Arsip untuk Januari, 2011

FIREPROOF


Tema GKA Zion bulan ini adalah keluarga. Satu aspek yang penting dalam hidup setiap orang. Berkaitan dengan tema ini, ada sebuah film yang sangat baik untuk ditonton, yaitu Fireproof. Film ini diproduksi oleh tim yang sama dengan yang memproduksi film yang sangat baik: Facing The Giants (dapat dikatakan ini adalah sebuah film Kristen).
Film ini berkisah tentang sepasang suami istri – Caleb (diperankan oleh Kirk Cameron) dan Catherine (Erin Bethea) yang telah menikah selama 7 tahun. Film ini mengisahkan perjalanan kehidupan rumah tangga mereka yang ada di ujung tanduk. Tidak adanya komunikasi yang baik di antara Caleb dan Cat, serta tidak adanya rasa saling menghargai membuat keduanya merasa berada dalam neraka. Sekalipun masih serumah, tapi mereka tidak lagi berkomunikasi dengan baik, bahkan bisa dibilang komunikasi mereka dipenuhi dengan emosi, kemarahan, dan saling mempersalahkan, bahkan urusan rumah tangga pun dikerjakan masing-masing. Keduanya seperti orang asing yang berada di satu rumah. Kondisi ini membuat mereka kemudian berpikir untuk bercerai.
Caleb yang pekerjaannya adalah sebagai kapten pemadam kebakaran, kemudian mendapatkan masukkan dari seorang rekannya – Mike – yang adalah seorang Kristen. Mike menyarankan agar Caleb terus mempertahankan pernikahannya. Demikian pula halnya dengan ayah Caleb. Yang terus mendorong anaknya untuk mempertahankan pernikahan mereka. Caleb berulang kali menolak dan akhirnya ayah Caleb mengajukan suatu permohonan, agar Caleb menunda perceraiannya selama 40 hari. Ayah Caleb kemudian mengirimkan sebuah buku pedoman, yang harus dilakukan oleh Caleb selama masa 40 hari penundaan tersebut.
Isi dari buku tersebut mendorong Caleb untuk berjuang demi cinta dan pernikahannya. Pengorbanan demi pengorbanan harus Caleb lakukan. Tidak mudah bagi Caleb, karena ketika melakukannya ia tidak mendapatkan respon yagn positif dari Cat. Tapi Caleb terus berjuang melakukannya. Tapi apakah semua itu dapat mengubah hati Cat yang sudah dingin? Apalagi saat itu Cat sudah terpikat pada seorang dokter yang menawan dan perhatian padanya. Bisa dikatakan Cat sudah berada dalam kondisi berselingkuh secara emosi.
“Never Leave Your Partner Especially When In Fire!“ Ini adalah salah satu semboyan yang dipegang kuat-kuat oleh Caleb sebagai seorang pemadam kebakaran. Tapi berhasilkah dia menerapkan semboyan ini dalam pernikahannya?? Jawabannya ada di dalam film ini.
Sekalipun rasanya film ini lebih cocok ditonton oleh pasangan suami istri, tapi tidak bisa dipungkiri kalau film ini adalah yang sangat bagus, yang rasanya sayang untuk dilewatkan Banyak hal yang bisa dipelajari tentang cinta dan pernikahan di dalamnya. Nilai-nilai seperti saling menghargai, saling berkorban, dan bagaimana cara berkomunikasi dapat kita saksikan dalam film ini. Istimewanya lagi film ini bukan hanya bicara soal perjuangan cinta, tapi juga bicara mengenai kasih Tuhan.
By: Ev. Monika King

Gembala Februari 2011


Langkah-langkah Saat Teduh

Sebelum bersaat teduh, siapkanlah diri Anda. Fokuskan diri, sediakan waktu yang cukup dan carilah tempat yang nyaman bagi Anda untuk bersekutu dengan Tuhan. Ikutilah langkah-langkah berikut:
Berdoalah dengan sengenap hati untuk meminta pimpinan Tuhan.

