Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Pada bulan ini kita akan memperingati kematian dan kebangkitan TUHAN, sementara rangkaian thema-2 yang akan disampaikan sebagai berikut:
03 April 2011
Keberanian Untuk Mengakui (Lukas 15:11-22)
Pemulihan yang sejati akan terjadi bila kita berani memulainya dengan sebuah pengakuan, namun menyadari bahwa sebuah pengakuan dibutuhkan sebuah keberanian, termasuk untuk menanggung berbagai resiko karena kesalahan.
10 April 2011
Pengampunan & Mengampuni (Matius 6:12) Komsel 15 April
Pengampunan tidak pernah terjadi bila kita bertepuk sebelah tangan. Antara mereka yang mengampuni dan mohon pengampunan harus menerima keadaan ini secara dewasa, dan rela memulai sesuatu yang baru beralaskan kasih Tuhan.
17 April 2011
Mengampuni. Sebuah Proses Pembelajaran (1 Kor 13:5)
Terkadang kita terjepit di antara dua hal, yakni di satu sisi ada kemarahan dan kejengkelan; di sisi lain ada idealism kasih dan ketulusan. Inilah yang membuat kita senantiasa bergumul ketika akan mengampuni orang lain, apalagi hal ini sudah terjadi berulangkali. Kita membutuhkan prroses pembelajaran untuk mengampuni.
22 April 2011
Salib. Pengampunan Allah (Lukas 23:34a)
Salib menjadi puncak pertemuan antara puncak kejahatan manusia dengan puncak kasih Allah. Peristiwa inilah yang menjadi dasar pengampunan yang diperlukan manusia untuk mengampuni orang lain.
24 April 2011
Lepasnya Belenggu Dosa (1 Tim 1:12-17)
Acapkali manusia tidak menyadari adanya keterikatan/belenggu dosa. Mereka hanya dipusingkan oleh pergumulan hidup sehari-2. Untuk itu jemaat perlu disadarkan tentang seriusnya dosa, dan bagaimana seharusnya kita hidup tatkala telah dilepaskan dari ikatan ini? Seharusnya kita serius juga untuk mengalami hidup yang diubahkan.

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Jenik Purwoadi, Pdt. Jhonatan, Ev.
Kaventius, Ev. Monika King, Ev.

Jumat, 01 April 2011

BARANGSIAPA TIDAK BERDOSA . . .

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. 3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. 4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. 5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” 6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. 7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Yohanes

Salah satu hal yang dapat kita renungkan dari bacaan ini adalah keadaan SADAR DIRI yang masih dimiliki oleh orang-2 di sekitar Yesus dan wanita yang kedapatan melakukan zinah.
Mereka, yang saya maksudkan adalah ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (mungkin juga orang-2 yang awalnya menikmati pengajaran Yesus) – yang nota bene adalah orang-2 Yahudi yang hidup untuk taat kepada hukum-2 dan Taurat adalah segala-galanya. Ini sebuah kesadaran yang menghantar mereka menjunjung legalisme, bahkan mempergunakan hukum bukan sekedar untuk melayani manusia, tetapi untuk menjebak orang lain “atas nama” hukum. Mereka bermaksud menjebak Yesus dengan menggunakan hukum Musa.
Yesus tidak menyangkali hukum Musa, namun juga tidak mendebat mereka dengan alasan-2 teologis, yang saya yakin akan membuat mereka terdiam “mati kutu.” Secara halusnya, Yesus menyentuh kesadaran mereka kepada satu kondisi yang paling hakiki, yang membuat mereka terdiam seribu bahasa, dan tidak dapat berbuat apa-2. Yakni kesadaran diri akan DOSA.
Perenungan. Bila kita berada dalam situasi tersebut, apakah anda akan melakukan hal yg sama, atau tetap mengambil batu dan melempari si pezinah? Bukankah anda tidak menyalahi hukum?! jp

Sabtu, 02 April 2011

JANGAN BERBUAT DOSA LAGI

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” 11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Yohanes

Bagi kita sudah sewajarnya bila kesalahan harus mendapatkan hukuman, bahkan dianggap sebagai ketidak adilan bilamana hukuman tidak diberikan bagi mereka yang melakukan kesalahan. Apalagi bila seseorang kedapatan melakukan dosa, yang salah secara moral dan mencemari kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Wajar, bila dihukum.
Apakah Yesus dan orang-orang yang sengaja menjebak Yesus dan seolah-olah memiliki hak untuk merajam, dapat disebut tidak wajar (bahkan melakukan pelanggaran karena tidak menegakkan hukum)? Tentu saja tidak semudah itu menjawabkan, karena alasan orang banyak dan Yesus yang sama-2 tidak menghukum memiliki alas an yang berbeda. Mereka tidak menghukum wanita itu karena ke-SADAR-an DIRI akan DOSA jauh lebih penting ketimbang sekedar ketaatan akan hukum. Tetapi yang Yesus lakukan tentu saja memiliki alasan PENGAMPUNAN.
Ucapan Yesus tidak berhenti hanya “Akupun tidak menghukum engkau,” tetapi IA juga memesankan agar jangan berbuat dosa lagi kepada wanita itu. “Ketidak wajaran” yang Yesus lakukan, yakni memberikan PENGAMPUNAN (bukan hukuman bagi yang salah) dapat disebut sebagai belas kasihan atau kasih karunia Allah. Tetapi ingat! Pengampunan juga memiliki sisi lain, yakni sisi TUNTUTAN, yakni tuntutan untuk berubah, tuntutan untuk meninggalkan hidup lama kita, tuntutan untuk tidak berbuat dosa lagi.
Perenungan. Setiap kita membutuhkan pengampunan, karena setiap kita berdosa; bahkan setiap kita sangat senang & menyukai pengampunan, masalahnya – apakah setiap kita bersedia memenuhi tuntutan-tuntutan yang terlahir dari kosekuensi PENGAMPUNAN? Penghargaan kita kepada pengampunan Allah akan tercermin dengan jelas pada sejauh apa keinginan kita untuk meninggalkan dosa dan hidup lama kita, dan menggantikannya dengan kehidupan ciptaan Tuhan yang dilahir barukan oleh Roh Kudus. jp
Minggu, 3 April 2011

Dimulai Dari Sebuah Kesadaran

Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
(Luk. 15:17-19)

“Sudah salah kok tidak mau mengaku!” Kata-kata ini yang mungkin kita katakan ketika kita melihat seseorang yang jelas-jelas salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya. Jangankan mengakui kesalahan, bahkan terkadang berusaha membenarkan diri dan mencari-cari alasan. Bukankah rasanya kesal menghadapi orang yang sedemikian? Tapi tunggu dulu. Jangan-jangan kita pun melakukan hal yang sama. Benarkah? Kalau dalam hati kita berkata, “Ah, tidak tuh!” maka mungkin kita ada dalam posisi yang sama. Mengapa saya katakan demikian? Karena pada dasarnya manusia memang selalu berusaha melindungi diri dari kecaman dan tuduhan orang lain. Mengakui kesalahan membuat diri kita berada dalam kondisi yang tidak nyaman.
Masalahnya ada orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahannya bukan karena tidak mau, tapi lebih tepatnya karena mereka tidak menyadari kesalahannya. Seringkali manusia baru menyadari kesalahannya ketika berada dalam titik terendah dalam hidupnya, dalam kondisi yang tidak nyaman. Di situlah ia mulai bertanya, “Mengapa kok kondisinya jadi seperti ini? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?” Jadi, titik awal yang diperlukan untuk membawa kepada pengakuan adalah sebuah kesadaran bahwa ia bersalah.
Kondisi yang sama yang dialami oleh si anak bungsu. Pada awalnya ia nampaknya merasa bahwa apa yang ia lakukan bukanlah hal yang salah, karena toh warisan itu memang akan menjadi bagiannya, cepat atau lambat. Jadi tidak ada salahnya jika ia memintanya sebelum ayahnya meninggal. Ia juga merasa berhak menggunakannya untuk berfoya-foya. Namun kesadaran bahwa ia salah barulah muncul ketika ia kehabisan seluruh hartanya dan hidup menderita. Kemudian ia kembali kepada bapanya dengan suatu pengakuan bahwa ia bersalah. Anak bungsu ini juga siap dengan segala konsekuensi yang harus ditanggungnya. Dan betapa indahnya ketika bapanya mengampuninya.
Adakah saat ini kita melakukan kesalahan? Jika kita menyadarinya, akuilah kesalahan itu, khususnya kepada orang yang kepadanya kita bersalah. Jika kita tidak merasa bersalah, mungkin kita memerlukan masukan dari orang lain untuk membuat kita tersadar. Dan yang paling penting, jangan lupa bercermin pada firman Tuhan supaya kita tahu apakah kita ada dalam posisi yang benar. Amin. Nix’z

Senin, 4 April 2011
Dibutuhkan Keterbukaan

Selidikilah aku, ya Allah, kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.
(Mzm. 139:23-24)

