Dalam bulan ini Gembala mau mengajak para pembaca untuk merenungkan pemaknaan sebuah keterbukaan, sebagai sikap yang mesti dimiliki oleh setiap orang percaya, namun tetap diimbangi dengan hikmat & kemampuan filtering agar tidak mudah kita terserang “penyakit kehidupan.” Thema yang diangkat dalam bulan ini adalah:

W.O.W.

Yang akan terbagi menjadi lima bahasan besar yang akan dihantarkan dalam setiap khotbah mingguan dengan thema-thema sebagai berikut:

07 Februai 2010

W.O.W. Wonder Open Wide

Mengajak jemaat untuk melihat dan menikmati kekayaan dan keindahan karya Tuhan, namun manusia harus melewati sebuah fase yang tidak mudah, apalagi dalam tradisi manusia yang lebih menyukai confort zone-nya. Fase tersebut adalah OPEN WIDE

14 Februari 2010

Melintas Batas Kemah

Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan ekspansi dalam hal materi dan area kekuasaannya tetapi yang menjadi perenungan, apakah manusia memiliki minat yang sama atas kerohaniannya dan kekayaan dalam kehidupannya

21 Februari 2010

Seperti Katak Dalam Tempurung

Menyadarkan jemaat bahwa diri kita sendiri-lah yang memegang peranan untuk mempermiskin diri & wawasannya; namun ironisnya kita merasa diri kita yang paling “kaya”, paling tahu, paling pintar dan paling benar.

28 Februari 2010

Dunia Tidak Selebar Daun Talas

Jemaat memahami bahwa Tuhan menciptakan dunia bukan sekedar luas secara geografis, tetapi juga luas secara keragaman, luas dalam tradisi, luas dalam hikmat & pengetahuan, dan luas dalam pengalaman, khususnya bersama Tuhan. Semua yang positif darinya dapat dipelajari untuk memperkaya wawasan agar hidup bijak.

Ilustrator            : Victor E. Layata

Kontributor        : Ev. Henny Purwoadi, Pdt. Jenik Purwoadi,

Ev. Jhonatan, Ev. Sigit Purwadi,

Senin, 01 Februari 2010

KEKONYOLAN DI SEKITAR KITA

14:24 Mahkota orang bijak adalah kepintarannya; tajuk orang bebal adalah kebodohannya.                                                                  (Amsal)

Ada seorang bapak yang diboyong dari desa oleh anak-nya untuk tinggal bersamanya di kota megapolitan – Jakarta. Sekali waktu sang anak ingin membawa ayahnya untuk melihat kemegahan mall-2 ibukota. Setelah turun dari metromini dan melewati jembatan penyebrangan, tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah mall. Ketika memasuki mall yang megah & mewah itu, beberapa pasang mata memperhatikan sepasang anak & bapak dibarengi dengan senyuman. Sang anak salah tingkah dengan taburan senyum itu, sampai ia sadar ketika menoleh ke ayahnya, yang sedang menjinjing sandal kulitnya, karena takut mengotori lantai yang mengkilap di mall tersebut. Rupanya kebiasaan di rumah & rumah ibadah di kampungnya masih di bawa-bawa & dilakukannya.

Kisah lain, dalam persekutuan kelas kami saling berbagi kisah dalam masa praktek 2 bulan. Seorang rekan mengucap syukur karena Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan kepadanya, salah satu upaya yg dilakukan dengan mengosumsi Redoxon. Diakhir ceritanya, ia bertanya kepada kami semua, “kenapa ya Redoxon itu kok terasa menggigit-gigit di lidah? Tetapi karena untuk kesehatan ya saya tetap meminumnya.” Dalam perbincangan tersebut akhirnya ditemukan permasalahannya, teman kami ini tidak melarutkan terlebih dahulu di segelas air, tetapi langsung “diemut”-nya seperti permen.

Mungkin kita tersenyum ketika membaca kisah-2 nyata ini, bahkan mungkin sambil bergumam, “konyol sekali mereka.”  Tetapi mungkin kita dapat melakukan kekonyolan serupa, yang tanpa kita sadari telah membuat banyak orang tersenyum memperhatikan tingkah polah kita. Bukan karena karena kebodohan-2 kita, melainkan karena hal yang sederhana, yakni karena kita tidak tahu, karena kita belum memiliki pengalaman dalam hal tertentu, karena kita tidak memiliki pengetahuan & informasi yang cukup tentang sesuatu.

Perenungan. Saya yakin setiap kita tidak ingin melakukan kekonyolan, tetapi bersediakah kita untuk lebih berani membuka diri, membuka hati dan membuka akal budi kita, dan membiarkan kita diperkaya oleh apa saja yang Tuhan mau nyatakan kepada kita. Bukan saja dalam menyikapi  kehidupan sehari-hari, namun juga dalam hidup kita dihadapan-Nya.     jp

Selasa, 02 Februari 2010

BERWAWASAN. APA ITU?

1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,

2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda — 5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan — 6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. 7 Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.                                                                      (Amsal)

Mungkin kita mengenal orang-2 yang kita anggap memiliki wawasan, atau berwawasan. Kita menyebutnya demikian karena orang tersebut memiliki pengetahuan yang luas. Berbicara dalam berbagai topik rasanya selalu “nyambung” dan enak. Kalau kita pikir lebih lanjut, mengapa ada orang yang memiliki wawasan yang luas seperti itu, mungkin saja memang ia adalah pribadi yang senantiasa menuntut diri untuk belajar dan terus belajar, sehingga ia memiliki pengetahuan yang terus berkembang. Mungkin juga ia adalah orang yang senantiasa membangun hubungan dengan orang lain, dan memiliki kemampuan yang baik untuk menyerap berbagai “ilmu” dari orang-2 yang dijumpainya. Mungkin juga karena ia adalah seseorang yang selalu ingin mencoba dan berusaha, kata gagal tidak pernah menghentikan niatnya. Kita harus mengakui bahwa ada orang-2 sedemikian dalam kehidupan ini, namun realita-nya, seluas apapun wawasan yang mereka miliki, selalu ada batasnya. Tidak ada manusia yang tahu segala-nya, tidak ada yang maha tahu kecuali Tuhan.

Tujuh ayat dalam Amsal 1 mengajak kita untuk memiliki sebuah perenungan yang dalam tentang apa itu “berwawasan.” Berbicara tentang “bagaimana caranya untuk . . . .”  à mengetahui, mengerti, menerima, menjadikan, memberikan, menambahkan, memperoleh tentang apa saja yang mungkin pada saat ini dikategorikan sebagai bahan baku wawasan. Kunci utamanya adalah TAKUT AKAN TUHAN yang menjadi awal (penentu) seseorang memiliki wawasan atau dianggap berwawasan atau tidak. Perenungannya adalah, bagaimanakah cara Tuhan untuk melihat bahwa seseorang itu berwawasan atau tidak? Tertarikkah anda?                      jp

Rabu, 03 Februari 2010

BERSOSIALISASI & BERWAWASAN

14:18 Orang yang tak berpengalaman mendapat kebodohan, tetapi orang yang bijak bermahkotakan pengetahuan.

Amsal

Saya mengenal seseorang yang memiliki tips yang jitu untuk meng- up grade pengetahuan dan wawasannya.  Beberapa kiat yang dilakukannya di ceritakan dalam sebuah pertemuan santai, misalnya:

  • Kalau ia bepergian menggunakan pesawat terbang, maka ia berusaha untuk duduk di kelas bisnis atau eksekutive. “Memang lebih mahal,” ujarnya, tetapi setidak-2nya kita tahu bahwa orang yg duduk di kelas tersebut bukanlah orang biasa. Yang jelas mereka orang berduit, mungkin juga orang yang sukses di dalam karier dan usahanya, yang tidak sedikit di antara mereka memiliki latar belakang pendidikan yang baik, atau pengalaman hidup yang bisa dicontoh.  Harga tiket yang mahal tidak dapat dibandingkan dengan harga “pelajaran” yang dapat diserap dari orang-2 tersebut, dan ia menjadikannya sebagai proses belajar wawasan.
  • Lebih jauh ia berkata: “Orang-2 seperti itu telah menggunakan banyak waktunya, menggunakan banyak uangnya, bahkan banyak pemikiran-2 nya untuk mencapai kesuksesan, baik di bidang akademis ataupun di dalam kariernya.  Yang penting kita dapat belajar dari mereka, menemukan simpul-2 penting atau kiat-2 yang dapat menyemangati kita. Karena belum tentu kita memiliki waktu dan uang untuk mencapainya, dan sekarang kita tinggal menerima kesimpulannya.”
  • Rekan saya ini tidak membiarkan proses belajar melalui interaksi social-nya ini hanya sekedar menjadi sebuah data. Tetapi mencoba menganalisa, men-sintesa-nya kemudian mengaplikasikan dalam kehidupannya. Setidak-tidaknya ada upaya untuk mengubah dari informasi menjadi aplikasi, dari pengetahuan menjadi pengalaman.

