalami kemajuan yang pesat. Perekonomian berjalan stagnan. Kondisinya dari tahun ke tahun seperti begitu-gitu saja.
Saudara yang kekasih, marilah kita menyadari bahwa kita diciptakan sebagai makhluk social, tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain dalam hidup kita, sehingga kita boleh menikmati indahnya hidup sebagai manusia yang wajar di dalam dunia ini. Marilah kita mensyukuri atas kehadiran orang-orang yang ada disekitar kita. Jangan kita melihat mereka sebagai musuh yang perlu kita jauhi atau kita jauhkan dari kita. Orang yang ada disekitar kita, kita lihat sebagai saingan dalam arti positif, yakni yang memacu kita untuk lebih baik, lebih maju. Mereka ada sebagai pelengkap dalam banyak hal dalam hidup kita. Mari kita bekerja sama satu dengan yang lainnya, sehingga kehidupan di dunia ini lebih menyenangakan Allah dan kita manusia berbahagia.

Selasa, 3 April 2011

Kej. 2: 18,” Tuhan Allah berfirman, tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Setelah manusia jatuh di dalam dosa, gambar Allah di dalam diri manusia menjadi kabur. Kemampuan manusia untuk melakukan apa yang diperintahkan Allah dalam hidupnya menjadi tidak maksimal. Karakternya menjadi buruk dihadapan Allah. Roma 3: 10-13,” Seperti ada tertulis, tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.”

Memang di dalam karya penebusan Kristus, gambar Allah di dalam diri manusia itu dipulihkan. Kemampuannya untuk memuliakan Allah juga dipulihkan. Manusia bisa meresponi kasih Allah dengan benar. Tetapi manusia itu masih di bungkus yang namanya: daging. Artinya: sifat kedangingan atau keberdosaan manusia itu, sewaktu-waku bisa hidup, bisa menggeliat, bahkan bisa menguasai manusia.

Untuk itu, manusia membutuhkan kuasa Allah yang terus menguatkan, menopang serta membentuk dia semakin serupa Kristus. Tetapi selain itu, Allah menyiapkan manusia lain boleh hadir di sekitarnya, sebagai wadah manusia berlatih untuk mengasihi Allah, melakukan firman Allah. Melalui manusia yang hadir di sekitar kita, Allah membentuk kita semakin indah seturut kehendakNya. Maka Tuhan berkata,” Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Manusia berlatih untuk mengasihi dengan sempurna hanya melalui manusia. Tidak melalui binatang, karena binatang tidak sepadan dengan kita. Itulah sebabnya Tuhan berkata,” Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.”

Syukurilah kehadiran orang-orang di sekitar kita, walaupun sering menjengkelkan kita. Itulah alat yang Tuhan pakai untuk membentuk kita.
Mari kita saling menerima satu dengan yang lain di dalam kekurangan dan kelebihan, bahkan saling mengasihi. Sebab itulah yang di kehendaki Tuhan dalam hidup kita dalam anugerahNya. Amin

Rabu, 04 Mei 2011

ANTARA MAKLUK SOSIAL & MAKLUK PRIBADI

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian

Tidak jarang kita mendengar pernyataan-pernyataan yang berbicara tentang betapa uniknya manusia ini, walaupun berjumlah milyardan manusia namun tidak ada yang memiliki sidik jari yang sama, sekalipun dilahirkan oleh seorang ibu & ayah yang sama, bahkan sekalipun terlahir kembar. Sungguh IA adalah Allah MAHA Pencipta, yang menciptakan setiap manusia unik adanya. Kita patut bangga karena diciptakan-Nya unik, sentuhan tangan-Nya bekerja dengan sempurna.
Pada sisi lain, selain sebagai makluk pribadi, kita diciptakan-Nya sebagai makluk social yang harus berinteraksi satu dengan yang lain. Nats di atas menuliskan diciptakan-Nya dia dan diciptakan-Nya mereka. Hal bersosial bukan semata-mata merupakan akibat karena manusia menaati perintah Tuhan agar bertambah BANYAK, tetapi saya meyakini bahwa hal social merupakan rancangan & design Allah untuk manusia, sehingga hakekat kemanusiaan menjadi ada bukan sekedar tinjauan dari sisi manusia pribadi, melainkan juga sebagai manusia social dimana dua kondisi ini harus dihidupi dengan baik dan sehat. Manusia memiliki nilai-2 sosial, sehingga tidak mengherankan ketika manusia yang dianggap beradab dan berbudaya selalu dilihat dari sebuah kemampuan mengelola tatanan kehidupannya secara komunal. Bukankah kita sering mendengar bahwa kepentingan umum harus dijunjung tinggi dan diupayakan.

Perenungan Permasalahan manusia sebagai makluk social semakin hari semakin besar, nilai-nilai manusia sebagai makluk social mulai “diperkosa” untuk pemuasan kepentingan manusia pribadi yang berdosa. Sebagai orang-2 percaya yang telah ditebus, seharusnya memperbaiki nilai dan tanggung jawab social dari manusia itu sendiri. Pernahkah anda menyadari hal ini, bahwasannya lingkungan orang-2 percaya harus mengalami perubahan? Bagaimana caranya? jp

Kamis, 05 Mei 2011

HUBUNGAN, SEBUAH KEBUTUHAN

133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Mazmur

SEHARUSNYA, sebagai manusia (makluk) sosial ciptaan Tuhan, kita memiliki kebutuhan yang besar untuk berinteraksi (membangun hubungan dengan orang lain). Sebuah kebutuhan yang tidak boleh tidak harus dipenuhi. Bila kita mengabaikan kebutuhan ini, maka sangat diragukan pengenalan kita kepada diri sendiri sebagai ciptaan-Nya.
Ada beberapa implikasi penting tatkala kita memperhatikan diri kita yang didesaign oleh Tuhan dengan kebutuhan ini, antara lain:
 Allah Tritunggal adalah Allah yang berinteraksi di dalam diri-Nya dan dengan diri-Nya sendiri dalam pribadi Bapa, Putra dan Roh Kudus.
 Allah yang bersosialisasi adalah Allah yang berinkarnasi, rela menjadi sama dengan manusia untuk memberkati manusia.
 Sosialisasi & interaksi adalah bagian dari keutuhan hidup manusia sehingga manusia dapat menemukan hakekatnya.
 Dengan interaksi & sosialisasi manusia dapat melaksanakan mandate Allah, baik mandate budaya maupun mandate penginjilan, karena tidak ada penginjilan tanpa interaksi.
 Dengan interaksi & sosialisasi manusia menerima berkat dan pemeliharaan-Nya, sehingga tanpa interaksi dan sosialisasi manusia hidup tanpa berkat Tuhan.
Simak bacaan kita hari ini, poin utama yang disampaikan adalah hidup bersama yang rukun, sebab dg demikian Tuhan akan memerintahkan berkat kehidupan bagi kita, bukan saja untuk hidup saat ini, tetapi selama-lamanya. Hal yang utama ini digambarkan dengan dua kata SEPERTI (seperti minyak & seperti embun, ayat 2&3)

DOA Aku bersyukur dan berdoa memiliki orang-2 di sekitarku. Amin. jp

Jumat, 06 Mei 2011

HUBUNGAN UNTUK SALING MENJAGA

10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. 25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani)

Bila kita menyimak ayat-2 sebelumnya, maka kita akan memahami bahwa bacaan kita hari ini berada dalam konteks kehidupan kita yang telah dilayakkan oleh Tuhan, sehingga memiliki keberanian untuk menghampiri tahta Tuhan yang Kudus. Status dibenarkan, dikuduskan dan dilayakkan yang semata-2 merupakan karya Imam Besar Yesus Kristus telah dianugerahkan kepada kita. Sekaligus adanya himbauan (ajakan: marilah) agar kita hidup bertekun di dalam iman, pengharapan dan ketulusan hati. Hal ini nampaknya bersifat personal.
Ajakan yang kedua lebih bersifat komunal dengan munculnya kata saling minimalnya 3 kali dalam 2 ayat di atas,
 saling memperhatikan supaya kita . . .
 saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
 . . . marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Materi Diskusi
1. Apakah anda setuju bahwa Tuhan menciptakan manusia baik sebagai makluk pribadi, juga sebagai makluk social? Menurut anda mengapa Tuhan menciptakan demikian? (jawablah berdasarkan pengalaman & realita kehidupan anda)
2. Simak renungan Gembala Kamis,05 Mei 2011. Menurut anda apakah arti Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya, dan berkat seperti apa yang anda pahami?
3. Bagaimana dengan bacaan di atas yang berisikan 3 kata saling tersebut? Dengan demikian seharusnya kita sadar bahwa ketika berbicara kekristenan maka kita berbicara tentang komunita. Komunita seperti apa yang anda harapkan, dan yg anda bangun?
4. Tutuplah dg komitmen dan doa bersama. jp