Pada renungan kemarin kita sudah membahas, bahwa untuk mengakui sebuah kesalahan perlu diawali oleh sebuah kesadaran. Tapi kalau kita mau jujur, terkadang tidak cukup hanya dengan kesadaran, bukan? Ada kalanya kita menyadari bahwa kita salah, tapi kita tetap tidak mau mengakuinya. Kita pun menemukan ada orang-orang yang demikian, dan kepada orang-orang yang sedemikian kita seringkali meletakkan cap “keras kepala”.
Selain sebuah kesadaran, ada hal lain yang diperlukan supaya kita dapat melangkah untuk membuat sebuah pengakuan. Hal tersebut adalah keterbukaan. Keterbukaan yang saya maksud adalah keterbukaan untuk diberi tahu dan dinasehati, keterbukaan untuk dinyatakan segala kesalahan kita. Untuk melakukannya tentu saja tidak mudah, karena ketika kita membuka diri agar kesalahan kita dinyatakan kita maka kita meletakkan diri kita pada posisi yang tidak nyaman. Kita harus mengakui bahwa kita melakukan dosa, melakukan kebodohan, keegoisan, dan mengikuti hawa nafsu.
Melalui Daud, kita bisa mendapatkan sebuah teladan tentang keterbukaan. Daud adalah seorang raja yang rendah hati. Ia tidak menempatkan dirinya pada posisi “paling benar”, sebaliknya ia justru membuka dirinya di hadapan Tuhan supaya Tuhan mengkoreksinya. Kenapa? Karena ia menyadari di dalam keberadaannya sebagai seorang manusia ia tidak jauh dari kesalahan. Daud bukan hanya meminta agar Tuhan mengkoreksi tindakannya yang salah, akan tetapi bahkan sampai isi hati dan pikiran-pikiran pun Daud mau Allah memeriksanya dan menunjukkan salahnya.
Bukti dari keterbukaan Daud kepada Allah bukan saja diungkapkan dalam sebuah Mazmur, namun dalam kisah hidupnya, ia pun sungguh menunjukkan keterbukaan di hadapan Tuhan. Misalnya saja ketika Tuhan memakai Nabi Natan untuk menegur dosa-dosa Daud, maka Daud tanpa berusaha menutupi atau menyangkali berkata, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Tuhan pun berkenan mengampuninya.
Marilah kita belajar untuk terbuka, bukan saja di hadapan Tuhan, tapi juga di hadapan sesama kita, karena mungkin Allah memakai mereka untuk menyatakan dosa dan kesalahan kita. Singkirkan keangkuhan atau rasa malu. Tidak apa-apa ketika orang menyatakan kesalahan kita, karena kita masih perlu masukan-masukan itu untuk dapat bertumbuh lebih baik lagi. Amin.
Nix’z
Selasa, 5 April 2011
Bercermin dari firman Tuhan

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran
(2 Tim. 3:16)

Suatu kali seorang mahasiswa – katakanlah namanya Bella – menolak ketika temannya “titip absen”, karena baginya ini melanggar nilai kejujuran. Namun kemudian temannya ini menganggap Bella bersalah karena mengabaikan nilai persahabatan dan dianggap tidak mau menolong. Teman Bella ini kemudian mulai menceritakan “kesalahan” Bella pada teman-teman lainnya. Akibatnya, Bella didesak oleh teman-teman lain yang mendengar cerita tersebut untuk meminta maaf kepada teman Bella. Haruskah Bella mengaku salah dan meminta maaf? Bagaimana menurut pendapat kita?
Saat ini ada begitu banyak nilai di tengah kehidupan masyarakat. Standar nilai itu tentu saja bersifat sangat relatif. Ketika kita tidak melakukan nilai tersebut, kita bisa dipandang bersalah oleh lingkungan kita. Jadi, standar apakah yang seharusnya dipakai untuk menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak? Standar nilai apa yang harus kita pakai untuk bercermin, sehingga kita tahu apakah kita sudah melakukan yang benar atau belum?
Firman Tuhan menyatakan bahwa standar yang benar, yang patut kita pakai untuk bercermin adalah Alkitab – Firman Tuhan. Di dalam 2 Tim.3:16-17 dinyatakan, bahwa Firman Tuhan bukan saja berguna untuk mengajar, tetapi juga untuk menyatakan kesalahan. Dalam versi bahasa Inggris digunakan kata reproof, yang berarti membuktikan dosa/kesalahan manusia.
Secara alami, manusia selalu berusaha membenarkan dirinya. Ketika kita bersalah, maka reaksi otomatis manusia berdosa kita akan membuat 1001 alasan untuk membenarkan diri. Alasan-alasan ini juga yang kemudian membuat kita tidak menyadari kesalahan kita.
Ketika ktia melakukan kesalahan, sebelum kita membuat pembenaran-pembenaran diri dan alasan-alasan, marilah bercermin kepada firman Tuhan. Firman Tuhan tidak akan berdusta, Firman Tuhan menyatakan kebenaran secara gamblang. Firman Tuhan akan memperlihatkan kepada kita, siapakah kita yang sesungguhnya, apakah kita benar atau kita memang bersalah. Untuk dapat menggunakan Firman Tuhan sebagai cermin kebenaran, teruslah setia di dalam merenungkannya. Jangan membaca secara selektif – hanya ayat-ayat yang menjanjikan berkat atau penghiburan, tetapi juga ayat-ayat yang mengecam kita, yang menunjukkan kesalahan kita, yang menasehati kita.

Doa: Tuhan, tolonglah aku menjadi pribadi yang terbuka untuk dikoreksi oleh Firman-Mu. Singkapkanlah setiap dosa dan kesalahanku melalui Firman-Mu yang benar. Nix’z
Rabu, 6 April 2011
Untuk Menjadi Lebih Baik

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
(2 Tim. 3:16-17)

Untuk apakah kita mengakui kesalahan kita? Sekedar mendapatkan pengampunan dari orang lain dan dari Allah? Atau sekedar membuat hati nurani kita menjadi lebih tenang? Jika kita menjadi orang tua dan mendapati anak kita melakukan kesalahan, tentu kita mau anak kita mengakui kesalahannya dengan kesadaran penuh. Tapi lebih jauh dari itu, kita tentu berharap anak kita tidak melakukan kesalahan lagi, memperbaiki dirinya sehingga menjadi lebih baik.
Kemarin kita sudah belajar bahwa Firman Tuhan bermanfaat untuk menyatakan kesalahan yang kita lakukan. Tapi tentu saja tidak berhenti hanya di sana. Apalah artinya kalau kita disadarkan bahwa kita bersalah, lalu kita mengakuinya, kita minta ampun, tapi kemudian kita melakukan kesalahan itu lagi dan lagi. Firman Tuhan bukan sekedar berguna untuk menunjukkan kesalahan kita sehingga kita bisa mengakuinya – baik kepada orang yang kepadanya kita bersalah atau kepada Tuhan – melainkan supaya kita menjadi lebih baik.
Setelah melakukan kesalahan, setiap orang perlu diberi tahu bagaimana yang seharusnya dan apa yang benar. Itulah yang seharusnya terjadi dalam diri orang percaya. Jangan hanya berpuas diri ketika kita berani mengakui kesalahan. Kita harus melangkah lebih jauh dari itu, yaitu untuk belajar akan kebenaran dan memperbaiki kelakuan kita, karena ada pekerjaan besar yang harus kita lakukan. Tuhan mau agar setiap orang milik-Nya terus menerus diperlengkapi untuk mengerjakan perbuatan baik (2 Tim. 3:17). Perbuatan baik itu sendiri mengacu kepada pelayanan kita kepada Tuhan, pelayanan yang bukan hanya di gereja, melainkan di dalam seluruh aspek hidup kita. Tujuan dari perbuatan baik itu tentu saja agar kemuliaan Tuhan dinyatakan. Ini adalah tujuan yang Tuhan letakkan di dalam diri kita ketika Ia menciptakan kita, yaitu supaya hidup kita memancarkan kemuliaan Tuhan.
Jadi, mengakui kesalahan adalah pintu supaya kita menyadari bahwa kita belum sempurna, kita masih harus belajar tentang kebenaran agar kita menjadi lebih sempurna dan bisa menjalankan tuga yang Tuhan berikan bagi kita untuk kemuliaan-Nya.
Doa: Tuhan, tolong aku supaya bukan hanya mengakui kesalahan, tapi juga mau terus memperbaiki diri supaya semakin hari menjadi semakin seperti-Mu dan demikian aku bisa memuliakan-Mu. Nix’z
Kamis, 7 April 2011
Tak Lepas Dari Konsekuensi

7Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel. 17Dan berkatalah Daud kepada Allah: “Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa umat-Mu.”
(1 Taw. 21:1-17)