DOA. Ya Tuhan, tidak jarang kami merespon kehadiran orang lain sebagai sesuatu yg ancaman, saingan bahkan mungkin merugikan kami. Sadarkan kami bahwa Engkau menciptakan kami sebagai makluk social yang harus berinteraksi satu dengan yang lain untuk saling membangun. Amin.           jp

Kamis, 04 Februari 2010

MENGENAL DUNIA SEKITAR KITA

4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yohanes)

Mata  saya menangkap sebuah judul yang menarik dari sebuah majalah mini misi dengan tulisan “Jerit tangis dari Korea Utara”, kemudian ada lanjutan tulisan “Anak-anak tergeletak tak bernyawa di jalan!. Hal ini membuat saya menyempatkan diri membacanya, . demikian kisahnya: Umat Kristen di Korea Utara telah menghubungi Open Door untuk di kuatkan, khususnya dalam doa. Pemimpin gereja mengatakan pemerintah Korea Utara kembali menetapkan periode “100 hari pertempuran.” Suatu gerakan yang mewajibkan rakyat Korea Utara bekerja keras bagi Negara mereka. Siapapun yang kedapatan berada di jalan tanpa alasan yang jelas akan dimasukan dalam kamp konsentrasi. “selama periode ini banyak orang yang tidak bisa bertahan hidup. Di propinsi Hwanghae melihat anak-anak tergeletak tak bernyawa di jalan-jalan adalah pemandangan yang biasa. Mereka meninggal karenma kelaparan.” Ujar seorang saudara Kristen. Orangtua meninggal dunia atau memilih untuk meninggalkan anak-anak mereka karena tidak tahan lagi dengan penderitaan dan kesedihan karena tidak mampu memberi makan anak-anak mereka.

Umat Kristen Korea Utara sangat berani mereka secara sembunyi-sembunyi mensharingkan iman kepada orang-orang. Mereka terus menguatkan saudara-saudara mereka yang lain, baik yang Kristen maupun yang bukan. Akhir dari artikel itu adalah permintaan dukungan doa kita secara khusus dan sukarela setiap hari selama sebulan untuk mereka.

Berikutnya ada cerita tentang dua wanita Iran yang di penjara karena iman mereka dalam Kristus, di Bangladesh tentang seorang Dr. wanita Kristen yang melayani dengan profesinya, dan berbagai tantangan di dalamnya. Akan banyak cerita yang lain. Ketika membaca ini semua saya tahu Tuhan mau mengingatkan saya untuk melihat begitu banyak yang harus di kerjakan bukan hanya rutinitas masih banyak jiwa yang dalam kegelapan.Mari bersama menunaikan tugas ini.Lihatlah ladang sdh menguning telah siap di tuai, pertanyaannya siapakah penuainya?         hp

Jumat, 05 Februari 2010

MENGENAL KAWAN-KAWAN KITA

15:33 Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.                                                              (1 Korintus)

13:20 Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. (Amsal) 

Firman ini telah sering kita dengar, seberapa kita sering dengar mungkin seberapa itulah kita juga mengabaikan. Hingga kalau kita menyimak hidup kita, maka kita mengetahui kita berada dalam
zona larangan” itu.

Ada seorang wanita Kristen mengalami masalah dalam rumah tangganya, entah kenapa sahabat dunianya mengetahui akan hal ini, dengan maksud hati sebagai seorang sahabat ia memberi nasehat, ingat yang memberi nasehat adalah sahabat dunia sehingga apa yang di nasehatkan itupun merupakan cara dunia, “kalau suamimu menyeleweng kamu jangan mau kalah, lakukan seperti yang dia lakukan, biar dia tahu kita perempuan tidak bisa di permainkan, belanjakan saja uangnya sebanyak-banyaknya daripada di berikan kepada “wanita itu.

Kita bisa bayangkan bukan bila nasehat itu di turuti, kira-kira hasil akhirnya bagaimana? Maksud ayat-ayat diatas bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan mereka yang tidak seiman, justru kita tahu kita harus berada di tengah-tengah mereka untuk mengarami dan menerangi. Tetapi Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tetap pada eksistensi kita tidak mengikuti pergaulan mereka, tidak mengikuti nasehat mereka (Mazmur 1).

Hal ini bukan sesuatu yang pantas di remehkan, banyak yang tidak siap kehilangan teman dunianya, karena ada banyak “kesenangan” yang tidak akan di dapat dengan teman seiman, sehingga tanpa mereka sadar hal itu menjauhkan mereka dari kasih karunia Tuhan, bahkan fungsi mengarami dan menerangi tidak ada “efek” , yang ada hanya rasa hambar dan kegelapan menyelimuti hidup mereka, sehingga suatu waktu ketika mata mereka menjadi buta,sehingga membuat mereka masuk ke dalam jurang, hidup menjadi hambar sehingga tidak ada sukacita, barulah mereka tahu dunia itu kejam!! Mari  milikilah pandangan Ilahi, yaitu kebenaran Firman Tuhan, berhati-hatilah membangun hubungan

DOA. :Tuhan tolong berikan hikmat bagiku dlm memilih teman, Amin.     hp

Sabtu, 06 Februari 2010

ITU TERSERAH KITA

24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Yosua

Yosua menyampaikan hal ini kepada bangsa yang di pimpinnya, bagi dia mereka yang sangat susah di atur ini, yang kerap menyakiti hati Allah, namun mereka yang telah “dewasa” artinya mereka yang telah menyaksikan bagaimana Allah bertindak dalam perjalanan hidup nenek moyang mereka sampai kepada mereka, seharusnya mereka tahu kepada siapa mereka beribadah, namun karena hidup mereka tidak menunjukkan hal itu, Yosua meminta mereka untuk memilih, dan dia sendiri menyatakan  dengan tegas pilihannya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”.

Hidup ini terserah kita bukan, dalam keluarga dimana pendidikan pertama kita dapat bukankah kita bisa memilih, taat atau tidak taat, mengikuti atau tidak mengikuti, begitu juga dalam masyarakat,dll.

Iman kita kepada Yesus Kristus bukankah juga dari satu pilihan hati kita? Namun pertanyaannya apakah kita masih beribadah kepada Allah yang benar?  Ataukah saat ini kita sedang beribadah kepada illah-illah yang lain?!. Ke gereja tetap, status sebagai seorang Kristen tetap, tetapi ada apa dengan namanya “growing”, kenapa tidak ada “perubahan “dalam hidup kita, kenapa  sebagaian kita masih berjalan di tempat.

Kalau benar kita beribadah kepada Allah yang benar, maka hati kita mengikuti kegerakkannya, menjalani FirmanNya, bertumbuh, berdampak pada sekeliling kita. Si pengeluh dan pengerutu menjadi pemuji, suka menyalahkan orang lain, menjadi seorang yg lebih mengevaluasi diri, tidak pernah bersyukur manjadi lebih bersyukur, dll.

Yang namanya pilihan memang bukan sebuah paksaan, untuk makan kita memilih yang terbaik, untuk sebuah produk barang kita memilih yang terbaik, untuk sebuah pekerjaan kita memilih yang terbaik,bahkan untuk sekolah anak-anak kita, untuk tempat tinggal dll, bukan sekedar memilih yg terbaik bahkan kita menjaganya, mengivestasikan. Bagaimana dengan kehidupan beribadah kita, pilihlah yang terbaik dan benar, jg lakukanlah yg terbaik dan benar.Tuhan pasti menolong kita senantiasa.  hp

Minggu, 07 Februari 2010

W.O.W. – WONDER, OPEN WIDE

3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu)

“Membukakan pintu”, inisiatif dari yang empunya pintu, butuh suatu kerelaan, bukan sebuah paksaan . Tuhan akan mendapatkan kita, makan bersama-sama dengan kita bila kita “membuka” pintu hati kita dengan rela, tidak ada unsur paksaan apalagi ancaman di dalamnya.

Ketika gereja kita melakukan cek up kesehatan, salah satu penyakit yang cukup kronis dari kehidupan berjemaat kita adalah “tidak saling terbuka”, sehingga untuk membangun kehidupan yang penuh kasih itu juga tidak mudah, ada banyak hambatan di dalamnya.

Ketika kita sebagai seorang beriman ,(di katakan beriman berarti kita percaya kepada Tuhan), yakin akan diri yang kita imani, maka seharusnya membuat hidup kita terbuka di hadapanNya, mengalami berbagai proses, berbagai pembentukkan, enek tidak enak, sakit, menyenangkan, tawa maupun airmata. Kalau kita mengatakan kita terbuka terhadap hubungan kita dengan Tuhan, berarti kita membiarkan Ia berintervensi dalam hidup kita, terhadap seluruh aspek hidup kita. Hal yang tak jarang kita lakukan kita justru membatasi pekerjaaNya dalam hidup kita, seolah-olah Ia yg MAHATAHU itu tidak perlu tahu sisi hidup kita yang lain.