Sabtu, 07 Mei 2011

“EKSES” SEBUAH HUBUNGAN

20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” Keluaran

Saya mencoba menterjemahkan kata sesamamu sebagai makluk ciptaan Tuhan yang sama denganmu. Yakni pribadi-pribadi yang Tuhan ciptakan dan tempatkan bersama-sama dengan kita di dunia ini, yang masing-masing adalah makluk pribadi, dan di dalam kebersamaannya membuktikan dirinya sebagai makluk social. Namun bukan berarti ketika manusia hidup sendiri dan menjadi anti social, lalu ia hanyalah ciptaan Tuhan sebagai makluk pribadi; ia tetaplah makluk social yang tidak menjalankan fungsi sosialnya, dan yang telah dengan sengaja menghilangkan hakekat kemanusiaannya secara utuh.
Bila kita menyimak bacaan di atas maka setidaknya kita menyadari adanya “ekses” ketika manusia membangun hubungan dg sesamanya. Bersosialisasi (menerima kehadiran orang lain) akan mendampakkan perselisihan, ketidak sepakatan, perbedaan, kedengkian, iri hati dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahan ini selalu muncul dalam kontek social atau ketika manusia membangun hubungan dengan orang lain. Namun sesungguhnya bila kita renungkan lebih dalam, bukanlah proses social itu sendiri yang mengakibatkan permasalahan. Nature hidup kita sebagai manusia berdosa sebenarnya kata kuncinya. Masing-masing kita inilah yang sarat dengan permasalahan, yang muncul kemudian muncul ketika manusia bersosialisasi.
Tanpa memungkiri adanya pihak lain yang menyulut dan mendatangkan permasalahan, sebenarnya diri kitapun memiliki potensi yang sama. Tatkala bersosialisasi manusia justru sedang bercermin dan menyadari siapakah diri kita ini. Ternyata kita adalah pemarah, kita cemburu, kita iri, kita mudah tersinggung, dan kita . . . lainnya. Bagaimana menyelesaikannya? Apakah mungkin ketika kita menghindari sosialisasi kita sembuh dari masalah itu? Tentu saja tidak! Ingat, itulah kita! Bersosialisasi hanya menunjukkan siapakah kita. Tuhan melalui konteks social-lah yang akan menolong kita dan masalah tersebut.

DOA Tuhan kami sering menyalahkan hubungan kami & orang lain. Jp

Minggu, 08 Mei 2011

The Art of Relationship: Mengendalikan Amarah

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Efesus

Membangun persahabatan merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan kita sebagai manusia karena kita memang diciptakan bukan untuk hidup sendiri tetapi untuk hidup berelasi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Ketika manusia pertama diciptakan, maka sesungguhnya di dalam diri manusia tersebut telah diberikan Tuhan sebuah kemampuan untuk membangun sebuah relasi. Hal ini dapat kita saksikan di dalam kehidupan Adam dan Hawa. Bagaimana persahabatan yang terbangun di dalam hidup mereka. Tetapi tatkala dosa masuk dalam hidup manusia maka kemampuan berelasi tersebut menjadi rusak. Manusia berdosa hanya mampu mencari musuh bukannya kawan. Keegoan manusia yang besar tersebut merusak kehangatan yang telah ada sebelumnya. Manusia yang semula hidup di dalam kehangatan, sekarang menjadi dingin. Manusia tidak lagi saling memperhatikan satu sama lain, tidak lagi saling menolong. Di tengah-tengah kerusakan relasi inilah kita dipanggil untuk menunjukkan betapa pentingnya relasi di dalam hidup ini. Dan ternyata hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan karena dosa yang ada dalam diri kita. Oleh karena itulah penting bagi kita sebagai anak-anak Tuhan untuk memikirkan langkah yang tepat di dalam kita membangun relasi. Di dalam renungan satu minggu ini kita akan melihat seni-seni yang dalam kita lakukan di dalam membangun relasi ini. Seni yang pertama adalah mengendalikan amarah.
Marah bukanlah sesuatu yang dilarang di dalam hidup orang Kristen karena Allah juga dapat marah (Ul. 9:8, 20; Mzm. 2:12). Yesus juga pernah marah ketika orang menyalahgunakan bait Allah (Mat. 21:12-13; Mrk. 11: 15-17; Luk. 19:45-48; Yoh. 2:13-16). Kemarahan yang muncul dalam diri Allah adalah kemarahan yang suci dan benar. Sangat sulit bagi kita untuk marah dengan sikap yang suci dan benar karena natur keberdosaan kita. Kemarahan yang ada dalam diri kita seringkali menjadi kebencian dan dendam yang sangat mendalam. Kemarahan tersebut seringkali membuat kita memberikan kesempatan bagi Iblis untuk menguasai kita. Ketika iblis berhasil menguasai kita di dalam kemarahan tersebut maka bukan hanya kita saja yang dirusak tetapi juga tubuh Kristus. Oleh karena itulah, mari kita belajar mengendalikan amarah kita karena amarah karena amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yak. 1: 20). Kita boleh marah asalkan pada orang, ukuran, waktu, tujuan dan cara yang tepat. Mari coba lakukan hal ini dan memang tidak muda tapi ingatlah Tuhan yang akan menolong kita. Jho

Senin, 09 Mei 2011

The Art of Relationship: Menegur Dengan Kasih

6:1. Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Galatia

Seni kedua yang harus harus dilakukan di dalam membangun relasi adalah seni menegur. Menegur kesalahan orang lain merupakan sesuatu hal yang sangat menakutkan. Kita enggan untuk menegur orang yang melakukan kesalahan. Itulah sebabnya urusan tegur menegur seringkali dilemparkan kepada orang-orang yang kita anggap lebih memiliki wibawa, misalnya: hamba Tuhan, ketua majelis, ketua komisi, atau mungkin penatua-penatua dalam gereja. Kita tidak mau berhubungan dengan hal tegur menegur ini. Sebenarnya, apa yang mengakibatkan hal ini? Kalau kita mau jujur, sesungguhnya kita takut akan resiko ketika kita menegur orang yang melakukan kesalahan apalagi kalau orang itu lebih tua dari kita. Orang itu memiliki jabatan lebih tinggi dari kita, orang itu sahabat baik kita atau orang itu adalah orang yang memberikan “keuntungan” bagi kita. Kita takut dimusuhi, kita takut tidak mendapatkan “keuntungan”, kita takut kehilangan jabatan kita, dan mungkin masih banyak ketakutan lainnya.
Kalau kita melihat dari ayat di atas maka kita mendapatkan sebuah kebenaran yang mau tidak mau harus kita lakukan yaitu “kita harus memimpin orang tersebut ke jalan yang benar”. Setiap kita adalah orang yang diberikan kepercayaan untuk memimpin orang tersebut kembali ke jalan yang benar karena kita adalah orang-orang yang telah mengenal jalan kebenaran tersebut. Ketika dipanggil untuk membantu saudara tersebut untuk mengalami pemulihan di dalam Tuhan. Kita melakukan pemulihan tersebut dengan hati yang lemah lembut, dengan kasih (Gal. 5: 22). Dikatakan sambil kita terus menjaga diri kita agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Pencobaan yang dimaksud dalam bagian ini boleh diartikan sebagai sikap penghakiman terhadap orang yang sedang jatuh tersebut.
Saudaraku, kita tidak dipanggil untuk menjadi hakim atas hidup saudara kita tetapi kita dipanggil untuk menjadi rekan yang membantunya bangkit kembali dari keterpurukan yang sedang dialaminya saat ini. Oleh karena itu, marilah kita mengembangkan seni ini di dalam kehidupan relasi kita sehari-hari. Jangan lupa berdoa terus kepada Tuhan agar Ia senantiasa menjaga hati kita sehingga kita dijauhkan dari dosa menghakimi tetapi sebaliknya kita dimampukan oleh Tuhan untuk menjadi rekan dalam pertumbuhan rohani saudara kita menuju keserupaan dengan Kristus. Saudaraku, teman-teman kita membutuhkan kita, mari kita berjuang bersama untuk melakukannya sambil menantikan kedatangan Tuhan. Amin. Jho