Apa yang dituliskan di dalam 1 Taw. 21:1-17 menggambarkan kesalahan yang telah dilakukan oleh Daud. Ia menghitung jumlah orang Israel. Mengapa sensus ini menjadi kejahatan di mata Tuhan? Karena tujuan Daud mengadakan sensus adalah untuk menghitung kekuatan militer yang dimilikinya. Di ayat 5 kita bisa melihat bahwa yang ingin Daud hitung adalah rakyat yang berperang. Tindakannya ini menggambarkan kesombongan, sekaligus juga ambisi. Dengan melakukan ini Daud meletakkan rasa amannya pada kekuatan militer yang dimilikinya, bukan pada Tuhan. Inilah letak kesalahan Daud.
Sekalipun Yoab sudah mengingatkan Daud untuk tidak melakukan hal ini, tapi Daud tetap bersikukuh dengan keinginannya. Inilah kesalahan Daud yang lain, ia tidak mau mengikuti nasehat yang benar. Ada kemungkinan pada saat Yoab memperingatkannya, Daud tidak mau mengakui bahwa keinginannya adalah suatu hal yang salah.
Di bagian akhir kisah ini kita bisa tetap melihat bahwa Daud adalah pribadi yang terbuka di hadapan Tuhan, yang mau dikoreksi. Ketika Tuhan menegurnya, Ia mengakui kesalahannya di hadapan Tuhan. Namun demikian, sebuah pengakuan tidak secara otomatis membebaskannya dari hukuman. Sayangnya hukuman yang diterima oleh Daud juga berdampak pada kehidupan rakyat Israel. Betapa besar konsekuensi yang harus diterima Daud.
Keberanian untuk mengakui kesalahan tidak berhenti hanya pada pengakuan saja. Kita pun harus berani menerima konsekuensi yang mungkin menimpa kita karena kesalahan yang kita lakukan. Bisa jadi kita akan mendapatkan hukuman, ataupun kita harus melakukan restitusi (penebusan/penggantian) pada orang yang kepadanya kita bersalah. Sama halnya dengan Allah yang mengampuni kita ketika kita berdosa, tetapi Allah akan tetap membiarkan kita menanggung akibat dosa yang kita lakukan. Tentu saja tujuannya adalah supaya kita belajar dari kesalahan. Biarlah kiranya kita menjadi orang yang bertanggung jawab, bertanggungjawab atas kesalahan dan menanggung semua konsekuensinya.
Doa: Tuhan tolonglah saya bukan hanya berani mengakui kesalahan, tetapi juga siap menghadapi semua konsekuensinya. Amin. Nix’z

Jumat, 8 April 2011
Dampak Sebuah Pengakuan 1 – Hubungan dengan Allah

8Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.9Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
(1 Yoh. 1:5-10)

Jika kita menjadi orangtua, lalu secara tidak sengaja kita mengetahui bahwa anak kita melakukan suatu kesalahan kepada kita, tentu kita kecewa. Lebih kecewa lagi kalau anak kita tidak mengakuinya pada kita. Tentu kita akan mengampuni anak kita, tapi tentu kita akan lebih senang kalau anak kita langsung mengakui kesalahannya pada kita, bukan menutup-nutupi kesalahan tersebut.
Allah tentu ingin agar anak-anak-Nya melakukan hal yang sama. Ia adalah Allah yang Maha Tahu, Ia tahu setiap dosa-dosa kita. Tentu saja Dia juga adalah Allah yang mengampuni. Sejak kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita sudah diampuni. Namun bagaimana pun dosa adalah sesuatu yang jahat di mata Tuhan. Dosa akan membuat hubungan kita dengan Allah menjadi rusak. Karena itulah Ia mau agar kita datang kepada-Nya untuk mengakui dosa-dosa kita, supaya hubungan kita dipulihkan.
Ayat 9 mengatakan bahwa Ia adalah setia dan adil, Ia tentu akan mengampuni segala dosa kita. Namun ada satu kondisi yang Allah tuntut dari kita, yakni jika kita mau mengakui dosa kita. Pengakuan sejati melibatkan komitmen untuk tidak melakukan dosa lagi. Kita tidak tulus mengakui dosa di hadapan Tuhan jika kita berencana untuk melakukannya lagi dan menginginkan pengampunan yang sementara. Kita juga harus berdoa untuk meminta kekuatan melawan pencobaan di kali lainnya.
Mengapa kita tidak mengakui dosa kita pada Tuhan? Apakah kita takut ketahuan? Tanpa kita mengaku pun, Tuhan tahu dosa kita. Apakah kita takut tidak diampuni? Allah berjanji akan mengampuni kita. Jadi, bukankah jauh lebih baik untuk mengakuinya di hadapan Allah. Bukan saja kita akan diampuni tetapi pengakuan itu juga akan memberikan kelegaan pada diri kita, kita bebas dari rasa bersalah. Selain itu, dengan mengaku kita juga membuat komitmen di hadapan Tuhan untuk tidak mengulanginya lagi. Marilah datang kepada Tuhan dan akuilah dosa-dosa kita, supaya kita dapat menikmati persekutuan kita dengan Tuhan secara maksimum, tanpa dihalangi dosa, dan kita bisa bersukacita dengan hal itu.
Doa: Tuhan, Engkau Maha Tahu, Engkau tahu segala dosaku, tapi saat ini aku datang untuk mengakui dosa-dosaku, …….. Tuhan biarlah aku belajar dari kesalahanku dan tidak lagi mengulangi dosa-dosaku sehingga aku bisa lebih lagi menyenangkan hati-Mu. Nix’z

Sabtu, 9 April 2011

Dampak Sebuah Pengakuan 2 – Hubungan dengan sesama

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.
(Yak. 5:16)

Dampak dari dosa bukan saja pada relasi kita dengan Tuhan, melainkan juga berdampak secara negatif pada relasi kita dengan sesama. Marilah melihat kembali pengalaman hidup kita atau pengalaman hidup orang lain, maka kita akan setuju bahwa dosa memang merusak relasi manusia. Dosa pertama yang dilakukan oleh Adam dan Hawa merusak relasi mereka. Adam mempersalahkan Hawa. Cobalah lihat pula dalam kisah-kisah lainnya, sebutkan saja misalnya kisah Yakub dan Esau. Hubungan kakak beradik ini menjadi rusak karena dosa dan kesalahan Yakub yang telah menipu ayah dan kakaknya.
Bagaikan sebuah vas yang jatuh dan retak, kita mungkin dapat memperbaikinya lagi namun tidak akan pulih seperti semula. Demikian pula sebuah relasi. Relasi yang rusak karena dosa dan kesalahan bisa saja diperbaiki, namun tentu akan meninggalkan bekas. Sekalipun demikian, kita tentu harus mengupayakan yang terbaik, bukan? Jangan memilih untuk membiarkan relasi itu rusak berantakan. Sekalipun membekas, tentu lebih baik diperbaiki daripada tidak sama sekali.
Bagaimana memperbaiki sebuah relasi yang rusak karena dosa dan kesalahan? Jawabannya adalah melalui sebuah pengakuan. Tentu saja pengakuan yang diperlukan adalah sebuah pengakuan yang tulus, disertai dengan keinginan untuk menebus kesalahan dan komitmen tidak mengulanginya lagi.
Di Yak. 5:16, Yakobus mengajak kita untuk senantiasa mengakui dosa kita. Jangan sampai kita menutupi dosa atau menunda-nunda pengakuan yang seharusnya kita lakukan. Tentunya pengakuan dosa itu pertama-tama dilakukan kepada Tuhan, kemudian kepada orang-orang yang terkena akibat dari dosa atau kesalahan tersebut. Dengan demikian, kita akan mengalami kesembuhan. Kesembuhan yang dimaksud di sini bukan sekedar mengacu pada kesembuhan fisik tapi juga mengacu pada kesembuhan jiwa. Ya, ketika kita menyimpan dosa, kita sedang merusak jiwa kita. Dengan mengakuinya kita akan mengalami kesembuhan. Kepada siapakah kita bersalah namun belum mengakuinya? Marilah kita mengakui dosa kita. Jika ada orang yang mengakui kesalahannya pada kita, ampunilah dia.

