KELUARGA UTUH, GEREJA TANGGUH
AKU BEGINI… ENGKAU BEGITU…
1 Korintus 7:3-4; 1 Petrus 3:1-7
By Pdt. Andreas Sugianto

Kata alm Broery Pesolima dalam lagunya yang terkenal “aku begini… engkau begitu… sama saja” menyatakan bahwa sering kali sebuah hubungan menjadi retak karena masing-masing pihak terlalu kuat dalam mempertahankan “keegoisan diri” dan tidak mampu untuk menyelami dan melihat kebutuhan orang lain. Memang harus kita akui, keretakan dan kehancuran sebuah keluarga terjadi karena masing-masing pribadi (suami atau istri) tidak mau mengalah dan merasa diri yang paling benar. Komunikasi yang diharapkan dapat menjadi jembatan dalam menyelesaikan beberapa persoalan ternyata tidak mampu memberikan solusi yang baik, malah sebaliknya saling menyakiti dan menghina. Hal ini terjadi karena dalam komunikasi ternyata tidak nyambung, sang suami menghendaki A, sementara pasangannya menghendaki yang B, dan hasilnya C yaitu “cheos” (kekacauan).
Komunikasi tidak nyambung karena komunikasi yang terjadi adalah komunikasi “monologis” di mana si pembicara tidak lagi mau mendengar dan melihat secara obyektif apa yang terjadi dengan lawan bicaranya. Misalnya seorang istri menjadi marah besar dan tidak mendasarkan kemarahannya pada sesuatu yang nyata terhadap berita yang didengar dari orang lain tentang perilaku suaminya dan tidak mau melihat alasan yang mendasar. Ketidak nyambungan terjadi karena masing-masing berbicara dalam pihak yang merasa benar dan lawan bicaranya dianggap salah, demikian juga sebaliknya.
Hal yang cukup mendasar yang sering kita lupakan adalah bahwa sebenarnya antara pria dan wanita ada perbedaan dalam hal melihat segala sesuatu dan khususnya dalam menilai dan menentukan sikap terhadap apa yang dilihat atau didengar atau dialaminya. Bagi seorang pria mungkin apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan adalah sesuatu yang kecil, sederhana, tidak perlu dipikirkan lebih lanjut, dan cenderung “easy going” saja, namun ternyata tidak demikian dengan kaum perempuan yang justru melihatnya sebagai sebuah persoalan yang serius dan tidak bisa disepelekan. Jika salah satu pihak tidak memahami hal ini dan tidak melihat segala sesuatu secara obyektif, maka yang terjadi adalah pertengkaran.
Ketidakjelasan komunikasi yang berdampak pada ketidak-nyambungan berbicara adalah akar dari sebuah masalah yang tidak boleh dianggap sepele. Misalnya, bagi seorang suami yang sedang pergi keluar kota dalam waktu yang cukup lama dan bagi dirinya ketika sedang melakukan tugas pekerjaan adalah segalanya maka ia tidak menelpon istrinya. Mungkin bagi sang suami, berpikir bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak perlu repot telpon istrinya. Namun ternyata tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh sang istri, ia merasa kuatir dan cemas apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya. Lalu muncullah pikiran-pikiran yang negatif terhadap suaminya dan anda dapat menebak bagaimana berikutnya ketika mereka sedang berkomunikasi.
Dalam hal inilah seharusnya kedua belah pihak dapat saling memahami kebutuhan pasangannya dan mengkomunikasikan dengan baik dan benar. Memahami perbedaan adalah kunci untuk menyatukan sebuah hubungan. Dalam hal ini setiap pihak harus mampu menempatkan dirinya pada orang lain (pasangannya) demikian juga pasangannya mampu menempatkan dirinya pada pasangannya yang sedang berbicara kepadanya sehingga komunikasi dapat nyambung.
PERBEDAAN PERANAN SUAMI DAN ISTRI
Dalam kitab Kejadian 1:27 menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Artinya gambaran Allah ada pada diri manusia saja dan bukan pada ciptaan lainnya. Manusia adalah gambar Allah yang mencerminkan kemuliaan Allah. Disinilah setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah gambar Allah. Lalu Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan.
Dalam Kejadian 2:18, 21 menyatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menjadi satu pasangan yang seimbang. Allah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah pasangan yang sepadan, dimana keduanya dapat saling melengkapi, menopang dan menumbuhkan. Kesepadanan bukan berarti antara laki-laki dan perempuan menjadi sama dalam segala hal, kesepadanan tetap menyatakan adanya perbedaan, dan di dalam perbedaan itulah keduanya dapat menjadi sepadan.
Secara riset memang ditemukan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan (secara fisik memang sudah berbeda). Perbedaan itu bukan semata-mata perbedaan fisik dan penampilan saja. Misalnya tulang tengkorak dan kulit tubuh laki-laki lebih tebal dari perempuan, sel darah merah dan jaringan-jaringan tubuh laki-laki yang 20% lebih banyak dari perempuan. Meskipun dengan tubuh yang kelihatan agak lemah, namun ternyata perempuan mempunyai daya tahan lebih besar terhadap panas dan dingin bahkan pada umumnya berumur lebih panjang daripada laki-laki.