Selasa, 10 Mei 2011

The Art of Relationship: Menerima Apa Adanya

2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Yakobus

Seni selanjutnya adalah menerima saudara kita apa adanya. Kebiasaan yang terbangun di dalam kehidupan dunia saat ini adalah memandang muka. Fenomena ini bukan hanya terjadi di zaman modern ini tetapi juga di dalam kehidupan gereja mula-mula. Hal ini dituliskan dalam surat Yakobus yang menjadi perenungan kita pada hari ini. Ternyata permasalahan ini telah terlihat nyata di dalam kehidupan dua belas suku di perantauan. Ternyata orang-orang percaya di perantauan juga menjadi orang-orang yang memandang muka di dalam pelaksanaan ibadah mereka. Perlakuan mereka terhadap orang-orang kaya dan miskin terlihat sangat kontras. Terhadap orang-orang kaya, penerimaan itu diberikan dengan sangat berlebihan sampai-sampai mereka seakan menempatkan diri serendah mungkin, sedangkan terjadap orang miskin mereka menempatkan diri mereka seolah-olah mereka lebih baik dari orang miskin tersebut.
Saudaraku, bukankah kita seringkali melakukan orang dilakukan oleh dua belas suku di perantauan ini? Sebagai manusia kita paling demen melakukan penilaian terhadap seseorang. Bukan hanya penilaian tetapi juga juga memberikan “label” kepada seseorang. Bukanlah kita juga demen memandang muka atau bahasa kerennya pilih bulu. Terhadap orang-orang yang menurut kita bisa memberikan “keuntungan” bagi kita, kita akan memberikan perlakuan khusus kepadanya. Sedangkan kepada orang-orang yang tidak masuk hitungan kita maka kita akan memperlakukannya dengan berbeda. Sadarilah bahwa Allah tidak menyukai sikap ini. Dari ayat di atas dengan jelas dituliskan bahwa kalau kita melakukan hal tersebut maka kita telah berdosa dan harus siap menerima sanksi dari kesalahan tersebut.
Untuk dapat membangun sebuah relasi yang biak dan berhasil maka kita harus meninggalkan sikap pilih bulu ini. Kita harus menerima orang yang datang pada kita apa adanya. Label yang kita berikan pada seseorang seringkali menghambat kita untuk membangun relasi karena label tersebut menghalangi kita untuk dekat dengan orang tersebut dan menghalangi kita melihat karya yang akan/sedang dikerjakan Allah di dalam diri orang tersebut. Oleh karena itu, marilah kita membangun dan relasi dengan cara kita menerima siapapun dia yang datang dan akan masuk di dalam komunitas kita. Buka tangan kita selebar-lebarnya untuk menyambut kedatangannya karena Tuhan bisa memakai orang tersebut untuk menjadi bagian dalam pertumbuhan rohani kita secara pribadi atau pertumbuhan tubuh Kristus secara komunal. Mari buka hati dan biarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Amin. Jho

Rabu, 11 Mei 2011

The Art of Relationship: Pengampunan yang Tulus

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. Efesus

Seni lainnya adalah pengampunan. Topik ini secara khusus dan mendalam telah dibahas dalam khotbah-khotbah di bulan April namun demikian tidak ada salahnya kalau topik ini kita angkat kembali dalam perenungan kita hari ini. Karena memang pengampunan merupakan hal yang penting di dalam kita membangun relasi dengan orang yang ada di sekitar kita. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus memberikan nasehat agar jemaat di Efesus agar mereka membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan kejahatan dari antara mereka. Rasul Paulus tahu bahwa inilah yang seringkali menjadi pemecah di dalam kehidupan jemaat. Semuanya inilah yang membuat relasi di antara jemaat Efesus menjadi rusak. Selanjutnya rasul Paulus meminta mereka untuk ramah satu dengan yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni. Kesemua yang rasul Paulus mintakan dalam kehidupan jemaat Efesus merupakan hal-hal yang akan membangun sebuah komunitas yang saling membangun satu sama lain.
Saudaraku, tidak ada manusia yang sempurna. Bukankah hal ini telah kita dengar dari khotbah dan komsel di bulan April? Kita adalah manusia yang perlu mendapatkan pengampunan dan memberikan ampunan. Orang-orang di sekitar kita termasuk orang yang paling dekat dengan kita pun pernah melakukan hal yang menyakitkan hati kita. Bahkan mungkin hal-hal yang dilakukannya tersebut telah menjadi kepahitan bahkan dendam dalam diri kita. Saudaraku, jangan biarkan hal tersebut berlarut-larut menguasaimu karena iblis akan memakai kesempatan ini untuk membuat kita jatuh dalam dosa. Cabutlah akar kepahitan itu dari dalam hati kita. Mungkin kita akan merasakan sakit yang amat sangat ketika kita mencabut akar kepahitan tersebut tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa damai dan kebahagiaan yang akan kita dapatkan kelak bukan hanya untuk diri kita secara pribadi tetapi juga komunitas di mana kita berada. Akar kepahitan tersebut akan menghambat pertumbuhan spiritual kita dan komunitas kita. Saudara, jangan mau menjadi orang Kristen yang tidak bertumbuh karena kepahitan yang ada dalam diri kita tetapi mari gantikan kepahitan tersebut dengan kedamaian dan kebahagiaan. Caranya adalah berikan pengampunan kepada orang yang telah melukai dan menyakiti hati kita. Gantikan itu dengan kasih mesra dan keramahan hatimu. Amin. Jho

Kamis, 12 Mei 2011

SENI BERELASI: MENDENGAR

10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, . . . 42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma)

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (Yakobus)

Salah satu hal yang tidak boleh ada dalam relasi yang dibangun oleh manusia adalah komunikasi. Dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah roh/jiwa dari relasi, yang tanpanya maka sebuah relasi tidak memiliki arti.
Dalam komunikasi verbal, berkata-kata dan mendengar adalah paket lengkap yang harus ada. Mendengar adalah sangat penting, karena merupakan pintu gerbang sebuah informasi diterima, yang kemudian diintepretasikan sebelum menimbulkan reaksi dari sang penerima info. Kesalahan intepretasi seringkali terjadi karena kita tidak mendengar dengan sungguh-2, kesalahan tersebut akan berdampak pada kesalahan bersikap terhadap sesuatu, padahal bukan demikian maksud dari sang pemberi informasi.
Betapa berharganya mendengar, dan Alkitab mencatatkan beberapa kali, bahkan boleh dikatakan sebagai bagian relasi – komunikasi yang sangat krusial. Yesus menyebutkannya sebagai bagian yang terbaik yg telah diambil oleh Maria; Paulus sendiri menyatakan bahwa iman muncul dari pendengaran oleh firman Tuhan. Iman yang menjadi mutiara dalam kehidupan spiritualitas seseorang hanya diraih melalui pendengaran yang baik akan firman Tuhan. Yakobus menambahkan bahwa mendengar seolah-olah menjadi reaksi pertama yang wajib dilakukan oleh setiap orang (bukan berkata-kata) agar kehidupan seseorang dapat terjadi dengan harmonis dan menjadi berkat

DOA Tolonglah agar aku mendengar dengan telinga & hatiku, baik oleh firman Tuhan ataupun bagi sesamaku. Amin jp

Jumat, 13 Mei 2011

SENI BERELASI: BICARA

25:11 Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. (Amsal)

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (Yakobus)

Bila mendengar merupakan pintu gerbang informasi untuk memasuki tahapan intepretasi, maka berkata-kata dapat merupakan awal dari sebuah komunikasi, tetapi juga dapat sebagai bentuk reaksi yang bermuatan intepretasi yang hany dimungkinkan setelah kita mendengarkan.
Cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-2 yang dimaksud Yakobus harus dimengerti dalam konteksnya, bila kita mengacu pada ayat berikutnya dan bagian akhir ayat 19 ini, maka hal itu berbicara tentang kemarahan. Kemarahan yang diakibatkan oleh terlalu cepatnya seseorang memberikan respon kata-kata (berbicara), sangat besar hal ini terjadi karena seseorang tidak mau mendengarkan dengan baik; tidak mau mendudukkan perkaranya dengan tepat, atau sekalipun ia mendengar sesungguhnya ia tidak pernah mendengar; ketika orang lain menjelaskan sesuatu kepadanya, sesungguhnya ia telah siap dengan pikirannya sendiri, wak prasangka & asumsinya; sehingga terlepas ada dan tidaknya penjelasan yang harus didengar sesungguhnya ia memang mau marah. Dengan demikian salah satu kunci berelasi dengan baik adalah lambat berbicara sampai segala sesuatunya dengan jelas dimengerti dengan baik, barulah kita berbicara. Anda dapat bayangkan apabila ada seseorang yang selalu ingin/cepat berbicara dan didengarkan pembicaraannya, sementara ia sendiri tidak pernah belajar mendengarkan orang lain.
Penulis Amsal memberikan tips yang baik berkaitan dengan urusan berkata-kata/berbicara yang baik, yakni berkata-kata tepat pada waktunya, yang sangat besar hal ini berkaitan dengan situasi dan kondisi, atau mungkin berkenaan dengan suasana hati seseorang yg hendak diajak berbicara. Seringkali perselisihan terjadi karena kita tidak bijak melihat situasi kapan kita harus berbicara.