Seorang pendeta,yang sudah pensiun sakit keras. Ia tinggal seorang diri di rumahnya. Karena sakitnya itu, ia tidak mampu keluar rumah, baik untuk berobat maupun untuk membeli makanan. Pada suatu hari tetangganya datang menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit, tetapi ia menolak dengan mengatakan, “aku seorang pendeta, tidak perlu diantar, Tuhan pasti memberi kesembuhan padaku, keesokan harinya ada anggota jemaat yang menawarkan hal yang sama, kembali oleh sang pendeta ini memberikan jawaban yang sama. Keesokkannya meninggallah pendeta ini,ketika bertemu Tuhan ia memprotes Tuhan ;”Tuhan mengapa tidak menyembuhkan saya?’, jawab Tuhan “Ah, dasar pendeta tua, dua kali Aku mau menyembuhkanmu, tetapi kau menolaknya!’.Ketika kita membuka hati dan hidup kita dengan lebar dihadapan Tuhan, maka akan ada perubahan, ada pemulihan,

Tuhan kiranya memampukan kita s’kalian. Amin .                      hp

Senin, 08 Februari 2010

CERITA TIGA BABAK

(Babak 1)

18:24 Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.

Kisah Para Rasul

Ada kalanya kita merasakan rasa percaya diri yang kuat dari orang-orang yang membangun hubungan dengan kita. Di samping faktor personality yang dimilikinya, tidak jarang sesuatu yang dimiliki dan yang dialaminya mampu mendongkrak rasa percaya diri tersebut.  Salah satunya, tempat/kota di mana ia berasal, di kota/negara apa ia mengenyam pendidikan, apalagi di universitas-2 ternama.

Tidak jarang kita merasa minder ketika berhadapan dengan orang-orang yang berasal dari kota-2 metropolitan, dan tiba-2 kita merasa berasal dari desa dan tidak memiliki apa-2 untuk dibanggakan. Atau kita merasa minder ketika berhadapan dengan mereka yang jebolan luar negeri yang bahasa inggrisnya cas-cis-cus-ces-cos. Pertanyaannya, apakah harus demikian? Tentu saja tidak, bukan!

Percaya diri itu penting, tetapi over estimate terhadap diri sendiri dapat menjadi jerat terhadap proses pembelajaran, karena kita merasa tidak perlu belajar dari orang-2 yang sederhana.

Di babak 1 ini kita melihat siapakah tokoh kita, Apolos. Disebutkan bahwa ia berasal dari kota Aleksandria. Sebuah kota besar, kota “metropolitan” yang menawarkan banyak hal di dalamnya, yang dapat dikemas alam bentuk pendidikannya, pengalamannya, “wawasan-wawasannya,”, interaksi manusia dan budaya peradabannya.  Belum cukup, Apolos juga disebutkan sebagai seseorang yang fasih berbicara, dengan kata lain, ia adalah seorang orator yang ulung. Dan ini dilakukannya dengan tidak sembarangan, dengan asal jago “memelintir pembicaraan, tetapi ia memperlengkapi diri dengan pengetahuan dan pemahaman tentang soal-soal kitab suci. Bahkan disebutkannya, MAHIR.

Bukankah ini sebuah modal penting yang dimiliki oleh seorang Apolos, yang tiba di kota Efesus untuk melayani orang lain dengan mengajar tentang Yesus. Cukupkah hal ini bagi Apolos?

DOA Terkadang kami menjadi minder, atau terlalu percaya diri. Amin        jp

Selasa, 09 Februari 2010

CERITA TIGA BABAK

(Babak 2)

18:25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. 26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.     (Kisah Para Rasul)

Di babak kedua ini, informasi kita tentang siapakah Apolos di tambahkan. Disebutkan bahwa ia adalah seseorang yang memiliki semangat di dalam melayani. Ia juga seseorang yang tidak sembarangan/sembrono dalam menyampaikan pengajarannya, melainkan seseorang yang teliti, yang sangat mungkin ia menyelidiki dengan seksama, atau mempersiapkan dengan baik, memperhatikan keakuratan materi pengajarannya.  Belum cukup, disebutkan ia mengajar dengan berani di rumah ibadat. Keberanian ini dapat diartikan ketidak gentaran untuk mengajar orang lain, atau dapat diartikan dalam pengupasan materi-2nya yang dianggap tidak biasa bagi kalayak umum, yakni Yesus sebagai Mesias, atau keberanian yang diartikan memasuki wilayah-2 rawan, dimana mungkin ia akan berhadapan dengan orang-2 yg menentang pengajarannya, apalagi memasuki rumah ibadat.

Namun, ternyata Apolos memiliki keterbatasan, yakni ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Keadaan ini diperhatikan sepasang suami istri yang takut akan Tuhan, yang digerakkan oleh Tuhan untuk memberikan koreksi/penjelasan kepada Apolos. Saya sangat yakin kedua orang suami istri ini sangat bijaksana, mereka mengajak Apolos ke rumah mereka, dan menyampaikan maksudnya. Mereka tidak memiliki maksud untuk mempermalukan di depan orang banyak.

Namun sebenarnya yang menjadi perhatian kita di babak ke-2 ini bukanlah Priskila & Akwila, namun sikap dewasa, sikap rendah hati dan sikap mau membuka diri terhadap sebuah masukan. Ia tidak perlu mempertahankan siapa dirinya sebagai orang kota dan orang terpelajar, namun rela menerima masukan dari orang-2 sederhana.

DOA Tidak jarang kami menjadi sulit untuk membuka diri & menerima masukan dari orang-2 sederhana di sekitar kami. Ampuni kami. Amin       jp

Rabu, 10 Februari 2010

CERITA TIGA BABAK

(Babak 3)

18:27 Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. 28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Kisah Para Rasul

Rupanya tokoh kita ini juga seorang pengkhotbah keliling yang menyampaikan firman Tuhan dari kota ke kota dalam KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) yang dipimpinnya. Setelah ia melayani di kota Efesus maka ia akan melanjutkannya ke kota Akhaya.

Bila dibandingkan dengan pengkhotbah-2 KKR pada masa kini, mungkin kita akan mendapatkan beberapa berkat tersendiri.  Pada masa kini para pengkhotbah meyakini akan menjadi berkat bagi orang-orang yang akan dilayani di kota-kota yang disinggahi.  Mungkin saja Apolos juga berpikir demikian, dan itulah sebabnya ia mempersiapkan diri dengan baik.  Tetapi yang luar biasa dalam babak ke-3 ini, Apolos ternyata tidak sekedar menjadi berkat bagi orang yg dilayani, tetapi ia juga mendapatkan berkat dari orang-2 yang dilayani.  Nampaknya masukan yang diberikan oleh Priskila dan Akwila ini memberikan dampak yang sangat baik bagi Apolos.

Mari kita simak ayat 27.  Mengapa saudara-2 di Efesus mengirimkan surat kepada murid-2 di Akhaya? Apakah ini sebuah surat yang berisi kabar yg merekomendasikan Apolos? Ada yang menafsirkan bahwa rekomendasi ini berisi recovery thd Apolos, namun ada juga yang berpendapat berisi sebuah rujukan untuk menerimanya karena ia seseorang yg dapat menjadi berkat bg Akhaya.  Penggalan kalimat  oleh kasih karunia Allah, dapat ditafsirkan sebagai tindakan Allah melalui Priskila & Akwila yg telah memperlengkapinya. Yang jelas, kehadiran Apolos benar-2 menjadi berkat bagi murid-2 Tuhan di Akhaya.

Perenungan. Mampukah kita melihat kehebatan Apolos bukan sekedar terletak pada performa pelayanan dan siapakah dia sebagai orang kota yg berpendidikan, tetapi juga pada kelapangan hati & keterbukaannya terhadap sebuah masukan yang semakin memperlengkapinya?                  jp

Kamis, 11 Februari 2010

TERTUTUP HATI-NYA

21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.” (Matius)

20:25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” (Yohanes)

Hampir setiap kita memiliki sifat dan sikap seperti Tomas, yakni akan mempercayai sesuatu bila kita telah menyaksikan atau melihat sesuatu yg  akan kita percayai itu.  Karena apa yang kita lihat, kita anggap sebagai sebuah bukti yang tak terbantahkan. Cerita atau apa kata orang seringkali tidak cukup untuk meyakinkan kita. Salah satu sisi seolah-olah sifat & sikap seperti ini baik & perlu kita miliki, namun kita harus menyadari bahwa terlalu banyak hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang ini sesungguhnya harus kita yakini & percayai keberadaannya.

Dalam kondisi yang sama, yakni melihat sesuatu, ternyata belum cukup & belum mampu meyakinkan seseorang untuk menjadi percaya. Hal ini-lah yang dilakukan oleh imam-imam dan orang-orang Farisi.  Yohanes Pembaptis telah dipakai Tuhan untuk menunjukkan kebenaran, dan dengan nyata telah mereka saksikan, tetapi mereka tidak percaya.