Perempuan mempunyai paru-paru yang lebih kecil, tetapi perut, hati dan ginjal yang lebih besar daripada laki-laki. Perempuan mempunyai kebutuhan komunikasi verbal yang lebih besar daripada laki-laki (perempuan rata-rata mengucapkan 25.000 kata per hari dan laki-laki setengahnya). Sebuah riset dilakukan di New York terhadap pasangan-pasangan usahawan dan usahawati menemukan bahwa istri-istri mempunyai kebutuhan bicara dengan suaminya rata-rata 45-60 menit setiap hari, sedangkan suami-suami merasa cukup antara 15-20 menit setiap minggunya. Dikatakan sejak kecil bayi-bayi perempuan mempunyai gerakan-gerakan mulut yang lebih banyak daripada bayi laki-laki.
Allah menciptakan laki-laki berbeda dengan perempuan, oleh karena Allah mempunyai maksud dan tujuan yang agung dalam penciptaan. Perbedaan –perbedaan itu adalah untuk saling melengkapi karena mereka menjadi pasangan yang sepadan. Laki-laki dipanggil untuk menjadi “kepala” dan perempuan sebagai “penolong”nya. Dalam hal ini kita harus melihat bahwa Allah menetapkan suatu pola dalam tujuan sebuah pernikahan yang tidak didasarkan pada prasangka bahwa laki-laki lebih baik dan lebih mampu daripada perempuan. Allah menciptakan laki-laki menjadi “kepala” bukan oleh karena ia yang mencari nafkah, atau lebih kuat otot-ototnya atau lebih tinggi pendidikannya. Namun penetapan Allah adalah penetapan yang didasarkan pada kebijaksanaan dan kemahatahuan-Nya (kedaulatan Allah) saja. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan segala keunikan dan kodratnya masing-masing adalah Allah yang mempunyai rencana di balik semua karya penciptaan.
Seorang suami harus menghidupi panggilannya menjadi kepala dan istri menjadi penolong adalah merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan penyangkalan diri secara terus menerus. Artinya baik laki-laki maupun perempuan harus dapat mengerti panggilan dan kewajibannya untuk dapat saling menumbuhkan. Inilah keunikan pernikahan Kristen yang terus menerus bergumul untuk mengerjakan rencana Allah atas hidup mereka, khususnya dalam pernikahan. Seorang suami tidak akan pernah mengerti panggilan Allah di balik keringat yang diperasnya setiap hari jikalau ia belum berada dalam proses menghidupi panggilannya sebagai kepala. Demikian juga dengan istri, tidak mungkin dapat memahami panggilan Allah di balik tugas rutinnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga jikalau ia belum berperan sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya.
Jadi sangat tepat apa yang ditulis oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:3-4 yang kita baca “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya” Singkatnya, seorang suami harus menjalankan panggilannya menjadi kepala sama seperti Kristus yang menjadi kepala bagi gereja-Nya, di mana Ia rela menyerahkan diri-Nya untuk jemaat yang dikasihi-NYa. Suamipun demikian, harus dapat memberikan rasa aman bagi isterinya yang adalah penolong yang sepadan bagi dirinya. Istripun demikian dapat menjadi penolong dan memberikan dirinya untuk pertumbuhan suaminya yang adalah kepalanya.
Membangun komunikasi yang sehat; KOMUNIKASI YANG DIALOGIS
Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa pertengkaran sering terjadi karena komunikasi yang tidak nyambung antara suami istri. Komunikasi hanya bersifat monologis, yaitu percakapan yang hanya menuntut lawan bicara untuk menerima apa yang sedang ia bicarakan. Komunikasi monologis adalah komunikasi yang sebenarnya bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, dan ia hanya mau mendengar apa yang senang ia dengar dan tidak akan pernah mendengarkan apa yang orang lain (pasangannya) katakan jika tidak sesuai dengan apa yang menyenangkan dirinya.
Komunikasi monologis selalu menuntut teman bicara (pasangannya) untuk menanggalkan keunikan-keunikan identitas pribadinya, baik keunikan pikirannya, maupun identitasnya. Artinya komunikasi ini bertujuan agar lawan bicaranya menerima dan menuruti apa yang dibicarakan tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengajukan pendapat. Jika ini sering terjadi dalam komunikasi suami istri maka yang terjadi adalah tidak adanya keakraban dan kemesraan yang sejati. Inilah yang membuat seorang suami atau istri berkata “Saya malah lebih senang dan bebas berbicara dengan teman atau sahabat saya dari pada berbicara dengan suami atau istri saya” Dalam hal ini hubungan suami istri sudah mulai hambar, dan merupakan biang keributan berikutnya. Tidak menutup kemungkinan ketika ia berbicara dengan orang lain yang lebih mengerti dirinya, maka akan terjadi perselingkuhan.