Nix’z
Minggu, 10 April 2011
PENGAMPUNAN & MENGAMPUNI
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;” Matius 6:12

Dalam sebuah usaha atau bisnis, biasanya transaksi selalu terjadi karena adanya kesepakatan antara dua belah pihak yang bertransaksi. Transaksi tidak akan terjadi kalau kedua belah pihak masing-masing bertahan dengan ke-akuan atau keegoan masing-masing.
Dalam proses pengampunan dan mengampuni pun terjadi demikian. Ayat firman Tuhan di atas menerangkan secara jelas kepada kita bahwa ada pihak yang meminta diampuni dan ada pihak yang mau mengampuni. Dalam hubungannya dengan Tuhan, meminta ampun dan mau memberi pengampun terjadi antara manusia dan Tuhan, tetapi dalam hubungannya dengan sesama, meminta ampun dan mau mengampuni terjadi antara manusia dan sesamanya. Mengapa demikian? Karena Tuhan akan mengampuni orang-orang yang mau memberi pengampunan. Sebab orang yang demikianlah yang memahami arti sebuah pengampunan Tuhan, sehinga ia pun mau melepaskan pengampunan kepada orang yang berdosa terhadapnya.
Memohon pengampunan merupakan gambaran sikap rendah hati dan sadar diri bagi manusia. Sebab mereka yang mau meminta ampunan Tuhan menyadari keberadaan diri mereka yang berdosa. Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang mau dengan rendah hati mengakui keberdosaannya dan ketidaklayakkannya di hadapan Tuhan, mereka itulah yang diterima oleh Bapa di Surga. Itulah yang dilakukan oleh pemungut cukai dalam Luk 18:13, “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Mau mengampuni kesalahan orang lain merupakan sikap seorang manusia yang menyadari bahwa dirinya sudah diampuni oleh Allah. Dan sebagai ucapan terimakasihnya kepada Allah, ia mau melepaskan pengampunan kepada orang yang bersalah kepadanya. Sikap mau mengampuni yang terlihat dalam diri seseorang adalah sifat Allah yang hidup dalamnya.
Doa: Tuhan, berilah aku kerendahan hati untuk bisa meminta ampun dan memberikan pengampunan, karena aku sudah mendapatkannya dari-Mu.
Senin, 11 April 2011

DASAR PENGAMPUNAN DAN MENGAMPUNI
(Bapa, Ampunilah Mereka!)

Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Lukas 23:34a

Firman Tuhan di atas merupakan satu dari ketujuh perkataan Tuhan Yesus di kayu salib. Perkataan itu menyatakan kasih Yesus yang amat besar bagi dunia (Yoh.3:16). Yesus bukan saja menyatakan kasih Allah tetapi juga memberikan teladan bagi setiap pengikut-Nya, agar mengasihi setiap orang yang membenci mereka. Isi doa Tuhan Yesus tersebut selaras dengan ajar-Nya kepada murid-murid-Nya tentang kasih kepada musuh. Tuhan Yesus berkata: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat.5:44).

Saya yakin, tidak ada pribadi yang seperti Yesus di dunia ini, yang mau berdoa bagi orang-orang yang sudah berbuat jahat kepada-Nya. Tuhan Yesus meresponi orang-orang yang menghina dan mencela diri-Nya dengan hati yang tulus agar Bapa mengampuni dosa mereka. Tuhan Yesus menyadari bahwa mereka yang menyalibkan diri-Nya sedang dalam kebutaan rohani. Mereka tidak tahu bahwa yang dilakukan itu merupakan dosa kepada Allah.

Itulah alasan mengapa kita murid-murid-Nya harus mengampuni sesama kita. Dasar pengampunan dan mengampuni adalah pengampunan Tuhan dan teladan Kristus yang mau mengampuni mereka yang berdosa. Jadi tidak ada lasan bagi setiap murid Kristus untuk tidak mengampuni, sebab mereka sudah diampuni oleh Allah. Kasih Allah yang tak bersyarat bagi setiap manusia membuat kita berani meminta pengampunan dari Allah dan memampukan kita memberikan pengampunan bagi orang lain.

Doa: Tuhan, ajarlah aku untuk melihat kepada kasih-Mu. Engkau mau menerima orang yang berdosa, bahkan berdoa bagi mereka. Tolonglah aku supaya bisa meneladani perbuatan-Mu. Kvn

Selasa, 12 April 2011

PENTINGNYA PENGAMPUNAN & MENGAMPUNI DALAM PERTUMBUHAN ROHANI
“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Yes.59:1-2
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Matius 5:23-24
Tidak mau mengampuni merupakan dosa kepada Allah, alasannya: pertama, menghina dan tidak menghargai pengampunan Tuhan. kedua, tdk menyatakan kasih Tuhan. ketiga, tdk mencerminkan kemuliaan Tuhan. Dosa akn menjadi penghalang dlm membangun hubungan dgn Allah.
Pertumbuhan rohani dimulai dan berdasar pada hubungan dengan Tuhan. Relasi kita dengan Tuhan akan menjadi pusat dari pertumbuhan rohani kita. Alkitab berkata: hubungan dengan Tuhan bisa dibangun jika hubungan kita dengan manusia dipulihkan. Tuhan Yesus mengatakannya dalam Matius 5:23-24. Oleh sebab itu, pengampunan dan mengampuni sangat penting dalam mencapai pertumbuhan rohani yang baik.
Setiap orang yang sulit melakukan pengampunan dan mengampuni, pasti sulit mengalami pertumbuhan rohani. Setiap orang yang tidak mengalami pertumbuhan rohani, pasti hubungannya dengan Allah sedang bermasalah. Dan setiap orang yang mengalami masalah hubungan dengan Tuhan, pasti ada dosa yang menjadi penghalangnya. Hubungan yang baik dengan sesama bisa menjadi gambaran hubungan yang baik dengan Tuhan, dan demikian sebaliknya.
Doa: Tuhan Yesus, tolonglah hamba agar bisa mengampuni sehingga bisa bertumbuh secara rohani. Kvn

Rabu, 13 April 2011
MASALAH-MASALAH DALAM “TRANSAKSI”
PENGAMPUNAN & MENGAMPUNI

“…Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihi engkau?”
Matius18:32-34
Mengapa banyak orang sulit melakukan pengampunan dan mengampuni? Karena ada masalah-masalah yang dihadapi dalam proses melakukan pengampunan dan mengampuni tersebut. Dalam Matius 18:23-34, kita akan melihat masalah-masalah yang sering menjadi penghalang untuk melakukan pengampunan dan mengampuni.
Pertama, seseorang sulit melakukan pengampunan dan mengampuni karena tidak menyadari keberdosaannya dan tidak bisa melihat kasih dan pengampunan Tuhan. Hamba yang jahat dalam perumpamaan di Mat.18:32-34, tidak mau mengampuni hamba lain yang berhutang kepadanya seratus dinar, ia menghukumnya dan memasukannya ke dalam penjara. Hamba yang jahat ini tidak menyadari bahwa ia sendiri sebagai orang yang diampuni oleh raja karena memohon pengampunan atas hutang-hutangnya. Seseorang yang merasa diri lebih baik dari orang lain pasti sulit melakukan pengampunan dan mengampuni.
Kedua, seseorang sulit melakukan pengampunan dan mengampuni, karena mau dimengerti tapi tidak mau mengerti. Hamba yang jahat ini memohon agar sang raja mengerti keadaannya, namun ia sendiri tidak mau mengerti keadaan hamba yang lain yang berhutang kepadanya.
Ketiga, seseorang sulit melakukan pengampunan dan mengampuni, karena egois (berpikir untuk diri sendiri). Hamba yang jahat ini hanya memikirkan keberadaannya sendiri. Ia berusaha agar raja memberi keringanan kepada dirinya, memberinya waktu untuk membayar hutang-hutangnya. Tetapi ia sendiri tidak mau peduli kepada hamba lain yang berhutang kepadanya, yang juga berharap agar diberi waktu untuk melunasi hutang-hutangnya.

Doa: ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini agar bisa menyingkirkan masalah-masalah yang membuat hamba sulit mengampuni. Kvn

Kamis, 14 April 2011

AKIBAT TIDAK MENGAMPUNI
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni juga kesalahanmu.” Matius 6:14-15

Bagian firman Tuhan ini tidak berbicara tentang kasih dan pengampunan Bapa yang bersyarat, melainkan sedang berbicara pentingnya seseorang bisa mengampuni dalam kaitannya menerima dan mengerti kebenaran pengampunan Allah Bapa. Mengampuni kesalahan orang lain menjadi gambaran bahwa kita mengerti dan menerima pengampunan Allah. Jika kita tidak mengampuni kesalahan orang lain, maka kita sedang menolak pengampunan Allah dan kita tidak bisa menikmati suasana damai yang ditimbulkan dari pengampunan Allah bagi dosa-dosa kita.
F.F. Beruce mengatakan bahwa perlunya seseorang mempunyai roh pengampunan mendapat tempat yang sentral dalam pengajaran Tuhan Yesus (band. Luk.11:4; Mat.6:14-15). Dimana ada tanggapan dengan kasih yang tulus, di sana ada roh pengampunan; dan dimana ada roh pengampunan, di sana ada pengharapan yang lebih besar atas kemurahan pengampunan Allah, dan akibatnya adalah kasih yang lebih besar lagi.
Akibat yang ditimbulkan jika kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain adalah penolakan kita terhadap pengampunan Allah, dan Allah sendiri “membatalkan” pengampunannya atas dosa kita, sebab dengan tidak mau mengampuni orang lain kita sedang berada di dalam dosa tidak mengasihi sesama. Pengampunan Allah berlaku bagi orang yang mau meninggalkan dosa. Dengan kata lain, seseorang dapat kehilangan pengampunan Allah dengan tetap menyimpan dendam dan tidak bersedia mengampuni orang lain (lihat Mat.18:23-34). Menolak pengampunan Allah berarti menolak kasih karunia-Nya; menolak kasih karunia Allah berarti menolak keselamatan dari Tuhan.