Apa yang membuat mereka tidak dapat mempercayainya, sekalipun bukti telah dipaparkan di depan mata mereka? Ada sebuah penggalan kalimat yg perlu direnungkan, yakni tetapi kemudian kamu tidak menyesal. Kata menyesal berarti berbalik dari arah yang semula, dan ini tidak sekedar melibatkan keputusan akal saja, melainkan keputusan hati-lah yang lebih banyak mengambil peranan-nya. Menyadari bahwa yang lalu itu salah dan mengakui yang mereka lihat (Yohanes Pembaptis) adalah benar, dan menjadikan yang mereka lihat sebagai sesuatu yang harus mereka percayai.

Perenungan. Mata boleh melihat, tetapi tidak memberi manfaat bila hati tetap tertutup. Mata boleh buta asal hati terbuka.                        jp

Jumat, 12 Februari 2010

TERTUTUP NIAT-NYA

1:32 Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.

6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

30:25 semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,

Amsal

Sekali waktu saya berjumpa dengan dua orang asing yang berasal dari daratan Eropa.  Yang membuat saya tertarik ngobrol dengan mereka adalah karena mereka bersepeda dan pada saat itu telah memarkirkannya di Bedugul. Ternyata mereka bersepeda dari Kuta, bahkan mereka telah mengayuhkan sepeda untuk membawa mereka ke beberapa tempat pariwisata.  Pikir saya, “Niat banget mereka!”

Sementara saya juga memiliki sepeda di rumah, yang terkadang untuk mengendarainya dalam beberapa ratus meter saja sudah membuat saya berpikir panjang, apalagi puluhan bahkan ratusan kilometer.  Mungkin kita akan membangun alasan, “ya karena terpaksa naik sepeda maka harus menaikinya, coba kalau ada pilihan?”  Bukankah ini salah satu defense mechanism yang dapat kita pakai?  Kita harus mencari alternative lain untuk menjawabnya, yang lebih bernada positif, misalnya, mereka memiliki niat yang tinggi dan sementara kita tidak seperti mereka.

NIAT. Kata ini ternyata menjadi kata kunci dalam kehidupan kita, yang membuat kita memiliki kekuatan ekstra untuk melakukan atau mencapai sesuatu. Modal kepandaian & modal financial saja terkadang tidak cukup untuk membawa kita pada kesuksesan, kalau tidak dibarengi dengan adanya NIAT.  Dan kita perlu mewaspadai musuh besarnya yakni kemalasan atau keengganan.

Keengganan dan kemalasan tidak saja membuat kita mustahil meraup keberhasilan di dalam hidup, tetapi membuat kita menjadi orang yang miskin. Yang jelas, kemiskinan terhadap pengalaman. Kemiskinan yang membuat kita terkungkung khasanah dunia kita sendiri. Akibatnya, bukan sekedar kerdil pengalaman, tetapi juga menjadi kerdil pengetahuan, kerdil wawasan, bahkan menjadi kerdil hati dan kerdil rohani.

Perenungan. Apakah perlu kita berdoa agar Tuhan menolong kita untuk tidak mengalami ketertutupan niat?                                              jp

Sabtu, 13 Februari 2010

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

4:6 Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (II Korintus) 

1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. 9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. (Yohanes) 

Dalam pelajaran sejarah kita mengenal tokoh perjuangan hak asasi wanita, R.A. Kartini yang menuliskan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.”  Dan ternyata jauh sebelum Kartini menuliskan buku-nya, bahkan jauh sebelum Kartini lahir, Alkitab telah menggunakan istilah ini.  Kartini memaknakan terang sebagai utopia, tetapi Alkitab memberitahukan kita bahwa terang yang dimaksud menjadi titik berangkat.

Ilmu pengetahuan memberitahukan kepada kita alasan mengapa kita dapat melihat, hal ini bukan saja karena kita memiliki mata yang normal dan sehat, tetapi hal yang menentukan karena adanya cahaya/terang, yang membuat mata kita dapat merefleksikan dan menangkap benda yang kita lihat. Mata sehat & normal tidak dapat berfungsi bila berada di dalam kegelapan yang paling pekat.

Nats di atas jelas mengatakan bahwa Terang itu merujuk kepada Allah di dalam Yesus Kristus, Terang itulah yang telah menerangi hati kita sehingga (supaya) kita beroleh terang dari pengetahuan akan kemuliaan Allah.  Sebagai orang percaya kita tidak dapat menampik kebenaran ini. Ternyata Terang itulah yang membuat kita dapat memahami pengetahuan akan kemuliaan Allah, dan pengetahuan ini tidak tertandingi oleh pengetahuan-pengetahuan lainnya. Itulah sebabnya orang-orang bijak mengatakan bahwa pengetahuan akan Allah & kemuliaan-Nya menjadi induk dari segala ilmu pengetahuan, dan sekaligus menjadi control dari segala ilmu pengetahuan, yang artinya apabila ilmu pengetahuan itu tidak membawa untuk mengenal Allah & kemuliaan-Nya maka perlu diwaspadai.

Perenungan. Bila kita membandingkan dengan perenungan di tanggal 02 Februari 2010, maka kita diingatkan kembali tentang apa itu berwawasan/ berpengetahuan.  Bolehkan secara spiritual kita mengatakan itu semuanya tetaplah gelap sebelum diterangi oleh Terang yg sejati?   jp

Minggu, 14 Februari 2010

Melintasi Batas Kemah

27:51 Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,

Matius

Bait Allah menjadi bagian yang sentral dalam perjalanan sejarah bangsa Israel khususnya dalam penyembahan kepada YHWH.  Dalam bait Allah ini terdapat beberapa ruangan yang dibangun dengan maksud dan tujuan tertentu.  Misalnya: ada ruang maha kudus tempat penyimpanan tabut perjanjian, serambi untuk orang Israel dan serambi untuk orang-orang non-Yahudi yang masuk dalam kepercayaan Yudaisme, ada ruangan khusus buat wanita.  Untuk masuk ke dalam ruang maha kudus pun tidak boleh sembarangan orang tetapi hanya khusus imam yang ditugaskan.  Kesemuanya ini disebabkan karena konsep Allah mereka.  Dalam pemahaman mereka, Allah itu adalah Allah yang transenden.  Allah itu adalah Allah yang jauh keberadaan-Nya.  Bahkan konsep ini masih tertanam dengan sangat kuat dalam diri orang-orang Yahudi sampai saat ini.

Kematian Kristus di atas kayu salib menghancurkan pandangan orang Yahudi yang keliru.  Dari ayat yang kita renungkan hari ini memberikan bukti bahwa kematian Kristus memperlihatkan bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang dekat dengan manusia.  Tirai pemisah antara Allah dan pengikut-Nya tidaklah sejauh yang dibayangkan oleh orang-orang Israel.  Tirai pemisah telah hancur dan inilah yang memungkinkan manusia untuk datang dan mendekat kepada Allah kapan pun ia mau.  Hancurnya tirai pemisah ini juga memungkinkan manusia untuk belajar dan melihat bagaimana karya yang Allah kerjakan di dalam hidup mereka.  Akan tetapi sungguh ironis, Allah telah menyediakan jalan bagi manusia untuk bisa menikmati dan melihat karya Allah yang luar biasa tapi manusia sendiri membangun tembok dan membatasi kuasa Allah yang bekerja dalam dirinya.  Makanya tidak heran kita menemukan orang-orang Kristen yang kehidupannya biasa-biasa saja atau bahkan kekurangan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan.  Dalam renungan satu minggu ke depan ini saya akan mengajak Anda untuk melakukan perjalanan rohani bersama-sama dengan beberapa tokoh dalam Alkitab yang telah merasakan pengalaman rohani yang sangat luar biasa tatkala mereka membuka hati mereka serta membiarkan Allah yang bekerja dalam diri mereka.  Harapan saya adalah kita semua bisa membuka hati kita dan membiarkan Allah bekerja sehingga kita pun akan merasakan pengalaman-pengalaman tersebut dan kaya di dalam Tuhan.  GBU     -jho-

Senin, 15 Februari 2010

Yunus, Sang Penyimpan kepahitan

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Yunus

Saya yakin setiap kita tahu siapa Yunus dan apa yang terjadi dalam hidupnya.  Bahkan sebuah lagu sekolah minggu pun membuat Yunus dikenal.  Dalam perenungan saya, Yunus menjadi seorang yang tidak dapat melihat dan merasakan kuasa Tuhan yang luar biasa baik atas dirinya maupun atas bangsa Niniwe.  Penyebabnya adalah karena Yunus membangun sebuah tembok.  Ketika ia dipanggil untuk melayani sekelompok orang yang sangat jahat bahkan dikatakan kejahatan mereka telah sampai kepada Tuhan (1:2).Yunus dipanggil untuk menyerukan pertobatan kepada orang-orang yang tinggal di kota Niniwe.  Mungkin kita bertanya-tanya, “Sebenarnya apa yang menjadi keberatan Yunus untuk pergi dan menyerukan pertobatan kepada bangsa Niniwe?”  Dalam perenungan saya, saya mendapati penyebabnya adalah kepahitan yang ada dalam hati Yunus.  Mari kita selidiki lebih dalam lagi kenapa saya katakan kepahitan.  Yunus bin Amitai adalah seorang nabi yang dipanggil pada saat Yerobeam II memerintah sebagai raja di Israel (Samaria/Israel Utara).  Yunus berasal dari sebuah desa di daerah Zebulon yaitu Gat-Hefer.  Jadi dapat kita simpulkan bahwa Yunus adalah orang Israel.  Sedangkan kota yang menajdi tujuan pelayanannya adalah kota Niniwe.  Niniwe adalah sebuah kota yang ada di daerah Asyur.  Asyur adalah bangsa yang pernah menyerang Samaria dan yang pada akhirnya akan menghancurkan Samaria.  Sebagai seorang warga negara yang memiliki sikap patriotisme yang tinggi, Yunus pun mempunyai sikap terhadap panggilannya ini.  Mulutnya berkata “iya” tetapi hatinya berkata “tidak”.

