BULAN SALURAN KASIH 2011

TEMA “Membenahi Kasih”

SalibNya, lambang KASIH
Vertikal: Kasih Illahi
Horizontal: Kasih Manusiawi
Kasih Allah , kekal abadi, solid – konsisten tak berubah.
Kasih Manusia, perlu dievaluasi, mawas diri dalam hal :
Mengasihi Allah, Sang Pencipta.
Mengasihi diri, keluarga, sahabat-kerabat, sesama manusia.
Mengasihi lingkungan hidup, cinta alam (natur). Melestarikan alam dan mengusahakan “eko-sistem” hidup bersama yang kondusif, aman, nyaman, tenang, damai sejahtera dalam KasihNya. (Dengan adanya serbuan Ulat Bulu yang telah kita alami, itu pertanda eco-systempun terkena gelombang Krisis Kestabilan.)
Dalam menyambut BSK 2011, kami menyapa jemaat dengan topik orientasi terhadap yang menggejala di dunia pada saat akhir-akhir ini, yaitu kehidupan umat manusia tergoyah oleh berbagai krisis yang sedang melanda. Untuk tahun ini kami berupaya menyampaikan edaran BSK dua kali, yaitu pada awal bulan Mei dan yang kedua menjelang bulan Juni mendatang dengan topik sekitar kondisi mutakhir Bidang VI-Diakonia, kontribusi ungkapan dari para pengurus BPH dan Koordinator Seksi. Bahkan, kami akan sangat berterimakasih bila diantara jemaat ada beberapa yang tergerak untuk memberi Kritik & Saran membangun kepada kami, sebagai perwujudan partisipasi. Akan kami tampung dan mengagendakan agar bisa dimuat dalam edaran BSK berikutnya. Untuk hal mana harap diserahkan kepada Ketua atau Sekretaris Diakonia.
Seperti yang kita telah memaklumi, kegiatan BSK berintikan sepertiga tahun, yaitu catur-wulan pertengahan (Mei-Agustus) ,diapit oleh 4 bulan awalan dan 4 bulan akhiran. Hal tersebut bertujuan agar boleh menjadi sentra pembangkit kesadaran dan semangat bagi kita seluruh jemaat GKAZ agar ikut berpartisipasi, proaktif akan kelangsungan dan tumbuh-kembangnya Bidang Diakonia yang bermuatan Kasih ini; karena Diakonia adalah milik kita bersama. Mari kita berlatih diri agar menjadi cukup cakap, sehingga boleh membangun lingkungan persekutuan dalam “euphoria” Kasih, dimulai dari lingkungan sendiri, balik ke awal permulaan, namun dalam status “Reformasi” ke “Transformasi”.
Peradaban manusia mengalami juga “Krisis Kasih” tidak terluput dari Periode Krisis Global yang kini telah menjurus ke ekstrim multi dimensional dan multi kompleks, kait-mengait. Apakah bencana- bencana yang maha dahsyat itu, baik bencana alam, maupun oleh ulah manusia sendiri (Human error), rupanya adalah tekanan bagi umat manusia agar kembali memiliki NURANI KASIH? Benar ataupun salah marilah kita berserah kepada Tuhan, serta berpadu dan berpacu dalam momentum pelayanan BSK ini, untuk lebih terfokus, apriori untuk memperkuat struktur kehidupan bersama dalam “Iman-Kasih-Kristiani”.
BIDANG VI-DIAKONIA “menghidangkan” kata-kata sambutan tidak lazim , extraordinary, Unik atau Aneh sebagai berikut:
APPETIZER, PENYELERA.
(Soup Kepiting Asparagus, aku tak penting namun terurus, hal itu amat bagus).
Dimulai dengan Aku, Keberadaanku dalam wujud pribadi-nyata dan hidup tiada duanya di bentangan bumi, semesta alam yang tak terbatas itu, adalah hal yang sungguh mempesonakan. Patut dibanggakan atau layak disyukuri? Aku adalah debu terhadap begitu besar dan luasnya ciptaanNya, dalam kuasaNya. Aku tak berarti, banyak jiwa-jiwapun dengan mudah terhapus, pupus oleh gempa/tsunami, badai, letusan gunung-berapi dan lain-lain musibah. Begitu tak berharganya, banyak nyawa manusia dihabisi oleh kejahatan sesamanya; dan oleh peperangan dalam konflik yang menggunakan “mesin pembantai”, pemungkas super canggih. Tiada harganyakah aku ini? Puji Tuhan aku memiliki kepekaan perasaan hati-nurani Kasih, sehingga aku tidak hidup seperti robot, benda mati. Akupun bisa menerima gelombang getaran Kasih Allah dalam Kristus oleh Roh Kudus; dan mampu juga mengasihi sesamaku, meski aku hanya seukuran debunya debu terhadap kesemuanya itu. Walaupun pula tindak pelayananku sungguh sangat kecil tak berarti, namun berkenan dalam hati.
Itulah Aku, Aku bukan tunggal, melainkan banyak orang yang mengaku-ngaku. Memang aku seukuran debu yang sedang diserbu oleh debu, debu radioaktif yang sedang meradiasi negara Sakura. Ikut kubersedih, larut kuberduka, namun bersyukur aku masih memiliki kepekaan Kasih, nurani perikemanusiaan kepada mereka dan yakin, pasti ada Hikmah tercurah bagi yang berserah; berserah kepada Allah; “Di balik awan gelap terbitlah terang.”
REAKSI BERANTAI:
Aku sedih, Kita susah, seluruh Duniapun berduka.
Bagaikan unsur berintikan atom berat dalam kondisi aktif, reaksi kimiawi berulang-ulang sambil melepaskan enerji dahsyat, itulah “nuclear power”, reaksi berantai, yang bisa dimanfaatkan untuk mensupply energy ke industri2 raksasa. Akan tetapi, bila terlepas, seperti Iblis / Satan bebas lepas rantai, akan merusak ke mana2 dan siapa2 tak pandang bulu dengan “radio aktifnya” yang mengerikan itu. (Itu baru radio aktif /audio, belum nanti statusnya menjadi “TV” aktif / audio visual)
Bangsa Jepang sedih-perih, Bangsa-Bangsapun berdampak ikut sedih!