Doa: Tuhan berikan kepadaku roh pengampunan, sehingga hamba-Mu mampu mengampuni kesalahan sesamaku, meskipun sulit bagiku. Kvn

Jumat, 15 April 2011

BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Matius 18:21-22

Memang harus diakui bahwa tidak mudah menerima dan mengampuni orang lain yang melakukan kesalahan secara berulang-ulang kepada kita. Dan sering kali untuk “membenarkan” hal ini kita berkata “batas kesabaranku sudah habis!” Mungkin ini juga yang terlintas dalam benak Petrus. Bagi Petrus mengampuni orang lain yang berbuat dosa kepadanya sebanyak tujuh kali dianggap batas kesabaran yang masuk akal. Dan apabila lebih dari itu sudah tidak wajar lagi. Tapi apa tanggapan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus mengatakan, bukan tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Mungkin saat seseorang berhasil mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali, pengampunan telah mendarah daging dalam dirinya.
Dalam hal ini Tuhan sedang menuntut sebuah kesabaran dan kelapangan hati yang selalu terbuka bagi pertobatan orang lain. Sebagaimana Tuhan sabar dan selalu membuka hati-Nya untuk kita, demikian juga kita harus selalu sabar dan terbuka bagi orang lain. Tindakan ini tidak membenarkan perilaku ‘berbuat dosa bertobat dan berbuat dosa lagi, dan bertobat lagi’, melainkan membawa kita semakin serupa dengan Kristus yang kasih-Nya tidak terbatas. Maka sudah sewajarnyalah kita murid-murid-Nya meneladani Dia yang Maha Pemurah itu.
Perbuatan mengampuni orang lain tidak langsung sempurna apabila kita hanya melakukannya satu atau dua kali, melainkan harus berulang kali sampai pengampunan dan mengampuni itu menyatu dengan karakter kita. Dan perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi musuh, hanya mungkin kita lakukan apabila kita sudah memiliki karakter mengampuni yang teruji dan terbukti kemampuannya. Nah, mungkin harus mencapai titik tujuh puluh kali tujuh kali.

Doa: Tuhan berikan aku hati seperti hati-Mu. Berikan aku kesabaran yang mampu mengampuni orang lain secara terus menerus. Kvn

Sabtu, 16 April 2011
PENGAMPUNAN & PENGHUKUMAN
“TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” Bilangan 14:18
“Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?” Mikha 7:18

Alkitab kita, dari Kerjadian-Wahyu menyatakan pengampunan dan penghukuman dilakukan Allah bagi dosa. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej.3), Allah sudah menunjukkan kasih-Nya yang mau mengampuni dengan berinisiatif mencari Adam dan Hawa (Kej.3:9), Allah menjanjikan penebusan dari keturunan perempuan yang akan meremukan kepala iblis (Kej.3:15). Pengampunan Allah terus terjadi sepanjang sejarah umat Israel yang tegar tengkuk. Berulang kali umat Israel berbuat dosa, berulang kali pula Allah mengampuni mereka ketika mereka bertobat. Pengampunan Allah yang bersifat menyeluruh (dulu, sekarang, dan yang akan datang) dinyatakan semakin jelas dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus yang mati di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga.
Allah juga menghukum dosa. Ketika umat manusia terus berbuat dosa Allah memusnahkan umat manusia, kecuali keluarga Nuh yang diselamatkan (Kej.6-9). Umat Israel pun demikian, Allah menghukum mereka setiap kali mereka berubah setia kepada Allah. Dan penghukuman Allah atas dosa umat manusia ditimpakan kepada Tuhan Yesus dengan mati di kayu salib. Allah tidak pernah kompromi dengan dosa, sebab upah dosa ialah maut (Rom.6:23a).
Allah Maha Pengampun, karakter Allah ini harus tertanam dalam setiap anak-anak-Nya. Allah tidak kompromi dengan dosa, inilah tindakan Allah yang harus dimiliki oleh anak-anak-Nya. Setiap kita harus mampu melakukan pengampunan dan mengampuni, namun dalam waktu yang sama kita tidak boleh membiarkan dosa/kompromi dengan dosa.
Doa: Tolonglah hamba ya Tuhan,agar memiliki kasih dan keadilan-Mu. Kvn
Minggu, 17 April 2011

Anugerah Pengampunan Dari Allah Sebagai Dasar Mengampuni

3:3 Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu,
3:4 yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: “Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.” Dan kepada Yosua ia berkata: “Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta.”
Zakharia

Kitab Zakharia ini adalah kitab yang unik. Kitab ini adalah kitab yang berisikan nubuatan tentang pemulihan yang akan terjadi atas Yehuda. Firman Tuhan di atas merupakan salah satu penglihatan yang diberikan Tuhan kepada Zakharia. Penglihatan tentang imam besar Yosua. Dari sini kita menemukan kembali janji penyertaan Tuhan yang pernah diberikan Tuhan kepada Yosua ketika ia dipilih untuk menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel masuk ke dalam tanah Kanaan. akan tetapi yang menjadi pusat perenungan kita bukanlah janji yang diberikan tersebut tetapi kita akan melihat kepada kemurahan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Yehuda. Dari bagian ini memang memakai contoh Yosua untuk memperlihatkan akan anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya. Pada ayat dituliskan bahwa Yosua mengenakan pakaian yang kotor pada saat ia berdiri di hadapan Malaikat. Pada saat itu juga Yosua diberikan sehelai pakaian pesta. Memang bisa ditafsirkan secara harafiah bahwa Yosua mendapatkan pakaian yang lebih layak lagi untuk datang menghadap Tuhan. Akan tetapi ada makna yang lebih dalam lagi yaitu Yosua dijauhkan dari segala pelanggaran yang dilakukannya. Dalam ayat-ayat selanjutnya menuliskan tentang anugerah yang dijanjikan Tuhan kepada orang Israel yang tergenapi dalam PB dengan kelahiran Tuhan Yesus ke dalam dunia. Sebuah gambaran yang sangat jelas tentang anugerah yang diberikan Allah kepada manusia berdosa.

Saudaraku, anugerah pengampunan yg diberikan oleh Allah kpd kt orang yg berdosa ini sangatlah nyata. Anugerah itu jugalah yang menjadi dasar bagi kita untuk mengampuni orang-orang yang melakukan kesalahan kepada kita. Marilah kita bersyukur atas anugerah itu dan belajar utk mengaplikasikan anugerah tersebut di dlm kehidupan kt khususnya dlm hal mengampuni.
Doa: Tuhan, terima kasih atas anugerah pengampunan yang Kau berikan kepadaku. Ajari aku untuk mengampuni orang yang bersalah padaku. Amin. Jho
Senin, 18 April 2011

Mengampuni = Memandang Menggunakan Kacamata Allah

45:5 Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.
50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
Kejadian

Kisah Yusuf menjadi bagian yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai contoh nyata dari tindakan pengampunan. Seperti yang kita ketahui dalam kisah Yusuf, Yusuf diperlakukan dengan sangat tidak baik oleh saudara-saudaranya. Sebagai seorang yang sangat dikasihi oleh ayahnya, Yusuf menjadi seorang yang mengalami banyak penderitaan yang disebabkan oleh saudara-saudaranya. Sebagai seorang yang dipercaya untuk mendapatkan mimpi, ia pun dibenci oleh saudara-saudaranya karena mimpi itu. Kasih sayang dan mimpi tersebut akhirnya membawa ke Mesir dan menjadi seorang budak di sana. Perjalanan hidupnya di Mesir pun tidak semulus yang diharapkan. Ketika ia bekerja di rumah Potifar, masalah datang menimpanya atas tuduhan dari istri Potifar. Mungkin Yusuf berpikir jalan hidupnya sudah berubah ternyata belum. Hidup yang mulai mendapatkan kenyamanan sekarang harus dilupakannya dan hidup dalam penjara sebagai seorang tahanan. Sebuah perjalanan sulit untuk dijalani tetapi Yusuf pun jalani jalan tersebut. Kesetiaannya mengikuti jalan inilah yang membuatnya mampu untuk melihat rencana Tuhan yang indah bukan saja atas dirinya secara pribadi tetapi juga keluarga bahkan bangsanya. Yusuf memandang segala permasalahan yang terjadi atasnya hidup dari kacamata Tuhan sehingga ia bisa mengungkapkan pernyataan yang sangat luar biasa seperti yang tertulis di atas.

Saudaraku, seringkali kita mencoba memandang permasalahan/ ketidakadilan yang terjadi dalam hidup kita dengan menggunakan kacamata kita. Akibatnya adalah kita menjadi marah dan tidak bisa menerimanya. Saudaraku, mari kita belajar dari Yusuf. Yusuf mengganti kacamatanya dengan kacamata Tuhan sehingga ia pun mampu melalui semua rintangan hidup bahkan ia diberikan kebesaran hati untuk mengampuni saudara-saudaranya yang bersalah kepadanya.