Saudaraku, kepahitan akan perlakuan bangsa Asyur terhadap bangsanya membuat Yunus gagal untuk mengalami dan melihat kuasa Allah yang nyata dalam hidupnya.  Saudaraku, setiap kita pernah mengalami hal pahit dan hidup ini dan mungkin itu membuat kita mengalami kepahitan.  Saudaraku, kepahitan apa yang sampai saat ini masih ada dalam hati Anda.  Sekarang juga, minta ampunlah pada Tuhan dan serahkan semuanya itu kepada Tuhan agar kita bisa mengalami dan melihat kuasa Tuhan yang nyata dalam hidup kita.  GBU                              -jho-

Selasa, 16 Februari 2010

Farisi, Si Legalis

11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” Lukas

Faktor lain yang membuat kita tidak bisa mengalami dan melihat kuasa Tuhan adalah sikap legalis atau kaku.  Contoh yang paling nyata dari orang model ini adalah orang Farisi.  Orang-orang Farisi adalah orang-orang yang hidup dengan sangat taat kepada semua aturan yang ada dalam hukum Taurat.  Kekakuan yang dimiliki oleh orang-orang Farisi membuat mereka tidak bisa melihat kuasa Tuhan.  Dari bagian firman Tuhan yang kita renungkan ini, kita mendapati kenyataan dari teguran Yesus kepada mereka.  Mereka diumpamakan seperti kubur yang tidak memakai tanda.  Kuburan merupakan tanda kenajisan.  Kuburan biasanya memiliki batu nisan tetapi orang-orang Farisi digambarkan sebagai kuburan tanpa nisan.  Keberadaan mereka menajiskan orang-orang yang ada di sekitar mereka.  Dengan pemahaman mereka akan hukum Taurat itu bukan membuat mereka semakin mengenal YHWH dan diri mereka tetapi jsutru membuat mereka menjadi orang yang menghalangi kasih Tuhan dinyatakan di dalam kehidupan orang-orang percaya.    Keberadaan mereka membuat resah khususnya orang yang rindu untuk mendekatkan diri kepada TUHAN.

Saudaraku, sebagai orang Kristen seringkali kita terjebak pada legalistas-legalitas membuat kuasa Tuhan tidak bisa tersebar.  Panggilan kita adalah menjadi saksi Kristus.  Melalui kita, kasih Tuhan harus dinyatakan.  Aturan-aturan yang ada janganlah sampai membuat kita menjadi orang-orang yang kaku.  Jangan sampai kita menjadi sama seperti orang Farisi yang justru membuat orang semakin jauh dari Tuhan.  Jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi orang lain.  Mari kita bersama-sama menjalankan panggilan kita sehingga kasih Tuhan bisa dirasakan dan dinikmati oleh sebanyak mungkin orang.

Doa      : Tuhan, tolong aku menjadi saksi-Mu.  Amin.                           -jho-

Rabu, 17 Februari 2010

Ahli Taurat, Si Penghalang Jalan Kebenaran

11:46 Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.

11:52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” Lukas

Tokoh selanjutnya adalah para ahli Taurat.  Di mata Tuhan, orang Farisi dan ahli Taurat sama saja.  Pada ayat 45, seorang ahli Taurat mengatakan bahwa kecaman Tuhan juga menyinggung mereka.  Pada ayat-ayat selanjutnya kita membaca bagaimana Tuhan langsung mengecam mereka berdasarkan sepak terjang mereka.  Ahli Taurat adalah golongan masyarakat yang dihargai dalam tatanan masyarakat Yahudi.  Mereka adalah golongan orang terpelajar sehingga keberadaan mereka sangat krusial di tengah-tengah masyarakat.  Mereka sangat dihargai tetapi mereka tidak menghargai orang lain sebagaimana mestinya.  Sebagai seorang pemimpin agama seharusnya mereka memiliki kasih akan tetapi mereka justru menyiksa orang banyak dengan memberikan beban yang berat sedangkan mereka sendiri tidak mau membantu (ay.46).  Bukan hanya itu dikatakan juga bahwa mereka adalah orang yang telah mendapatkan kunci pengetahuan tetapi mereka sendiri tidak masuk ke dalamnya dan malahan menghalangi orang masuk yang mau masuk ke dalamnya.  Kunci pengetahuan yang dimaksudkan di sini adalah Yesus Kristus.  Artinya mereka sudah tahu Tuhan Yesus adalah Anak Allah tetapi mereka tidak mau menerimanya bahkan ketika orang banyak ingin mengenal Tuhan Yesus, mereka justru menghalang-halangi.  Berbagai macam cara ditempuh agar orang-orang tidak mengenal Tuhan.  Mereka sudah mempelajari Hukum Taurat dan sudah tahu tentang Juruselamat yang akan datang ke dalam dunia.  Tetapi mereka menolak karena Juruselamat yang mereka harapkan tidak sama dengan realita yang ada.  Sikap mereka menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa mengenal dan mengalami Tuhan.  Bukan hanya megnhalangi dirinya tetapi juga orang-orang lain yang ada di sekitarnya.

Saudaraku, kita adalah orang yang telah banyak belajar tentang Tuhan dan bahkan Tuhan sudah menjadi bagian dari hidup kita.  Mari kita terus mengintrospeksi diri apakah kita sudah menjadi penghalang atau pengabar kasih Tuhan.  Jangan sampai kita menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengenal Tuhan!  Mari kita buka hati kita sehingga kita menjadi alat untuk memperkenalkan Tuhan kepada orang lain.  GBU.  -jho-

Kamis, 18 Februari 2010

Yosua dan Kaleb, Sang Pemberani

14:6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,

14:7 dan berkata kepada segenap umat Israel: “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.

14:8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.                                  Bilangan

Perjalanan bangsa Israel menuju ke tanah Kanaan dipenuhi dengan dinamika perjalanan iman.  Firman Tuhan yang menjadi renungan kita hari ini menggambarkan tentang pengintaian tanah Kanaan yang dilakukan oleh 12 pengintai.  12 pengintai mengadakan pengintaian selama 40 hari dan setelah itu mereka pulang dan memberikan laporan kepada Musa yang telah mengutus mereka.  Laporan yang diberikan pun beranekargam tetapi secara garis besar dapat kita bagi 2 yaitu: pertama, ketakutan; kedua, keyakinan akan pimpinan Tuhan.  Sepuluh orang pengintai memberikan laporan yang berisikan ketakutan yang mengakibatkan seluruh orang Israel mengalami ketakutan yang luar biasa (13: 31-33) dan membuat mereka mengeluh kepada TUHAN (14: 2-3).  Berbeda dengan 2 orang pengintai yaitu Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune.  Yosua dan Kaleb memberikan laporan yang sangat jelas serta berusaha meyakinkan bangsa Israel bahwa tanah Kanaan serta orang-orang yang ada di sekitarnya akan mampu mereka kalahkan karena ada Tuhan yang akan membawa mereka masuk ke tanah tersebut.

Memang ada 12 orang yang diutus untuk mengintai tanah Kanaan tetapi hanya 2 orang yang memberikan laporan positif karena yakin akan pimpinan Tuhan atas bangsanya.  10 orang yang memberikan laporan ketakutan adalah contoh orang yang tidak membuka diri mereka dan melihat bagaimana Tuhan mampu bekerja dengan luar biasa serta memberikan tanah Kanaan kepada mereka.  Sedangkan Yosua dan Kaleb adalah orang yang membuka hati mereka dan membiarkan Allah bekerja dalam hidup mereka sehingga mereka yakin ada Tuhan yang beserta dengan mereka.  Ketidakpercayaan kepada kuasa Allah ini mengakibatkan mereka tidak memasuki tanah Kanaan dan mereka tidak dapat melihat Allah bekerja dan memberikan tanh itu kepada mereka.  Sedangkan Yosua dan Kaleb yang memiliki keyakinan dan hati yang terbuka akan kuasa Tuhan diberikan kesempatan memasuki tanah Kanaan.

