Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Tema yang diangkat pada bulan Maret ini adalah AKU. YANG UNIK & MENARIKyang akan dijabarkan dalam khotbah mingguan &renungan Gembala sebagai berikut:
06 Maret 2011
Apakah Manusia?(Mazmur 8:5)
Salah satu langkah yang penting untuk menyadari siapakah kita adalah dg cara menyadari bahwa kita adalah ciptaan. Di antara ciptaan Tuhan yang lain di manakah posisi kita? Istimewakah kita? Mampukah kita mensyukuri keberadaan diri ini sebagai satu pribadi?
13 Maret 2011
Aku, Tiada Dua-nya (Thema Komsel 18 Maret)
Salah satu permasalahan serius yang dihadapi manusia adalah lemahnya kemampuan untuk melihat diri dg segala kelebihannya. Kita harus belajar meyakini bahwa Tuhan menciptakan kita dan tidak ada yg sama, pasti Tuhan memiliki rencana dan kerinduan tersendiri dari kita. Coba temukan keunikan diri ini, syukurilah & pujilah dan layanilah Tuhan dg keunikan kita.
20 Maret 2011
Berharga di Mata Allah
Tidak jarang kita salah menilai diri sendiri. Terkadang over estimated shg membuat kita jadi sombong, merendahkan orang lain & tidak butuh Tuhan; ttp terkadang under estimated shg kita sering merendahkan diri sendiri, menghina diri sampai berpikir bahwa Tuhan tidak peduli & menyampakkan kita. Tahukah anda, bahwa anda berharga di mata-Nya?
27 Maret 2011
Ketika Semua Telah Rusak(Thema Komsel 1 April)
Manusia yang berdoa telah mengalami kerusakan secara total (Total Depravity), yang berarti tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya; membangun hubungan dengan Allah yang sejati. Segala sesuatu dalam dirinya selalu memiliki tendensi untuk menyimpang dari rencana Allah, baik berkeluarga, membangun hubungan bahkan ketika menyikapi dirinya sendiri.
¬¬
Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Andreas Sugianto, Pdt.; Jenik Purwoadi, Pdt.;
Sigit Purwadi, Ev.; Sari Nurwati; Victor A., Ev.

Selasa, 01 Maret 2011

BICARAKAN DENGAN BAIK

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Kor 13:4-5).

Masalah kecil dan sepele sering menjadi besar dan kacau, sementara masalah yang besar sering dimarginalkan (dianggap kecil dan sepele). Inilah realitas pergumulan yang sering kita hadapi. Pertengkaran di rumah sering terjadi hanya karena masalah yang sangat sepele yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik. Namun justru yang sepele ini sering berkembang menjadi besar dan mulai membias dari pokok masalahnya. Misalnya, gara-gara tidak menerima telepon sewaktu di telepon, ia menjadi marah besar dan mengungkit-ungkit masalah yang sudah terjadi masa lampau. Maka tatkala tiba di rumah, pertengkaran sudah tidak dapat dihindarkan lagi.
Di sisi lain, ada persoalan yang besar yang jelas itu harus diselesaikan dengan baik dan bijak, malah dimarginalkan alias dianggap masalah kecil. Kesalahan yang dimarginalkan akan membuat persoalan semakin rumit sebab kesalahan yang dibuat dianggap hal biasa, di mana semua orang juga melakukan hal yang sama. Sikap yang demikian jelas akan merusak suasana kebersamaan dalam keluarga.
Persoalan yang sedang muncul, baik itu kecil ataupun yang besar, hendaklah dibicarakan dengan terbuka dan baik. Masing-masing pribadi dapat mengemukakan pendapat, namun juga belajar mendengar dan menerima pendapat dari orang lain. Belajarlah untuk terbuka dan menerima dalam prinsip kasih Kalvari. Nyatakan kesalahan dengan kasih dan terimalah nasehat dengan kasih pula. Bagaimanapun, keluarga adalah orang-orang yang Tuhan sediakan untuk membentuk kita.
“Tuhan Yesus, berikanku hati yang mau menerima nasehat dan juga pakai aku untuk menjadi berkat bagi orang lain dengan kasih Kalvari”
ANS

Rabu, 02 Maret 2011

TAKUT AKAN TUHAN

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikanAmsal 1:7

Langgeng tidaknya sebuah pernikahan adalah ditentukan oleh prinsip-prinsip dasar yang dibangun oleh keluarga tersebut. Prinsip yang salah tentu akan menjadi “boomerang” dalam keluarga tersebut yang tidak sedikit dapat menghancurkan. Namun sebaliknya, dengan memiliki prinsip-prinsip yang benar dan sesuai dengan Firman Tuhan, maka keutuhan keluarga itu dapat terjadi meskipun perjalanan keluarga tersebut diterpa berbagai macam masalah.
Tidak sedikit pasangan keluarga Kristen mendasarkan pernikahannya dengan prinsip yang salah dan celakanya hal ini baru diketahui setelah perjalanan pernikahan masuk dalam rentang waktu 5 sampai 10 tahun pernikahannya. Dilema yang dihadapi dalam keluargapun semakin berat, dimana pernikahan Kristen tidak mengijinkan perceraian, sementara jika pernikahan ini dilanjutkan yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran yang semakin hari semakin sering intensitasnya.
Prinsip yang benar adalah melihat pernikahan sebagai perjanjian kekal dimana Allah hadir menjadi kepala dalam keluarga. Pernikahan bukan sebuah kontrak, ketika mulai tidak suka atau merasa bosan, kontrak dapat dibatalkan. Pernikahan adalah perjanjian kekal yang membutuhkan komitmen seumur hidup dan hanya maut yang memisahkannya.
Masing-masing pribadi dapat memegang komitmen dengan baik tatkala ia mampu menempatkan Allah sebagai fokus hidup pribadinya. Takut akan Allah adalah kuncinya. Takut akan Allah akan membawa seseorang untuk hidup dalam kebenaran dan memegang kebenaran itu untuk selamanya. Takut akan Tuhan juga membawa seseorang untuk dapat hidup bertanggung jawab serta hidup dalam kekudusan. “Ya Bapa, jaga hatiku dan keluargaku agar selalu takut akan Engkau”
ANS

Kamis, 03 Maret 2011

PROSES PEMULIHAN

“Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku…” (Mzm 142:3-4)

Sebuah vas yang pecah akan sulit untuk dikembalikan tanpa terlihat bekas-bekasnya. Memang puing pecahan dapat dikumpulkan dan disatukan, namun sambungan dari setiap sisi yang dipersatukan masih nampak bekas-bekasnya. Gambaran yang saya berikan ini juga bisa terjadi dalam sebuah keluarga, rasa sakit hati, kecewa dan kemarahan mungkin bisa diatasi, namun tentu masih menyisakan guratan-guratan luka yang masih membutuhkan waktu untuk mengatasinya.
Seorang suami atau istri yang telah menyakiti pasangannya memang bisa mengampuni namun membutuhkan waktu untuk menata kembali hatinya yang hancur. Rasa kecewa memang tidak dapat dipungkiri, dan hal ini membutuhkan waktu dan proses pemulihan. Dalam kuasa dan penyerahan serta penahklukkan diri di hadapan Tuhan, pemulihan akan terjadi.
Pemulihan dimungkinkan hanya di dalam terang Firman Tuhan saja. Kita tidak akan pernah benar-benar mengampuni orang yang bersalah pada kita apabila kita tidak menahklukkan diri dihadapan Tuhan. Kita juga perlu berdoa bagi pasangan kita (atau orang yang telah menyakiti kita) agar Tuhan juga memberi jamahan untuk mengerti kehendak dan rencana Tuhan. Dalam proses pemulihan ini bukan berarti kita diam dengan pasif. Kita perlu mengupayakan dan menuntut diri untuk melakukan apa yang Tuhan firmankan. Selangkah demi selangkah namun pasti.
“Ya Bapa, ajarku untuk mengasihi dan mengampuni. Kadang aku merasa tidak sanggup, namun aku percaya di dalam kasih dan kuasa-Mu aku dapat melakukannya, amin”
ANS

Jumat, 04 Maret 2011

BERTUMBUH BERSAMA

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm 127:1)

Harus diakui bahwa masih sangat sedikit dari keluarga-keluarga Kristen yang memiliki kerinduan dan semangat untuk membangun kehidupan rohani (spiritualitas) secara bersama-sama diantara mereka. Hal ini hampir tidak pernah dibicarakan apalagi direncanakan menjadi sebuah planning bersama. Masing-masing pribadi cenderung melakukan sendiri dan sibuk dengan kegiatan (spiritualitas) masing-masing. Tidak heran apabila dalam sebuah keluarga dijumpai seorang suami atau istri atau anak begitu semangat dan antusias dalam kegiatan-kegiatan gereja dan sangat sibuk “pelayanan” sementara anggota yang lain sangat “adem ayem” dan cenderung pasif dalam urusan rohani.
Tidak heran apabila dalam keluarga mulai terjadi percekcokan kecil karena sangat sulit untuk bertemu. Pagi-pagi sudah berangkat bekerja, anak sibuk sekolah, malam ada tugas dan kegiatan di gereja, yang otomatis setiap pribadi jarang untuk bertemu. Intensitas pertemuan sangat jarang, dan juga hampir dipastikan kualitas pertemuanpun nyaris tidak ada.
Membangun pertumbuhan rohani bersama dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana, misalnya doa bersama di waktu makan, sebelum pergi, atau sebelum tidur malam. Lebih indah lagi ketika dalam satu Minggu ada hari khusus untuk membaca renungan harian bersama dan doa bersama. Dalam kesempatan ini juga boleh diadakan shering ringan yang kemudian dapat ditindak lanjuti dengan doa bersama. Melakukan hal ini tidak harus memakan waktu lama, singkat namun kebersamaan dan keterbukaan untuk saling mendoakan tetap terjaga.
Mungkin menurut anda hal ini terlalu idealis? Namun menurut saya tidak, ini sangat realistis! Hadirkan Tuhan dalam kebersamaan, sehingga kita dapat bertumbuh dalam kapasitas kita masing-masing. (ANS)

Sabtu, 05 Maret 2011

MENIKMATI PEMBENTUKAN DALAM KEBERSAMAAN

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12).