Doa: Tuhan, bantu aku untuk bisa melihat dengan kacamata-Mu sehingga aku bisa mengampuni orang yang bersalah padaku. Amin. Jho
Selasa, 19 April 2011

Mengampuni = Tidak Mendendam dan Tidak Membalas

50:15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”
Kejadian

Kejadian pasal 50 ini adalah pasal dai kitab Kejadian. Pasal ini sekaligus menceritakan tentang kematian Yakub setelah ia bertemu dengan anak yang sangat dikasihinya yaitu Yusuf. Dalam pasal ini ini juga sekaligus diceritakan tentang ketakutan saudara-saudara Yusuf sepeninggalan ayah mereka. Mereka takut kalau-kalau Yusuf akan membalaskan segala dendam kesumat yang ada dalam hatinya akibat perbuatan mereka. Saudara-saudara Yusuf mengalami rasa takut yang sangat mendalam. Ini terbukti sampai mereka mengutus seseorang untuk datang menyampaikan amanat yang diberikan ayah mereka kepada Yusuf. Tetapi sungguh luar biasa, Yusuf meresponi ketakutan saudara-saudaranya itu dengan tindakan yang sangat bijaksana. Yusuf bukannya marah kepada mereka tetapi justru Yusuf menghibur hati saudara-saudaranya dan bukan hanya itu saja tetapi ia berjanji untuk menjaga saudara-saudaranya dan keturunan mereka selama Yusuf hidup.

Saudaraku, dunia yang kita huni saat ini adalah dunia yang kejam. Pembalasan dendam menjadi tema utama di dalamnya. Begitu banyak berita yang kita dengar tentang pembalasan dendam ini. Dunia mengajarkan mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. Maka tidak heran kita menyaksikan tindakan-tindakan kejahatan merajalela. Gara-gara tatapan mata, seseorang bisa menemui ajalnya. Gara-gara ucapan yang sedikit kasar, orang sampai hati membunuh. Kalau kita mau jujur, bukanlah situasi yang sama terjadi di dalam tubuh Kristus? Memang tidak sampai terjadi pembunuhan secara fisik tetapi bukanlah pembunuhan secara psikis pun terjadi?

Saudaraku, pola seperti ini tidaklah seharusnya terjadi dalam tubuh Kristus. Pola dunia ini berbeda dengan pola yang diajarkan Kristus. Saudaraku, mari kita bersama-sama melakukan pola yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita. Jangan menuntut balas karena pembalasan mutlak hanya milik Tuhan. Berdoalah dan mintalah pada Tuhan agar Ia menolong dan memampukan kita melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan di dunia ini. Amin. Jho

Rabu, 20 April 2011

Real Action of Forgiveness

45:4 Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: “Marilah dekat-dekat.” Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.
50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.
Kejadian

Kisah Yusuf ini tentu sudah tdk asing lagi bagi setiap kita. Mungkin setiap kita setuju kalau saya mengatakan bhw Yusuf adalah model pengampunan Kristiani yg nyata. Pemberian gelar kpd Yusuf ini bknlah sekedar ucapan omong kosong belaka. Alkitab dgn jelas menuliskan kpd kita ttg pengampunan yg diberikan oleh Yusuf kpd saudara-saudaranya yg menjualnya kpd orang Ismael. Ayat yg kita baca di atas berlatarbelakangkan kisah Yusuf memperkenalkan dirinya kpd saudara-saudaranya yg datang ke Mesir utk membeli makanan. Dlm kisah ini dikisahkan Yusuf menangis dgn sgt keras sampai kedengaran ke istana Firaun dan seluruh org Mesir. Ini adalah kisah pertemuan yg sgt mengharukan. Tetapi bkn ini yg ingin saya ajak utk kita renungkan melainkan bgmn Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya. Dari kisah ini kita menemukan ada kebesaran hati Yusuf utk mengampuni saudara-saudara yg tlh menjualnya. Ini terbukti dari ungkapan “saudara” yg dipakai oleh Yusuf dlm memperkenalkan dirinya. Kata “saudara” ini memiliki makna yg sgt dalam. Kata ini bkn sekedar menunjukkan kedekatan atau ikatan darah tetapi lbh lagi. Yusuf menyebut mrk saudara krn Yusuf mengenal mereka dgn baik dan demikian pula sebaliknya. Yusuf memang ada pd posisi yg dirugikan tetapi ia tdk menganggap hal tersebut sbgi pemutus hubungan persaudaraan yg ada di antara mrka. Pengenalannya akn saudara-saudaranya, membuatnya mampu menerima dan mengampuni segala kesalahan saudara-saudaranya tersebut.

Saudaraku, memanggil orang yg tlh menyakiti kita dgn sebutan saudara? Sebutan yg bkn sekedar di bibir saja tetapi sebutan yg keluar dari dlm hati kita yg terdalam. Mulailah dengan sebuah pengampunan atas segala kesalahan-kesalahan yang mungkin telah dilakukannya. Mari kita bulatkan tekad kita untuk melakukannya walaupun itu mungkin sangat sulit.

Doa: Tuhan, mampukan aku untuk melihat sisi positing dari orang yang telah menyakiti aku sehingga aku mampu memanggilnya saudara. Amin.
Kamis, 21 April 2011

Mengampuni = Tidak Hitung-Hitung

18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Matius

Matius 18 ini dimulai dengan pertanyaan Petrus tentang mengampuni. Dalam perenungan saya, Petrus datang dan bertanya kepada Yesus dengan sikap hati sedikit bangga ketika ia bertanya kepada Yesus, “Berapa kali ia harus mengampuni orang yang berbuat salah kepadanya? Sampai tujuh kali?” Dalam tradisi Yahudi, mengampuni orang biasanya dilakukan sampai tiga kali. Orang yang mampu mengampuni orang sebanyak tiga kali memperlihatkan betapa saleh dan sabarnya orang tersebut. Petrus datang kepada Tuhan dengan rasa bangga karena ia datang dengan kemurahan hati yang sangat luar biasa. Kalau tradisi mengatakan tiga kali, ia datang dengan jawaban tujuh kali. Petrus mungkin berharap mendapatkan pujian dari Tuhan tetapi sebaliknya justru Tuhan memberikan nasihat kepadanya. Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Jangan salah tafsir. Yesus tidak mengajarkan tentang limit dalam memberikan pengampunan. Mengampuni bukan 490 kali (70×7). Beberapa penafsir mencoba memberikan penjelasan tentang 70×7. Saya setuju dengan seorang penafsir yang mengatakan bahwa Yesus sedang mengajarkan konsep pengampunan yang tidak berbatas. Yang artinya pengampunan haruslah diberikan kepada seseorang sesering dia datang dan memohonkan pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Yesus sedang mengajar Petrus untuk tidak menghitung-hitung kesalahan seseorang. Kalau kita menghitung-hitung kesalahan seseorang maka sesungguhnya kita akan gagal dan kita akan dipenuhi kemarahan. Bahkan mungkin ada kecenderungan kita menyakiti hati orang yang bersalah pada kita dan mendukakan hati Tuhan.

Saudaraku, mungkin kita memiliki seorang teman yang selalu saja melukai hati kita dan mungkin saja kita bosan mendengarkan permohonan maaf darinya. Bahkan mungkin juga juga sudah jenuh memberikan maaf kepadanya karena ia pasti akan mengulangi kesalahannya tersebut. Saudaraku, jangan mundur tetapi tetaplah pertahankan sikap hati itu. Berikan ampun kepadanya sesering ia datang padamu karena itulah yang diperkenan oleh Tuhan. Amin. Jho
Jumat, 22 April 2011

Mengampuni = Tidak Mengingat-Ingat

18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Matius

Hal kedua yang saya ingin angkat dari bagian ini adalah pengampunan bukanlah sesuatu hal untuk kita ingat-ingat. Kembali kepada penafsir yang mengatakan bahwa pengampunan tidak berbatas, salah satu bagian yang diangkat adalah mengampuni seseorang berarti kita melupakan segala kesalahan yang pernah dilakukannya kepada kita. Kita tidak lagi menyimpan kesalahannya di dalam hati kita. Kita tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahannya ketika mungkin satu kali ia akan datang dan memohonkan pengampunan kembali dari kita.

Lirik lagu yang berbunyi “Sejauh timur dari barat Engkau membuang dosaku, tiada Kau ingat lagi kesalahanku. Jauh ke dalam tubir laut Kau melemparkan dosaku, tiada Kau perhitungkan kesalahanku.” Saudaraku, inilah yang dilakukan oleh Yesus terhadap kita. Kita adalah umat tebusan-Nya yang seringkali mengecewakan hati Tuhan. Seringkali kita datang memohonkan ampun dari Tuhan atas segala kesalahan kita tetapi seringkali pula kita jatuh pada lubang yang sama dan mengulangi kesalahan yang itu-itu lagi. Apa jadinya kalau Tuhan adalah Tuhan yang menyimpan kesalahan dan mengungkit kesalahan dan dosa kita? Saudaraku, bukankah hati kita sangat senang ketika kita ketika menyanyikan pujian yang saya tuliskan di atas? Kita senang karena kita tahu bahwa Allah yang kita percaya itu Allah yang benar-benar mengampuni kita atas segala kesalahan yang kita lakukan di hadapan-Nya.