Perenungan Bagaimana mungkin seseorang dapat berbicara panjang lebar tentang sesuatu bila ia tidak belajar untuk mendengar lebih dulu? jp

Sabtu, 14 Mei 2011

SENI BERELASI: BERBASA-BASI

2:1 Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat: 2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. 3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik 4 dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, 5 hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. 6 Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal 7 dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, 8 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita. (Titus)

Seseorang yang pakar ilmu psikologi pernah mengatakan bahwa salah satu ciri kematangan dan kedewasaan seseorang terlihat dari kemampuannya berbasa-basi dengan orang lain. Berbasa basi yang dimaksud adalah membangun pembicaraan dengan topic apa saja, yang penting terjadi komunikasi dengan orang lain. Dalam berbasa basi biasanya sang inisiator memulai pembicaraan dengan materi sekitar kehidupan orang yang diajak bicara; mulai dari hal yang paling umum dengan menanyakan kabarnya – sampai ke hal-hal yang lebih spesifik bilamana kita mengetahui apa yang menjadi interes bahkan pergumulannya; berbicara dari hal-hal yang berkaitan dengan makanan, jalan-jalan sampai hobby bahkan hal-2 rohani.
Seni berbasa-basi adalah seni membuka pintu hati dan kehidupan seseorang sebelum kita lebih jauh masuk dalam ruangan-2 hidupnya dan memberikan perhatian kepadanya. Seni ini membuat kita dapat membangun hubungan dg siapa saja, baik itu laki-2 tua, perempuan-2 tua, perempuan-2 muda sampai ke laki-2 muda.
Perenungan Pernahkah anda bayangkan bila seseorang hanya mau membangun pembicaraan bila hal itu berdasarkan minat dan kepentingannya sendiri, bahkan ia yg harus mengarahkan pembicaraan tersebut? Betapa egois dan kerdilnya jiwa seseorang!

Minggu, 15 Mei 2011

MENJAGA KEPERCAYAAN ORANG LAIN

18:1 Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. (I Samuel)

25:9 Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain,
25:10 supaya jangan orang yang mendengar engkau akan mencemoohkan engkau, dan umpat terhadap engkau akan tidak hilang. (Amsal)

Perenungan Sabtu, 07 Mei yang lalu kita membicarakan ekses yang terjadi dalam hubungan. Kita sadar bahwa hal ini sangat mungkin terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain, namun bukan berarti kita menghentikan segala kegiatan kita yang berhubungan dengan orang lain. Fakta lain yang terjadi dalam hubungan yakni dampak kehidupan yang saling mempercayai satu dengan yang lain.
Suami mempercayai istrinya, seorang istri mempercayai suaminya, orangtua mempercayai anak-2nya, anak-2 mempercayai orangtuanya, seseorang mempercayai saudara/i kandungnya; bukankah hal seperti ini sangat indah, walaupun hal-2 yang sebaliknya juga sering terjadi. Tetapi hal saling mempercayai bukanlah hal yg istimewa karena setidak-2nya ada hubungan darah yang membuat mereka memiliki keterikatan satu dengan lainnya.
Namun hal yang sering terjadi adalah terjalinnya hubungan yang saling mempercayai antara dua pribadi yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa-apa. Mereka bisa berbeda suku, berbeda strata pendidikan, berbeda strata social dan berbagai keperbedaan yang lainnya. Tatkala dua pribadi saling mempercayai biasanya mereka telah melalui sebuah proses, yakni perjalanan pertemanan yang saling terbuka; mereka minimalnya mengenal kebaikan sekaligus kelemahan temannya. Semakin besar keberanian kepercayaan mereka kepada yang lain, semakin besar pula hati dan hidup mereka terbuka dan siap diketahui oleh temannya, dan itu berarti semakin besar pula resiko yang harus diterima apabila terjadi perselisihan di antara mereka. Dalam kondisi seperti itu, Peng-Amsal mengingatkan agar kita menjaga kepercayaan, bukan menjerumuskan rekan kita dengan membuka rahasia-2 yg dipercayakan kepada kita. jp

Senin, 16 Mei 2011

APA ITU KEPERCAYAAN?

25:14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Matius

Berbicara kepercayaan bukanlah berbicara sesuatu yang sederhana; ini permasalahan yang rumit dan terkadang membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menciptakannya, dan membutuhkan waktu yang sangat pendek untuk menghancurkannya. Membutuhkan berbagai proses dan pergumulan untuk membuktikan bahwa sebuah kepercayaan layak diberikan atau tidak. Pada waktu kita membahas kepercayaan, minimalnya hal ini melibatkan 3 unsur penting, yakni:
 Pemberi Kepercayaan. Seseorang yang menganggap orang lain layak menerima dan dianggap sanggup menjaga dan mengerjakan sebuah kepercayaan.
 Penerima Kepercayaan. Seseorang yang dengan alasan tertentu (yang hanya diketahui oleh pemberi kepercayaan) diberikan kepercayaan terhadap sesuatu untuk dijaga dan dikerjakan.
 Sesuatu yang dipercayakan. Sebenarnya hal ini bukanlah apa-apa sekalipun memiliki nilai/harga yang sangat tinggi, karena sesuatu tersebut hanyalah sarana/alat pembuktian bahwa ada dua orang yang memiliki hubungan yang sangat berharga, dalam tingkat saling mempercayai (memberi & menerima kepercayaan)
Kepercayaan sesungguhnya tidak berbicara masalah barang atau benda, melainkan berbicara masalah manusia dengan kualitas hidup yang dimilikinya. Sekalipun kita dapat memberikan berbagai alasan mengapa kita mempercayai orang lain, atau dipercaya orang lain, namun sesungguhnya kita tetap tidak dapat menjelaskan dengan tuntas mengapa hal seperti terjadi. Seolah-2 ada “faith leaping” sehingga seseorang memutuskan untuk mempercayai kita.

Perenungan Apa yang membuat orang lain menjadi percaya kepada anda dan memberikan kepercayaan kepada anda? Alasan apa Tuhan memberikan kepercayaan kepada anda utk melakukan amanat-Nya? jp

Selasa, 17 Mei 2011

APA ITU RAHASIA ORANG LAIN?

25:9 Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain,
Amsal

Telah kita bahas sebelumnya bahwa semakin dekat seseorang, semakin terbuka seseorang, maka sangat mungkin seseorang semakin mempercayai kita. Mereka (ia) lambat laun semakin berani menceritakan dirinya apa adanya, bukan saja berbicara hal-hal baik yang mereka (ia) alami, bahkan tidak segan-2 mereka menceritakan pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi – terlepas siapa yang mengakibatkan hal buruk itu terjadi. Bahkan, sekali lagi – hal-2 yang selama ini tidak pernah mereka ceritakan sedikitpun kepada anggota keluarganya.
Tentu saja ketika mereka (ia) berani menceritakan hal itu, sesungguhnya mereka percaya kepada kita, sehingga kita dipercayakan cerita pilu tersebut. Biasanya karena terlalu pentingnya hal ini bagi mereka (ia), maka mereka perlu menegaskan agar kisah/peristiwa ini jangan disampaikan kepada orang lain. Sangking seriusnya tidak jarang mereka memohon dengan sungguh-2.
Berbicara tentang rahasia orang lain, ada yang mendefinisikan sebagai sesuatu yang dimiliki/terjadi dalam diri seseorang dan yang tidak diketahui oleh (banyak) orang lain. Biasanya hal-2 seperti ini telah mengalami proses privatisasi. Bila kita bertanya: ”Hal-hal apakah yang seringkali menjadi rahasia dalam hidup seseorang? Hal-hal yang baik, sukses, kemenangan? Atau hal-hal yang kurang baik (buruk) yang berisi kegagalan, kejatuhan, kesalahan, dan lain sebagainya?” Disebut rahasia bukan sekedar orang lain tidak mengetahuinya, tetapi juga seseorang dengan aktif berniat dan berusaha agar orang lain tidak tahu. Untuk hal itu maka kemungkinan isi sebuah rahasia akan didominasi oleh hal-2 yang buruk, sekalipun ada hal-2 yang baik juga dirahasiakan.

