Selamat berjumpa kembali di tahun yang baru, 2010. Di bulan Januari ini kita akan mengangkat sebuah thema bulanan

Jemaat Multi-Dimensi

Yang akan terbagi menjadi lima bahasan besar yang akan dihantarkan dalam setiap khotbah mingguan dengan thema-thema sebagai berikut:

03 Januari 2010

Jemaat Multi-Dimensi

10 Januari 2010

Orang Kristen dan Dimensi Keluarga-nya

17 Januari 2010

Orang Kristen dan Dimensi Pekerjaan-nya

24 Januari 2010

Orang Kristen dan Dimensi Pembelajaran-nya

31 Januari 2010

Orang Kristen dan Dimensi Sosial-nya

Dengan sebuah tujuan agar setiap jemaat (orang Kristen) menyadari bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhan dengan begitu kompleks-nya, bukan sekedar menjadi satu pribadi yang miskin keterkaitan, melainkan diperkaya dengan pelbagai dimensi yang harus saling terkait, saling mengontrol, saling melengkapi sehingga keutuhan terjadi dalam diri sang manusia ciptaan tersebut.

Ilustrator          : Victor E. Layata

Kontributor      :

  • Andreas Sugianto, Pdt.
  • Henny Purwoadi, Ev.
  • Jenik Purwoadi, Pdt.

Jumat, 01 Januari 2010

MENGHITUNG HARI

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Mazmur

Satu tahun baru saja berlalu dalam kehidupan kita, dan mulai hari ini kita menapaki kehidupan di tahun yang baru. Saya tidak tahu bagaimana cara kita menyikapinya, karena nampaknya setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk merespon tahun yang baru. Bisa jadi kita berada di antara pilihan-pilihan sikap di bawah ini:

  • Dengan optimis kita akan mengatakan bahwa tahun 2010 keadaan akan jauh lebih baik. Kesempatan dan harapan terbentang di depan kita. (Ya tentu saja, karena yang namanya harapan selalu berada di depan kita, bukan di belakang)
  • Nampaknya tahun 2010 tidak menjanjikan apa-apa, bahkan kondisi memburuk-lah yang akan terjadi, kenaikan bahan2 pokok di akhir tahun lalu tak kunjung pulih ke harga semula. Kita menghadapi dengan sikap pesimis.
  • Atau sikap apatis, apa yang akan terjadi . . . terjadilah, karena bagi kita tidak akan memberikan pengaruh terlalu banyak. Yang miskin tetap miskin, yang kaya tetap kaya, pergumulan yang terjadi tetap sama, tidak menjadi lebih ringan ataupun bertambah berat.

Yang menarik, setiap kali muncul bagaimana kita bersikap, toh dapat dilepaskan begitu saja dengan masa-2 yang telah kita lewati. Yang optimis akan mengatakan bahwa masa lalu lebih buruk; yang pesimis mengatakan masa lalu lebih baik; yang apatis berpendapat masa lalu = masa sekarang.  Sejujurnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, lebih baikkah atau lebih sulitkah?

Penulis mazmur memberikan saran yang penting, yakni bersikap bijaksana dalam menjalani hidup, dengan sebuah resep – menghitung hari, yaitu belajar dari masa-masa yang telah kita lewati, belajar dari kegagalan dan keberhasilan, dan belajar untuk melihat intervensi Allah dalam masa-masa lalu, dan yakinlah bahwa IA yang tetap memegang hari esok kita.

Perenungan. Menurut anda apa makna kata-2 “Ajarilah kami?”

Sabtu, 02 Januari 2010

2010 – TAHUN MACAN

7:6 Kemudian aku melihat, tampak seekor binatang yang lain, rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan.

Daniel 

13:2 Binatang yang kulihat itu serupa dengan macan tutul, dan kakinya seperti kaki beruang dan mulutnya seperti mulut singa. Dan naga itu memberikan kepadanya kekuatannya, dan takhtanya dan kekuasaannya yang besar.

Wahyu

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Gramedia untuk mencari buku-buku tertentu, tiba-tiba mata saya tertuju pada deretan buku berwarna merah yang dituliskan oleh seorang suhu yang mencoba membangun telaah terhadap tahun 2010 berdasarkan shio-nya, yakni shio macan, tepatnya macan tembaga.  Yang mau dikatakan melalui telaah ini bahwasannya tahun 2010 adalah tahun yang diwarnai dengan berbagai ambisi dan bagaimana manusia berusaha untuk mencapai sesuatu. Lalu sang suhu juga mencoba mengutarakan apa yang terjadi di tahun 2010 ini terhadap nasib orang-2 ber-shio-kan lain.

Sedikit banyak orang-2 di era modern yang lebih mengedepankan kemampuan kemanusiaannya dan kemajuan teknologi nampaknya masih interes dg prakiraan-2 seperti ini, bahkan di antaranya orang-2 Kristen yang memiliki TUHAN yang menguasai masa depan-nya. Lalu dimanakah posisi TUHAN dalam hal ini? Peranan apa yang kita harapkan dari-Nya? Seberapa besar kita mempersilahkan DIA untuk memimpin hidup kita di tahun 2010 ini?

Ayat bacaan kita pada hari ini merupakan salah dua (dua di antara) dari delapan ayat di dalam Alkitab yang mencantumkan kata MACAN. Dalam dua ayat yg bersifat eskatologis ini macan dikaitkan dengan kekuasaan & kekuatan. Tapi akhir cerita dari gambaran-2 macan ini akan ditaklukkan dan dihancurkan oleh Tuhan sendiri.

Perenungan Di awal tahun 2010 ini, dimanakah kita pertama kali meletakkan harapan kita untuk menyongsongnya, takluk kepada macan tembaga (perspektif shio) atau kpd TUHAN yg menguasai hari esokmu?

Minggu, 03 Januari 2010

JEMAAT MULTI DIMENSI

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian)

Kita harus menyadari bahwa Tuhan menciptakan kita dengan adanya dimensi roh, yang mendorong kita untuk membangun (mencari) hubungan dengan Allah yang kita percayai sebagai pencipta yg berkuasa, dengan cara membangun kehidupan yang dianggap rohani.

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. (Kejadian)

Yang mungkin tidak pernah kita pikirkan bahwa manusia juga diciptakan untuk memiliki dimensi keluarga. Mengenal kehidupan, kasih, pemeliharaan bahkan kemandirian, pertama kali di dalam konteks keluarga

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

(Kejadian)

Manusia juga diciptakan sebagai seorang creator & pekerja yang luar biasa, yang diperlengkapi dengan berbagai hikmat & ketrampilan sehingga disanggupkan untuk melaksanakan amanat agung kebudayaan

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian)

Satu hal lagi yang jelas, manusia diciptakan dg dimensi sosialnya guna melengkapi dirinya secara pribadi. Diri dan pribadi manusia menjadi tidak utuh bila ia meninggalkan & menanggalkan hubungannya dengan manusia lain. . . . . Dan masih ada dimensi-2 yg lain dalam diri manusia

Senin, 04 Januari 2010

MANUSIA DALAM DIMENSI ROHANI-NYA

4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; 4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, (Kej.)

Tahukah anda, hal yang luar biasa dalam diri manusia sebagai ciptaan Tuhan adalah kemampuannya untuk membangun komunikasi dengan pencipta-Nya. Tentu saja hal ini tidak dilakukan oleh hewan, tumbuh-2-an dan ciptaan-Nya yang lain.  Tetapi sadarlah, bahwa hal itu tidak muncul dengan sendirinya dalam diri manusia.  Tuhan memberikan “sesuatu” di dalam hati manusia, yang membuatnya harus MENGAKUI bahwa Allah itu ada, dan kerinduan membangun HUBUNGAN (Ibadah) dengan-Nya.

Nats bacaan kita hari ini setidaknya memberitahukan kepada kita pertama kalinya yang dicatat oleh Alkitab tentang apa yang dilakukan oleh manusia untuk membawa persembahan kepada Tuhan.  Pernahkah kita pikirkan mengapa manusia melakukan hal ini, datang kepada Tuhan membawa persembahan?

Mungkin ada yang mengatakan bahwa persembahan itu diberikan sebagai bukti penaklukan diri manusia kepada oknum yang lebih kuat dan berkuasa, dan yang dianggap sebagai Allah. Mungkin juga ada yang berpendapat bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya untuk meredam kemarahan & murka Allah.  Atau, manusia memberikan persembahan kepada Allah sebagai upaya menyadari ketidak berdayaannya menghadapi tantangan alam & kehidupan ini, sehingga ia membutuhkan pertolongan dan lindungan Allah.  Atau sebaliknya, persembahan sebagai ucapan syukur atas berkat-2 Tuhan sehingga manusia mengembalikan sebagian sebagai bukti terima kasihnya. Dan masih banyak lagi jawaban-2 serupa yang dapat kita temukan.