Salah satu sarana yang Tuhan gunakan untuk membentuk kita adalah melalui pernikahan. Di tangan Tuhan, atas kasih dan anugerah-Nya, pernikahan menjadi alat yang dipakai-Nya untuk membentuk kita menjadi serupa dengan-Nya. Masing-masing pribadi (suami – istri) memiliki pribadi yang berbeda dan dibesarkan dengan latar belakang yang juga berbeda. Namun tatkala dipersatukan dalam pernikahn, keduanya bukan lagi dua melainkan satu, yang berarti ada hal-hal dalam diri pasangan kita yang dapat membentuk (melengkapi) kita.
Penyesuaian haruslah kita kerjakan bersama-sama, sehingga kita dapat hidup rukun dalam menjalani kehidupan keluarga. Dalam penyesuaian inilah akan menjadi ajang pembentukan kita untuk dapat mewujudkan dan menerapkan arti kasih, kemurahan, kesabaran, dan penguasaan diri (Gal 5:22-23). Dengan demikian, kita harus (mau tidak mau) belajar dari pasangan kita yang sesungguhnya dapat membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. Pernikahan dapat diibaratkan sebagai sebuah “sekolah” yaitu tempat belajar dan mengajar. Guru dan muridnya adalah kita sendiri, sementara kurikulumnya adalah perjalanan kehidupan berumah tangga.
Kehadiran anak-anakpun adalah juga merupakan sarana bagi proses pembentukan kita. Banyak hal yang kita berikan bagi anak-anak kita, sejak mereka berada di kandungan hingga mereka dewasa. Kadang kita berbeda pendapat dengan pasangan kita dalam mendidik dan mendisiplin mereka, atau juga kita berselisih pendapat dengan anak-anak kita. Namun semuanya adalah sebuah proses pembentukan. Untuk itulah kita perlu memiliki hati yang bijaksana dalam menggunakan waktu yang ada agar dapat saling membangun dan mengasihi. Waktu kita terbatas, jadi wujudkan kasih itu dan nikmati pembentukan dalam kebersamaan.

“Tuhan Yesus, berkati keluarga kami agar setiap pribadi dapat mencerminkan kemuliaan-Mu, amin”(ANS)

Minggu, 6 Maret 2011
¬¬¬¬
MAZMUR 8

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

Mazmur di atas merupakan sebuah nyanyian pujian (hymn of praise) yang dinaikkan bangsa Israel kepada Allah Sang Pencipta alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. Memang di dalam Mazmur ini sebagian besar isinya berbicara tentang manusia (LAI memberi judul “Manusia hina sebagai makhluk mulia”), tetapi kalau dibaca dengan seksama, maka kita mendapati bahwa apa terjadi dalam diri manusia sebagaimana yang ditulis oleh sang pemazmur, itu semata-mata karena perbuatan Tuhan (akan kita renungkan di hari-hari selanjutnya). Maka Daud, sang pemazmur membuka dan menutupnya dengan pujian kepada Tuhan (doxologi).
Jika hari ini kita bisa beribadah, itu semata-mata karena Tuhan telah dan masih berbuat sesuatu dalam hidup kita, maka naikkanlah pujian dengan penuh kesungguhan kepada Tuhan. Tuhan Yesus memakai mazmur ini (ay. 3) untuk menegur para pejabat agama yang tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan (Matius 21:12-16). Tuhan mau kita seperti anak-anak yang tulus menaikkan pujian kepada Tuhan, sehingga ibadah kita tidak sekedar menjadi satu rutinitas mingguan.

Doa: Ya Tuhan, kami mau selalu memuji-Mu karena Engkau senantiasa menunjukkan perbuatan-Mu dalam hidup kami. Amin. -va

Senin, 7 Maret 2011

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK CIPTAAN

Ya TUHAN, Tuhan kami betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
… Engkau telah membuatnya (manusia) hampir sama seperti Allah
Mazmur 8:2, 6

Waktu SD saya pernah dapat pelajaran prakarya. Salah satu karya saya adalah sendok kuah dari tempurung kelapa dengan gagang dari rotan. Sendok kuah itu bisa ada karena saya yang membuatnya, dan dia ada dengan tujuan yang saya tetapkan yaitu agar saya dapat nilai prakarya dan tentunya agar bisa dipakai untuk mengambil kuah.
Demikian juga dengan manusia yang keberadaannya disebabkan oleh Allah yang menciptakan atau membuatnya. Seorang teolog bernama Anthony Hoekema, mengatakan bahwa manusia adalah pribadi yang dicipta (created person). Maka status manusia adalah makhluk ciptaan yang sudah tentu lebih rendah dari pada Tuhan Sang Pencipta, sebagaimana yang Daud katakan bahwa Tuhan telah membuat manusia hampir sama seperti Allah.
Seperti ciptaan lainnya, maka kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaan secara mutlak bergantung kepada Allah, seperti yang Paulus katakan kepada orang-orang Atena:
“… karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, …” (Kisah Para Rasul 17:25, 28).
Sebagai ciptaan, Tuhan juga sudah menetapkan tujuan mengapa Ia menciptakan kita. Tentu saja tujuan utamanya adalah untuk memuaskan Dia, taat untuk memenuhi kehendak-Nya, hidup melayani Dia. Pengertian ini ditulis oleh Daud dalam pujian pembuka dan penutup di mazmur ini: “Ya TUHAN (YAHWEH), Tuhan (Adonai = Tuan) kami. Daud menyadari bahwa Tuhan menciptakannya agar Ia melayani Tuhan.
Maka sebagai ciptaan Tuhan sudah seharusnya kita rela hidup dikendalikan Tuhan dan kita mau sungguh-sungguh melayani-Nya.

Doa: Berkuasalah atas hidup kami, ya Tuhan, dan kami mau setia melayani-Mu. Amin. -va

Selasa, 8 Maret 2011

MANUSIA SEBAGAI PRIBADI YANG SERUPA DENGAN TUHAN

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah
Mazmur 8:6

Ketika menyaksikan kebesaran ciptaan yang lain, Daud sadar bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang spesial karena dibuat hampir sama seperti Allah. Tidak ada ciptaan lain yang diciptakan sedemikian. Dalam hal apa kita hampir sama seperti Allah? Dalam perenungan kemarin Anthony Hoekema mengatakan bahwa manusia adalah pribadi yang dicipta. Hanya manusia ciptaan di dunia yang memiliki kepribadian. Sebagai seorang pribadi, manusia di dalam dirinya memiliki rasio / akal budi, emosi dan kehendak. Dengan akal budinya manusia bisa kreatif berpikir dan menganalisa segala sesuatu dan kreatif membuat berbagai penemuan yang bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan emosinya, manusia dapat merasakan sedih, senang, kasihan, benci, dll, bahkan bisa bersimpati (merasakan apa yang dirasakan orang lain). Dengan kehendaknya, manusia memiliki kebebasan relatif (relatif karena seluruh hidup kita berada dalam gengggaman tangan Tuhan) untuk membuat berbagai keputusan dalam hidupnya. Dengan demikian Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot yang tidak bisa berpikir dan berkreasi, tidak berperasaan serta tidak memiliki kehendak.
Sebagai pribadi, maka setiap manusia memiliki keunikan masing-masing. Tidak ada manusia di dunia ini yang sama 100%. Anak kembar sekalipun ada perbedaannya entah itu karakternya, kepribadiannya.
Menyadari bahwa kita diciptakan sebagai pribadi yang hampir sama seperti Tuhan sekaligus pribadi yang unik, seharusnya membuat kita makin bersyukur kepada Tuhan dan makin mengembangkan hidup kita untuk melayani-Nya. Janganlah kita berpikiran untuk menjadi sama seperti Tuhan, karena itu memang bukan kapasitas makhluk ciptaan dan hanya akan menjerumuskan kita ke dalam dosa (ingat kejatuhan manusia karena ingin sama seperti Tuhan).