Marilah Kita membuka hati kita akan kuasa Tuhan dan kita akan melihat kuasa Tuhan nyata dalam hidup kita.  Amin.  GBU              -jho-

Jumat, 19 Februari 2010

Ayub, Sang Pribadi Rendah Hati

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub

Setiap kita tentu pernah mendengarkan tentang Ayub, seorang anak TUHAN yang sangat mengasihi dan setia kepada TUHAN.  Bahkan TUHAN sendiri sangat bangga kepadanya.  Dari mulut TUHAN sendiri keluar pujian atas pribadi Ayub, seorang yang saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan yang menjauhi kejahatan.  Akan tetapi kita mendapati perjalanan hidup Ayub tidaklah semulus seperti yang kita bayangkan.  Dari seorang yang terkaya di daerahnya menjadi seorang yang sangat miskin bahkan sangat menjijikkan.  Dari seorang yang hidup dengan penuh kebahagiaan (dikelilingi seorang istri dan 10 orang anak) menjadi seorang yang hidup kesepian di dalam penderitaan.  Sungguh suatu perbandingan kehidupan yang tidak sebanding dengan kualitas hidup yang benar.

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui kisah Ayub ini adalah sebuah kisah happy ending karena pada akhir cerita ini Ayub pun kembali menjadi orang terkaya di daerah asalnya.  Pernah kita membayangkan pergumulan yang dihadapi Ayub di dalam masa penderitaannya?  Ayub yang sedang hidup dalam keterpurukan dan membutuhkan dukungan moril baik dari istri maupun dari rekan-rekannya justru mendapatkan omongan dan cacian yang melemahkan dia.  Istrinya menyuruh dia mengutuki TUHAN yang dipercayainya (1:9).  Sahabat-sahabatnya (Elifas, Bildad dan Sofar) yang diharapkannya bisa menghiburkannya, justru menuduh Ayub telah berbuat dosa dan mendesak Ayub untuk segera bertobat.

Saudaraku, kondisi kesendirian dan keterpurukan ini pun membuat Ayub pun mengajukan keberatan-keberatan atas kondisi yang dialaminya (psl. 16, 24, 30).  Sampai akhirnya TUHAN pun berbicara kepadanya dan menjelaskan segala sesuatu yang direncanakan Allah di dalam kehidupannya (38:1 – 41: 25).

Saudaraku, keterpurukan dan penderitaan yang dialami oleh Ayub tidaklah membuatnya menjadi orang yang menolak kedaulatan mutlak TUHAN atas dirinya.  Keterpurukan dan penderitaan ini justru membuat dia membuka hatinya sehingga pada akhirnya ia dapat melihat kemuliaan TUHAN yang dinyatakan kepadanya.  Keterbukaan hatinya membuat Ayub semakin mengenal TUHAN yang dia percayai.

Bagaimana dengan kita?  Sudahkah kita membuka hati kita tatkala musibah datang atas diri kita?  Mari kita belajar dari Ayub.  GBU       –        jho_

Sabtu, 20 Februari 2010

Daud, Sang Pemberani

12:13 Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 2 Samuel

Kita semua tentu tahu siapa raja Daud.  Seorang raja Israel yang sangat besar.  Seorang raja yang gagah berani dan seorang raja yang sangat menjunjung tinggi nama TUHAN.  Tetapi dalam 2 Samuel 11 kita menemukan bahwa raja Daud juga adalah seorang manusia yang bisa mengecewakan hati TUHAN.  Dalam bagian firman Tuhan ini dituliskan tentang kegagalan Daud. Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan dengan Batsyeba dan pembunuhan berencana atas diri Uria, suami Batsyeba.  Raja Daud berpikir bahwa tidak ada seorang pun yang tahu akan kesalahan yang telah dilakukannya ini.  Pikirnya, sebagai seorang raja ia boleh melakukan apa yang diinginkannya tanpa disadarinya bahwa apa yang dilakukannya itu jahat di mata TUHAN (11: 27c).  Sampai akhirnya nabi Natan datang dan menegur dosa yang telah dilakukannya itu.

Nabi Natan mengambil resiko yang sangat besar ketika ia datang menegur raja Daud.  Menegur dosa seorang raja bukanlah sebuah pilihan yang enak bagi Natan karena bisa saja sang raja marah dan menjatuhkan hukuman mati bagi nabi Natan.  Tetapi di sini kita dapat melihat dan mengetahui pribadi raja Daud.  Sebagai seorang raja yang berkuasa, ia tidak memakai kuasanya dengan semena-mena.  Dia tidak bersembunyi di balik kuasa yang dimilikinya itu.  Ketika Natan mengatakan, “Engkaulah orang itu!” (ayat 7), serta merta raja Daud langsung sadar dan merendahkan dirinya.  Daud minta ampun kepada TUHAN yang telah disakitinya dengan perbuatannya.

Saudaraku, raja Daud adalah seorang raja yang berani.  Ketika ia berdosa, ia segera datang dan minta ampun kepada TUHAN atas segala dosa dan pelanggaran yang dilakukannya.  Pertobatannya dapat kita lihat dengan jelas dalam Mazmur 51.  Sikap hati raja Daud ini bukan saja menyelamatkan dirinya dari kematian yang akan diterimanya tetapi juga membuatnya dapat melihat dan mengalami keajaiban kuasa Tuhan di dalam kehidupannya secara pribadi, dalam keluarganya dan atas bangsa yang dipimpin olehnya.

Saudaraku, setiap kita tentu pernah berbuat kesalahan dan membuat Tuhan bersedih melihat apa yang kita lakukan.  Marilah kita memiliki sikap hati seperti Daud yang berani datang minta ampun dan mengakui segala dosa dan pelanggaran yang telah kita lakukan maka kita akan melihat keajaiban karya Tuhan dalam hidup kita.  Amin.  GBU      -jho-

Minggu, 21 Februari 2010

Dunia Tidak Sedaun Talas

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…. “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. (Kejadian 1:1-28)

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendaki sebuah gunung di Jawa tengah. Sepanjang perjalanan saya dibuat terkagum-kagum dengan keindahan alam, bukit-bukit dan tebing-tebing tinggi, yang begitu gagah berdiri, seolah ingin menunjukkan keperkasaannya. Sesampainya di puncak saya begitu tercengang ketika memandang ke bawah, betapa luas, agung dan mulianya dunia yang Tuhan ciptakan ini. Saya sangat bersyukur dapat menikmati keindahan tersebut, tetapi saya juga merasa begitu kecil dan kerdil, sungguh tidak sebanding dengan ciptaan Tuhan yang maha besar ini.

Pemandangan tersebut menyadarkan saya, bahwa ketika Allah menciptakan alam semesta ini, bukan hanya luas secara geografis dengan keragaman hayati yang ada di dalamnya saja, melainkan juga luas atau beragam dalam hal tradisi, budaya, hikmat, pengetahuan dan lain sebagainya. Misalnya: Indonesia yang terdiri dari 17.508 pulau, berdasarkan data BPS ada sekitar 224 suku di Indonesia, beberapa literature menyebutkan itu belum termasuk suku-suku di pedalaman, jika dihitung diperkirakan ada 300-500 suku di Indonesia. Dari setiap suku memiliki budaya, bahasa dan keunikan-keunikan tersendiri. Di Kalimantan Barat ada sekitar 20 suku dengan 164 bahasa, belum lagi Papua yang memiliki 270 suku dan berbagai suku lainnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ‘dunia ini tidak se-daun talas’, seperti yang sering ada di benak kita. Yang menyebabkan kekristenan mengisolasi diri terhadap dunia luar, sebab menganggap budaya, tradisi, dan hal-hal yang berhubungan dengan dunia luar ‘tidak rohani dan jahat’. Memang dunia telah jatuh dalam dosa dan tercemar secara total, namun perlu disadari ada banyak nilai-nilai positif dari keberagaman tradisi, budaya, hikmat, pengetahuan dan sebagainya, yang bisa kita pelajari untuk memperluas wawasan kita, sehingga dapat mendorong agar kita hidup lebih bijak. Oleh sebab itu, kekristenan tidak boleh mengisolasi diri terhadap dunia luar, melainkan harus mau membuka diri terhadap keberagaman tradisi, budaya, pengetahuan dan lain-lain, sehingga dapat memberi pengaruh yang positif bagi kemuliaan Allah.