MAIN COURSE, HIDANGAN UTAMA.
“NASI CAMPUR” Diakonia (Laris –manis, Murah –meriah;
tiada tangis sebab berserah).
Bidang VI-Diakonia menyandang Misi Utama yang “Campur” (bersekutu), sama dengan Misi dan Etika misi HT, Majelis, Bidang V-Misi, Bidang / Komisi dan Pos PI seutuhnya, yakni: Oleh Kasih Karunia, menyampaikan Karunia Kasih kepada umat manusia dalam
Kasih Kristus.
Analogi cita rasa :
Pedas karena dikritik, dikecam, dimarahi atau difitnah / dizolimi orang yang membikin panas hati kita. Kita hadapi dengan perasaan gemas, malu, penasaran bila nyatanya tak bersalah. Tidak perlu marah dan ingin membalas dendam. Berilah penjelasan yang benar dan diantisipasi dengan Kasih. Itulah murid Kristus yang sejati.
Asam, rasa kecut bermuka cemberut karena kesalnya hati menghadapi permasalahan yang menjengkelkan, tak kunjung selesai. Bermasamlah muka kita, ketika menghadapi orang-orang terdekat kita yang tidak menyenangkan, tidak koperatif, bahkan lingkungan hidup hunian, di gereja dan suasana tempat kerja juga jauh dari menyenangkan; kebersihan, keamanan, kedamaian, keramahan warga, semuanya dibawah standar etika dan estetika. Bila demikian, tengoklah diri kita sendiri apakah kita juga berkontribusi negatif seperti itu; dan Kasihilah diri kita yang ikut melarut dalam kondisi seperti itu, yang semestinya mampu bangkit untuk menguasai kondisi lingkungan sekitar.
Pahit, pahit kopi, buah pare, pete dan pahit-getirnya bumbu cengkeh kita juga menyantapnya. Pahit getirnya kehidupan, setiap orang pasti pernah merasakan. Namun kita telan saja pil pahit, demi untuk kesembuhan dari penyakit / kelemahan yang kita miliki. Karena Kasih, kita mendidik anak-anak dengan memberi, membiarkan mengalami pengalaman pahit, agar mereka senantiasa berbekalkan kewaspadaan dan tidak menganggap dunia ini “Play Group dengan Play Station” untuk bermain melulu.
Asin, asin garam tidak menghambarkan; “Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain”(Mrk. 9:50b) Dunia tanpa Kasih akan menjadi hambar, tiada seni keindahan,yang teduh menyejukkan.
Manis, siapa yang tidak suka manis? Namun bila terlalu banyak “manis” dalam kehidupannya, akan menjadi seperti penderita “Diabetes Melletus!” yang tidak bisa lagi mengendalikan konsentrasi gula /glukosa, fruktosa dalam darah di ambang normal dengan baik. Kondisi fisik, mental kita lalu menurun karena manja terbius oleh Kasih duniawi. .
Sedap, Harum, Suci dan Mulialah hidangan Roti dan Air Hidup yang kita santap bersama dengan kandungan Kasih Sorgawi.

DESSERT, HIDANGAN PENUTUP / CUCI MULUT
(Buah-buahan, agar-agar dan minuman penyegar, mudah-mudahan bugar, iman pun tegar).
Kembali ke “Siapakah aku” ?
Adapun..hidupku ini..bukanya aku..lagi,
melainkan Kristus hidup di dalam aku..Ooooh!
Apapun dunia..datang menggoda..imanku tetap teguh..
karena Yesus yang hidup di dalam aku…
Reff.: Kini hidupku yang sekarang..
aku hidup di dalam tubuh ini..
aku hidup di dalam iman kepada Anak Allah..
Yang mengasihi aku..dan yang menyerahkan diriNya..untuk aku.