Perenungan Ada orang beranggapan bahwa setiap manusia selalu memiliki rahasia, entah itu rahasia besar ataupun kecil, entah berisikan hal yang buruk ataupun yang baik. Apakah anda setuju dengan pernyataan ini? Kepada siapa anda biasanya mempercayakan rahasia anda ini? Kepada siapa pula biasanya anda menjaga/menutupi rahasia anda ini? Mengapa anda melakukannya? Bagaimana kepada Tuhan? jp

Rabu, 18 Mei 2011

PERKARANYA, BUKAN ORANGNYA

25:9 Belalah perkaramu terhadap sesamamu itu, tetapi jangan buka rahasia orang lain, Amsal

Dalam obrolan dengan anak-anak seputar dunia satwa, seorang anak mengatakan bahwa biasanya kucing takut dengan anjing, namun adakalanya si anjing justru yang takut dengan kucing. Mendengar kisah yang tidak biasa ini maka bertanyalah anak yang lain. “Kok bisa begitu?” merasa mendapat respon berupa pertanyaan seperti itu, maka anak pertama mencoba menjelaskan mengapa bisa demikian. Hal ini terjadi bila si kucing yang dikejar-kejar oleh anjing telah berada di kondisi yang terdesak, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Tidak ada jalan lain kecuali melawan si anjing dengan perjuangan habis-habisan, menggunakan cakar-cakar mautnya si kucing akan berusaha menakut-2i bahkan akan melukai bila memungkinkan. Tidak jarang anjing menerima sabetan cakar si kucing. Mendengar cerita tersebut maka si anak (penanya) manggut-manggut dan merasa puas dengan penjelasan itu.
Mungkinkah manusia memiliki prilaku yang sama dengan si kucing, yakni akan menyerang habis-habisan untuk menjatuhkan lawan/musuhnya, apalagi ia berada dalam kondisi terpepet dan tidak memiliki lagi senjata andalan? Jawabannya sangat mungkin. Tidak jarang manusia menceritakan kejelekan-kejelekan lawannya agar sang lawan merasa dipermalukan, kehilangan muka di hadapan orang lain dan akhirnya, kalah mental dan menyerah. Padahal cerita-2 kegagalan (kejelekan) tersebut merupakan sebuah kepercayaan agar tidak disampaikan ke orang lain, dan sang lawan sebenarnya adalah sang kawan yang dulunya akrab & terbuka.
Sangat mungkin bukan?! Hal tersebut terjadi pada diri kita. Acapkali tatkala kita menghadapi permasalahan dengan orang lain, kita tidak sanggup berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan cara mencari solusi terhadap perkara-perkara yang kita hadapi. Kita lebih terfokus pada perasaan telah dilukai sehingga kita tidak berpikir obyektif lagi. Kita ingin membalaskan dan meraih kemenangan dalam pertikaian tersebut, dan tidak segan-2 mengumbar mulut kita menceritakan rahasia orang lain. Selesaikanlah perkaranya, sayangilah orangnya.

DOA Ketika aku bermasalah tolonglah agar aku tetap obyektif ya Tuhan. Aku tetap menghargai orang lain dan menyelesaikan masalahku. Amin jp

Kamis, 19 Mei 2011

RESIKO YANG HARUS DITERIMA

25:10 supaya jangan orang yang mendengar engkau akan mencemoohkan engkau, dan umpat terhadap engkau akan tidak hilang. (Amsal)

Orang sering mengatakan hidup ini penuh resiko, itu bukan sekedar satu slogan, sesungguhnya itu sebuah realita. Keberdosaan manusia menjadikan kita hidup penuh dengan resiko.
Hal ini berkaitan erat dengan apa yang kita lakukan setiap harinya, tentang apa yang kita putuskan, yang kita perbuat & yang kita kerjakan, semuanya seharusnya di jalankan dengan hikmat dari Tuhan, tidak bisa seenaknya. Kalau kita menyimak hidup kita maka kita akan menyadari ternyata hidup ini selalu menuntut kita untuk bertanggung jawab terhadap apa yang kita hadapi, suka tidak suka, sengaja tidak sengaja!
Maksud perkataan orang yang mendengar engkau akan mencemoohkan engkau harusnya menjadi tanda sendiri bagi kita! Ketika kita menceritakan permasalahan hati & hidup kita kepada sesama, saudara maupun pasangan kita, kita jangan menghambur-hamburkan dengan hawa nafsu kemarahan, kebenciaan atau bahkan tipu muslihat, karena pikir kita itu akan mendatangkan simpatik justru sebaliknya akan menjadi boomerang bagi kita, karena bila ada unsur-unsur itu tadi dimasukkan maka akan ada hal yang akan berbalik kepada kita secara negative yaitu cemoohan. Bahkan ketika kebenaran terungkap, fakta berbicara, dan lain sebagainya, maka yang kita akan terima adalah umpatan yang tidak kunjung habis.
Hidup kita beresiko, ya sangat beresiko! Untuk itu kita harus selalu meminta hikmat Tuhan, memohon Dia terus menolong kita, mempercayai Dia senantiasa di dalam berbagai kesesakan dan pergumulan kita. Karena setiap perbuatan kita ada pertanggung jawabannya, jangan sekedar berkata-kata tetapi berkata-katalah dengan hikmat-Nya dan dalam kebenaran Illahi

DOA : Tuhan tolonglah aku senantiasa dalam mengungkapkan perasaanku, permasalahanku kepada sesamaku, sehingga semuanya tidak mendatangkan cemooh dan umpatan atas diriku, tetapi hidupku tetap memuliakan namamu yang kudus . terim,a kasih Tuhan. Amin hp

Jumat, 20 Mei 2011

SULITNYA MENDAPATKAN KEPERCAYAAN
(Materi Komsel)

4:12 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. 1 Timotius

Mendapatkan kepercayaan bukanlah sesuatu yang mudah, itulah sebabnya bila kita mau menjadi pribadi yang dipercaya maka harus berusaha dengan baik untuk mendapatkannya dan memelihara kepercayaan tersebut dengan serius. Ada hal-hal tertentu yang membuat orang lain sulit untuk mempercayai kita, mungkin itu dikarenakan oleh:
 Orang lain belum mengenal kita dengan baik sehingga kita dan mereka sama-2 membutuhkan waktu & hubungan yang lebih intens sampai memasuki hubungan yg lebih dekat & terbuka.
 Orang lain mendapatkan informasi yang keliru tentang siapa kita.
 Orang lain mengenal karakter kita melalui hubungan yang terjadi dalam keseharian kita.
 Dalam budaya yang menjunjung senioritas, orang lain menganggap kita terlalu muda, belum terlalu banyak makan asam garam. Orang lain bisa merendahkan kita.
 Dan lain sebagainya

Materi Diskusi
1. Silahkan perpanjang daftar di atas, tentang mengapa seseorang sulit memberikan kepercayaan kepada orang lain. Bagikan pendapat anda!
2. Menurut anda, bagaimana caranya agar orang lain menaruh percaya kepada anda? Upaya apa yang akan anda lakukan? Apakah saran Paulus kepada Timotius (nats di atas) menjadi sesuatu yang sangat penting?
3. Jadilah teladan . . . kata JADILAH memiliki kandungan proses & upaya untuk merubah diri & hidup kita menjadi lebih baik. Bukan sekedar outlook tetapi juga seharusnya inner life (karakter). Dalam hal ini komunita tidak sekedar menjadi tempat pembuktian, tetapi juga menjadi tempat pembentukan. Maukah anda mengalaminya? jp

Sabtu, 21 Mei 2011

RESIKO YANG HARUS DITERIMA (2)

25:10 supaya jangan orang yang mendengar engkau akan mencemoohkan engkau, dan umpat terhadap engkau akan tidak hilang. (Amsal)

12:21 Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. 22 Dan rakyatnya bersorak membalasnya: “Ini suara allah dan bukan suara manusia!” 23 Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing. (Kisah Para Rasul)