Tetapi apapun alasannya dan jawabannya, paling tidak hal ini membuktikan bahwa manusia “dapat” berkomunikasi dan memiliki hubungan dengan Allah. Interes ini tentu saja tidak muncul dari fisiknya, melainkan dari sisi rohaninya.

DOA. Terima kasih karena Engkau Allah yang rindu berkomunikasi dg kami, sehingga Engkau meletakkan roh dalam diri kami. Amin                 jp

Selasa, 05 Januari 2010

TUBUH + (JIWA) + ROH = MANUSIA

2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Kejadian

Salah satu anak kami ingin dibelikan mainan, dan ia menunjuk se-paket mainan plastisin (lilin malam) dengan beberapa cetakan-nya. Suatu hari ia menunjukkan karya hasil olahannya, yakni ice cream dua rasa (baca: dua warna, karena saya yakin rasanya sama, yakni rasa lilin), tentu saja terbuat dari plastisin yang dimintanya beberapa hari sebelumnya. Saya berkomentar untuk memberinya apresiasi.

Betapapun persis-nya penampakan yang saya lihat terhadap ice cream rasa plastisin buatan anak kami, itu tetaplah mainan, bukan ice cream sesungguhnya. Pada saat ini dapat kita temukan dengan mudah berbagai replica yang dijual di beberapa toko, bahkan yang dibuat dengan bahan-bahan yang sangat “mutahir” yang sulit bagi kita untuk membedakan mana yang asli dan mana yang replica.  Bila hanya mengandalkan indra peraba dan penciuman maka kemungkinan kita akan tertipu, karena replica-2 ini memiliki tekstur dan aroma seperti aslinya. Pendek kata kita akan terkesima dengan karya-karya kreatif seperti ini.

Berpijak dari karya manusia menciptakan replica-2 seperti itu, maka seharusnya kita kagum dan takjub dengan apa yang Allah lakukan untuk menciptakan manusia, termasuk anda & saya. Alkitab menjelaskan bahwa IA menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas kehidupan sehingga manusia menjadi makluk hidup. Mungkin kita akan berkomentar “betapa simple-nya.”  Ya benar! Memang simple bagi Allah yang Maha kuasa. Sementara kita yang diciptakan tetap tidak pernah mampu menyingkapkan hasil karya-Nya, secara badani saja ilmu kedokteran yang termodern-pun belum tentu dapat menjelaskan dengan detail apa, mengapa dan bagaimana dengan setiap organ dalam tubuh manusia.  Apalagi untuk memahami roh kehidupan yg Tuhan berikan.

Perenungan. Pernahkah kita pikirkan, bahwa tanpa hembusan nafas hidup, sesungguhnya kita tidak lebih dari sebuah replica semata. jp

Rabu, 06 Januari 2010

ROHANI, ADA LATIHANNYA

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. 1 Timotius

Pada abad ke-21 ini nampaknya kesadaran manusia terhadap permasalahan-permasalahan fisik semakin meningkat, khususnya masalah kesehatan. Pola hidup sehat menjadi topic pembicaraan yang selalu hangat, yang melingkupi banyak aspek di dalamnya. Ada aspek asupan makanan-nya, ada aspek istirahat-nya, ada aspek olah raga-nya, ada aspek managemen stress-nya, dan aspek-aspek yang lainnya.  Hal ini sangat baik, paling tidak manusia belajar mempertanggung jawabkan kehidupan-nya, dan dengan tidak sembarangan mengurus fisiknya.

Betapa baik-nya perhatian yang diberikan kepada fisik atau hal-hal yang bersifat badani, Paulus mengatakan bahwa hal itu terbatas. Ada keterbatasan secara fisik itu sendiri, di mana manusia tidak mampu menghentikan usia dan ke-tua-annya.  Bagaimanapun manusia memiliki kapasitas yang terbatas, dan harus diakui bahwa manusia memiliki kapabilitas yang terbatas juga. Ada keterbatasan secara waktu, karena tidak dapat menjangkau masa kekekalan (hidup yang akan datang).

Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya kita ajukan, apakah manusia juga tertarik untuk melatih rohaninya, sebesar niatnya untuk melatih fisiknya? Bila tidak, mengapa manusia lebih tertarik mengupayakan sesuatu yang dianggapnya bermanfaat untuk kehidupan sekarang ketimbang melatih untk kehidupan yang akan datang sementara manusia tahu hidup ini sangat terbatas?

Perenungan. Ketika kita melakukan dosa, kita mohon pengampunan Tuhan; ketika kita tersesat, kita mohon pimpinan & jalan keluar dari Tuhan; ketika kita rusak hubungan, kita memohon Roh Kudus-Nya memulihkan kembali hubungan kita. Kita sering memahami kehidupan rohani dengan hal-hal demikian. Itu tidak salah, itu baik dan seharusnya. Tetapi itu dapat diumpamakan seperti orang yang sakit & terluka dan segera mencari obatnya. Tahukan anda bahwa Alkitab sejujurnya mengajarkan kita untuk memiliki pola hidup sehat secara rohani, dengan latihan-2 yang telah diinstruksikan kepada kita sebagai langkah preventif, bukan kuratif. Jangan menunggu terluka baru kita mencari Tuhan.                                                jp

Kamis, 07 Januari 2010

ESENSI YANG BERBEDA

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

2 Korintus

Dalam pelayanan perkunjungan atau perjamuan kudus keliling kepada jemaat usia lanjut, tidak jarang TUHAN memberikan penghiburan & sukacita tersendiri.  Khususnya tatkala melihat para lansia dengan semangat spiritual-nya yang dapat kita rasakan; ketika mendengar kesaksian-kesaksian yang mereka sampaikan, atau yang disampaikan oleh anggota keluarga yang lain tentang orangtua atau kakek nenek mereka ini.

Gereja-2 Tuhan mendapatkan berkat tersendiri melalui kehadiran kaum lansia, disadari atau tidak, gereja ditopang-oleh doa-doa, yang rata-rata didominasi oleh kaum ini. Melihat hal ini semua, maka setidaknya kita dapat meng-AMIN-kan kebenaran ayat ynag dituliskan oleh Paulus ini. Ada beberapa komentar yang dapat dibangun dari bacaan hari ini, antara lain:

  • “Ya kodratnya memang demikian, ketika manusia secara lahiriah sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi, hal yang masih mungkin mereka kerjakan adalah mendekatkan diri dengan Tuhan. Coba saja ketika mereka masih mampu, rasanya sulit untuk mengandalkan Tuhan!”
  • Kondisi manusia batiniah tidak selalu berbanding lurus, tetapi lebih banyak berbanding terbalik dengan kondisi manusia lahiriah.  Sudah sewajarnya kondisi manusia lahiriah semakin merosot, maka tantangannya, apakah kita bisa menjaga agar sewajarnya kondisi manusia batiniah ini semakin hari semakin dibaharui?
  • Setidaknya kita dipahamkan bahwa manusia secara gambaran besar terdiri atas manusia lahiriah dan manusia batiniah.  Dengan  manusia batiniah-nya ini-lah sesungguhnya manusia dapat meningkatkan kualitas hubungan dan pengenalannya kepada Tuhan, sekalipun sudah tidak mampu melayani dengan maksimal dengan manusia lahiriah-nya.

DOA Tiba waktunya aku tidak dapat melayani-Mu dengan segenap kekuatan manusia lahiriahku yang semakin hari akan semakin lemah, tetapi senantiasa perbaharuilah manusia batiniahku.                                jp

Jumat, 08 Januari 2010

ANTARA SURGA ATAU NERAKA

25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. 32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. . . . . . . . 46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Matius

Beberapa tahun yang lalu kita sempat dihebohkan dengan pengalaman seorang wanita yang diberikan pengalaman spiritual secara khusus, yakni di bawa “jalan-jalan” untuk melihat surga dan neraka. Bahkan ia diijinkan oleh Tuhan melihat mamanya (sudah meninggal) sedang tersiksa di neraka, padahal ia mengenal mamanya sebagai orang yang baik, tetapi mengapa ia masuk neraka? Sang pemandu mengatakan bahwa hal itu terjadi karena mamanya tidak menerima Tuhan Yesus.

Terlepas dari benar dan tidaknya kesaksian wanita ini, setidaknya orang Kristen harus memiliki sebuah keyakinan yang teguh bahwa surga dan neraka memang benar-benar ada. Sebuah keyakinan yang setidaknya mengingatkan kita adanya pertanggung jawaban atas kehidupan ini dan segala keputusan yang telah kita ambil di dalamnya.  Dan berarti itu bukan semata-mata apa yang dilakukan oleh manusia lahiriah saja, tetapi sejujurnya lebih banyak ditentukan oleh kualitas kerohanian seseorang, tepatnya apakah ia telah mengenal & menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Raja di dalam kehidupannya.