RAMAH TAMAH / SEGMEN TANYA JAWAB
( Hanya fiktif imajinasi, tapi benar )
P = Pengurus
J = Jemaat
J : Mengapa gaya penulisan ini agak tidak lazim?
P : Diharapkan bisa menarik selera baca jemaat yang cenderung sedang “Krisis” enggan membaca.
J : Mengapa memakai latar belakang “Makanan”?
P: Tempo doeloe, orang menggunakan istilah “makan” itu diartikan “mengalami”. Berpendidikan disebut makan sekolahan. Banyak makan asam-garam dimaksudkan banyak pengalaman hidup. Makan pil pahit mengisyaratkan dirudung malang pahit getirnya kehidupan. Jelasnya makan, dalam artikel ini berarti pengalaman hidup yang membentuk karakter seseorang.
Sedemikian pentingnya makanan, bukankah sejak awal-mula, manusia pertama diperlengkapi dengan persediaan makanan sesuai Kej. 2:16-17 yang berbunyi demikian :
16. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17. tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Pasutri pertama itu “Bersalah dan salah makan”.
Bersalah karena melanggar perintah Firman Allah dan Salah makan karena tidak memakan buah pohon Kehidupan terlebih dahulu. ( Baca Kej. 3:22-24 )
Semenjak itu pula Krisispun hadir dalam kehidupan manusia berdosa, seiring perkembangan jaman, datang – pergi silih berganti.
J : Bagaimana kondisi Bidang Diakonia pada saat ini?
P : Jujur kata ada sedikit kelesuan. Entah itu pengaruh dari Krisis global yang kita perbincangkan, mengimbas ke seluruh aspek kehidupan, semua serba ekstrim sampai cuacapun ikut- ikutan berekstrim; atau sebab lain seperti masalah keresahan, kesulitan dan kesibukan sehari-hari yang semakin meningkat.
J : Berapa jumlah Pengurus Bidang VI-Diakonia, terhitung dari Mako, BPH, Kasi / Koordinator hingga Pendamping?
P : Total keseluruhan ada 24 orang, tapi yang hadir dalam rapat rutin akhir-akhir ini hanya kl. 50%. Merindukan kembali seprti dulu lagi yang begitu meriah.
J : Bagaimana kondisi keuangan Diakonia untuk mendukung pelayanannya?
P:Terus terang memang ada penurunan masukan sejak tidak diedarkannya amplop persembahan Bulan Saluran Kasih di Pos PI Istana Regency. Akan tetapi penyebabnya bukan masalah tersebut saja, Mungkin jemaat sebagai sumber dana terarah ke sasaran lain. Kami tidak berprasangka negatif atau menjadi pesimistis, sebab dengan indra iman kami yakin Kasih KuasaNya tidak akan menelantarkan pelayanan kami. Memang saldo akhir bulan kami terakhir turun nyaris hingga titik nadir, terendah sejak dasa warsa terakhir. Meski demikian, tetaplah kami bersyukur karena masih berlebih.
J : Kalau demikian kesulitan apa yang dialami dalam melaksanakan pelayanannya?
P : Perlu dimaklumi, dalam pelayanan gerejawi, soal kesulitan itu relatif, tergantung dari moral karakteristik pengerja masing2. Bila kesulitan datang menghadang, bisa saja mencari jalan gampang, asal-asalan, asal dilakukan saja. Tingkat kesulitan bisa diturunkan kok. Mutu pelayanan tentunya juga turun. Ada sebab ada akibat.; berakibat burukpun tanpa terkena sanksi hukum dunia. Tapi hukum kait mengkait, reaksi berantai (do me no), citra nama baik gerejapun tercacat. Kalau sudah sedemikian “parah”, apa kata dunia!
J : Kalau begitu, lantas langkah kendali apa yang perlu diambil?
P : Pengendalian diri, dengan berpegang pada yang tertera di halaman depan, yaitu : Mengasihi Allah, dengan mengakui kedaulatanNya yang mutlak maha kuasa, khalik langit dan bumi, maha pengasih, maha arif bijaksana, hukumNya amat sangat pasti dan paten / solid-konkrit; sehingga dengan sendirinya kita takut akan Allah. Kemudian mengasihi diri kita sendiri jangan sampai rusak moral-mental kita, tentunya juga iman. Ketiga, Kasihilah sesamamu manusia. Itulah terjemahan bebas Firman: “Hukum yang terutama” yang kita semuanya sudah memahaminya.
J : Seperti apa profile fundamental Pelayanan Bidang Diakonia yang diharapkan?
P : 3D corak dasar (Sterio-Perspektif) “Output” pelayanan yang “extreme maximal” yalah :
Dukungan Doa :
Memiliki Tim Pendoa yang tangguh, aktif, intensif dan pemerhati yang peka / sensitif.
Dukungan Dana :
Idealnya tiada yang perlu didukung lagi, karena seluruh jemaat sudah sejahtera berkecukupan materi / keuangan. (Akan tetapi, kenyataannya masih jauh dari harapan.)
Dukungan Daya :
Melayani jemaat yang mengalami Dukacita, Kematian atau Sukacita Pernikahan, Syukuran dll. dengan sangat baik.
Terimakasih atas kesediaan Anda dalam membaca artikel ini, Tuhan memberkati.

Salam Kami dalam Kasih Yesus Kristus.