Cerita tentang Herodes adalah salah satu cerita yang tragis, ketika seseorang sedang berada dalam situasi yang dielu-elukan, dipuja oleh orang lain, berada dalam kebesaran dan keagungannya dan berbalutkan keanggunan manusiawi – pada saat yang sama ia direndahkan bahkan dibinasakan oleh tamparan malaikat Tuhan. Herodes tidak sempat malu, karena ia keburu mati dimakan cacing-cacing.
Kisah-kisah tragis ada di sekitar kita, bahkan mungkin setiap kita pernah memiliki pengalaman yang kita kategorikan tragis. Satu situasi yang terbalik dari apa yang kita harapkan, bahkan membuat diri kita menjadi malu & kehilangan muka di hadapan orang lain; mungkin kita menyebutnya sebagai kisah-kisah konyol.
Menindak lanjuti perenungan kita di hari-2 sebelumnya, tatkala kita merasa berada di atas angin dalam permasalahan dengan orang lain, dan kita berhasil merendahkannya dengan cara membuka rahasia-2 buruknya, ingatlah bahwa hal itu akan menjadi boomerang yang menempelak dan membuat kita terpuruk. Dan permasalahan ini akan menjadi serius, bukan semata-mata perilaku orang lain yang mencemooh dan mengumpat kita, tetapi masalahnya hal ini tidak hilang. Yang artinya, cemoohan tersebut akan selalu ditimpakan kepada kita. Yang juga berarti, kita telah sukses mencoreng moreng muka kita sendiri untuk “selamanya” karena orang lain akan mengingat hal itu.

Perenungan Apakah anda berpikir kemenangan sesaat itu sangat penting, sehingga kita akan merelakan diri untuk menerima kekalahan yang berkepanjangan dalam hidup kita? Hati-hatilah bersikap! Jp

Minggu, 22 Mei 2011

KU TAK DAPAT JALAN SENDIRI
(1 Korintus 12:12-27)

“18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. 26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”

Manusia dalam kodratnya telah dirancang oleh Sang Maha Pencipta sebagai mahluk dependent (bergantung). Oleh sebab itu adalah sebuah kemustahilan bahwa manusia sebagai sesosok pribadi yang dependent dapat menjadi pribadi independent (tidak bergantung) yang tidak memerlukan interaksi secara horisontal dengan sesamanya ataupun lingkungan di sekitarnya. Sebagai mahluk yang dependent, manusia tentu membutuhkan sesamanya supaya ia dapat menjadi pribadi yang “sehat” sesuai dengan kodratnya. Anehnya, banyak orang yang ingin mengingkari kebenaran tersebut. Mereka secara sepihak berusaha memutuskan hubungan dengan sesamanya, hanya demi sebuah alasan klise “ingin menjadi mahluk independent.”
Paulus dalam bagian suratnya ini, menggunakan analogi tubuh manusia untuk menggambarkan betapa pentingnya “sebuah hubungan saling kebergantungan.” Setiap anggota tubuh memiliki fungsinya secara spesifik, yang tidak dimiliki oleh anggota tubuh yang lainnya. Meskipun demikian, keistimewaan tersebut tetap tidak dapat berfungsi secara maksimal jikalau tidak ditopang oleh anggota tubuh yang lainnya.
Demikian pula dengan jemaat Tuhan sebagai anggota dari Tubuh Kristus. Seorang Kristen yang sehat secara rohani tentu tidak dapat memungkiri bahwa ia adalah pribadi yang membutuhkan saudara seiman lainnya di dalam perjalanan kerohaniannya. Setiap anggota jemaat Tuhan memiliki kebutuhan untuk bergantung satu dengan yang lainnya. Di hadapan Tuhan, setiap pribadi sama penting dan sama istimewanya. Jemaat yang sehat adalah jemaat yang tahu dan sadar bahwa mereka disebut jemaat karena mereka terdiri dari berbagai anggota yang yang memiliki fungsi dan peranan yang berbeda-beda dalam satu tubuh yakni Tubuh Kristus di mana Kristus sebagai kepala-Nya. Mereka tak dapat menjadi idenpendent secara individu karena Tuhan telah merancang mereka menjadi pribadi yang dependent dalam sebuah komunitas Tubuh Kristus. Lr

Senin, 23 Mei 2011

AKU DAN KOMUNITAS ORANG PERCAYA
(Efesus 2:11-22)

“19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,”

Konflik antar suku dan agama, perpecahan antar ras, bahkan perseteruan dan perselisihan di antara sesama saudara sedarah, semuanya terjadi karena ada pihak yang merasa lebih baik, lebih hebat/ lebih unggul dan lebih berkuasa dari pada pihak yang lainnya. Penilaian diri yg terlampau tinggi, yg dibarengi dengan penilaian yg merendahkan pihak yg lainnya selalu dapat menjadi sumber pemicu perpecahan antar sesama.
Dalam kehidupan berkomunita di gereja, kondisi seperti demikian pun telah menjadi sebuah realita yang tidak bisa kita pungkiri atau pun abaikan keberadaannya. Meskipun harus kita akui bahwa orang Kristen adalah manusia dengan naturnya yang berdosa, namun fakta tersebut tidak dapat kita jadikan sebagai alasan yang utama untuk dapat membenarkan setiap tindakan kita yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan.
Paulus dalam bagian suratnya ini mengungkapkan bahwa orang-orang yang sudah percaya, dari golongan manapun ia berasal, entah Yahudi atau pun non Yahudi, mereka sama-sama telah dipanggil dan dipersatukan di dalam Kristus. Kepada mereka ini pula, Allah telah memberikan identitas yang baru yakni sebagai “kawan sewarga … dan anggota-anggota keluarga Allah, ….”
Terminasi keluarga pada saat itu dimengerti sebagai pusat kehidupan individu sebelum mereka terjun ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam keluargalah seseorang memulai semuanya yakni: proses belajar, pertumbuhan iman, dan kehidupan yang lebih luas. Demikianlah seharusnya elemen-elemen tersebut terdapat dalam rotasi kehidupan berkomunita selaku orang-orang percaya dalam sebuah keluarga Allah.
Orang Kristen yang bertumbuh, seharusnya menjadi pribadi yang menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan yang sangat dikasihi oleh-Nya. Tuhan yang pengasih itu, Ia juga menyatakan kasih yang sama/ setara kepada manusia yang lainnya tanpa memandang buluh. Oleh karena kasih yang telah ditunjukkan-Nya, Ia berkehendak supaya setiap anak-Nya dapat meneladani karakter-Nya yang penuh kasih itu dan mewujudnyatakan kasih itu kepada sesamanya. lr

Selasa, 24 Mei 2011

AKU, BERTUMBUH BERSAMA
(Efesus 4:1-16)

15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Mungkinkah sebuah pohon dapat bertumbuh tanpa adanya elemen lain di luar dari pohon tersebut, seperti tanah, air, udara, dan lain sebagainya? Jawabannya tentu saja ‘tidak’. Jangankan untuk bertumbuh, untuk dapat mempertahankan hidupnya, sebuah pohon membutuhkan elemen lain di luar keberadaannya sendiri, karena tanpa topangan atapun kontribusi dari elemen lain tersebut, tentu saja pohon ini akan menjadi layu dan pada akhirnya mati. Demikian pula dengan kehidupan seorang manusia. Demi keberlangsungan hidupnya, ia membutuhkan orang lain & lingkungan di sekitarnya.
Ayat pertama dari teks hari ini diawali dengan kata “Sebab itu.” Hal ini menunjukan adanya hubungan antara teks pada pasal ini dengan teks pada pasal sebelumnya. Pada teks sebelumnya, Paulus berbicara mengenai hubungan antara orang percaya dengan Kristus melalui iman. Oleh iman itulah Kristus telah menyatakan kasih-Nya yang melampaui segala akal kepada semua orang kudus dalam jemaat Tuhan. Oleh sebab itu, bagi mereka yang telah mengalami kasih Kristus, hendaknya hidup mereka adalah sebuah kehidupan yang berpadanan dengan panggilannya yang baru sebagai murid Kristus. Pertanyaannya adalah, bagaimana seseorang dapat hidup berpadanan dengan panggilan barunya di dalam Kristus? Mengapa keterlibatan untuk hidup dalam suatu komunitas orang percaya demikian penting bagi seorang Kristen? Karena hanya inilah wadah yang tepat di mana seseorang dapat “mengukur” dan “menilai” sejauh mana ia telah bertumbuh ke arah Kristus.
Allah telah memberikan gereja sebagai wadah di mana orang percaya dapat hidup di dalamnya sehingga ia dapat mengalami pertumbuhan. Allah tahu dengan pasti bahwa anak-anak-Nya masih akan hidup di tengah-tengah dunia yang berdosa, oleh sebab itu Ia menyediakan sebuah keluarga baru bagi mereka, di mana di dalamnya mereka dapat saling menjaga dan saling melindungi dari berbagai serangan luar yang dapat menghancurkan iman mereka. lr

Rabu, 25 Mei 2011

AKU DAN SAHABATKU
(Filipi 2:19-30)

“20 Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu; …. 22 Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya.”