Adanya surga dan neraka setidaknya mengingatkan kita bahwa manusia yang Tuhan ciptakan ini memiliki dimensi roh. Sebuah dimensi di mana kehidupan manusia menjadi memiliki arti dan mencapai optimalisasi-nya, dan mencapai tujuannya sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan.

DOA Kami sering menjalani hidup seolah-olah surga & neraka tidak ada jp.

Sabtu, 09 Januari 2010

ROH DAN AKSES-AKSES-NYA

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Efesus

Dalam perenungan kita selama beberapa hari ini, kita telah diingatkan tentang manusia dan dimensi rohaninya.  Tuhan menciptakan kita dengan memberikan roh dalam diri kita  agar kita dimungkinkan berkomunikasi dengan Tuhan yang Roh ada-nya. Tanpa roh yang dari Tuhan maka mustahil kita dapat berkomunikasi dengan-Nya.

Namun ada realita dunia roh yang tidak dapat kita abaikan begitu saja. Allah yang Roh adanya memiliki musuh bebuyutan yang juga bersifat roh, yakni roh jahat atau si iblis, roh yang selalu memiliki visi dan misi yang jelas yakni menyesatkan manusia agar tidak mencari dan memuliakan Allah.  Dengan demikian kita harus sadar bahwa  roh dalam diri manusia ternyata tidak menjadi akses bagi Tuhan saja, tetapi juga dapat menjadi pintu gerbang bagi roh jahat untuk menguasai hidup kita.

Ada sebagian orang Kristen yang enggan bahkan tidak mau tahu tentang eksistensi dunia roh yang satu ini.  Dengan beranggapan bahwa kalau menjadi orang Kristen maka kita bakal dijauhkan dari hal-hal yang berbau kuasa gelap. Justru sikap seperti itu sangat membahayakan; sikap takabur yang membuat kita tidak pernah berjaga-jaga dan waspada menghadapi serangannya.  Manusia dapat DIPENGARUHI, DIKUASAI dan DIRASUK (dikendalikan secara total) oleh roh jahat/kuasa kegelapan, apalagi bila kita tidak membuka akses bagi Tuhan.

Nats bacaan kita hari ini mengingatkan bahwa sesungguhnya musuh-musuh kita bukanlah musuh fisik (darah dan daging) melainkan musuh roh, yakni roh-roh jahat di udara yang memiliki kekuatan yang luar biasa, yang tidak dapat dilawan dengan kekuatan manusiawi semata. Untuk memenangkan perjuangan ini kita harus melibatkan Roh Allah, Roh yang lebih berkuasa, Roh yang dapat menguasai roh kita untuk memenangkan perjuangan melawan roh jahat.

Perenungan. Bila dimensi roh-mu menjadi akses bagi Roh Tuhan dan roh jahat, di posisi manakah engkau, bagi siapa roh-mu akan terbuka?

Minggu, 10 Januari 2010

JEMAAT DALAM DIMENSI KELUARGA

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Kejadian

Ijinkan saya mengawali renungan hari ini dengan mengutip apa yang disampaikan pada renungan tgl 3 Januari

Yang mungkin tidak pernah kita pikirkan bahwa manusia juga diciptakan untuk memiliki dimensi keluarga. Mengenal kehidupan, kasih, pemeliharaan bahkan kemandirian, pertama kali di dalam konteks keluarga”

Ada yang memandang keluarga itu penting, sehingga menjadi perhatian dan pusat hidupnya, namun sebaliknya ada yang menganggap biasa-biasa saja, sehingga terkadang memperhatikan terkadang mengabaikan, dan yang ekstrim ada yang menganggapnya sepele dan tentu bisa kita duga perlakuaan apa yang diberikan pada keluarganya. Atau dirinya dalam keberadaannya di tengah-tengah keluarganya.

Manusia di ciptakan untuk memiliki dimensi keluarga” kita mungkin sering mendengar tentang bagaimana seseorang  di bentuk, di ubah dalam kehidupan keluarga. Keluarga adalah satu komunitas yang terkecil namun berdampak sangat besar, yang mengubahkan dan sekaligus tempat bernaung yang paling aman. Karena sesungguhnya dalam kehidupan keluarga setiap  pribadi yang berada di dalamnya saling melindungi, saling mengasihi, belajar peduli dan memperhatikan tetapi juga sekaligus kemandirian di bangun.

Siapa itu jemaat? Jemaat adalah orang yang percaya. Siapa itu orang yang percaya ? orang yang percaya adalah kita . artinya hidup setiap kita sebagai seorang percaya berdampak besar dalam kehidupan keluarga kita, mempunyai pengaruh dan juga di pengaruhi .

Kita  tidak bisa melepaskan hubungan seorang pribadi yang percaya Tuhan dengan kehidupannya dalam sebuah keluarga. Saling berdampak , memberi dampak, atau menerima dampak ,sebagai satu kesatuan. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk melakukan pemisahan antara kehidupan iman kita dan kehidupan keluarga kita. Kalau kita seorang jemaat Tuhan apa fungsi kita dalam keluarga?!

Senin, 11 Januari 2010

SAYA MENYERAH”

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,

5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Efesus

Kalau kita menyimak dengan seksama ayat di atas maka kita tentunya menemukan ada suatu kesinambungan yang luar biasa antara hubungan satu anggota keluarga dengan yang lainnya. Hubungan yang di gambarkan Yesus untuk suatu sikap antara istri terhadap suami dan suami terhadap istri di kaitkan dengan hubungan yang tidak lepas dengan Kristus sebagai kepala jemaat.

Peter Scazzero, suatu ketika bagai di sambar petir ketika istrenya berkata “Peter, saya akan meninggalkan gereja,” saya sudah tidak sanggup lagi untuk menanggung tekanan ini-krisis yang terus-menerus, gereja bukan lagi kehidupan saya .Itu adalah kematiaan. Bagi Peter  ketika jemaatnya berkata demikian ,maka pasti sebagai seorang gembala jemaat dia akan merasa sedih, tetapi mendengar hal ini langsung dari isterinya yang telah mendampinginya selama Sembilan tahun dunia seolah terasa terbalik. Isterinya melanjutkan . “saya mencintaimu tetapi saya harus meninggalkan gereja,” saya tidak lagi dapat menghormati kepemimpinanmu! Hal ini sangat menguncangkan Peter, apalagi isterinya melanjutkan dengan kalimat yang seolah-olah semuanya telah usai dan tak dapat di perbaiki lagi, yaitu “Peter, saya menyerah” (ada yang mengatakan bahwa orang yang paling berkuasa di dunia ini adalah orang yang tidak mempertaruhkan apa pun), Saya mencintaimu Peter, tetapi sejujurnya, saya akan lebih berbahagia bila berpisah daripada menikah. Paling tidak dengan begitu kamu dapat mengasuh anak-anak pada akhir minggu. Barulah mungkin kamu akan belajar menjadi pendengar!

Cerita di atas cukup tragis, hal ini dialami bukan oleh seorang jemaat  awam tetapi seorang hamba Tuhan yang melayani, namun kalau boleh saya katakan tidak melihat dimensi kehidupannya pelayanannya dalam  keluarganya, sehingga ada pertentangan antara kehidupan pelayanan dan keluarganya, dia menjadi seorang jemaat yang melayani Tuhan tetapi tidak pernah hadir di hati anggota keluarganya, ironis bukan? Tuhan menjadikan kita sebagai jemaatNya tidak membuat kita harus melepaskan kehidupan dalam keluarga kita, justru keluarga adalah kelengkapan proses hidup yang Tuhan hadirkan untuk membentuk kita. Amin.   hp

Selasa, 12 Januari 2010

TIDAK ADA PERTENTANGAN

5:24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Efesus

Kenapa ketika Tuhan Yesus berbicara tentang hubungan suami isteri, dimana isteri harus tunduk kepada suami dalam segala sesuatu, ia mengunakan cerminan jemaat tunduk kepadaNya?

Hal ini mau menjelaskan kepada kita, sebagai seorang yang percaya, kita tidak lalu menjadi pribadi yang hanya focus kepada gereja lalu tidak lagi melihat hal-hal lain di sekeliling kita dalam kaitan dengan hidup kita.