Doa: Tuhan sadarkan aku bahwa ada banyak hal baik dalam ciptaanMu, dan tolong agar aku mau membuka diri untuk belajar dari hal-hal baik itu agar aku dapat hidup lebih bijaksana. Sp

Senin, 22 Februari 2010

Mahakarya yang ajaib

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31a)

Ada kencenderungan kekristenan terjebak dalam pola pikir dikotomi, yang memisahkan hal-hal yang rohani dengan jasmani. Sebagian orang begitu ekstrim, menganggap hal-hal yang bersifat jasmani dan sekuler adalah “dosa”. Sehingga cenderung mengutamakan hal-hal rohani dan mengabaikan hal-hal yang bersifat jasmani. Maka tidak heran jika gereja baik dalam arti individu, kolektif maupun lembaga tidak atau kurang  menaruh perhatian serius pada masalah-masalah politik, pendidikan, lingkungan hidup, ekonomi, social budaya dll, serta menganggapnya kotor. Dan yang memprihatinkan adalah gereja kemudian menjadi anti dan tidak mau berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik, ekonomi, kemiskinan, social budaya, melainkan sibuk dan merasa nyaman dengan urusan gerejanya sendiri.

Hal tersebut jelas bertentangan dengan kesaksian Alkitab. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa, Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya “sungguh amat baik” atau “sangat sempurna” (Kej. 1:31). Oleh sebab itu saya sependapat dengan  apa yang diungkapkan oleh seorang penulis bernama Arlianus Larosa yang mengatakan bahwa: “perlu diakui bahwa tidak ada satu realitas pun dalam dunia ini, yang dalam dirinya sendiri dapat disebut jahat. Allah menjadikan semuanya itu dalam keadaan baik, jadi tidak boleh ada yang memberikan penilaian buruk terhadap semua ciptaan-Nya”. Benar kejatuhan manusia dalam dosa telah merusak dan menodai atau mencemari ciptaan Allah, tetapi tidak menghapuskan sifat-sifat baik ciptaan Allah.

Semua yang ada dalam alam semesta ini merupakan “Maha karya Allah yang ajaib”, jadi marilah kita juga melihat dan menilai dunia ini sebagaimana Allah melihatnya dan menilainya. Marilah kita bersyukur atas segala ciptaan Allah yang ajaib itu dengan memberikan perhatian serius, dan ikut terlibat aktif dalam semua bidang kehidupan, sehingga dapat memberi pengaruh yang baik terhadap perkembangan politik, krisis lingkungan, dan berbagai masalah sosial lainnya, agar dunia tetap terjaga dengan baik sebagaimana Tuhan menciptakannya.

Doa: Tuhan ajar aku melihat dunia ini sebagaimana Engkau melihatnya, dan mampukan aku untuk mejaga dunia ini agar tetap terjaga dengan baik sebagaimana Engkau menciptakannya. Sp

Selasa, 23 Februari 2010

Penjelajah dunia pertama

Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman! (Yesaya 40:22)

Ketika membicarakan penjelajah dunia pertama, maka kita akan teringat dengan salah satu penjelajah angkasa bernama Neil Armstrong. Astronot asal AS ini merupakan astronot pertama yang menginjakkan kakinya di bulan. Armstrong sampai di bulan bersama rekannya, Edwin Aldrin, dengan menggunakan pesawat Apollo 11. Namun, tahukah anda siapa orang yang berdiri di balik kesuksesan peluncuran tersebut? Nama Wernher Magnus Maximillian von Braun mungkin bukan nama yang familiar di telinga kita. Meski demikian, tanpanya, Armstrong dan Aldrin mungkin tidak akan pernah menginjakkan kakinya di bulan. Sebab Braun merupakan sosok yang berdiri di balik kesuksesan pendaratan pertama manusia di bulan tahun 1969 tersebut.  Von Braun-lah penggagas dan perancang pesawat Apollo 11. Meskipun ia seorang ilmuwan yang menonjol akibat proyek pendaratan di bulan, von Braun tidak pernah sekalipun meninggalkan Tuhan dalam penelitiannya. Dia adalah salah satu dari sekian banyak ilmuwan lain yang menentang aliran rasionalis ilmiah dan teori evolusioner. Von Braun memandang Alkitab sebagai “pernyataan hakikat dan kasih Allah”. Ia  menulis: “penerbangan ruang angkasa yang berawak adalah suatu prestasi yang menakjubkan, tetapi sampai sekarang ia hanya membuka pintu yang kecil untuk melihat ruang angkasa yang sangat luas. Suatu pengamatan dari lubang intip ini, seharusnya meneguhkan iman kita akan kepastian adanya Penciptanya”.

Selain Armstrong dan Von Braun, masih ada banyak para penjelajah dunia yang mengukir prestasi yang sangat membanggakan dan menajubkan. Saya dan anda juga mungkin salah satu orang yang pernah mengukir prestasi yang membanggakan itu. Namun, pertanyaannya adalah: Apakah semua prestasi itu membuat kita lebih dekat dengan Tuhan atau makin jauh dari Tuhan? Apakah membuat kita menjadi orang yang semakin takut akan Tuhan atau justru tidak percaya Tuhan? Membuat kita menyadari bahwa prestasi itu hanyalah ‘pintu kecil’ untuk melihat dunia luas, yang seharusnya meneguhkan iman kita atau membuat kita menjadi orang yang sombong? Ingatlah bahwa ada Tuhan yang bertakhta di atas bulatan bumi dan yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

Doa: Tuhan tolong aku agar segala prestasiku tidak membuatku menjadi sombong, melainkan teguhkan imanku dan jadikan aku menjadi pribadi yang rendah hati. Sp

Rabu, 24 Februari  2010

Makhluk Tuhan paling jenius

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30).

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:

Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)

Siapa yang tidak kenal dengan Johannes Kepler, salah satu manusia paling jenius yang dicatat oleh sejarah. Hukum Kepler tentang gerakan planet adalah sumbangannya yang terbesar bagi ilmu pengetahuan. Hukum ini berdampak besar terhadap pemikiran ilmiah dan kelak menyediakan landasan bagi karya Newton mengenai gaya tarik bumi. Kepler juga memberikan banyak sumbangan lain kepada ilmu pengetahuan. Dia menemukan bintang baru (supernova), menganalisis cara kerja mata manusia, meningkatkan kemampuan teleskop, dan beberapa sumbangan dalam bidang optik. Dia memberikan sumbangan kepada matematika, termasuk cara penghitungan yang lebih cepat dan cara menentukan volume banyak benda padat dll.

Kepler meninggal dunia di Regensburg, Jerman, tanggal 15 November 1630, dalam usia 58 tahun. Hidup Kepler penuh tragedi. Ketidakbahagiaan pada masa kanak-kanaknya, tiga dari enam anaknya meninggal sewaktu masih kecil, kemudian disusul dengan kematian istri pertamanya. Kepler juga mengalami penganiayaan karena agama, sebab menolak setiap aturan buatan manusia yang bertentangan dengan Alkitab. Tapi, dalam segala penderitaan itu, Kepler tetap berpegang pada imannya kepada Allah. Meskipun karyanya demikian gemilang, dia tetap rendah hati. Keinginannya adalah, “biarlah namaku lenyap asal nama Allah Bapa dimuliakan.”

Keberhasilan apa yang saat ini anda saya raih? Kepandaian yang membanggakan, karier yang mantap, kekayaan yang melimpah, ketenaran, jabatan, atau apapun itu, namun adakah kita mampu berkata “biarlah Kristus makin besar dan aku makin kecil”? Atau jika mengutip perkataan Kepler, “biarlah namaku lenyap asal nama Allah Bapa dimuliakan.” Demikianlah seharusnya kekristenan memandang dunia dengan berbagai keberagaman tradisi, budaya, hikmat, pengetahuan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, sehingga dapat mengharumkan nama Tuhan. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, kepada Dia, dan untuk kemuliaan-Nya kekal sampai selama-lamanya.

Doa: Tuhan tolong aku agar segala keberhasilan yang aku peroleh tidak membuatku lupa diri dan meninggalkan Engkau, melainkan semakin mengasihi dan memuliakanMu, biarlah namaku lenyap dan nama Tuhan saja yang dimuliakan. Sp

Kamis, 25 Februari 2010

Melihat kehidupan secara holistik

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,  supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak  dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 1:26; 2:7)

Ketika berbicara tentang bagaimana kekristenan memandang dan harus hidup di tengah-tengah ‘dunia’, maka harus kembali kepada awal mula Allah menciptakan alam semesta. Allah menciptakan manusia sebagai ‘makhluk yang holistik’. Utuh baik jasmani dan rohani. Kata ‘gambar’ dan ‘rupa’ Allah yang dipakai tersebut ingin menunjukkan bahwa manusia adalah benar-benar makhluk ciptaan Allah yang paling unik dan istimewa dibanding dengan ciptaan-ciptaan yang lain, karena diciptakan untuk mencerminkan dan mewakili Allah. Selain itu, juga menunjukkan bahwa Allah menempatkan manusia dalam relasi rangkap tiga: antara manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan alam. Diciptakan “segambar dengan Allah” juga memiliki makna: manusia adalah makhluk yang berpribadi, makhluk social, makhluk rasional dan berintelegensia, makhluk religius, makhluk yang bermoral, makhluk yang beremosi, dan makhluk yang berkuasa atas alam.