Komunikasi yang sehat antara suami istri adalah komunikasi yang “Dialogis” yaitu komunikasi atau percakapan yang mau menghargai dan menerima orang lain sebagai lawan bicaranya. Komunikasi ini lebih memusatkan pada “pribadi” lawan bicara ketimbang “bahan pembicaraan” itu sendiri. Maka disini, percakapan akan lebih hidup sebab siapa yang berbicara akan selalu menghargai “perasaan” lawan bicaranya, begitu juga sebaliknya. Dalam Dialog akan terjadi “saling menumbuhkan” dan bukan “menjatuhkan”, maka komunikasi dialogis akan menciptakan kehangatan bagi suami istri dalam berbicara.
Jadi inti dari komunikasi dialogis adalah “I and thou relationship” (aku dan hubunganku dengan pasanganku) yang menuntun mereka pada “harta terpendam” kekayaan ciptaan Allah yang tak ternilai harganya, yaitu manusia seutuhnya, yang adalah peta dan gambar Allah yang kita dapatkan melalui pasangan kita.
UNSUR-UNSUR PENTING DALAM KOMUNIKASI DIALOGIS
Untuk dapat menciptakan komunikasi yang dialogis maka kita perlu memperhatikan unsur-unsur yang perlu kita kembangkan. Unsur-unsur ini membutuhkan kerelaan hati kita untuk melakukannya. Ada 4 unsur penting, yaitu;
1. Listening
Listening adalah kesediaan kita untuk mendengar apa yang betul-betul mau diucapkan. Kita cenderung untuk menjawab atau mengeluarkan kata-kata tanpa kita mengerti secara utuh apa yang kita dengar dan kita langsung berbicara. Kadang keduanya sama-sama berbicara tanpa pernah mau mengalah untuk sejenak mendengar apa yang diucapkan. Maka yang terjadi, persoalan semakin rumit, tidak jelas dan kehilangan inti persoalan. Komunikasi menjadi terhambat dan merusak relasi karena merasa tidak diperhatikan atau tidak dihargai.
2. Empaty
Empaty adalah kerelaan untuk menempatkan diri di tempat orang tersebut. Jadi ketika kita bericara kita harus memikirkan apakah yang kita ucapkan dapat melukai orang lain (pasangan) atau tidak, bagaimana jika apa yang saya katakan itu terjadi pada saya, apakah saya juga akan “sakit hati” Komunikasi akan menjadi sehat apabila kita dapat mengerti perasaan orang lain, karena itu dapat menumbuhkan orang tersebut.
3. Understanding
Understanding adalah kerelaan untuk mengerti sama seperti pengertian orang itu (lawan bicara kita). Kadang kita terlalu ngotot membicarakan sesuatu dengan orang lain dan berharap adanya tindakan, namun kita tidak menyadari bahwa apa yang kita bicarakan ternyata tidak dimengerti oleh yang bersangkutan. Dalam hal inilah kita perlu untuk memiliki kerelaan untuk mengerti dan menjadi sama dengan lawan bicara kita, khususnya dengan pasangan kita. Sejauh mana ia mengerti, dan disinilah kita membicarakan sama seperti yang ia mengerti. Sering pembicaraan kita tidak nyambung karena kita tidak tahu bahwa lawan bicara kita ternyata tidak mengerti apa yang kita bicarakan.
4. Accptance
Acceptance adalah kerelaan untuk menerima dia sebagaimana adanya. Sering kita memaksakan apa yang kita bicarakan dan meminta orang lain untuk mengerti sementara kita sendiri tidak mau mengerti orang lain. Salah satu kebutuhan mendasar dalam diri manusia adalah perasaan untuk diterima. Demikian juga dalam komunikasi, kita harus belajar untuk menerima apa yang diucapkan oleh orang lain terlebih jika kita tahu bahwa kita salah.
REFLEKSI DIRI
Pertengkaran sering terjadi karena antara suami istri tidak dapat memahami perkataan pasangannya. Komunikasi yang tidak nyambung dan “bahasa yang tidak sama” (berbicara melihat dari sudut yang berbeda) adalah sering menimbulkan masalah baru yang tidak sedikit semakin memperkeruh suasana. Ketika setiap kita menyadari bahwa memang ada perbedaan dalam cara berkomunikasi, maka kita harus belajar untuk mengerti apa yang sedang dikomunikasikan oleh pasangan kita. Salah satu cara adalah dengan “mendengar” dengan baik apa yang sedang dibicarakan.
Jadi tepat apa yang ditulis dalam kitab Amsal “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas dipinggan perak” (Amsal 25:11) dan kita harus memperhatikan apa yang juga ditulis dalam kitab Amsal “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Amsal 18:13). Hal senada ditulis oleh Yakobus dalam 1:19 “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah”
Jika kita tidak memahami bagian ini dengan baik, maka sebenarnya kita sedang menciptakan suasana yang keruh yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam rumah kita. Komunikasi yang baik, tentu akan membuat keluarga menjadi utuh dan harmonis.

Catatan: gambar diatas adalah tambahan dari redaksi, bukan dari penulis