Peter ketika ia membela dirinya, dia mengatakan bahwa, ia setuju dengan keinginan isterinya untuk sebuah kehidupan pernikahan yang ia jalani, yang mempunyai 4 orang anak namun hanya seorang diri menjalaninya, Peter mengatakan, “masalahnya adalah rasa tanggung jawab saya untuk nmembangun gereja, dan untuk melakukan bagi orang lain. Bahkan secara pribadi ia mengakui ia tidak mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, ketika ia dalam kesesakan waktu harus menghadiri pertandingan sepak bola anaknya, ia harus mengakui pikirannya semua di tujuhkan untuk gereja, untuk kehidupan “pelayanannya” Bukankah Markus 8:34 menuliskan Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Lalu apa yang salah dengan kesemuanya itu, ternyata terkadang kita tidak menyadari kita telah mati terhadap hal-hal yang salah. Kita secara keliru berpikir bahwa mati terhadap diri sendiri demi Tuhan berarti mati terhadap kepedulian diri, perasaan-perasaan, keinginan-keinginan yang sehat, impian-impian , dan berikutnya apa yang terjadi, keluarga yang kita miliki seolah tak terlihat , suara mereka tidak terdengar, yang ada hanya suara hati kita yang kita piker itu suara Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus berbicara maka yang ada , atau yang terjadi adalah hal yang baik, yang mendatangkan kesimbangan , ketenangan dan semuanya bisa berjalan secara bersamaan.

Mungkin kita tidak extrem cerita diatas atau jangan-jangan kita tidak peduli hidup kita sebagai jemaat Tuhan dan keluarga yang kita miliki, lalu dimana kita dan sedang apa kita dalam hidup kita. Tidak perlu memilih karena tidak ada pertentangan!! Tetapi kita yang harus lebih menyimak .hp

Rabu, 13 Januari 2010

AKULAH SANG MODEL

5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya Efesus

Kembali kita menemukan sebuah perintah yang berdasarkan alas yang sama, Hendaklah suami mengasihi isteri sebagaimana Kristus telah, sudah mengasihi jemaatnya dan menyerahkan diriNya!

Allah memang menciptakan keluarga terlebih dahulu sebelum Ia menjadikan jemaat, perhatikan apa yang dituliskan melalui Kejadian 2:24-25 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.  Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Allah menjadikan keluarga sebagai tempat yang terbaik, dimana manusia menemukan keberadaan Allah dalam hal-hal detail di dalam kehidupan keluarga. Perkara-perkara kecil, rutinitas pada umumnya yang dikerjakan, sesuatu terlihat umum, namun Allah selalu terlibat dalam peristiwa-peristiwa itu.

Dalam setiap keluarga Allah mempunyai rencana yang indah. Sehingga Ia menyatakan diriNya sebagai model. Sebagai teladan bagi suami terhadap isteri, dan sebaliknya. Kasih Allah kepada jemaatNya adalah sesuatu yang tak terbandingkan, total dan sempurna, Allah tahu kita tak akan sanggup mencapai apa yang dilakukan , tetapi model diriNya yang sempurna tetap dinyatakan untuk membuat setiap kita yang mengenalNya melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan dengan pertolongan-Nya tentu saja.

Bila setiap kita mampu melakukan fungsi kita seperti yang di nyatakan Tuhan, maka tidak aka nada namanya disfungsional, artinya semuanya berjalan dengan baik, sesuai dengan rancanganNya , maka yang didapati adalah kehidupan jemaat yang menyukakan hatiNya karena tidak akan ada penyimpangan.

Mari bersama membangun hidup dengan lebih meluaskan pandangan kita . karena pa yang Tuhan sudah nyatakan dalam kehidupan keluarga kita itu juga menyatakan hubungan antara Kristus terhadap kita, jemaatNya.

DOA: Tuhan tetapkan hatiku mengikuti teladan dan perintahMu sehinggakehidupan yang ku jalani menyuka hatiMu amin. hp

Kamis, 14 Januari 2010

WARISAN KELUARGA

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Ulangan

Kini semakin sulit orangtua mempercayakan harta kepada anak-anak, terlalu banyak contoh-contoh dan kejadian yang begitu menakutkan yang terjadi tentang warisan tentang harta sehingga membuat para orangtua menjdi takut mempercayakan warisan kepada anak mereka, takut akan jadi perkelahiaan, takut akan di salah gunakan, padahal merupakan hasil kerja yang wah…! Dan masih ada lagi hal-hal yang lainnya.

Memang tidak mudah, namun kita ketahui bersama melalui Firman Tuhan yang kit abaca  hari ini, kita diingatkan untuk mewariskan harta yang tak akan membuat perkelahian, harta yang bisa berakibat penumpahan darah, harta yang menjatuhkan anak-anak kita kelak, semuanya itu tak akan terjadi karena harta yang Yesus minta kita untuk wariskan justru akan berakibat sebaliknya, akan mendatangkan kebaikan akan mendatangkan kehidupan yang kekal dan tak ternilai dengan apapun di dunia ini

Warisan yang diturunkan berbentuk kualitas dan nilai yang direfleksikan dalam karakter seseorang. Dengan warisan keluarga yang Tuhan maksudkan dan dapat kita turunkan maka akan bisa meningkatkan kemampuan menentukan prioritas dalam memberi arti pada kehidupan , tak peduli kelak kita bisa meninggalkan peninggalan harta yang berjumlah besar ataupun yang kecil pada mereka.

Warisan yang Tuhan maksudkan yaitu kebenaran Firman Tuhan adalah bagian dari kehidupan kita yang harus kita perhatikan dan lakukan , karena kita tak pernah mengetahui usia anak kita ataupun diri kita sendiri, sehingga jangan sampai ada kata terlambat untuk sebuah kesempatan yang sesungguhnya pernah ada, bukan yang tidak pernah ada.

DOA: Bapa yang baik, ijikan hamba untuk mewariskan apa yang Engkau telah nyatakan kepada keturunanku, sehingga hiodup yang kekal menjadi bagian hidup keluargaku . Amin .hp

Jumat, 15 Januari 2010

RUMAH

29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yeremia

Jika ada suatu tempat yang kita semua rindu datangi, tempat itu adalah rumah. Mungkin terkadang Tuhan ijinkan kita peregian kita menginap di temapt yang mewah, yang secara fasilita lebih dari rumah kita, namun dalam suatu waktu tertentu bukankah rumah menjadi tempat yang kita rindui? Rumah adalah sesuatu yang manis, entah di dalam kota, luar kota, di daerah pedesaan. Rumah adalah dimana hatri kita dapat di temukan, meskipun kita berada jau daripadanya.

Itulah juga yang menyebabkan kalau ada hari libur ada yang ingin berlibur pulang kerumahnya,atau ada peristiwa-peristiwa special lainnya.

Dalam senuah rumah banyak perkara-perkara kecil maupun besar yang terjadi, rumah boleh kecil tetapi tidak ada yang dapat membendungkan berbagai peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Alangkah luar biasanya kalau kita bisa mengingat setiap peristiwa itu ada Tuhan di dalamnya, sehingga dalam rumah yang kita rindui itu bukan Cuma ada berbagai peristiwa didalamnya tetapi peristiwa-peristiwa yang mengingatkan kita akan kebesaran kuasa dan penyertaan Tuhan. Ketika ada perayaan-perayaan bukan hanya yang bersifat duniawi, tetapi setiap perayaan yang bertujuan mengagungkan nama Tuhan, dalam perayaan ulang tahun, rumah yang baru, bayi yang baru lahir, usia yang ke 70, dan lain sebagainya. Bila perlu kita bisa merayakan kelahiran baru kita, KETIKA KITA BERTEMU DENGAN Tuhan, ketika Tuhan pertama kali menjamah hidup kita.

Mari kita menjadikan rumah kita sebagai tempat yang mendatangkan berkat, kitra menaruh hal-hal yang bernilai kekal di setiap sudut rumah kita, kita meletakkan perabot-perabot keselamatan di dalamnya.

Jadikanlah rumah kita sebagai bengkel bagi Sang Pencipta kita, yang rusak di perbaikiNya, di bentuk kembali karakter-karakter yang telah jatuh di dalam dosa, dilas, di bongkar, dig anti, di luruskan, semuanya akan di lakukan dengan penuh kasih dan kesetiaan, dalam keheningan dan ketenangan.

Sabtu, 16 Januari 2010

MANUSIA DAN SEKSUALITAS-NYA

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Kejadian

Pada jaman modern ini masih banyak orang yang merasa tabu untuk membicarakan seksualitas.  Seakan-akan dosa besar bila kita membicarakannya. Sikap seperti ini justru akan menyesatkan kita sehingga kita tidak pernah memahami maksud dan rencana Allah yang menciptakan manusia sebagai makluk seksual. Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan; manusia diberikan kelengkapan organ seks agar manusia dapat melakukan fungsinya sebagai mandataris Allah – beranak cuculah dan penuhilah bumi, di mana sexual activity ini dimaksudkan baik untuk pro-kreasi ugauntuk re-kreasi. Yang penting kita ingat sebuah patokan yang jelas yakni, seksualitas yang dimaksudkan Allah selalu berada dalam konteks keluarga, bukan di luar keluarga.

Keberdosaan manusia telah membawa manusia ke dalam penyimpangan seksualias yang semakin hari semakin jauh dan semakin mengerikan – karena dianggap sebagai hal yang wajar.