Di tengah-tengah dunia yang semakin individualistis ini, jangankan mencari sahabat, mendapatkan teman yang dapat dipercaya saja serasa sangat sulit. Apalagi pribadi tersebut diharapkan bisa diperoleh di tengah-tengah dunia kerja yang penuh dengan persaingan dan trik-trik pencarian keuntungan pribadi. Mengharapkan hal tersebut saja, terasa bagaikan “mencari jarum di antara tumpukan jerami.” Meskipun demikian apakah mendapatkan seorang sahabat sejati adalah sebuah kemustahilan? Tentu saja tidak, peluang tersebut masih tetap ada dan mungkin, karena selaku orang percaya kita memiliki satu komunita yang baru di dalam Tuhan. Paulus memiliki banyak sahabat dan juga rekan kerja dalam pelayanannya. Namun dengan Timotius muridnya, ada sebuah keistimewaan khusus dalam hubungan persahabatan mereka. Paulus mengungkapkan hal tersebut ketika ia berkata tentang Timotius bahwa “tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku ….” Pernyataan Paulus tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Timotius sebagai seorang sahabat telah menjadi berkat khusus dan sangat istimewa dalam perjalanan pelayanan Paulus, demikian pula sebaliknya.

Dalam banyak hal, Paulus sangat percaya kepada Timotius baik dalam hal kesetiaannya, ketulusannya, pengorbanannya maupun kualitas kerjanya, semuanya telah sangat teruji, sehingga Timotius bagi Paulus adalah seorang sahabat yang sungguh dapat dipercaya. Dengan kualitas persahabatan yang demikian, Tuhan berkenan memakainya menjadi berkat bagi banyak orang mereka layani.

Proyek: Hari ini, katakanlah kepada sahabatmu “terima kasih karena telah menjadi sahabat bagiku, sehingga hidup dan pelayananku menjadi lebih efektif.” lr

Kamis, 26 Mei 2011

AKU DAN REKAN PELAYANANKU

“2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (Filipi 4:2-3)

Berapa kali, anda pernah berpikir untuk berhenti dari aktivitas pelayanan yang saat ini sedang anda kerjakan? 5, 10, 20, ratusan atau ribuan kali? Atau saat ini, anda sedang memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk dapat mengungkapkan argumen anda supaya keinginan anda tersebut dapat diterima dan dikabulkan oleh pimpinan komisi atau gereja? Kabar baiknya untuk anda adalah, anda bukanlah orang pertama yang bergumul tentang hal tersebut. Anda cuma salah satu dari sekian banyak orang yang merasa berjuang sendiri dalam pelayanan yang saat ini sedang mereka kerjakan. Kondisi tersebut demikian melelahkan mereka sehingga mereka merasa seakan-akan sedang berputar-putar dalam sebuah lingkaran yang tak pernah berhenti berputar. Mereka merasa frustasi dan putus asa karena merasa tak ada yang menguatkan mereka di saat mereka lemah, tak ada yang menopang mereka di saat mereka mengalami kesulitan, tak ada yang menghibur mereka di kala mereka sedih. Mereka tidak memiliki orang-orang yang dapat mengacungi jempol ketika mereka berhasil, menegur mereka ketika mereka bersalah, bahkan sekedar menepuk pundak mereka di kala mereka lemah.
Bercermin dari Rasul Paulus, ia adalah seorang pribadi yang mengerti dengan tepat bahwa ia tak dapat bekerja sendirian. Ia butuh orang lain yang dapat diajak bekerja sama di dalam memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu Paulus pun selalu berusaha menempatkan dirinya sebagai sahabat yang baik bagi orang lain. Sebagai sahabat yang baik, Paulus menegur rekannya yang berselisih paham, ia bahkan meminta rekan lainnya untuk menolong mereka yang berselisih supaya dapat berdamai. Paulus sadar bahwa memiliki tim kerja yang baik, akan berdampak luas bagi perluasan dan perkembangan pekabaran Injil Tuhan, dan oleh sebab itu tim ini perlu dijaga, dipelihara, dan diingatkan selalu akan panggilan mereka selaku para pelayan Tuhan.
Refleksi: Jangan biarkan Iblis menghancurkan semangat pelayananmu, bangunlah sebuah tim pelayanan yg di dalamnya engkau dapat saling menguatkan satu dg yg lainnya demi perluasan Injil Tuhan. Lr

Jumat, 27 Mei 2011

AKU & KELUARGAKU
(Kolose 3:18-21)

“18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Dalam buku, A to Z Pernikahan, David & Jan Stoop (Andi, 2008), menganjurkan setiap keluarga mengajukan sebuah pertanyaan berikut kepada keluarga mereka: “Apa yang membuat keluarga ini menjadi sebuah keluarga?” Menurut mereka, “jawaban yang jelas atas pertanyaan tersebut akan menetapkan tujuan serta membentuk pertumbuhan sebuah keluarga. Sebaliknya, ketidakjelasan jawaban akan membuat bahtera keluarga tetap terombang-ambing tanpa ketenangan.”
Sedangkan misi sebuah keluarga menurut mereka, “dibentuk saat kita menetapkan apa yang kita anggap berharga dalam pernikahan, dalam mengasuh anak, cara mendapatkan dan mengelola uang, etika kerja, tradisi, hubungan dengan orang-orang di luar keluarga kita, terutama saat kita menjangkau orang lain dengan kasih Yesus.”
Keluarga inti kita, merupakan lingkaran terkecil/ paling dekat dengan kehidupan pribadi kita. Setiap orang memiliki keluarga inti dan berasal dari keluarga inti yang lainnya. Suka atau tidak, kenyataan bahwa kita ada dan dilahirkan dalam sebuah keluarga, “mamaksa” kita untuk tidak mengabaikan fakta bahwa kita pun bergantung tetapi juga berkewajiban untuk memperhatikan keluarga kita.
Seorang pria dan seorang wanita bertemu serta berkomitment untuk hidup bersama dalam satu ikatan perkawinan karena mereka merasa tidak dapat berjalan sendiri. Hadirnya anak-anak yang kemudian dikaruniakan Tuhan dalam keluarga tersebut, memberikan tanggung jawab khusus kepada mereka (suami dan istri) untuk dapat menentukan apa visi dan misi yang Tuhan ingin kerjakan melalui keluarga ini.
Paulus dalam suratnya ini mengingatkan kepada setiap anggota keluarga, baik suami, isteri, anak maupun orang tua, supaya masing-masing mereka dapat menjalankan role (peran) nya dengan bertanggung jawab, dg demikian kehendak & rencana Allah tuk menghadirkan keluarga yg memuliakan-Nya di tengah-2 dunia ini dapat terwujud. lr

Sabtu, 28 Mei 2011

AKU, SEBUAH MODEL

”15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
(Yoh. 13:15)
“21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1 Pet. 2:21)

Apa reaksi anda ketika membaca judul tersebut? Atau apa yang langsung terlintas di benak anda ketika mendengar istilah “Model.” Mungkin akan langsung terbayang foto mereka yang terpampang di majalah-majalah mode atau iklan-iklan produk tertentu. Namun sadarkah anda, bahwa sebagai seorang Kristen, kita terpanggil untuk menjadi model bagi mereka yang belum percaya maupun bagi mereka yang baru percaya? Lihatlah bagaimana para remaja yang terpengaruh dengan idola mereka, mereka bahkan meniru gaya rambut, cara berpakaian, sampai dengan cara berbicara dari idolanya. Hal tersebut tentu sangat berbahaya karena tidak semua figur tersebut patut untuk dicontoh ataupun diteladani.
Banyak orang Kristen ketika ia bertobat hingga saat ini, ia bahkan tidak menyadari bahwa Kristus telah merancang dan merencanakannya untuk menjadi model bagi dunia yang berdosa ini. Oleh sebab ketidakpekaan tersebut maka orang ini hidup sekehendak hatinya. Melakukan apa yang diingininya, bertutur kata tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain, dan bahkan melakukan hal-hal yang tak sepantasnya ia lakukan sebagai seorang yang berstatus “murid Kristus.”
Yesus semasa hidup-Nya hingga mati-Nya, tahu dengan sepenuhnya bahwa Ia adalah seorang model bagi murid-murid-Nya. Ia tidak akan seterusnya bersama-sama dengan mereka, karena itu Ia menjadikan diri-Nya model yang layak untuk ditiru, bahkan memberikan perintah kepada murid-murid-Nya untuk memiliki gaya hidup yang sama dengan Dia. Dengan demikian dunia dapat melihat bahwa mereka berbeda dari dunia ini. Yesus telah meninggalkan teladan yang penting yang bisa mereka ikuti, dan berharap bahwa orang lain yang kemudian akan menjadi murid-Nya, dapat mengikuti jejak para murid sebagaimana para murid telah mengikuti jejak Kristus sebagai sang Model Sejati.