Doa: Terima kasih Tuhan, karena Engkau menciptakan kami serupa dengan Engkau. Amin. -va

Rabu, 9 Maret 2011

MANUSIA, CIPTAAN YANG TUHAN INGAT DAN PERHATIKAN

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?
Mazmur 8:5

Dua hari berturut-turut kita telah merenungkan tentang manusia yang diciptakan oleh Tuhan, pada hari ini kita akan merenungkan mengenai Tuhan yang peduli kepada manusia ciptaan-Nya. Di tengah-tengah besarnya jagat raya ciptaan Tuhan, Daud manyadari bawa manusia sesungguhnya hanya ciptaan yang sangat kecil. Tetapi ciptaan yang sangat kecil ini diingat dan diindahkan Tuhan.
Tuhan kita sangat luar biasa karena Ia tidak menciptakan manusia hanya untuk memenuhi kehendak-Nya, tetapi Tuhan juga mau bertanggung jawab menjaga kehidupan manusia seperti yang ditunjukkan dalam dua kata kerja pada ayat dia atas (mengingat dan mengindahkan). Kata mengindahkan sendiri di dalam bahasa aslinya memiliki pengertian lain, yaitu: mengunjunginya (to visit) dan memelihara (to care for). Secara tata bahasa, kata ini memiliki makna tindakan yang sudah dilakukan dan masih terus berkelanjutan. Hal ini mau menunjukkan bahwa pemeliharaan dan perhatian Allah kepada manusia tidak akan pernah berakhir. Bahkan ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa, Tuhan yang berinisiatif datang kepada manusia untuk menyelamatkannya dari belenggu dosa.
Jika saat ini kita menghadapi berbagai kesulitan hidup, ingatlah ada Tuhan yang sedang dan akan terus memelihara hidup kita.
Jangan takut kesusahan, Tuhan p’liharamu
Aman di bawah sayap-Nya, Tuhan p’liharamu
Saat susah dan kecewa, Tuhan p’liharamu
Bahaya datang menimpa, Tuhan p’liharamu
Tuhan p’liharamu tiap waktu, s’panjang hidup
Tuhan p’liharamu,Tuhan p’liharamu

Doa: Terima kasih Tuhan, karena Engkau tidak saja menciptakan kami, tetapi Engkau selalu memelihara kami. Amin -va

Kamis, 10 Maret 2011

MANUSIA DIMAHKOTAI DENGAN KEMULIAAN DAN HORMAT

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Mazmur 8:6

Kembali kita melihat bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang sangat istimewa. Tuhan mengaruniakan mahkota kemuliaan dan hormat, sebagaimana Tuhan sendiri adalah Tuhan yang Maha Mulia. Atribut kemuliaan dan hormat adalah atribut yang berkaitan dengan status Tuhan sebagai Raja yang Tuhan berikan kepada manusia yang memiliki status yang serupa dengan Tuhan dalam hal sebagai penguasa ciptaan lain. Dengan demikian perlu kita sadari bahwa kemuliaan dan hormat dalam diri kita merupakan pemberian Tuhan, dengan kata lain kalau Tuhan tidak memberikan, maka kita tidak akan memilikinya. Maka yang menjadi tanggung jawab kita adalah memancarkan kemuliaan itu di tengah-tengah dunia dengan cara menjaga relasi dengan Tuhan dan taat kepada-Nya.
Sayangnya dosa (karena manusia mau mencari kemuliaannya sendiri di luar Tuhan) membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23), bahkan saya pernah mendengar komentar, “Kok ada ya manusia yang jahatnya lebih dari pada binatang, tega saling menyakiti sesamanya.” Tentu saja ini kalimat yang mau menujukkan bahwa binatang saja bisa lebih baik. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan mau datang kepada manusia memberikan solusi di dalam Kristus. Kristus yang dalam kemanusiaan-Nya disebut sebagai Adam kedua telah berhasil menaklukkan diri di bawah kehendak Bapa-Nya menerima segala kemuliaan dan hormat. Maka dalam Dialah kita bisa taat kepada Allah dan menerima segala kemuliaan.
Sebagai umat tebusan Tuhan, mari kita belajar untuk hidup menghargai segala kemuliaan yang Ia sudah karuniakan kepada kita dengan hidup taat kepada-Nya. Jangan lagi kita hidup mencari kemuliaan dan hormat yang dunia tawarkan dengan segala keglamorannya yang fana karena sesungguhnya kita telah memiliki kemuliaan dan hormat yang sejati yang Tuhan karuniakan kepada kita.

Doa: Kami bersyukur karena Engkau mencipta kami sebagai ciptaan yang mulia, kami mau menghargainya dengan hidup taat kepada-Mu. Amin. -va
Jumat, 11 Maret 2011

MANUSIA SEBAGAI DUTA ALLAH

Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.
Mazmur 8:7-9

Ketika membaca ayat di atas, kita sangat bersyukur dan bangga karena Tuhan membuat kita berkuasa atas ciptaan-ciptaan lainnya. Ini merupakan salah satu keserupaan kita dengan Tuhan. Sebagaimana Tuhan menguasai seluruh jagat raya ini, Tuhan juga membuat manusia berkuasa atas ciptaan-ciptaan lain, Ia mau kita menjadi rekan kerja-Nya dalam menguasai bumi.
Tetapi kalau dilihat lebih jauh lagi sesungguhnya kuasa yang Tuhan berikan kepada manusia menuntut tanggung jawab manusia yang sangat besar. Kalau diibaratkan dalam perusahaan, Tuhan adalah pemilik aset, sedangkan kita adalah manajer yang dipercayakan untuk mengelola aset tersebut. Sebagai duta-Nya menguasai ciptaan, Ia mau kita menjaga keteraturan ciptaan yang ada dan menjaga relasi yang baik dan saling menguntungkan dengan seluruh ciptaan (mengelola dan mendayagunakan). Ciptaan yang sudah ditaklukkan Tuhan kepada kita harus kita pertanggungjawabkan kembali kepada Tuhan.
Sayangnya manusia (yang sudah jatuh ke dalam dosa) tidak lagi mempedulikan hal ini. Demi keuntungan yang lebih besar banyak orang saat ini lebih memilih untuk engekspoitasi dan merusak alam, sehingga saat ini muncul berbagai bencana yang disebabkan oleh ketidakseimbangan lingkungan alam. Sebagai orang yang sudah Tuhan tebus, maka kita harus sungguh-sungguh menyadari akan hal ini. Di satu sisi kita memiliki kekuasaan atas ciptaan-ciptaan lain, tetapi di sisi lain kekuasaan itu menuntut pertanggungjawaban.

Doa: Kami bersyukur karena kami boleh menjadi rekan kerja Tuhan di dunia ini. Ajar kami untuk selalu menjaga keharmonisan alam yang sudah. Kau berikan kepada kami. Amin. -va
Sabtu, 12 Maret 2011

BETAPA MULIANYA NAMA TUHAN

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!
Mazmur 8:3, 10

Di akhir dari perenungan kita tentang manusia ciptaan Tuhan, mari kita kembali melihat ke belakang. Sungguh betapa luar biasanya Tuhan menciptakan manusia. Di satu sisi manusia adalah makhluk ciptaan yang sangat lemah dan terbatas, tetapi di sisi lain Tuhan membuatnya mulia dan istimewa. Ia mencipta kita menurut gambar rupa-Nya dan menjadikan kita sebagai partner kerja-Nya. Ia juga senantiasa mengingat kita pribadi lepas pribadi dan selalu memelihara hidup kita.
Lalu apa yang menjadi balasan kita kepada-Nya? Tidak lain adalah pujian yang senantiasa kita naikkan kepada Dia. Ketika Hari Minggu besok kita akan beribadah, mari kita siapkan hati dan naikkan pujian yang tulus kepada-Nya. Ketika kita memuji Dia, maka kita meninggikan Dia Sang Pencipta dan Pemelihara hidup kita. Dengan demikian, pujian kepada Tuhan tidak hanya sebatas nyanyian pujian yang kita naikkan, tetapi seluruh hidup kita sehari-hari juga harus menjadi satu kehidupan yang memuji dan meninggikan Tuhan, yaitu dengan hidup taat kepada Tuhan dan mengandalkan Dia di seluruh aspek hidup kita, serta bersyukur kepada-Nya. Seorang komentator berpendapat bahwa bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu, musuh dan pendendam pada ayat 3 mau menujukkan satu kontras bahwa Tuhan berkenan kepada manusia yang lemah tetapi dalam hidupnya selalu taat dan bersandar pada Tuhan, dan Ia akan memakai segala segala hal yang dianggap lemah oleh manusia untuk mengalahkan orang-orang yang merasa dirinya kuat dan hidup melawan Tuhan.
Mari kita menyatakan kemuliaan Tuhan di seluruh bumi melalui hidup kita.