Seorang komentator mengatakan bahwa kitab Kidung Agung menjadi sebuah bukti yang cukup kuat bahwa seksualitas itu indah dan kudus, sehingga ketika penebusan atas diri manusia yang berdosa sehausnya meliputi penebusan ataskehidupan seksualitas-nya, sehingga ia menyebut Kidung Agung sebagai kitab yang membicarakan The Redeemed Sexual Life.

Sebagai seorang Kristen kita harus memiliki pemahaman ini dengan tegas, karena kehidupan seksual kita harus kita pertanggung jawabkandii hadapan TUHAN yang KUDUS. Apakah kita dapat mempertanggung jawabkan kekudusannya? Dengan menyadari hal ini maka sesungguhnya kita juga menyadari betapa kuatnya godaan dosa yang berjubahkan keindahan palsu seksualitas.

DOA Mata kami, pikiran kami bahkan prilaku kami dapat menyeret kami untuk mencemarkan keindahan dan kekuusan seksualitas yang Engkau ciptakan. Tolonglah kami yaAllah yg Kudus. Amin                                  jp

Minggu 17 Januari 2010

ORANG KRISTEN DAN PEKERJAANNYA

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi” (Amsal 12:11)

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk tekun dalam bekerja. Tidak ada istilah malas. Ketekunan, keuletan dan semangat untuk mengerjakan tugas atau pekerjaan kita adalah bagian dari kesaksian hidup orang percaya dalam komunitas (masyarakat).

Namun ada orang-orang yang masih berpikir secara dangkal dengan mengatakan “Di dalam Tuhan, orang percaya akan dipelihara dan diberkati oleh Tuhan” sehingga ia menjadi malas untuk bekerja. Allah memang memelihara dan memberkati kita, namun itu tidak berarti uang datang secara tiba-tiba turun dari langit. Ada tugas, peran dan tanggung jawab yang harus kita kerjakan, yaitu menekuni apa yang menjadi kewajiban kita, yaitu dengan bekerja (2 Tesalonika 3:10).

Amsal menasehatkan kepada kita untuk bekerja dengan tekun. Gambaran seorang yang mengerjakan atau mengupayakan atau mengolah tanahnya, maka orang-orang yang demikianlah yang akan menikmati hasil atas apa yang sudah diupayakan. “Mengerjakan” memiliki arti mengupayakan dengan serius, dengan sungguh-sungguh, mempersiapkan dan memperhitungkan dengan cermat, maka hasil yang diperoleh akan dapat dinikmati.

Namun sebaliknya, bagi mereka yang hanya “asal-asalan”, tanpa serius mengupayakan, tidak tekun, tidak cermat dalam memperhitungkan apa yang hendak dikerjakan, maka mereka tidak akan mendapat apa-apa, dan menjadi sia-sia. Amsal menyebut orang yang demikian adalah “orang yang tidak berakal budi”.

Jadi yang perlu kita pahami dalam bagian ini adalah, sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan saja masuk dalam kerajaan-Nya, namun juga selagi masih di dunia, kita mempunyai peran, tugas dan tanggungjawab untuk mengerjakan pekerjaan kita dengan baik. Orang-orang percaya harus tetap tekun, memiliki semangat dan giat dalam mengerjakan pekerjaannya. Dengan melakukan demikian, kita dapat memuliakan nama Tuhan, bahwa yang kita kerjakan adalah untuk Tuhan.

DOA. Bapa surgawi, beriku semangat baru untuk mengerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabku dengan benar, dan kiranya apa yang aku kerjakan dapat memuliakan nama-Mu. (AS)

Senin, 18 Januari 2010

LAKUKAN UNTUK TUHAN (1)

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” Kol 3:17

Setiap kegiatan (pekerjaan) yang tidak secara tegas dilarang  di dalam Alkitab, adalah baik untuk dilakukan. Allah menghargai setiap pekerjaan yang kita lakukan. Anda tidak dapat mengatakan bahwa pekerjaan anda tidak ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para pendeta yang memiliki nama besar, atau mereka yang berkecimpung dalam pekerjaan bidang sosial. Yang menjadi perhatian dan fokus kita adalah, apakah yang kita kerjakan itu adalah sesuai dengan kehendak Tuhan dan dapat memuliakan nama-Nya?

Tidak peduli apakah pekerjaan kita selalu berkecimpung dengan debu dan abu (seperti upik abu), penuh jelaga yang menjadikan penampilan luar kita kotor, namun jika kita mengerjakan pekerjaan itu untuk kemuliaan nama Tuhan, Ia pasti akan senang. Masing-masing kita diberikan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi seorang professional, pedagang, guru, pemimpin, namun juga ada yang menjadi pegawai, pelayan, tukang, namun jika setiap pribadi mengerjakan dengan takut akan Tuhan, maka Ia akan dipermuliakan.

Bagaimana agar pekerjaan kita dapat memuliakan Tuhan?

  1. Lakukan pekerjaan kita dengan tanpa bersungut-sungut, nikmati apa yang anda kerjakan. Sikap bersungut-sungut tidak akan menjadi berkat bagi orang lain, juga bagi diri kita sendiri. Orang lain akan merasa “sebel” melihat kita dan menjadi terganggu. Kita sendiri, jika terus menerus bersungut-sungut, maka yang kita kerjakan akan menjadi tidak maksimal, dan kita dengan segera akan merasa capek.
  2. Pikirkan, bahwa apa yang kita lakukan dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Jangan kita memikirkan kesenangan untuk diri kita sendiri, sementara orang lain dikecewakan apalagi dirugikan. Kita harus berpikir, bahwa pekerjaan kita memiliki dampak yang baik bagi orang lain. Misalnya jika anda pedagang, jangan menjual barang yang sudah “kadaluwarsa” sebab orang lain akan terkena dampaknya.

DOA

Bapa, beriku hikmat surgawi, agar aku selalu mampu untuk berpikir dan bertindak dalam pekerjaanku sesuai dengan kehendak dan rencana-Mu, sehingga nama-Mu dipermuliakan. (AS)

Selasa, 19 Januari 2010

LAKUKAN UNTUK TUHAN (2)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16)

Setiap kita hendaknya memandang pekerjaan adalah suci di hadapan-Nya. Saya mengatakan demikian sebab kita yang sudah di dalam Kristus adalah orang-orang kudus, kita anak-anak Allah yang harus mencerminkan kemuliaan bagi Allah, Bapa kita.

Maka ketika kita sedang pergi bekerja, sedang mengerjakan pekerjaan kita, kita bekerja bukan hanya untuk sekedar memuaskan manusia tetapi juga mampu memuaskan Kristus. Memuaskan manusia, artinya apa yang kita kerjakan adalah baik, jujur, maksimal, penuh tanggungjawab, dan bukan sebaliknya, asal-asalan yang sering mendapat komplin dari orang lain, sikap curang yang membuat orang lain menjadi marah dan kecewa, dan tidak bertanggungjawab sehingga banyak hal yang terbengkalai. Sikap kita harus bertanggungjawab, dan sikap ini hanya dapat dimiliki ketika kita memandang pekerjaan kita sebagai hal yang kudus, artinya;

Ketika kita memandang apa yang kita kerjakan adalah kudus, maka setiap perbuatan atau tindakan atau keputusan yang kita ambil, akan melibatkan Allah, yang adalah kudus. Allah memperhatikan dan melihat apa yang kita perbuat, dan setiap kecemaran, akan mendukakan hati Tuhan.

Ketika kita memandang pekerjaan yang kita lakukan adalah kudus, maka kita akan senang mengerjakan pekerjaan kita sebab kita bukan sekedar melakukan untuk manusia namun jauh lebih daripada itu, kita sedang mengerjakan untuk Tuhan. Tuhan ingin agar kita dapat melayani Dia, dimanapun kita berada, tidak terkecuali di dalam pekerjaan kita yang sedang kita tekuni.

Dengan memandang pekerjaan sebagai hal kudus, maka apa yang kita kerjakan merupakan sarana bagi kita untuk bersaksi menyatakan kasih Tuhan. Kesaksian dapat kita nyatakan melalui apa yang sedang kita kerjakan, sehingga orang lain dapat melihat kasih Kristus melalui kita.

DOA; Tuhan Yesus, tolong aku memandang kekudusan-Mu ketika aku bekerja, dan pakai aku untuk mencerminkan kemuliaan-Mu.(AS)

Rabu, 20 Januari 2010

MEMBANGUN KESAKSIAN YANG HIDUP (1)

“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kolose 4:5-6)

Pekerjaan kita merupakan sarana yang terbaik untuk bersaksi akan kasih Tuhan dan tempat bagi kita untuk dapat melayani Tuhan. Kita dipanggil untuk menjadi terang dan juga menjadi berkat bagi orang lain. Tempat bekerja kita adalah tempat yang sangat tepat untuk meletakkan “pelita iman” kita, sebab disinilah orang akan tahu terang kasih Allah melalui kita. Artinya, di tempat dimana kita bekerja adalah tempat kesaksian kita yang tepat. Kesaksian hidup adalah bagaikan pelita yang berada di tengah kegelapan. Terang itu harus terpancar terus menerus, dan bukan semakin meredup.