Refleksi: Apakah anda telah menjadi model yang baik bagi orang-orang di sekitar anda? lr

Minggu, 29 Mei 2011

EVALUASI PENGALAMAN HIDUP MASA LALU

Engkau memperingatkan mereka (bangsa Israel) dengan maksud membuat mereka berbalik kepada hukum-Mu. Tetapi mereka bertindak angkuh, … tidak patuh kepada perintah-perintah-Mu dan … berdosa terhadap peraturan-peraturan-Mu, yang justru memberi hidup kepada orang yang melakukannya.
(baca dari ayat 1 – 31) Nehemia 9:29

Setiap orang memiliki pengalaman masa lalu dalam hidupnya, baik itu pengalaman keberhasilan ataupun pengalaman kegagalan. Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan pelajaran bagi kita untuk menentukan langkah atau keputusan yang harus diambil untuk saat ini ataupun untuk ke depannya. Pengalaman keberhasilan akan kita jadikan patokan atau standard untuk menentukan langkah selanjutnya, sedangkan pengalaman kegagalan membuat kita waspada untuk tidak mengulangi pengalaman tersebut. Tentu hal ini sangat baik, tetapi yang menjadi permasalahan adalah dasar apa yang menentukan bahwa pengalaman tersebut adalah pengalaman keberhasilan atau kegagalan? Biasanya keberhasilan ditentukan dari seberapa banyak hal itu menguntungkan dan membahagiakan kita; sebaliknya, jika pengalaman itu hanya membuat kita kecewa, sedih, susah, rugi kita sebut sebagai kegagalan.
Ayat di atas merupakan sepenggal pengalaman bangsa Israel yang standard keberhasilan atau kegagalannya adalah pada kebenaran firman Tuhan yang memberi hidup kepada yang melakukannya. Nehemia melihat bahwa bangsa Israel pernah mengalami kegagalan dengan bertindak angkuh (menganggap diri benar, baik, tidak ada masalah) dan sengaja menghiraukan dan melanggar firman Tuhan (ay. 29-30). Adakalanya kita begitu bangga dengan pengalaman keberhasilan yang pernah atau sedang kita capai, tetapi apakah keberhasilan itu didasarkan pada kebenaran firman-Nya? Mungkin kita berpikir standardnya terlalu susah dan tidak realistis untuk kehidupan di dunia, tetapi ketaatan kita pada firman Tuhanlah yang akan membentuk pengalaman-pengalaman yang penuh keberhasilan sejati.
Kita merasa gagal? Itulah awal dari proses belajar menuju keberhasilan ketika kita mau dididik oleh kebenaran Firman Tuhan yang kita jalani dalam hidup kita. Kiranya Tuhan selalu menolong kita. -va

Senin, 30 Mei 2011

SADARI KEGAGALAN DAN BANGKIT

Tetapi Engkaulah yang benar dalam segala hal yang menimpa kami, karena Engkau berlaku setia dan kamilah yang berbuat fasik.
Nehemia 9:33

Melihat keadaan bangsa Israel dan kota Yerusalem yang hancur-hancuran, Nehemia sadar itu merupakan akibat dari kegagalan mereka untuk taat kepada firman Tuhan. Dalam keadaan yang sedemikian terpuruknya Nehemia mengakui kesalahan diri dan keluarganya yang merupakan bagian dari bangsanya dan kesalahan bangsanya di hadapan Tuhan (1:6-7). Tetapi Nehemia tidak hanya berhenti sampai pada penyesalan dan minta ampun, ia kemudian bangkit bersama rakyatnya membangun tembok Yerusalem dan melakukan reformasi kehidupan di berbagai bidang (ps. 13). Dalam bidang pernikahan ia kembali mengingatkan kegagalan dari Raja Salomo di masa lalu yang membawa bangsa Israel menyembah kepada berhala (13:26).
Sadar akan kegagalan masa lalu sangatlah penting dalam hidup kita karena itu akan membuat kita rendah hati mengakui kesalahan di hadapan Tuhan, sekaligus kita harus mengubah hidup kita untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama. Kalau dalam dunia usaha orang mengatakan “kita harus selangkah lebih maju” agar tidak tergilas oleh ketatnya persaingan. Saya rasa motto itu juga berlaku dalam kehidupan kerohanian kita (bukan bermaksud untuk memisahkan antara yang rohani dan sekuler, tetapi ketika rohani kita makin maju, maka seharusnya itu berdampak pada bidang kehidupan yang lain: bisnis, keluarga, bermasyarakat, dll.) agar kita tidak tergilas oleh arus zaman yang makin menawar-nawar kebenaran firman Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, kami mohon pengampunan-Mu atas segala kegagalan kami untuk taat kepada Engkau. Biarlah pengampunan yang masih Tuhan karuniakan kepada kami semakin menyadarkan kami untuk bangkit menjalankan kebenaran firman-Mu. Amin. -va

Selasa, 31 Mei 2011

BELAJAR UNTUK MENGERTI DAN MELAKUKAN

Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya
Yakobus 1:25

Dari dua hari perenungan kita yang lalu kita melihat firman Tuhan berperan sangat penting dalam hidup kita agar kita dapat menjalani kehidupan dengan keberhasilan yang sejati. Maka pada hari ini kita kembali diingatkan untuk meneliti (mempelajari dengan sungguh-sungguh) kebenaran firman Tuhan. Hanya dengan mempelajarinya secara sungguh-sungguh kita dapat dapat mengerti kebenaran firman Tuhan yang harus kita jalankan. Tetapi Yakobus tidak berhenti hanya sampai pada belajar, ia melanjutkan bahwa kita harus bertekun, setia untuk melakukannya dalam hidup kita.
Masalah yang sering kita hadapi adalah adakalanya kita malas, selalu merasa tidak ada waktu untuk mempelajari firman Tuhan secara sungguh-sungguh, kita cenderung pragmatis, bahkan tidak jarang firman Tuhan kita cuplik sepenggal hanya untuk membenarkan pendapat kita. Tetapi di sisi lain kita begitu getol mempelajari firman Tuhan, bahkan kita membeli begitu banyak buku teologi untuk memuaskan rasa ingin tahu kita akan kebenaran firman Tuhan, sayangnya itu tidak pernah sampai pada penerapan atau pelaksanaan dalam hidup sehari-hari. Mungkin kita punya pengenalan akan Tuhan yang berkuasa, berdaulat, tetapi dalam hidup pekerjaan kita merasa tantangan terlalu berat dan tidak mungkin untuk menerapkan fiman-Nya (meragukan kuasa Tuhan yang sanggup memampukan kita).
Kiranya sebagai anak-anak Tuhan kita senantiasa rindu untuk belajar kebenaran firman-Nya dan menjalankan kebenaran itu dalam seluruh aspek hidup kita, sehingga hidup kita menyukakan Bapa kita.

Doa: Tuhan tolong kami untuk mau mengerti segala kebenaran-Mu dan menjalankannya dalam hidup kami. Amin. -va

Ibrani 12:14-15

“ 14 Berusahalah Hidup Damai Dengan Semua Orang Dan Kejarlah Kekudusan, Sebab tanpa Kekudusan Tidak Seorangpun akan Melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan Ada Seorangpun Menjauhkan Diri dari Kasih Karunia Allah, Agar Jangan Tumbuh Akar Yang pahit Yang Menimbulkan Kerusuhan Dan Yang Mencemarkan Banyak Orang.