Doa: Ya Tuhan, kami mau seluruh hidup kami menjadi kehidupan yang senantiasa mengangungkan nama-Mu. Amin. -va

Minggu, 13 Maret 2011

AKU TIADA DUANYA

Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
(Kel. 3:10-11)

Saya teringat waktu mendapat panggilan untuk menjadi pelayan-Nya, saya sempat berkata: ‘Tuhan siapakah saya, saya tidak mempunyai kemapuan apa-apa, apakah saya layak menjadi pelayanMu? Kemudian saya teringat ketika Allah memanggil Musa, dan mengutusnya kepada Firaun untuk membebaskan bangsa Israel, Musa juga mengungkapkan hal yang sama. Ia merasa rendah diri, menjadi orang yang lemah, dan tak berdaya. Saya memahami apa yang Musa rasakan, sebab saya pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi seorang penggembala. Hidup di tengah-tengah keluarga yang sederhana. Karena itulah mungkin Musa berpikir, ‘apa sih yang bisa dibanggakan dari seorang gembala domba sepertiku?
Pada waktu seseorang mulai memusatkan perhatian pada kekurangan dan kelemahan, maka akan membuatnya tidak mampu melihat berbagai kelebihan dan keunikan yang dimiliki. Sadar atau tidak, banyak diantara kita sering menghadapi masalah yang sama. Kita tidak mampu melihat diri dengan segala kelebihan yang Tuhan berikan, sebab perhatian kita hanya tertuju pada kekurangan, keterbatasan, dan kelemahannya saja. Panggilan Tuhan kepada Musa pada ayat 10 memiliki makna penting, bahwa pada saat Ia memilih dan mengutus Musa, Ia telah memperhitungkan semuanya. Jika Tuhan memilih dan memanggil seseorang, maka Allah tidak pernah salah pilih. Dan ketika Ia memanggil Musa, Ia melihat ada sesuatu yang istimewa dalam diri Musa (yang tidak dimiliki orang lain), dan melaluinya Ia punya rencana tersendiri untuk memakai Musa menjadi alatNya.
Mungkin anda pernah merasakan atau sedang mengalami hal yang sama seperti Musa, merasa lemah dan tidak mampu apa-apa. Ketahuilah bahwa Allah yang memilih dan menciptakan anda, adalah Allah yang Maha Kuasa dan kreatif. Ketika Ia memilih dan menciptakan anda, Ia memiliki rencana tersendiri bagi hidup anda. Ia juga telah mempersiapkan dan memberikan berbagai kelebihan dalam diri anda. Allah memilih anda (bukan orang lain), karena anda istimewa dan berharga di mataNya, agar melalui hidup anda namaNya dimuliakan.

Doa: Tuhan, terimakasih karena Engkau telah memilih dan memanggilku, aku percaya Tuhan pasti memiliki rencana yang indah dalam hidupku, pakailah aku Tuhan menjadi alatMu. SP

Senin, 14 Maret 2011

AKU HANYA SEORANG GEMBALA

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian (Kel. 3:1a). Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel. 3:10)

Mari mundur sejenak, melihat catatan sejarah kehidupan Musa. Ia berasal dari keturunan Lewi, ayahnya bernama Amram, dan ibunya Yokhebed (Kel. 6:19), lahir pada waktu terjadi pembantaian besar-besaran terhadap setiap bayi laki-laki orang Ibrani oleh Firaun (Kel. 1). Namun oleh pertolongan Tuhan, Musa diselamatkan dan terluput dari pembantaian tersebut. Dan dengan cara Tuhan yang ajaib, ia tetap dalam asuhan ibunya sampai besar, lalu di angkat menjadi anak oleh puteri Firaun (Kel. 2:9, 10, Kis. 7:20-21).
Alkitab mencatat, kemudian Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan sebagai pangeran ia memiliki kuasa dalam perkataan dan perbuatannya (Kel. 2:10, Kis. 7:21, 22). Seorang sejarawan bernama Josephus menjelaskan, karena Firaun tidak memiliki putra dan ahli waris, Musa diasuh untuk sebuah tahta kerajaan. Jadi, ada kemungkinan Musa dipersiapkan untuk menjadi pewaris tahta Firaun. C. R. Swindoll menyebutkan, di Mesir Musa didik dengan gaya hidup dan budaya orang Mesir. Ia belajar ilmu alam, pengobatan, astronomi, kemiliteran, taktik perang, dan banyak hal tentang kehidupan di Mesir.
Musa adalah seorang yang berpengalaman dan memiliki pendidikan tinggi, dan sebagai calon pengganti Firaun, tentunya ia telah dipersiapkan dengan matang untuk menjadi pemimpin besar. Tapi tatkala dipanggil dan diutus oleh Tuhan kenapa ia menjawab: ‘siapakah aku ini Tuhan? Meski tampaknya jawaban itu cukup rendah hati dan sopan, tapi sesungguhnya tidak tepat. Apalagi jika melihat alasan Musa di pasal berikutnya. Ia hanya melihat dirinya sebagai gembala sederhana yang berusia 80th, dan menggembalakan domba milik mertuanya. Ketika Musa mulai memusatkan perhatian pada kelemahan dan kerapuhannya, membuat ia tidak mampu melihat berbagai kelebihan yang telah Tuhan berikan.
Pelajaran pentingya adalah: sekalipun mungkin anda ‘hanyalah seorang gembala, tapi jika Tuhan memanggil anda menjadi alatNya, tidak ada yang mustahil bagi Dia. Percayalah bahwa jika Ia memilih dan memanggil anda, maka Ia yang akan melengkapi dan juga memampukan anda.

Doa: Tuhan, mungkin aku hanya seorang sopir, petani, buruh, karyawan, atau pun pembantu, mungkin aku tidak tahu banyak hal, tapi aku mau melayaniMu.SP 
Selasa, 15 Maret 2011

AKU TIDAK PANDAI BICARA

Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.”
(Kel. 4:10-12).

Apakah anda termasuk orang yang tidak pandai berbicara? Jika, iya, pasti anda tahu betapa sulit dan menderitanya menjadi orang yang tidak pandai bicara. Saya adalah salah satu orang yang pernah mengalami betapa sulitnya ketika ingin mengucapkan kata demi kata, lalu keringat dingin mulai membasahi wajah, disusul dengan tangan dan kaki yang mulai gemetaran, benar-benar merupakan situasi yang sangat tidak menyenangkan, dan begitu menderita. Mungkin masalah inilah yang juga menghantui Musa. “Aku bukan jurubicara yang baik Tuhan, baik dahulu maupun sekarang.” Aku tidak pandai merangkai kata-kata, meski aku mampu merangkai, akan tetapi mulutku tidak dapat mengeluarkannya, lidahku terasa berat untuk mengucapkannya.
Musa kehilangan kepercayaan dirinya, meski Tuhan telah memberikan janji penyertaan dan berbagai tanda mujizat, tapi ia tetap beralasan: ‘Tuhan aku tidak memiliki kemampuan, dan berpikir pasti tidak akan berhasil. Berapa banyak diantara kita sering bersikap dan berespons demikian, membatasi kuasa Allah dengan kelemahan dan kekurangan kita. Allah adalah Allah yang kuasaNya tidak terbatas. Dia adalah sumber hikmat dan pengetahuan, dari padaNya-lah segala sesuatu telah dijadikan. Hanya satu hal yang Ia inginkan, yaitu agar Musa, saya, dan anda bersandar pada perkataanNya dan mempercayaiNya tanpa syarat. Maka Dia yang menciptakan lidah, Dia akan menjaga mulut kita, Dia juga yang akan memberikan kata-kata dan hikmat pada saat diperlukan.
Pesan penting bagi saya dan anda: ‘jangan pernah membatasi kuasa Tuhan dengan kelemahan, keterbatasan, dan segala kekurangan yang kita miliki. Sebab, segala keterbatasan manusia tidak akan menjadi penghalang bagi kuasa Allah untuk bekerja. Hal yang paling penting adalah mengerjakan apa yang harus kita kerjakan dengan penuh iman, dan nantikan tangan Tuhan berkarya dengan ajaib.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk mengerjakan apa yang harus kami kerjakan, dan belajar mempercayaiMu tanpa syarat. SP

Rabu, 16 Maret 2011

AKU TIDAK SEBAIK ORANG LAIN

Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” (Keluaran. 4:13)