Dalam Kejadian 2:7 menegaskan bahwa tubuh atau badan, jiwa atau roh bukan merupakan bagian atau aspek yang terpisah dalam diri manusia, melainkan mengungkapkan pribadi manusia seutuhnya. Jadi, manusia harus dilihat di dalam totalitasnya, bukan sebagai susunan yang terdiri dari berbagai bagian yang berbeda dan terpisah, tetapi sebagai pribadi seutuhnya. Implikasinya hal-hal jasmani (seperti makanan, pakaian, hal yang berkaitan dengan rumah tangga, usaha/pekerjaan, politik, social budaya dll) tidak bisa dipisahkan dari hal-hal rohani. Manusia harus melihat semua itu sebagai karunia Allah, dan menikmatinya dengan penuh tanggung jawab serta memberi syukur kepada Allah. Pelayanan gereja jangan hanya bertujuan untuk memenangkan orang-orang kepada Kristus, tetapi juga menggarap bidang-bidang seperti pertanian, social-budaya, peternakan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan aspek kehidupan manusia lainnya, sebab hal-hal tersebut merupakan aspek kehidupan manusia seutuhnya, yang harus dipergunakan untuk kemuliaan Allah.

Doa: Tuhan jadikanlah hidupku sebagai cermin kemuliaanMu, pakailah hidupku untuk melayaniMu agar bumi penuh dengan kemuliaanMu. Sp

Jum’at, 26 Februari 2010

Bhinneka Tuggal Ika

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua

dan oleh semua dan di dalam semua (Efesus 4:3-6).

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen, yang terdiri atas begitu banyak suku, adat istiadat, budaya, bahasa, ras, agama yang berbeda. Namun, ditengah pelbagai perbedaan itu memiliki sebuah semboyan yang selama ini mampu mempersatukan bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke. “Bhinneka tunggal ika”, yang berarti walaupun berbeda tetapi tetap satu jua. Sekalipun perlu diakui bahwa semangat persatuan dan kesatuan tersebut kadang-kadang ‘diciderai’ oleh beberapa kelompok dan kepentingan golongan, namun patut disyukuri sebab berkat anugerah Tuhan kesatuan dan persatuan itu hingga kini masih tetap terjaga.  Harus disadari juga bahwa kekristenan bukanlah masyarakat ‘minoritas’ kelas bawah yang tidak berarti apa-apa, tetapi merupakan bagian penting dan tidak bisa dipisahkan dari bangsa ini. Hanya, yang kadang menjadi keprihatinan adalah justru gereja yang kadang menutup diri, bahkan tidak atau kurang menjaga persatuan dan kesatuan itu. Dalam gereja sendiri muncul kelompok-kelompok, suku atau etnis yang paling besar merasa paling penting dan berkuasa, sehingga memandang rendah suku atau etnis yang lain. Atau merasa memiliki kuasa karena menjadi orang pribumi, kemudian merasa berhak untuk mengatur dan bertindak semena-mena terhadap orang lain. Bila perlu menindas kelompok suku lain yang disebut ‘perantau’.

Jelas hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kebenaran Alkitab. Dalam pelbagai perbedaan yang ada, setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup dalam kasih dan rendah hati dihadapan Allah. Mau belajar membuka diri, menerima dan mengakui kehadiran orang lain dengan perbedaan yang dibawanya. Menghormati dan menghargai perbedaan tradisi, budaya, bahasa, pengetahuan yang ada dan melihatnya sebagai anugerah Allah, yang juga merupakan bagian penting dari keutuhan ciptaan Allah. Bukankah Tuhan akan senang jika semua bangsa, suku, kaum dan bahasa datang kepadaNya, bersama berdoa, memuji, menyembah dalam satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan dan satu iman? Lalu kenapa justru kita menjadi penghalangnya?

Doa: Tuhan ampuni aku jika selama ini sikap, tutur kata, dan perbuatanku menjadi batu sandungan, dan penghalang bagi orang lain yang mau  datang kepada-Mu.  Amin.                                                                        Sp

Sabtu, 27 Februari 2010

Be a light to the world

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu  yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:14, 17)

Tentu menjadi sebuah keprihatinan bersama, jika gereja yang dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia justru bersikap memisahkan diri dengan dunia luar. Hal-hal yang rohani dinggap yang paling sacral, sementara hal-hal yang bersifat jasmani dan berhubungan dengan dunia luar adalah sekuler. Gereja merasa tidak berkewajiban untuk mengasosiasikan dirinya dengan masalah sosial-budaya, tradisi, ekonomi, masyarakat yang terpinggirkan dan terabaikan. Gereja juga cenderung berpikir adalah sangat “beresiko” bila berasosiasi dengan mereka yang najis, miskin, terpinggirkan, tertindas, pelacur, dan golongan-golongan “manusia beresiko” lainnya.  Jika demikian maka gereja telah kehilangan inti pandangan Alkitabiahnya dari Kejadian sampai Wahyu, dari penciptaan sampai penghakiman, yang mendasari eksistensi, sekaligus sebagai dasar dari kehidupan dan pelayanannya. Gereja harus menyadari bahwa mereka dipanggil untuk bersekutu, melayani dan bersaksi di tengah-tengah masyarakat, serta menjadi garam dan terang dunia. Gereja tidak boleh menutup diri dan mengabaikan masalah-masalah lingkungan hidup, kemiskinan, ekonomi, politik dan sosial-budaya yang terjadi di sekitarnya. Melainkan harus mau membuka mata, telinga dan membuka diri terhadap dunia, serta harus terus berkarya dan berupaya membangun serta mengusahakan kehidupan yang lebih baik untuk mewujudkan misi Allah di dalam dunia.

Pelayanan Yesus merupakan contoh konkrit, yang tidak hanya ditujukan pada orang tertentu, melainkan melintasi batas-batas etnis, suku bangsa, budaya dan status social tertentu. Pelayanan Yesus adalah untuk semua orang tanpa memandang perbedaan. Yesus hadir di tengah-tengah budaya manusia, orang-orang yang miskin, lemah, diperlakukan tidak adil, kurang beruntung, dimana ada orang yang ‘haus dan lapar’ disitulah Yesus melayani. Jadi, orang Kristen tidak boleh mengasingkan diri dari dunia, melainkan harus menjadi “terang” di dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa, untuk melaksanakan amanat agung Tuhan Yesus. Sebab, keterlibatan dalam berbagai bidang kehidupan bukan semata menyangkut kesejahteraan dan sikap kedermawanan, melainkan terkandung di dalam dan merupakan bagian integral dari iman Kristen.

Doa: Tuhan jadikan aku terangmu di tengah kegelapan dunia, untuk membawa bangsa-bangsa kepadaMu.                                                Sp

Minggu, 28 Februari 2010

SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG

1:22 “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?

1:32 Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.

8:5 Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu.

Amsal

Saya sangat yakin bahwa setiap kita memahami makna ungkapan – Seperti Katak Dalam Tempurung, yakni gambaran seseorang yang berkutat dengan lingkungannya sendiri, dan ia tidak pernah mengetahui dunia lain selain dunia-nya. Atau, sebutan ini tidak jarang dialamatkan kepada seseorang yang tidak mau membuka diri, dan lebih suka mendekam dalam lingkungan sempitnya.

Bila kita membandingkan dengan bacaan kita di Amsal 1:22, maka katak dalam tempurung ini boleh diumpamakan sebagai orang yang tidak berpengalaman, namun mencintai keadaannya yang seperti itu, bahkan disebutkan sebagai orang yang membenci pengetahuan, membenci pengalaman itu sendiri, dan tentu saja ia juga membenci sebuah proses pembelajaran.  Ia dengan rela hati tinggal dalam dunianya yang terbatas, ia rela seperti katak yang tidak sanggup lagi untuk meloncat ke atas ataupun ke depan. Dunia yang gelap itu menjadi area nyamannya.

Bagi saya orang seperti ini lebih malang nasib-nya dari si katak itu sendiri, karena katak tidak pernah bermaksud (dengan sengaja) untuk mengurung dirinya di dalam tempurung. Katak mencintai alam di mana ia dapat meloncat, berenang dan melakukan hal-2 yang lain.

Amsal 1:32 lebih menekankan duduk permasalahan orang-2 yang digambarkan seperti katak dalam tempurung. Bila di ayat 22 menggunakan istilah – cinta kepada keadaan – di ayat 32 ini istilah yang senada adalah keengganannya.  Ternyata yang membuat seseorang bak katak dalam tempurung adalah keengganan untuk memiliki pengalaman yang baru, keengganan untuk belajar, keengganan untuk melihat dunia luar.

Perenungan. Bagaimana caranya agar Amsal 8:5 dapat direalisasikan? Katak tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat tempurung yang mengurungnya, tetapi kita dapat melakukannya.                   jp