Untuk itu kita perlu memperhatikan dan mengerjakan hal-hal yang sederhana dalam pekerjaan yang kita tekuni sebagai berikut; Pertama Tidak bersikap sombongKesombongan adalah penghalang terang. Di tempat kerja, janganlah kita merasa yang paling hebat, paling pandai, paling berjasa, paling dipercaya dan paling paling yang lainnya. Meskipun memang kita hebat, namun kita harus membangun sikap kerendahan hati, sama seperti Kristus yang rendah hati. Lingkungan kerja akan menjadi terganggu, jika kita membiarkan kesombongan ada di sana. Kedua, Tidak suka mengomel dan marah-marahTerang akan menjadi redup ketika kita bekerja dengan menggerutu (mengomel) dan seharian marah-marah. Kemarahan akan membuat situasi dan kondisi bekerja menjadi tidak nyaman, sebab kemarahan satu orang dapat menyulut kemarahan orang lain juga, ditambah lagi dengan banyaknya pekerjaan yang sedang menumpuk. Belajarlah untuk mengendalikan diri dengan bersandar pada kuasa Roh Kudus, agar kita diberikan kemampuan untuk tetap menjadi suasana kondusif, meskipun disekitar kita sedang tidak kondusif. Ujian kesabaran kita yang sesungguhnya adalah ketika kita benar-benar harus bersabar.

DOA Tuhan Yesus, ajarku seperti diri-Mu yang penuh kasih, pengampunan dan kesabaran, sehingga terang-Mu menembus hati mereka yang dalam kegelapan. Amin (AS)

Kamis, 21 Januari 2010

MEMBANGUN KESAKSIAN YANG HIDUP (2)

“Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu” (I Tesalonika 2:9)

Paulus adalah contoh dan teladan bagi kita dalam hal bekerja. Dalam tugas pemberitaaan Injil. ternyata Paulus mencukupkan dirinya dengan cara bekerja sendiri. Kesaksian bisnis yang dilakukan oleh Paulus adalah bagaikan pelita yang menerangi kegelapan, artinya pekerjaan Paulus ternyata menjadi sarana dalam menyaksikan dan memberitakan Injil Tuhan. Hal yang dapat kita pelajari adalah;

  1. Tetap memiliki semangat

Semangat harus ada dalam diri orang percaya. Semangat yang ada pada diri kita sesungguhnya dapat “menular” kepada orang lain. Memang kadang kita menjadi “kesal” ketika hanya kita sendiri yang bersemangat, sementara teman lain sedang malas dan kendur spiritnya. Kecenderungan kita akhirnya ikut kendur dan malas. Semangat kita dapat menjadi insiprasi bagi teman kita yang lain, dan kitapun dapat menjadi berkat bagi mereka yang ada di sekitar kita.

  1. Memiliki etos kerja yang baik

Orang-orang percaya dapat menjadi terang dan berkat bagi orang lain di dunia kerjanya ketika memiliki etos kerja yang baik. Etos kerja itu berupa tanggungjawab, kejujuran dan mengikuti aturan yang berlalu (ditetapkan di tempat kerja). Etos kerja yang baik hanya dapat dimiliki oleh mereka yang memandang pekerjaan sebagai tanggungjawab yang kudus dihadapan Allah. Kita dapat membangun etos kerja yang baik bila kita memiliki integritas yang baik. Integritas artinya, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan adalah sama.

Pekerjaan apapun yang kita tekuni, jabatan apapun yang menempel pada kita, sesungguhnya harus kita pakai sebagai sarana bagi kita untuk bersaksi. Dan pekerjaan kita adalah tempat yang tepat untuk menyatakan “terang Kristus”

DOA Bapa, ampuni aku jika aku sering menjadi serupa dengan dunia, sehingga terang-Mu menjadi redup. Bawaku untuk kembali menjadi terang, dan memiliki kesaksian kerja yang baik. Amin (AS)

Jumat, 22 Januari 2010

KEUNGGULAN DAN KUALITAS KRISTEN

“Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Galatia 6:4)

Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia, demikian juga dalam hal bekerja, orang percaya harus memiliki kerinduan yang dalam untuk mencapai standar kerja yang lebih tinggi. Standar itu adalah bahwa kita bekerja bagi Tuhan, dan Tuhan menjadi “Tuan” kita yang sesungguhnya. Dengan memahami hal ini maka dipastikan kita dapat bekerja dengan sebaik-baiknya bagi “Tuan” kita, Kristus Yesus.

Orang-orang percaya juga harus bekerja dengan kualitas dan keunggulan yang tidak dimiliki oleh dunia. Jika dunia mengejar apa yang fana dan akan lenyap, kita bekerja adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, Allah kita yang kekal. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

Pekerjaan yang kita tekuni harus dipandang sebagai bentuk penatalayanan bagi Allah terhadap segala bakat, dan kemampuan serta talenta yang Tuhan percayakan kepada kita. Kita harus menggunakan setiap waktu, tenaga, pikiran, bakat, kemampuan, dan segala yang kita miliki untuk dapat diinvestasikan bagi kerajaan Allah. Hal inilah yang membuat kita dapat bertanggungjawab terhadap apa yang kita kerjakan.

Kualitas pekerjaan orang percaya adalah sebagai bukti bahwa kita mengasihi kebenaran firman Allah. Kualitas itu dapat diwujudkan dalam hal standar moral hidup kita, dimana kita hidup sesuai dengan kebenaran firman-Nya. Disinilah kita dapat memenuhi panggilan kita untuk berdiri di tengah-tengah masyarakat yaitu menjadi garam dan terang dunia, khususnya dalam memiliki moral, perilaku dan kehidupan yang lebih baik.

DOA Tuhan Yesus, ubah hatiku untuk menjadi pribadi seperti yang Engkau inginkan, sehingga kehadiranku dapat menjadi berkat bagi orang lain. (AS)

Sabtu, 23 Januari 2010

AWAS MENJADI “GILA KERJA”

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”

(Matius 6:33-34)

Tuhan menginginkan kita untuk bekerja dengan baik dan bertanggungjawab, sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan hidup yang kita perlukan baik bagi diri kita sendiri maupun untuk keluarga. Namun keasyikan kerja sering membuat kita lupa diri, sehingga kita menjadi orang yang lebih mementingkan kerja ketimbang hal-hal lain. Hal ini saya sebut menjadi “gila kerja” (workholic). Bahkan karena kita sudah “menikmati” kegilaan kerja, kita malah mengesampingkan tugas, peran dan tanggungjawab kita dalam keluarga. Akhirnya, waktu bagi keluarga menjadi terbatas, & hampir tidak ada komunikasi yg membangun dlm keluarga.

Kegilaan kerja juga membuat kita menjadi “dingin” terhadap segala bentuk kegiatan spiritual. Doa dan saat teduh menjadi terabaikan, ibadah dan persekutuan tidak lagi kita hadiri, sebab kita lebih memilih untuk kerja ketimbang beribadah. Waktu kita sehari, hampir dipastikan lebih banyak kita investasikan untuk mencari uang ketimbang mencari Tuhan.

Tuhan Yesus berkata “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Lukas 12:20-21). Dalam hal ini  Tuhan bukan melarang kita  bekerja & mengumpulkan harta, namun jika harta  menjadi fokus utama kita, maka sebenarnya kita  “melenceng” dari maksud Allah.

Allah ingin agar kita tetap mencari Allah terlebih dahulu, mencari kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya, sebab Allah adalah sumber berkat. Fokus kita bisa terbiaskan oleh dunia kerja, hal ini terjadi kita ingin memiliki lebih dari orang lain, dan kita mengorbankan yang lain. Kita harus terlebih dahulu datang kepada Allah, sebab Ia yang lebih tahu apa yang kita butuhkan. Tuhan ingin, kita memiliki waktu khusus (sabat) dengan diri-Nya, sehingga kita semakin mengalami kepenuhan di dalam anugerah-Nya.