Pada waktu saya masih kuliah, teman-teman pernah mengusulkan nama saya menjadi salah satu pengurus organisasi mahasiswa di kampus. Tetapi saya langung menjawab: ‘kok…saya sih…jangan saya, saya tidak bisa apa-apa, orang lain saja, dia lebih baik dan lebih pantas. Jika memperhatikan pernyataan Musa pada ayat 13 tersebut, maka sebenarnya ia ingin mengatakan hal yang senada, ‘ah…Tuhan jangan saya…saya hanya seorang gembala, tidak bisa apa-apa…utus saja orang lain yang lebih baik dari saya untuk melakukannya’.
Pernahkah anda mengalami hal yang sama, Allah memelih dan menunjuk anda, akan tapi kemudian anda menunjuk orang lain? Sebab, anda melihat orang lain lebih baik dan lebih berkualitas dari pada anda. Seandainya pernah, maka perlu anda ketahui, bahwa itu merupakan salah satu kesalahan yang fatal, yaitu ketika anda mulai membandingkan diri anda dengan orang lain. Ketika anda mulai bertanya kenapa ya…aku tidak bisa menyanyi dengan baik seperti orang itu? Kenapa ya…aku tidak bisa memimpin pujian sebaik temanku? Kenapa ya…aku tidak bisa bermain gitar dan keyboard sebagus mereka? Harus anda ingat bahwa anda tidak akan pernah dapat menjadi seperti Musa, Yosua, ataupun orang lain. Saya dan anda harus menjadi diri sendiri, sebab Tuhan menjadikan setiap pribadi dengan kekurangan, kelebihan, dan keunikan tersendiri. Dan dengan apa yang ada pada diri anda Tuhan ingin mengerjakan maksud dan rencanaNya.
Penting untuk kita pahami, bahwa Tuhan tahu segala hal dalam diri setiap orang, termasuk dalam diri Musa, saya, dan anda. Mengapa Tuhan tidak memilih orang-orang yang lebih berkuasa, lebih pandai, dan lebih baik? Sebab Tuhan punya alasan tersendiri ketika memilih Musa, saya, atau pun anda. Jadi, saya dan anda tidak perlu menjadi berkuasa agar bisa dipakai oleh Tuhan. Dia juga tidak meminta saya dan anda menjadi pandai, manis, atau mahir dalam banyak hal. Dia juga tidak mengharapkan saya dan anda hebat dalam berkata-kata atau pun tindakan untuk dapat menjadi jurubicaraNya. Hanya satu yang Dia minta, yaitu taat dan menaruh percaya di dalam Dia.

Doa: Tuhan, terimakasih Engkau telah menciptakanku, dan aku mengucap syukur untuk segala kekurangan dan kelebihan yang ada padaku, aku mau melayaniMu dengan apa yang ada padaku. SP

Kamis, 17 Maret 2011

KU ISTIMEWA

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:14).

Saya mempunyai teman, suatu ketika dia menceritakan pengalamanya sewaktu pelayanan kepada anak-anak peyandang cacat. Ada seorang anak yang buta sejak lahir, yang lahir tanpa mempunyai bola mata. Dalam sebuah lagu yang ia ciptakan, ia mengatakan: ‘meski aku tidak pernah melihat wajah ibuku, tapi aku bersyukur untuk ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku, yang mengharapkan aku lahir dengan sehat dan sempurna, tapi ternyata aku dilahirkan cacat, tanpa bola mata. Aku ingin sekali melihat seperti apakah wajah ibuku, tapi mungkin itu tak akan pernah bisa terwujud. Maafkan aku ibu, aku tidak bisa melihat wajahmu, biarlah begini keadaanku asalkan Tuhan bersamaku, aku akan tetap kuat’.
Saya sangat terharu ketika mendengar pengakuan anak tersebut. Meski ia dilahirkan cacat, tapi ia tetap mampu bersyukur atas kehidupan yang Tuhan berikan. Sekalipun keadaan hidupnya tidak seperti yang ia harapkan, namun ia mau menerima keadaan hidupnya dengan penuh syukur, sebagai anugrah terindah dari Allah, meski ia tetap ‘cacat’. Mungkin banyak orang menganggap dia anak yang tidak normal. Tidak sedikit orang yang memandangnya sebagai golongan masyarakat ‘kelas dua atau kelas tiga’. Atau mungkin sebagian orang melihatnya hanya sebagai seorang yang ‘cacat’. Akan tetapi perlu kita pahami, bahwa dalam diri seorang yang secara fisik lahir cacat atau tidak sempurna pun Allah tetap memberikan keunikan tersendiri, yang melaluinya Allah juga ingin menyatakan kehendak dan rencanaNya.
Lebih dari pada itu, jika saya dan anda meyakini Mazmur 139 ini adalah firman Allah, maka saya dan anda harus percaya bahwa siapapun saya dan anda, bagaimanapun keadaan saya dan anda, dihadapanNya saya dan anda tetap pribadi yang ISTIMEWA. Sebab Tuhan menciptakan setiap pribadi, termasuk saya dan anda secara ajaib. Jadi, mari belajar memandang diri sendiri dan memandang setiap pribadi sama seperti Allah memandangnya.
¬
Doa: Tuhan, ampuni kami jika selama ini kamisering memandang rendah diri kami atau orang lain, dan ajar kami untuk memandang diri atau orang lain sebagaimana Allah memandangnya. SP

Jumat, 18 Maret 2011

AKU HANYA SEORANG HAMBA

Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman. Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” (2 Raja-Raja 5:2, 3)

Catatan sejarah menyebutkan bahwa peristiwa dalam 2 Raja-raja 5 tersebut terjadi pada masa tenang, ketika ada peperangan antara Israel Utara dan Israel Selatan. Pada masa itu Aram merupakan sebuah kerajaan yang sedang mengembangkan kekuasaannya sampai ke Utara Israel, hingga tanah orang Filistin. Dalam 2 Raja-raja 5 menceritakan seorang yang bukan berasal dari kerajaan Israel Utara maupun Selatan. Sebab ia bukan orang Ibrani, orang itu adalah Naaman. Ia adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata Aram.
Naaman adalah orang yang terpandang, prajurit yang dihormati, bertanggungjawab, dan disegani. Namun, lepas dari berbagai prestasi dan reputasinya, ia adalah seorang yang berpenyakit kusta. Dan penyakit ini begitu mengganggu dan menggelisahkannya. Berbagai usaha untuk menyembuhkan mungkin telah dilakukan, namun tidak ada hasilnya. Hingga ada seorang budak atau pelayan prempuan yang bekerja di rumah Naaman, memberi tahu bahwa ada nabi Tuhan di Israel yang bisa menyembuhkannya. Tanpa pikir panjang, Naaman pun segera berangkat ke Israel menemui nabi tersebut. Dan oleh pertolongan Tuhan Naaman disembuhkan secara ajaib.
Apa pelajaran penting yang dapat kita pelajari? Allah bisa memakai siapa saja, dan bisa memakai berbagai cara apabila Ia ingin menyatakan kehendak dan rencana-Nya. Siapa sih…budak perempuan itu, yang hanya dengan perkataannya memungkinkan seorang sekaliber Naaman bergegas berangkat ke Israel? Mungkin ia hanya seorang perempuan muda tidak berpengalaman, mungkin ia hanya tawanan, dan mungkin dia hanya seorang hamba atau budak, tetapi jika Tuhan mau pakai seseorang, tidak ada yang mustahil bagi Dia. Tuhan bisa memakai seorang ‘budak perempuan’ untuk membawa keselamatan bagi bangsa lain. Alkitab mencatat, melalui peristiwa itu Naaman menjadi percaya kepada Tuhan (2 Raja. 5:17). Sekali lagi siapapun saya dan anda, Tuhan bisa pakai untuk menyatakan keselamatan bagi orang lain.

Doa: Tuhan, mungkin aku tidak berpengalaman, aku bukan siapa-siapa, aku ini adalah hambaMu, jadilah padaku menurut kehendak dan rencanaMu.SP

Sabtu, 19 Maret 2011

PELAJARAN DARI ‘KARET GELANG’

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. (1 Korintus 12:22, 23)

Setiap pagi saya sering membeli nasi bungkus untuk sarapan. Dan biasanya penjual membungkusnya dengan kertas nasi dan mengikatnya dengan karet gelang. Selesai makan, biasanya saya langsung membuang bungkus dan keret gelang itu ke tempat sampah. Saya pikir ‘buat apa disimpan, toh nggak aka nada gunanya lagi’. Akan tetapi, pernah suatu ketika saya ingin mengikat sesuatu dan butuh karet gelang, namun setelah saya mencari di meja, rak, laci, dan seluruh ruangan tak satu pun karet gelang saya temukan.
Saya tersadar, bahwa sekecil apapun dan bagaimanapun pribadi seseorang, kita tidak boleh menganggap rendah dan meremehkannya. Penting untuk kita pahami bahwa kegagalan seringkali dimulai ketika saya dan anda mulai merasa diri lebih baik, dan meremehkan atau merendahkan orang lain. Melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus mengingatkan agar sekalipun saya dan anda diberikan banyak karunia oleh Tuhan, namun jangan sampai membuat saya dan anda menjadi sombong rohani. Jangan sampai berbagai kelebihan atau karunia yang kita miliki membuat kita menjadi tinggi hati, merasa sudah lebih rohani dari pada orang lain.
Sebagai sesama anggota tubuh Kristus, saya dan anda harus belajar saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya. Sebab setiap anggota adalah berharga dan mulia di hadapan Tuhan. Ada yang Tuhan percayakan untuk menjadi pemimpin, penata ibadah, pemusik, liturgos, pengatur soundsistem dan lain-lain. Akan tetapi ada juga yang Tuhan percayakan sebagian orang bekerja ‘di belakang layar’, mereka yang sering membersihkan meja, membersihkan lantai, menyediakan konsumsi, berdoa, pelayanan pembesukan, membereskan buku-buku pujian, mengatur ruangan perpustakaan, merawat alat music, dan lain sebagainya. Apa pun yang mereka lakukan sama berharganya dimata Tuhan, jadi jangan pernah memandang rendah apa yang Tuhan pandang berharga dan mulia.