Saudaraku, Allah mengharapkan kita melakukan hal yang sama. Allah ingin kita melupakan semua kesalahan teman kita yang telah menyakiti hati kita. Tuhan mau kita tidak lagi mengingat-ingat kesalahan teman kita dan Tuhan juga tidak mau kita mengungkit-ungkit kesalahan teman kita tersebut. Mari kita melakukannya. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan tetapi bukan berarti hal tersebut tidak bisa dilakukan. Jangan menyerah, saudaraku! Mari lakukan semuanya itu sambil memohonkan kekuatan dari Allah kita.

Doa: Tuhan, tolong aku untuk bisa mengampuni dengan hati yang tulus. Jangan biarkan aku mengingat-ingat kesalahan temanku. Amin. Jho

Sabtu, 23 April 2011

Kasih Menjadi BBM Mengampuni

13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 1 Korintus

Kalau tanggal 17 April saya menuliskan bahwa anugerah Allahlah yang memampukan kita untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita maka pada hari saya ingin menegaskan kepada kita bahwa kasih menjadi BBM bagi kita untuk mengampuni. Ayat yang kita baca merupakan bagian dari rasul Paulus tentang kasih. Salah satu yang menjadi perhatian kita adalah ayat 5. Dituliskan bahwa kasih itu tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Dalam terjemahan bahasa Inggris, dituliskan bahwa kasih itu tidak mudah dihasut, kasih itu tidak memikirkan yang jahat. Kalau kita mau tarik kepada sikap mengampuni maka kita dapat mengatakan bahwa kasih itu memampukan seseorang untuk mendapatkan memberikan pengampunan karena ia tidak mau dihasut dan ia tidak mau memikirkan hal-hal yang jahat tentang orang yang telah diampuninya. Ia menjadi seorang yang tulus di dalam memberikan pengampunan, ia tidak mudah dihasut oleh orang lain dan ia tidak menyesal karena memberikan pengampunan pada orang yang bersalah.

Bukankah dalam hukum yang terutama dan yang utama dicantunkan tentang kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama ini dapat diaplikasikan dalam berbagai aspek salah satunya dalam hal mengampuni. Saudaraku, ini adalah sebuah proses pembelajaran yang dilakukan secara terus menerus. Tidak ada seorang manusiapun yang kualitas kasihnya tidak akan mengalami penurunan. Ketika kualitas kasih menurun maka akan terjadi tindakan main hakim sendiri dan tidak ada sikap hati yang mau mengampuni.

Saudaraku, kasih itu sudah dititipkan kepada kita. Kasih itu ada dalam diri kita. Tetapi kasih itu bisa pudar kalo tidak kita latih. Oleh karena itu marilah kita melatih kasih itu. Mari kita praktekkan kasih saling memaafkan dan saling mengampuni satu dengan yang lain. Jangan pernah puas belajar mengampuni karena ini adalah proses yang akan terus terjadi dalam kehidupan kita sampai kita bertemu dengan Tuhan.

Doa: bentuklah aku melalui proses pembelajaran ini. Aku rindu menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Engkau di dalam mempraktekkan kasih. Aku ingin kualitas kasih dalam diriku ini semakin bertambah hari lepas hari. Amin. Jho

Minggu, 24 April 2011

LEPASNYA BELENGGU DOSA

1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku — 13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. 14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. 15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. 17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin. (1 Tim 1)

Saya yakin setiap kita pernah menyaksikan kepiawaian seorang illusionist, khususnya bagaimana caranya ia melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang berlapis. Seorang illusionist atau pesulap diikat dengan baju yang dirancang khusus yang membuat seseorang sepertinya tidaka akan mungkin melepaskan diri. Belum cukup, ia dimasukkan ke dalam karung yang diikat dengan rantai an gembok. Tidak cukup, karung tersebut dimasukkan lagi ke dalam sebuah kotak yang juga digembok. Dalam hitungan detik, ia berhasil melepaskan diri dari ikatan tersebut. HEBAT BUKAN! Gemuruh riuh terdengar tepuk tangan para penonton.
Tahukah saudara, bahwa dosa jauh jauh dan jauh lebih dasyat dari baju yang dirancang khusus untuk mengikat seseorang? Tidak ada seorangpun yang sanggup melepaskan diri dari ikatan/cengkraman dosa. Seseorang di luar Kristus, akan alami ikatan dosa ini sejak ia menjadi bakal bayi sampai ia menghembuskan nafas terakhir dan di bawa ke liang kubur. Tahukan saudara, sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, bahwasannya anda adalah orang yang terikat oleh dosa sejak anda bakal bayi, sampai anda dilepaskan oleh pengampunan & darah Yesus ketika anda percaya kepada-Nya. Seharusnya anda bersuka cita karena-Nya. jp

Senin, 25 April 2011

KEBANGGAAN MASA LALU YANG SEMU

13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, – – –
1 Timotius 1
3:4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: 5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. 7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Filipi

Kata tadinya menunjukkan siapakah Paulus di masa lalu, yang diakui oleh Paulus sendiri sebagai seorang yang ganas, seorang penghujat & penganiaya. Khusus untuk kata penganiaya, saya ingin mengajak anda untuk membandingkan dengan nats berikutnya, Filipi 3:5-6. Di ayat 7 dijelaskan lebih lanjut bahwa itu dahulu merupakan keuntungan.
Yang seharusnya menggelitik pemikiran kita adalah bagaimana Paulus pada waktu itu menilai segala tindakannya itu, apakah ia menyadari bahwa ia seorang yang ganas, seorang penghujat dan penganiaya? Apakah Paulus memiliki “rasa bersalah” yang cukup untuk mengingatkan dan menghentikannya? Atau justru perbuatan-2nya ini justru menambah semangat semakin giat “ di jalan Tuhan” dengan cara menegakkan syariat keagamaannya yakni memburu dan menganiaya orang-2 kristen?
Melalui bacaan di atas sangat meyakinkan saya bahwa Paulus di masa lalu tidak/belum memiliki kesadaran bersalah. Justru kata tadinya dan yang dahulu secara tidak langsung menginformasikan bahwa pada saat ini Paulus telah berbeda; dahulu Saulus dan kini menjadi Paulus. Segala kebanggaan di masa lalu-nya tiba-2 sirna tatkala ia berjumpa dengan Yesus, bahkan dilihatnya sebagai sampah.
Perenungan. Anda dan saya sangat mungkin memiliki kebanggaan-2 demikian dalam hidup kita. Yang terpenting, bagaimana cara kita memandang itu semua setelah kita berjumpa secara pribadi dengan-Nya? jp

Selasa, 26 April 2011

DIMENANGKAN OLEH KASIH

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. 14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.
1 Timotius

Tidak jarang kita menjumpai orang-orang yang berpenampilan sangar; menggunakan pakaian yang cenderung gelap, kita melihat tato tergambar di lengannya yang besar; bicaranya kasar dan nyaris tanpa senyum. Biasanya kita akan berusaha untuk tidak berurusan dengan orang-2 seperti itu, yang seolah-olah akan menghina kita dengan mulutnya dan juga akan menghajar kita dengan pukulan-2 ganasnya.
Saya mencoba membayangkan Paulus sebagai orang yang ganas, walalupun mungkin ia tidak berbadan kekar namun ia mampu menggerakkan masa, mengatur scenario dan bermain dengan pihak penguasa dan pemegang hukum untuk melakukan pengejaran, penganiayaan bahkan pembunuhan. Walau mungkin ia tidak bertato, tetapi hatinya telah tertato dengan kebencian terhadap orang-2 kristen. Di mata orang-2 kristen Saulus (Paulus) telah terkenal reputasinya, ia sebagai “mesin pembunuh” yang memiliki daya hancur yang luar biasa.
Hal yang luar biasa dari nats di atas ketika sang penghancur yang ganas ini telah “dihancurkan” oleh Kasih Tuhan, dan Tuhan membangunnya kembali menjadi alat-Nya yang efektif. Setelah itu Paulus melakukan kehendak Tuhan, dengan membangun kekristenan, yang dahulu ingin dilenyapkannya. Bahkan seseorang menyebut Paulus sebagai the second founder of Christianity.
Secara jujur, sebenarnya kasih Tuhan yang sama juga telah “menghancurkan” kerasnya hati kita. Kasih-Nya telah meluluh lantakkan keangkuhan dan kesombongan kita. Kesombongan yang sejati, yakni tidak membutuhkan Tuhan, seharusnya telah berubah menjadi senantiasa mengandalkan Tuhan, senantiasa memerlukan Tuhan dan hidup dalam penyertaan-Nya.
Perenungan Sudahkah anda merasakan lembutnya kasih Tuhan? Yang jauh lebih kuat dari tsunami untuk “menghancurkan” & membangun kembali hatimu & hidupmu? jp