DOA Beriku hikmat ya Tuhan, agar aku tidak tamak thd dunia”

Minggu, 24 Januari 2010

JEMAAT & PROSES PEMBELAJARAN-NYA

11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Matius

Banyak orang sependapat bahwa proses belajar manusia terjadi teru menerus seumur hidupnya, dan proses ini baru berhenti ketika manusia menemui ajalnya. Hanya saja harus diakui, seperti hal-nya proses belajar mengajar yang terjadi di bangku sekolah, ada yang malas untuk belajar, ada yang rajin dan tanggap untuk belajar, ada yang bebal ada pula yang acuh tak acuh.  Dari guru yang sama, dengan materi yang tidak berbeda, belajardi kelas dn dalm waktu yang sama, melahirkan murid-murid yang berbeda, dengan kata lain, keberhasilan proses belajar lebih banyak ditentukan oleh sikap dari murid-nya. Demikian pula proses belajar seumur hidup yang kita alami. Kita seorang pembelajar yang baik atau tidak?!

Sebagai orang-orang percaya seharusnya kita mengucap syukur karena memiiki seorang Guru yang Agung, yaitu Yesus sendiri.seorang guru yang bukan saja menguasai materi dengan baik, bahkan IA telah memraktekkannya denga baik, dan berhasil.  Dengan demikian IA adalah seorang Guru yg sekaligus seorang teladanyang baik.

Cuma ngomong-ngomong soal pelajarannya, inilah yang membuat kita ampun-ampun untuk mengerjakannya. Susahnya minta ampun, beratnya-pun minta ampun. Bukannya kita tidak mengertidengan nalar kita,mungkin kita sanggup mengupas dengan sangat baik pengertian-2 tersebut. Masalahnya pelajaran Yesus lebih mengupas kedagingan, egoism dan kehendak-2 yang melawan Tuhan ketimbang mengupas teori-teori teologia seperti yang dilakukan dlam ceramah & PA. Pelajarannya memang ironis, memikul kuk namun mendapatkan ketenangan. Rahasia apa yang Yesus mau sampaikan melalui pelajarannya?

Perenungan. Dapat kita bayangkan bila terdapat seorang Kristen namun enggan memasuki proses pembelajaran hidup, maka apa yang terjadi? Sejujurnya ia bukan orang Kristen, krena hakekat seorang Kristen adalah pengikut Kristus, seorang murid Yesus. Bil seorang murid tidak mau belajar dari gurunya, apakah ia pantas disebut sebagai murid?

Senin, 25 Januari 2010

BELAJAR MENGASIHI

22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

Matius

Kita masih sangat mengingat sebuah lagu rohani yang sangat ngetop beberapa dasawarsa yang lalu, yang hingga kini masih dinyanyikan dalam persekutuan-persekutuan dan ibadah gerejawi, yaitu BAHASA KASIH. Simaklah reff-nya sebagai berikut:

Ajarilah kami bahasa kasih-Mu

Agar kami dekat pada-Mu ya Tuhan-ku

Ajarilah kami bahasa kasih-Mu

Agar kami dekat pada-Mu

Walaupun lagu ini ketika dinyanyikan sangat “mendayu-dayu” apalagi kalau dinyanyikan dengan bergandengan tangan, namun sadarkah kita betapa sulitnya untuk melaksanakan. Sulit bagi kita untuk mengasihi,walaupun kita bisa mungkin saja kasih versi diri sendiri yang kita lakukan, bukan versi-nya Tuhan. Sangat tepat sang penggubah lagu mengatakan AJARILAH KAMI, yang artinya kita perlu diajar dan perlu belajar. Mengapa?

  • Keegoisan dan berpusat pada diri sendiri membuat manusia sulit melihat orang lain itu penting dan mengasihinya.
  • Tidak jarang kita mengasihi orang lain dengan mengenakan sebuah persyaratan kepada mereka. Selama mereka baik, selama itu kita mengasihi mereka, ketika mereka tidak baik, maka sirnalah kasih kit kepada mereka. Belum lagi adanya harapan-2 di balik kasih kita, ketika yang terjadi sebaliknya, maka kita kecewa.
  • Kasih yang Tuhan mau ajarkan bagi kita, memang membutuhkan persyaratan agar kita mengerti. Syaratnya, kita harus di dalam DIA
  • Proses belajar yang paling mudah adalah belajardari model atau contoh. Dan Yesus telah menjadi modelnya dan memberikan contoh bagi kita.

Perenungan. Bersediakah kita belajar tentang kasih?

Selasa, 26 Januari 2010

BELAJAR BERBUAT BAIK

6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

Salah satu pelajaran lagi yang sulit untuk dilakukan adalah belajar berbuat baik, walaupun setiap orang selalu memiliki keinginan yang sama yang ingin berbuat baik kepada orang lain, dan ingin mendapatkan perlakukan yang baik dari orang lain. Paling tidak ada beberapa hal yang menyadarkan kita bahwa berbuat baik itu sulit, dan bilamana kita ingin tetap bertahan dalam perbuatan-perbuatan yang baik, maka kita juga harus bertahan untuk menerima konsekuensi dari perbuatan baik kita.

  • Berbuat baik itu sulit karena kita harus berhadapan dengan spectrum definisi yang cukup luas tentang apa itu baik. Baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain; baik bagi orang lain belum tentu kita sepakat dengannya.
  • Mungkin kita sudah berbuat baik kepada orang lain, mungkin dengan cara menolong, menegur dengan kasih, dan lain-2nya. Ttepai berbuat baik menjadi sulit ketika kita dituntut untuk konsisten berbuat baik. Seperti  hal-nya dengan kasih, terkadang perbuatan baik kita itu bersyarat dan berpengharapan, dan ketika yang kita dapatkan tidak seperti yang kita harapkan maka kita enggan berbuat baik.  Berbeda dengan berbuat jahat, ketika kita juga dijahati oleh orang lain bagi kita hal itu setimpal.  Ketika kita berbuat baik dan orang lain jahat kepada kita, maka bagi kita itu tidak setimpal, dan sulit bagi kita untuk menerimanya.
  • Dan salah satu penyakit yang sering kali menimpa orang yang berbuat baik adalah gampangnya bagi dia terkena pencobaan. Kesombongan & keangkuhannya dicobai, merasa jadi pahlawan-nya juga sedang dicobai, menganggap dirinya penting dan berarti-nya juga sedang dicobai. Sulit untuk bertahan dalam kondisi ini.

DOA. Ajarku senantiasa untuk berbuat kebaikan, juga dengan ketulusan.

Rabu, 27 Januari 2010

BELAJAR MENDENGAR

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; Yakobus 

Ada sebuah guyonan sekitar kebiasaan orang-orang untuk berkata-kata, yang diawali dengan sebuah pertanyaan,”apa yang membedakan orang Eropa, orang Jepang dan orang Indonesia dalam hal berkata-kata?” maka jawabannya adalah sebagai berikut:

  • Kalau orang Eropa membiasakan diri untuk berpikir dulu sebelum berkata-kata.
  • Kalau orang Jepang biasa dengan sebuah kemampuan sementara ia berpikir ia-pun dapat berkata-kata.
  • Kalau orang Indonesia memiliki keunikan tersendiri, ia cepat berkata-kata tetapi mikirnya belakangan.

Sebagai orang Indonesia mungkin kita tersinggung, tetapi guyonan ini juga guyonan Indonesia.  Tetapi nampaknya apa yang diutarakan oleh Yakobus mencakup sifat dasar manusia yang berkecenderungan lebih mudah dan lebih cepat berkata-kata ketimbang mendengar.  Sifat yang demikian akan memunculkan sikap yang senada.  Sebagaimana yang kita tahu bilamana kita membaca surat Yakobus ini, yang lebih banyak membicarakan interaksi antar manusia dan bagaimana memunculkan iman dalam interaksi seperti itu, maka kita akan lebih mudah memahami betapa krusialnya hal mendengar.

Untuk mendengarkan orang lain ternyata kita perlu belajar, karena tidak cukup hanya menyediakan telinga saja, tetapi kita juga harus menyediakan waktu bagi orang lain. Yang saya maksudkan waktu secara khusus, karena kalau kita mendengarkan sebagai sambilan karena takut kehilangan waktu, maka kita tidak dapat mendengarkan dengan baik. Yang lain, kita juga harus menyediakan hati. Karena untuk mendengarkan juga harus memberikan per-HATI-an, agar mendengarkan orang lain bisa tercapai pada tujuannya, maka kita harus memberikan hati. Mendengarkan orang yg “di atas” kita jauh lebih mudah ketimbang mendengar orang yang berada “di bawah” kita.

DOA Jadikan kami pendengar-2 yang baik, sebagaimana Engkau yg selalu mendengarkan kami. Amin                                                       jp

Kamis, 28 Januari 2010

BELAJAR UNTUK HIDUP BIJAKSANA

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Mazmur

Alkitab mencatatkan Salomo sebagai seorang Raja yang bijaksana, hal ini telah teruji ketika ia harus menyelesaikan dua wanita yang sedang berselisih menyelesaikan perkara mereka, yakni rebutan anak.  Tetapi Alkitab juga mencatatkan bahwa kebijaksanaan itu tidak dengan sendirinya berada di dalam diri-nya. Kalau memang kebijaksanaan itu berasal dari dirinya sendiri maka seharusnya ia tidak mengakhiri kehidupannya dengan cara yang mengenaskan. Kebijaksanaan dalam diri Salomo dimungkinkan karena Tuhan. Tuhan-lah yang memberi dan karena Salomo yang memohonkan-nya.