Doa: Tuhan, ampuni kami jika selama ini merasa diri lebih baik dan menganggap rendah pelayanan orang lain, tolong agar kami dapat saling menghormati dan menghargai, dan bekerjasama membangun gerejaMu. SP

Minggu, 20 Maret 2011

SAYA ADA BUKAN KARENA KEBETULAN

“Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN: yang menciptakan engkau, hai Yakub,yang membentuk engkau, hai Israel…”
Yesaya 43:1a

Anda di ciptakan bukan karena suatu kebetulan.Kelahiran anda juga bukan suatu kesialan dari suatu “kecelakaan.” Orang tua anda mungkin belum merencanakan kelahiran anda, tetapi Allah telah merencanakannya. Ia sungguh-sungguh mengharapkan kehadiran anda di dunia ini.
Jauh sebelum anda ada dalam benak orang tua anda, anda sudah ada dalam pikiran Allah. Bukan karena nasib, bukan karena kesempatan, bukan karena keberuntungan, juga bukan karena kebetulan, anda bernafas saat ini. Anda hidup saat ini karena Allah ingin menciptakan anda! Allah tidak pernah melakukan apapun secara kebetulan dan Dia tidak pernah membuat kesalahan. Dia adalah Allah yang memiliki alasan ketika menciptakan (created) dan membentuk (formed) anda.
Ketika Allah menciptakan dan membentuk anda, Dia tidak serampangan (asal jadi), namun Ia merencanakannya dengan ketepatan luar biasa. Mengapa Allah melakukan semuanya ini?? Mengapa Ia harus bersusah-payah menciptakan dan membentuk kita?? Karena Dia adalah Allah yang kasih. Jenis kasih ini sulit untuk dipahami, tetapi benar-benar bisa dipercayai. Anda (sebutkan nama anda) diciptakan sebagai sasaran khusus dari kasih Allah! Allah menjadikan anda supaya Dia bisa mengasihi anda. Betapa Allah begitu mengasihi dan menghargai anda! Inilah sebuah kebenaran untuk dijadikan landasan kehidupan anda.
Siapapun anda, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa atau kosiaga, anda belum terlambat untuk dapat memahami bahwa “SAYA ADA BUKAN KARENA KEBETULAN.”

Perenungan: Saya ada karena Allah mengasihi saya, dan kasih-Nya yang sempurna itu telah menciptakan dan membentuk saya. SN

Senin, 21 Maret 2011

DICIPTAKAN BAGI KESENANGAN ALLAH
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
(Why.4:11 LAI-TB)

“…Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan bagi kesenangan-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Why.4:11 NLT).

Sadarkah dan tahukah kita bahwa ketika kita dilahirkan ke dalam dunia ini membawa suatu kesenangan bagi Allah yang nantinya akan menjadi bagian dari tujuan hidup kita? Ketika kita mulai menyadari dan memahami bahwa kita ada di dunia ini bukan secara kebetulan melainkan mendatangkan kesenangan bagi Allah, tentu kita kita tidak akan lagi memiliki masalah dengan perasaan tidak berarti. Sesungguhnya kebenaran tersebut sudah cukup untuk membuktikan betapa berharganya kita. Kalau kita demikian pentingnya bagi Allah dan Dia sendiri menganggap kita cukup berharga untuk selalu bersama-Nya dalam kekekalan sorga, apa lagi yang bisa kita anggap lebih penting dari itu?
Ketika Allah menciptakan dan membentuk kita, Ia juga memperlengkapi kita dengan panca indera dan emosi sehingga kita mampu mengalaminya. Hal tersebut dikarenakan Ia ingin agar kita dapat menikmati hidup, bukan sekedar menjalaninya. Alasan mengapa kita bisa menikmati kesenangan Allah adalah karena Allahlah yang telah menjadikan kita menurut gambar-Nya.
Dan cara yang dapat kita lakukan untuk mendatangkan kesenangan bagi Allah disebut “Penyembahan.” Penyembahan bukan bagian dari hidup kita, melainkan adalah kehidupan kita. Penyembahan yang menyenangkan bagi Allah, adalah ketika penyembahan berfokus pada Allah. Sebenarnya, penyembahan tidak hanya terbatas pada pujian, lagu-lagu rohani dengan musik sendu. Penyembahan adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemuliaan dan kesenangan-Nya, baik dengan suara, tutur kata, pikiran, perbuatan yang dilakukan dengan hati tulus.

Doa Perenungan: Allahku, tuntun dan pakailah hidupku agar selalu menyenangkan hati-Mu, baik melalui ibadah, pikiran, perbuatan dan tutur kataku. Amin. SN
Selasa, 22 Maret 2011

BERHARGA UNTUK MELAYANI ALLAH

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)

Anda adalah sebuah karya agung orisinil yang diracang oleh seniman Agung itu untuk suatu tujuan, tidak ada duanya. Untuk itulah, maka tidak terlalu berlebihan jika anda disebut Maha Karya Allah. Namun, pernah terbesit dalam benak kita?? Mengapa hanya manusia, yaitu saya dan anda yang disebut Maha Karya Allah? Apakah sekedar untuk menikmati kasih-Nya atau telah direncanakan untuk menghuni surga? Jawaban tadi tidak salah, namun lebih dalam lagi seperti yang dituliskan rasul Paulus dalam surat Efesus 2:10, bahwa karena kasih karunia Allah kita diselamatkan, kita dilayakkan sehingga menjadi berharga dan itu kita dapat bukan karena usaha atau pekerjaan atau kebaikan kita.
Lebih jauh lagi, rasul Paulus menegaskan oleh karena kita buatan Allah, yang berharga, yang penting dan mendatangkan kesenangan bagi-Nya maka seharusnya kita tidak berlarut-larut “menikmati” posisi kita sebagai Maha Karya Allah dan duduk manis tanpa melakukan apapun.
Justru karena kita berharga, kita penting, kita dapat menyenangkan-Nya, Allah telah mempersiapkan bagi kita suatu pekerjaan, pelayanan yang telah Ia persiapkan sebelumnya dalam hidup kita. Pekerjaan, pelayanan yang telah Allah persiapkan tidak hanya terbatas pada hidup kita atau berfokus pada berkat-berkat semata. Karena melakukan “pekerjaan baik” (to do good works) dapat berupa melakukan tindakan-tindakan kreatif dan positif yang kita lakukan untuk kepentingan orang lain, bukan untuk kepentingan diri sendiri.
Akhir dari “pekerjaan baik” yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan Allah. Pekerjaan baik seharusnya menjadi gaya hidup dari orang-orang yang telah mendapat kasih karunia yaitu saya dan anda. Pekerjaan baik itu dapat secara praktis kita nyatakan tidak hanya pada Allah namun juga dapat kita nyatakan kepada sesama. Pekerjaan baik itu dapat melalui perkataan yang menguatkan, menghibur, melayani sesama, terlebih mengabarkan serta memancarkan kasih Kristus pada mereka yang “belum terjamah”.

Perenungan: Sejauh mana keberadaan anda sebagai Maha Karya, telah memancarkan kasih Kristus atau justru keberadaan kita justru menjadi batu sandungan bagi yang “belum terjamah” kasih Kristus? SN

Rabu, 23 Maret 2011

DAHSYAT DAN AJAIB

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
(Mzm.139:14-LAI TB)

I praise You, because i am fearfully and wonderfully made; Your works are wonderful; I know that full well (Psalm 139:14-NIV).