Rabu, 27 April 2011

AGENDA UTAMA YESUS

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 1 Timotius

AGENDA UTAMA. Hal ini menjadi sangat penting, karena dengan adanya agenda utama membuat kita menjadi focus terhadap apa yang hendak kita kerjakan. Agenda utama pasti menjadi tujuan utama kita mengerjakan sesuatu, walau kita maklum terkadang ada hal-2 lain yang terjadi di sekitar agenda utama kita. Itu wajar, selama tidak mengaburkan bahkan meniadakan tujuan utama kita.
Mungkin kita pernah memiliki pengalaman pergi ke super market (atau semacamnya) untuk membeli sebuah barang yang sangat kita perlukan, bahkan mendesak. Setelah tiba di rumah dengan membawa belanjaan yang banyak, barulah kita sadar bahwa barang tersebut belum terbeli. Kita melakukan kelalaian, atau mungkin tergoda dengan barang-2 lain yang kita beli walaupun tidak kita rencanakan utk membelinya.
Atau, mungkin kita telah membuat perjanjian untuk ketemu seseorang sambil makan siang, tetapi karena bertemu teman lain di area kita makan, maka pembicaraan dengan seseorang itu hanya menjadi basa-basi, dan kita baru sadar ketika ditelpon kembali olehnya tentang tujuan pertemuan tersebut.
Agenda utama kedatangan Tuhan Yesus telah diungkapkan oleh Paulus, bahwa IA datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Paulus menegaskan bahwa hal ini benar, sesuatu yang serius dan hal yang utama. Ini bukan berita isapan jempol (berita bohong). Di samping agenda utama ini, Yesus juga memiliki agenda yang lain, yakni untuk menyembuhkan yang sakit, menolong mereka yang terhimpit, membela hak-2 para janda dan mengasihi anak-2, mengajar di rumah-2 dan rumah-2 ibadah, dan lain sebagainya, bahkan membangkitkan yang mati. Tetapi yang harus kita ingat, bahwa Yesus tidak kehilangan focus agenda utama-Nya; agenda yang lain merujuk kepada agenda utama-Nya.
Perenungan Tahukah anda agenda utama Yesus ini? Sudahkah mengalaminya? Atau justru anda lebih tertarik kepada agenda lainnya? Yesus Penyembuh, Yesus & mujizat-Nya, Yesus Anak Raja, Yesus Pemberi berkat & Pemelihara memang lebih menarik ketimbang Yesus yang mati di kayu salib untuk menebus orang yang berdosa. Tertarik? jp

Kamis, 28 April 2011

PENGAMPUNAN DIMULAI DARI PENGAKUAN

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.
1 Timotius

Setiap tanggal 17 Agustus kita diingatkan sebagai hari yang bersejarah bagi bangsa kita, yakni hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada sisi lain, bagi mereka yang mendekam di balik terali besi (penjara) tanggal 17 Agustus adalah hari yang memberikan pengharapan, para tahanan bisa mendapatkan “pengampunan” yang diberikan dalam bentuk pengurangan masa tahanan ataupun pembebasan. Hal ini mereka terima sebagai hadiah yang luar biasa, walaupun mereka telah mengakui kesalahan dan menerima kosekuensi dari kesalahan tersebut, yakni hukuman di penjara.
Pengakuan Paulus ini seolah-2 terlalu berlebihan ketika ia menyebut dirinya sebagai orang yang PALING berdosa, yg sangat kemungkinan ada orang-2 yg jauh lebih jahat, lebih ganas ketimbang Paulus; yang secara perbuatan dianggap lebih berdosa. Titik masalahnya bukan di situ, tetapi kesadaran & pengakuan Paulus ttg siapa dirinya, bagaimana mata Allah yg kudus memandangnya, dan segala kebutuhannya akan anugerah pengampunan Tuhan. Di situlah, tidak mungkin tidak bagi Paulus utk mengakui keberdosaannya.
Perenungan Kita sebenarnya berada dalam kondisi yang JAUH lebih sulit, karena kita tidak dipenjarakan secara fisik, atau dipenjarakan oleh ketakutan-2 yang bisa menekan kita. Malah kita berada dalam situasi yang sangat mapan secara moral, tidak pernah melakukan tindak kejahatan yang merugikan orang lain secara moral ataupun financial. Bahkan keterlibatan kita dengan kegiatan aksi social & pelayanan telah memberikan rasa aman untuk membangun definisi kita sebagai orang baik. Dalam keadaan seperti ini, sulit bagi kita untuk menyatakan sebuah pengakuan, apalagi pengakuan sebagai orang yang berdosa atau yang paling berdosa. Pada akhirnya mungkin saja kita memahami arti pengampunan, walau mungkin kita tidak membutuhkan dan mengalaminya. Kita tidak membutuhkan pengampunan sekali seumur hidup, tetapi kita membutuhkan pengampunan-Nya setiap saat. jp

Jumat, 29 April 2011

PERUBAHAN YANG MENELADANKAN

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. 14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. 15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.
1 Timotius

Sekali waktu bersama anak, saya mengunjungi bengkel modifikasi sepeda motor, dan kami melihat motor-motor hasil modifikasi-an yang boleh dikatakan KEREN, tentu saja setelah dilakukan perombakan dan penggantian beberapa bagian. Kami ditunjukkan foto motor sebelum dimodifikasi dan sekarang melihat sendiri hasilnya.
Perubahan selalu menghadirkan perbedaan, dari yang semula menjadi yang kemudian, dari yang dahulu menjadi yang sekarang. Tanpa perbedaan seperti ini, bagaimana kita dapat menyebutnya sebagai perubahan? Paulus mengalami sebuah perubahan yang dasyat, bahkan controversial, dari seorang destroyer menjadi seorang builder, dari seorang yg dulunya ganas menjadi teladan bagi orang-orang lain yang akhirnya percaya kepada Tuhan. Mungkin kita berpikir bagaimana hal itu mungkin terjadi? Yang jelas belas kasihan Tuhan yang melimpah atas dirinya telah mengubahkan Paulus menjadi sosok yang luar biasa.
Saya rasa Tuhan juga menginginkan hal itu terjadi pada diri kita, yakni perubahan. Tentu saja perubahan dari manusia lama menjadi ciptaan baru, yang harus memiliki perbedaan antara kita yang lama dan kita yang ada pada saat ini, setidaknya bagaimana kita berpikir dan segala manifestasinya yang ditunjukkaan dalam bagaimana kita bertutur kata, bertindak, bersikap dan berespon. Tahukah saudara, perubahan (perbedaan) selalu memiliki “daya jual” yang tinggi yang membuat orang lain berminat untuk “membeli” dan menjadikan dirinya seperti itu? jp

Sabtu, 30 April 2011

SOLI DEO GLORIA

1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.
1 Timotius

Sangat menarik Paulus menutup tulisannya di perikop ini dengan sebuah doxology, atau sebuah pengagungan kepada Tuhan. MENARIK, karena bagi saya Paulus telah menghantarkan pengakuannya tentang apa yang terjadi dimungkinkan karena Allah. Allah yang bertindak, Allah yang mengasihinya dengan limpah, Allah yang mengubahkannya, Allah yang mempercayakannya sebuah tugas dan tanggung jawab mulia dan Allah yang selalu memberikan penyertaan-Nya sehingga apa yang dilakukannya menjadi teladan dan berkat bagi orang lain yang kemudian juga percaya kepada Tuhan. Pengakuan dari seorang Paulus, yang tadinya (dulunya) seorang yang ganas, seorang penghujat, seorang pemburu dan penganiaya jemaat yang kemudian di percayakan oleh Tuhan untuk mendirikan jemaat-jemaat-Nya.
Doxologi ini juga merupakan sebuah cara untuk memproteksi diri dari keiinginan daging untuk mencuri kemuliaan Tuhan. Orang sekaliber Paulus tentu saja telah meninggalkan hasil dan dampak yang luar biasa dalam pelayanannya, dan masih sangat mungkin jatuh dalam kesombongannya. Tetapi itulah Paulus, yang justru menunjukkan caliber seorang rasul Tuhan yang luar biasa ketika ia mengembalikan segala hormat dan pujian untuk Tuhan.
Doxologi berarti meletakkan Tuhan di tempat yang seharusnya, IA adalah Allah yang layak untuk ditinggikan, dmuliakan, dipuji dan dipuja, di tempatkan sebagai Raja atas segala raja dan atas segala sesuatu, IA adalah Tuhan yang berate tuan atas kehidupan di mana kita menghambakan diri. IA juga adalah Allah yang kekal, dahulu, sekarang dan selama-lamanya ada dan telah ada dan yang menjadikan ada segala sesuatu yang pada saat ini ada.
Bila kita mengaku sebagai seorang Kristen sejati, kita harus memiliki tujuan hidup yang demikian, karena doxology tidak sekedar berbicara tentang the way of Christian life tetapi juga sebagai orientasi dan tujuan akhir kehidupan kita sebagai orang-orang percaya.

DOA Segenap hidupku biarlah Kau pakai untuk memuliakan-Mu Tuhan. jp