Membicarakan kebijaksanaan yang sejati, Alkitab tidak pernah melepaskan kita dari sumbernya yakni TUHAN sendiri.  Kebijaksanaan yang dari Tuhan akan sangat jauh berbeda bila dibanding dengan kebijaksanaan yang dibangun oleh dunia. Apa yang dipandang oleh dunia adalah bijaksana belum tentu bijaksana dalam pandangan Allah, bahkan Allah berniat mempermalukan dunia dan segala kebijaksanaannya melalui orang-2 yang terkecil dari kerajaan Allah.

Allah mau setiap orang percaya menjadi orang-orang yang bijaksana. Pertama, setiap orang percaya telah memiliki akses pribadi dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Sebuah kesempatan terbuka baginya untuk menjadi bijak. Kedua, sekolah kebijaksanaan yang terbaik adalah kehidupan ini sendiri. Mungkin inilah yang menjadi salah satu alasan Tuhan menempatkan kitab Amsal menjadi bagian Alkitab/firman Tuhan. Kitab yang berisi 31 pasal ini berbicara berbagai aspek kehidupan yang mengajarkan agar kita menjadi bijaksana.  Dan sangat tepat bagi Musa menganjurkan agar kita menghitung hari-2 agar beroleh bijaksana. Sebagai pemimpin besar ia telah banyak diajar Tuhan melalui kehidupannya baik di istana, baik di padang belantara, maupun di tengah-tengah umat Israel yang tegar tengkuk itu.

DOA. Terkadang ketika kami ber-ilmu, ketika kami menjadi beruban, ketika kami bisa menyelesaikan satu masalah, dst,  sudah membuat kami merasa bijaksana. Ampuni segala kecongkakan hati kami ini. Amin             jp

Jumat, 29 Januari 2010

BELAJAR BERKATA-KATA

25:11 Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

Amsal

Sejujurnya kita-kita ini orang-orang yang sulit, minimalnya sulit ditebak perasaan dan hati kita.  Biasanya kita tidak terlalu suka bila orang lain tidak berani berbicara dengan kita, melainkan membicarakan dengan orang lain di belakang kita; sekalipun dengan gaya gossip rohani – untuk didoakan. Dan kita menuntut orang lain untuk berbicara dengan kita tentang penilaiannya.  Tetapi pada sisi lain, kita juga tidak menyukai orang yang ceplas-ceplos yang ngomong seenaknya dan tidak mau melihat situasi dan kondisi-nya, apakah cukup kondusif untuk membicarakannya dan membangun orang lain.  Biasanya kondisi seperti ini malah tidak membangun, tetapi akan menimbulkan keterpurukan, sakit hati, dan merasa dipermalukan di depan orang lain.

Alkitab sebenarnya telah mengajarkan kepada kita tentang mekanisme berbicara kepada orang lain, yakni berbicaralah empat mata, kalau gagal – panggilah dua orang sebagai saksi, dan bila belum berhasil – maka boleh dibawa ke forum, di hadapan orang banyak.

Bukan saja mekanisme, alkitab melalui bacaan kita pada hari ini juga mengajar kita agar kita berbicara tepat pada waktunya. Yang dimaksud tepat pada waktunya bukan berorientasi pada diri sendiri, tetapi waktu orang lain yang mendengarkan. Mungkin kita akan bersikap, ”sekarang waktunya saya mau berbicara, mumpung ada orang-2 lain,” dll. Perkataan yang dengan tepat diucapkan diumpamakan seperti apel emas di pinggan perak.  Hal yang baik diperkatakan/diucapkan dengan baik dengan cara yang baik pula, maka akan menjadi berkat bagi orang lain.

Antara materi dan cara sama-sama perlu mendapatkan perhatian. Bila kita hanya memperhatikan materinya, tetapi cara kita kasar, seperti orang yang tidak tahu adat bahkan tidak kenal Tuhan, maka percayalah apa yang kita sampaikan tidak akan membangun orang lain, bahkan akan menambahkan kejengkelan dan kemarahan.

Perenungan. Apakah anda yakin melalui tutur kata kita dapat menjadi kekuatan, penghiburan dan berkat bagi orang lain? Maukah kita belajar untuk mengutarakan dengan baik?

Sabtu, 30 Januari 2010

BELAJAR DARI FIRMAN TUHAN

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Mazmur

Kehidupan orang Kristen yang memiliki integritas tetaplah menjadi tujuan akhir, yang artinya apa yang diucapkannya sama dengan apa yang dilakukannya; apa yang dipelajarinya sama dengan apa yang dipraktekkannya; apa yang diimaninya, itu juga yang harus dinyatakan dalam keseharian hidupnya. Untuk mencapai hal seperti ini harus disadari sebagai sebuah proses yang tidak pernah berhenti sampai maut menjemput setiap kita.  Tetapi yang luar biasa, kita memiliki Allah yang sangat kreatif dan inovatif. Ia mendidik kita melalui banyak hal, melalui hidup, melalui orang lain, melalui pengalaman, melalui pengetahuan, melalui keseharian dan yang terutama adalah melalui firman-Nya.

Proses belajar ini-pun bersifat integral, kita tidak bisa pasang harga mati dengan mengatakan mau belajar hanya dari firman Tuhan saja dan menutup diri belajar dari kehidupan ini; atau hanya mau merenungkan firman & taurat-taurat Tuhan tetapi enggan belajar dari hubungan antar manusia dan konteks social-nya.  Mengapa demikian? Jelas, karena  Alkitab juga membicarakan tentang kehidupan, dan dalam kehidupan ini kita belajar dari kehidupan Kristus; sementara kehidupan ini sendiri sebagai tempat kita belajar mengaplikasikan kebenaran firman Tuhan, dan melalui kehidupan ini juga kebenaran firman Tuhan diteguhkan bagi kita sehingga kebenaran dan janji Tuhan itu nyata.

Perenungan. Tetapi tidak semua dalam kehidupan ini dapat kita serap, ada hal-hal tertentu yang harus kita buang jauh-2. Pakailah firman Tuhan sebagai saringan untuk belajar dari kehidupan ini. Yang bertentangan dengan kebenaran firman-Nya harus kita tolak. Bagaimana kita bisa mendapatkan hasil saringan yang baik? Bacalah & renungkan firman-Nya

Minggu, 31 Januari 2010

MANUSIA DAN DIMENSI SOSIAL-NYA

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Kejadian

Ada sebuah kerinduan untuk mengajak para pemimpin gereja melakukan sebuah study tour, karena ini urusannya bergereja maka touring yang dilakukan ke beberapa gereja yang lain. Tujuannya. Pertama – membandingkan. Tanpa adanya pembanding maka sesungguhnya kita tidak akan pernah mengetahui posisi dan kondisi gereja dengan baik. Kita lebih tinggi atau rendah, lebih baik atau buruk, lebih sehat atau sakit semuanya berangkatdari sebuah rujukan yang kita pakai sebagai tolok ukur, dan tolok ukur ini yg digunakan sebagai pembanding kita. Kedua, bila posisi kita berada di posisi negative/bawah maka kita harus rela untuk belajar, karena tanpa proses tersebut kondisi-nya tidak akan menjadi lebih baik.

Baik dalam gereja ataupun kehidupan ini, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain untuk memperlengkapi diri kita. Kita membutuhkan orang lain sebagai penolong kita, dan pertolongan itu akan menjadi efektif ketika kita rela bersikap untuk ditolong dan meyakini bahwa dalam diri sang penolong memiliki sesuatu yang dapat dipakainya atau diberikannya untuk menolong kita. Semakin kita tidak membutuhkan orang lain, dan mengingkri kehadiran orang lain sesungguhnyadiri kita semakin terpuruk.

Nats di atas sering dipahami hanya sebatas perkawinan, ttapi sesungguhnya juga mau membicarakan manusia sebagai makluk social, yang kelengkapan dirinya sebagai satu pribadi tidak akan pernah tercapai tanpa proses sosialisasi-nya. Tuhan pasti memiliki maksud yang indah ketika menciptakan manusia sebagai makluk social. Dari dimensi ini manusia mendapatkan keutuhannya. Pada jaman ini telah terjadi upaya-2 praktis untuk mengingkarinya, di mana seolah-2 manusia dapat hidup oleh dan untuk dirinya sendirinya. Jaman, keberdosaan manusia dan iptek mencoba bekerja sama untuk mewujudkannya.

Perenungan. Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.