Tahukah kita, selain sidik jari, ternyata lidah kita juga mempunyai pattern unik yang tidak dimiliki oleh orang lain. Selain itu, ternyata saat kita membaca tulisan ini, sebenarnya sedang ada sekitar 50 ribu sel yang mati dalam tubuh kita, tapi di saat yang sama lahir pula 50 ribu sel baru yang menggantikannya (kecuali di bagian otak).
Selanjutnya mari kita berhitung, detak jantung rata-rata orang dewasa 60-70kali/menit, maka dalam 1 hari (1.440 menit x 70) jantung orang dewasa berdetak 100.800 kali, jika kita telah berusia 25 tahun maka jantung kita telah berdetak kira-kira 919.800.000 kali (ini merupakan perhitungan kasar dan dapat berbeda pada tiap orang). Jantung merupakan salah satu organ penting yang Allah ciptakan, Ia merancangnya dengan perhitungan yang ahli. Jika jantung kita beristirahat selama 2 jam saja maka kita telah dapat dinyatakan meninggal. Bayangkan betapa paniknya!! Masih banyak lagi kelebihan, keunikan dan keajaiban dalam tubuh ciptaan Tuhan yang tentunya setiap orang mempunyai perbedaan dan keunikan.
Hal ini, amat disadari oleh si pemazmur, Daud. Daud amat menyadari siapa dirinya di hadapan Allah yang Maha Tahu, Pencipta-Nya. Betapa luar biasa dan mengaggumkan, ketika mendapati karya tangan Allah pada dirinya. Oleh karenanya, ia bersyukur akan keberadaan dirinya sebagai ciptaan Allah.
Lalu bagaimana dengan kita??kita yang adalah ciptaan Allah berharga? Sayangnya, seringkali kita tidak menyadari hal-hal ajaib tersebut. Bahkan, tidak jarang kita “selalu” berfokus apa yang menjadi kelemahan khususnya fisik kita, jika kita membandingkan dengan orang lain. Apakah kita akan “selalu” menjadi tidak puas akan keberadaan diri kita dan menginginkan diri kita menjadi “mengesankan” di hadapan pandangan orang lain?
¬¬¬
Perenungan: Dunia ini boleh katakan kita tak berarti, tidak cantik/tampan, tidak ideal bahkan ketika diri kita mengatakan “aku benci fisikku”, Allah tetap berkatadengan penuh kasih, “Aku menciptakan engkau, dahsyat dan ajaib, anakku.”

Kamis, 24 Maret 2011

AJARAN KASIH DARI ALLAH

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi. (Amsal 3:11-12)

Dalam sebuah pembesukkan, kami terlibat obrolan ringan seputar uang sekolah anak di suatu sekolah national plus bersama seorang ibu. Ketika, ibu itu menyatakan jumlah nominalnya hanya untuk uang masuk, saya cukup terkejut. Hal tersebut dikarenakan jumlah nominalnya berada di kisaran belasan juta. Jawaban yang berkali-kali saya dengar, yaitu ‘demi anak mendapat pendidikan yang baik bahkan terbaik saya rela mengeluarkan uang tersebut’ yang walaupun jumlahnya tidak masuk akal untuk ukuran uang sekolah anak SMP.
Tak diragukan lagi, rasa kasih sayang orang tua merupakan salah satu pendorong agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Demikian juga kita sebagai anak-anak Allah yang dipandang berharga dan dikasihi-Nya, tentulah Ia ingin mengajar, mendidik kita. Penulis Amsal dalam dua ayat di atas, mengingatkan bahwa kita sebagai anak-anak Allah janganlah menolak didikan TUHAN dan janganlah bosan akan peringatan-Nya, karena hal tersebut TUHAN lakukan kepada orang-orang yang berkenan bagi Allah. Namun, terkadang kita kurang mengerti maksud didikan Allah hingga tak jarang kita pun mengabaikannya.
Kiranya penggalan lirik sebuah lagu yang berjudul ‘pelangi kasih’ kiranya boleh mengingatkan kita pada sebuah perenungan:

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati
Indah semua yang Tuhan b’ri
Tuhanmu tak akan memberi
Ular beracun pada yang minta roti
Cobaan yang engkau alami
Tak melebihi kekuatanmu
Tangan Tuhan sedang merenda
Suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti, Kau lihat pelangi kasihNya.
SN

Jum’at, 25 Maret 2011

YESUS MENGASIHI ORANG “TERPINGGIRKAN”

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
(Yohanes 9:1-3-LAI TB)

Siapa yang ingin dilahirkan dalam kondisi buta sejak lahir? Kita yakin bahwa semua orang tua menginginkan kelak anaknya lahir dengan kesempurnaan fisik. Lalu bagaimana dengan orang yang buta sejak lahir? Apakah keterbatasan fisiknya merupakan suatu kutukan akibat dosanya atau dosa orang tuanya? Saya yakin, orang tersebut menginginkan ia bisa melihat warna-warni bunga, ingin melihat bagaimana rupa orang tuanya, ingin melihat bagaimana rupanya, walaupun ia buta.
Seorang gadis bayi berusia 6 bln juga mengalami kebutaan akibat salep mata dari dokter “gadungan.” Namun, gadis ini selalu ceria meski ia hanya dapat melihat kegelapan seumur hidupnya. Gadis itu bernama Frances Jane Crosby atau Fanny Crosby. Apakah ia atau orang tuanya kena kutuk dari dosa turunan hingga ia buta dan tidak berharga?? Ajaib, walau tidak dapat membaca Alkitab, namun ketika ia berusia 10 tahun, ia mampu menghafalkan sebagian besar PB dan keempat kitab pertama PL, Rut, sebagian Mazmur dan Amsal. Tuhan menganugerahinya daya ingat yang luar biasa. Selama hidupnya, ia telah mengarang lebih dari 9.000 lagu rohani salah satunya yang terdapat dalam KPPK no.26 ‘Mulia Bagi Allah’.
Setidaknya ada satu persamaan dan satu perbedaan antara orang buta sejak lahir dengan Fanny Crosby. Persamaannya, bukan dia atau orang tuanya yang berdosa, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ay.3). Perbedaannya, orang buta sejak lahir dapat melihat kembali setelah Yesus menjamahnya, tetapi Fanny Crosby tetap hidup dalam kegelapan, namun Fanny Crosby telah menjadi berkat melalui lagu-lagunya bagi sebagian besar orang di dunia.
Keterbatasan fisik bukanlah suatu bukti otentik kutukan atau hukuman Allah terhadap manusia, justru seringkali Allah memakai keterbatasan fisik untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa.

Perenungan: Ke’berhargaan’an anda di mata Allah tidak bergantung pada keterbatasan fisik yang anda miliki, namun justru berdoalah: pekerjaan ajaib apa yang hendak Allah nyatakan pada diri anda. SN

Sabtu, 26 Maret 2011

SELALU DALAM GENGGAMAN ALLAH

Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok tembokmu tetap di ruang mata-Ku.
(Yesaya.49:16)

Jika kita membuka dompet, foto siapakah yang ada di dalamnya??
Jika anda sudah berkeluarga, mungkin itu foto keluarga/anak/pasangan, jika anda masih pacaran mungkin itu foto pacar, jika anda masih sendiri mungkin itu foto anda atau sahabat atau keluarga atau kosong sama sekali. Siapapun foto yang terpasang di dompet anda kemungkinan besar bukan foto seseorang yang anda “kurang sukai” bukan?? Jika demikian, tentunya foto yang ada dalam dompet anda adalah seseorang yang penting, berharga dan anda sayangi.
Demikian seperti yang tertulis dalam kitab Yesaya 49:16. Umat Israel merasa bahwa mereka sudah tidak lagi berkenan dan telah ditinggalkan Allah karena mereka tengah di tawan oleh Babel. Di tengah situasi keputusasaan tersebut, ada kabar pengharapan yang disampaikan oleh Yesaya. Allah telah melukiskan umat Israel di telapak tangan-Nya, dalam bahasa Inggris berbunyi demikian, ‘I have engraved you on the palms of my hands ’kata melukiskan dalam terjemahan NIV berarti mengukir, memahat, menggoreskan. Jika penggalan ayat tersebut diterjemahkan secara bebas dapat diartikan demikian, ‘Aku (Allah) telah mengukir, memahatmu di telapak tangan-Ku’ atau ‘engkau aman dalam genggaman-Ku.
Bapak, ibu, saudara sekalian untuk mengetahui betapa berharga dan pentingnya kita, Allah tidak memerlukan dompet atau figura untuk menyimpan foto kita (saya dan anda), karena Ia telah melukiskan bahkan memahat/menggores/mengukir kita aman dalam genggaman telapak tangan-Nya.

Perenungan: Dalam bidang kehidupan apa sajakah, anda meragukan Allah serta merasa anda ditinggalkan dan di anggap tidak penting? Hafalkanlah ayat ini untuk mengingat betapa berharganya kita bagi Allah.
SN
Minggu, 27 Maret 2011

(Thema Komsel 1 April)
KETIKA SEMUA TELAH RUSAK

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Roma 3:23-24)

Salah satu bapa gereja pernah mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengenal Allah adalah mengenal manusia (diri sendiri), dan cara untuk mengenal diri sendiri adalah mengenal Allah. Hal ini sangat masuk akal, karena kita ini ciptaan-Nya dan IA Pencipta kita. Bukan hanya itu, IA menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya, sehingga antara kita dan Allah Pencipta memiliki hubungan untuk saling digambarkan dan menggambarkan.Namun masalahnya tidak semudah itu, mengapa demikian? Ya, karena relasi itu telah rusak, gambar dan teladan Allah di dalam hidup manusia telah rusak. Manusia yang berdosa tidak dapat merefleksikan diri Allah dengan baik. Masalahnya bertambah serius, karena tak seorangpun tak berdosa & kehilangan kemulian Allah.
Mengacu kepada subthema gereja tahun ini – MEMBANGUN HUBUNGAN YG PENUH KASIH, maka KASIH dan KEHANGATAN bukan sesuatu yg tiba-2 terjadi. Dengan landasan Anugerah Tuhan maka KASIH dan KEHANGATAN harus diupayakan dan diperjuangkan. Jangan putus asa, kesempatan untuk berubah itu selalu ada; menjadi lebih baik, lebih hangat dan lebih mengasihi selalu terbuka lebar bagi kita yg mau mengalaminya. Bulan Januari kita ingin dimotivasikan bahwa kita dapat menggunakan kesempatan tersebut. Bulan Februari kita telah melirik factor keluarga menjadi salah satu contributor terbentuknya kasih & kehangatan dalam diri seseorang; keluarga yang hangat akan menghasilkan pribadi-2 yg hangat; keluarga yg dingin & kaku akan melahirkan pribadi-2 yg dingin & kaku pula. Pada bulan Maret ini kita hendak merenungkan manusia sebagai satu pribadi yang unik di hadapan Tuhan, bagaimanakah ia menjadi pribadi yang hangat, mungkinkan dirinya sebagai manusia bernatur dosa dapat menjadi pribadi yang hangat, yang dapat menjadi berkat bagi orang lain?
Materi DiskusiManusia berdosa selalu menganggap diri benar, egois, serakah & memuaskan diri sendiri, cenderung tidak peduli. Bagaimana agar manusia berdosa memiliki kasih & kehangatan? Apakah Anugerah Tuhan menjadi jawabannya? Lalu? Tindakan anda? jp

Senin, 28 Maret 2011

SUDAH DARI “SONO-NYA”

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.
Mazmur 51:7

Tidak jarang saya menemukan orang Kristen yang memiliki pemahaman yang kurang tepat tentang eksistensi dosa dalam hidup manusia. Manusia masih sangat terpengaruh dengan pemahaman bahwa dosa merupakan sebuah akibat perbuatan yang melanggar dan melawan kehendak Tuhan, atau sederhananya – DOSA  PERBUATAN. Sehingga bila ia merasa tidak melakukan tindakan berkategori dosa & jahat, maka manusia merasa tidak berdosa. Bila ia tidak berdosa, maka ia menolak pengampunan & keselamatan. Bila ia membutuhkan Yesus, maka hal itu kaitannya dengan bagaimana ia membutuhkan pertolongan untuk menghadapi pergumulan-pergumulannya.
Di mata Allah semua manusia telah berdosa, dan membutuhkan anugerah pengampunan & keselamatan. Memang tidak ada di antara kita yang mau terlahir dalam keadaan berdosa, tetapi kita tidak mampu mengelak natur dosa dalam diri manusia. Kita telah menerima warisan dosa dari Adam & nenek moyang kita. Dosa bukan semata-mata berkait erat dengan perbuatan-perbuatan dosa; dosa telah menjadi natur manusia, bukan saja ketika ia dilahirkan, ketika manusia menjadi bakal bayi, ketika sel pria bertemu dengan sel wanita dosa telah ada. Dengan demikian, jauh sebelum manusia dapat berpikir jahat dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat sesungguhnya manusia telah berdosa. Justru natur dosa inilah yang membuat manusia mampu berpikir dan bertindak jahat baik terhadap manusia, juga kepada Allah.
Merujuk kepada thema kita di Minggu ini – KETIKA SEMUA TELAH RUSAK, maka dapat dipastikan kesimpulannya semua manusia telah rusak, bukan sekedar berpotensi rusak. Kerusakan ini bukan sekedar merujuk secara moral, tetapi secara esensial manusia telah rusak. Sekalipun ia melakukan perbuatan-2 kebajikan, itu tidak akan membawanya untuk masuk sorga. Semua manusia membutuhkan anugerah-Nya. Mengapa anugerah? Yak arena kondisi kerusakannya tidak mampu meresponi Allah. Hanya Allah-lah yg menyanggupkannya untuk berespon terhadap panggilan anugerah keselamatan.
DOA: Terima kasih Tuhan untuk Anugerah Keselamatan dari-Mu

Selasa, 29 Maret 2011

MENCARI JALAN PEMBENARAN

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”(Matius)

Beberapa hari yg lalu saya menerima sms dari seorang rekan yang bertuliskan: Yang menentukan kudus atau sekulernya kita bukanlah apa yang kita perbuat, tetapi mengapa kita berbuat. Saya pikir is isms itu senada dengan isi nats perenungan kita di hari ini. Ada orang-orang yang berpikir mereka kudus dan layak menerima ganjaran untuk masuk kerajaan sorga karena mereka minimalnya telah melakukan 2 (dua) hal, yakni: 1). Berseru TUHAN, TUHAN dan TUHAN 2). Bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mujizat demi nama TUHAN. Tetapi nyatanya Yesus berterus terang bahwa IA tidak mengenal mereka. Parahnya, mereka yang melakukan demikian disebut Yesus sebagai pembuat kejahatan.
Sebagai mana telah kita singgung di hari Minggu, hakekat manusia yang berdosa adalah mau menang sendiri, menganggap benar diri sendiri. Jelas sekali dalam nats bacaan kita, manusia mencoba mencari pembenaran berdasarkan apa yang telah dilakukannya, mungkin ia merasa kudus dan benar dengan melakukan itu semua. Bolehkah kita bertanya, bukankah yang mereka lakukan di ayat 22 identik dg melakukan kehendak Bapa di Sorga? Bukankah Tuhan Yesus juga melakukan hal-2 tersebut (Bernubuat, menyembuhkan dan melakukan mujizat)?
Jawabannya terletak di motivasinya, alasan mengapa mereka melakukan hal itu. Yesus melakukannya karena itu kehendak Bapa-Nya, tetapi mereka melakukannya untuk kepentingan dan keuntungan diri mereka sendiri. Dan itulah yang dikatakan pembuat kejahatan oleh Yesus.
DOATuhan kuduskan hatiku, sehingga segala sesuatu yang aku lakukan itu karena-Mu, melakukan kehendak-Mu & memuliakan nama-Mu.

Rabu, 30 Maret 2011

MENCARI JALAN PEMBENARAN (2)

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”(Yakobus)

Dalam perenungan bulan yang lalu telah kita bahas bersama tentang bahasa universal, bahasa yang dipahami oleh semua orang. Ketika manusia berbicara tentang konsep, tentang prinsip, tentang ajaran dan keyakinan maka hal yang membuat orang lain mengetahui, memahami dan menerimanya adalah bahasa BUKTI. Yakni sesuatu yang membuktikan bahwa prinsip, konsep, ajaran tersebut benar dan nyata. PERBUATAN menjadi sangat penting dan dituntut karena perbuatan membuat orang lain merasakannya. Sejujurnya PERBUATAN menjadi area pertemuan antara mereka yang percaya Tuhan dan tidak percaya Tuhan, sehingga dapat menimbulkan perdebatan, misalnya:
 Apakah ada perbedaannya antara orang beriman dan tidak beriman dalam melakukan perbuatan kebajikan? Karena nyatanya mereka dua-2nya dapat berbuat baik?
 Apakah seharusnya orang beriman dapat berbuat lebih baik dari mereka yang tidak beriman?
 Apakah iman dan perbuatan adalah 2 hal yang berbeda dan dapat dipisahkan, sehingga muncul ungkapan seperti di atas, “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan?”
 Atau seharusnya iman dan perbuatan adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan, sehingga muncul ungkapan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku?

PerenunganTentu kita akan berpendapat seperti poin ke-4, bila demikian ada sebuah tantangan bagi kita, yakni bagaimana kita menyatakan iman kita melalui perbuatan-2 kita. Jangan cepat puas diri dengan iman pengetahuan (atau pengetahuan-2 iman), tetapi usahakanlah agar kita memiliki iman perbuatan, sehingga melaluinya orang lain mengetahui iman kita kepada Yesus Kristus, Allah yang penuh kasih itu. jp

Kamis, 31 Maret 2011

SEMUA HANYA ANUGRAH-NYA

2:4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan –6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga,7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.(Efesus)

Ayat ini menjadi sangat penting untuk menyadarkan kita tentang beberapa hal, yakni:
 Sebagaimana bahasan kita dalam minggu ini bahwasannya semua manusia telah rusak dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan manusia tidak pernah memiliki kuasa untuk menyelamatkan dirinya. Paulus menggambarkan manusia yang telah mati oleh kesalahan-2 kita.
 Keselamatan itu semata-mata hanya anugerah Allah, yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati.
 Belum cukup, kita diingatkan agar jangan sombong dan memegahkan diri bila diselamatkan, sekali lagi itu adalah ANUGERAH. Bukan hasil usaha manusia, juga bukan karena perhitungan melakukan perbuatan-perbuatan baik maka Allah menyatakan kita layak menerima keselamatan dan masuk Sorga.

Perenungan Sudahkan kau syukuri anugerah Tuhan yg selamatkanmu?