Bacalah firman Tuhan yang menjadi bahan perenungan hari ini.
Bacalah berulang-ulang sampai bagian itu meresap dalam pikiran Anda.
Renungkanlah nats tersebut dengan mengajukan beberapa
pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa saja yang kubaca? Peristiwa apa? Siapa? Adakah kaitannya dengan nats-nats sebelumnya?
2. Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nats tadi: janji, peringatan, teladan, dst?
3. Apa responku? Adakah hal-hal spesifik dalam hidupku yang disoroti oleh firman tersebut? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?

Bandingkanlah hasil renungan Anda dengan bahan yang Anda
gunakan dalam bersaat teduh (gembala, atau bahan yang lain). Ini akan mempertajam dan memperkaya pemahaman Anda.
Berdoalah agar Tuhan memimpin Anda untuk melakukan firman
dan membagikannya kepada orang lain.

Tema-2 khotbah mimbar Minggu yang kemudian dijabarkan dalam renungan Gembala pada bulan Februari ini adalah:

06/02/2011
Keluarga Utuh – Gereja Tangguh
Disadari atau tidak, bahwa gereja sebagai perhimpunan orang-2 percaya sesungguhnya juga merupakan himpunan dari keluarga-2, di mana lembaga Allah yang terkecil inilah yang memegang peranan signifikan terhadap kekuatan & kesehatan sebuah gereja
13/02/2011
Berkat Tuhan Berbasis Keluarga
Dapat dikatakan Alkitab mencatat berkat-berkat Tuhan yang diberikan kepada umat-Nya selalu terkait dengan keluarga. Dan keluarga juga menjadi obyek berkat Tuhan ketika ada seseorang yg hidup sungguh di hadapan Tuhan
20/02/2011
Menghargai Kekurangan Pasangan
Keluarga yang Tangguh bukanlah keluarga yang setiap anggotanya tidak memiliki kelemahan; melainkan sebuah keluarga yang berani menerima kekuarangan pasangan namun rela menutupi dan saling memperlengkapi demi keutuhannya
27/02/2011
Aku & Kepribadianku
Setiap manusia diciptakan unik oleh Tuhan dan masing-2 memiliki kepribadian yang berbeda, dan justru keperbedaan inilah yang membuat manusia menjadi dirinya sendiri (walaupun banyak orang ingin menjadi orang lain). Bagaimana kita dapat menerima orang lain dalam keperbedaan seperti ini dan dapat saling membangun dan melayani satu dg lainnya

Ilustrator : Victor E. Layata
Kontributor : Andreas Sugianto, Pdt. Fatieli Daeli, Ev.
Henny Purwoadi, Ev. Jenik Purwoadi, Pdt.
Jhonatan, Ev.

Selasa, 01 Februari 2011

GAMBARAN YANG TERABAIKAN
SUAMI   ISTRI

5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. (Efesus)

P
andangan umum tentang hubungan suami istri adalah hubungan yang saling mencintai dan mengasihi, saling memperhatikan dan saling menghargai. Menghormati pasangan dan menerima perbedaan panggilan untuk menjalankan fungsi dalam rumah tangga. Seolah-2 bila kita telah menunaikan tanggung jawab itu maka akan memetik hasilnya, yakni keluarga yang bahagia, khususnya berkenaan dengan hubungan kedua insane yang disebut sebagai Suami & Istri. Kebenaran ini tidak hanya kita temui dalam lingkaran kekristenan, namun keyakinan yang lain-pun menekankan hal yang sama, sehingga kebahagiaan rumah tangga dapat dinikmati semua orang. TIDAK SALAH bila kita berusaha mengejarnya dan memeliharanya.
Pertanyaan yang harus kita renungkan adalah, apakah memang keluarga dirancang dan dibentuk oleh Tuhan hanya untuk maksud seperti ini saja? Tidak adakah maksud Tuhan untuk mendesign keluarga? Mengapa Paulus mencoba menjelaskan kualitas hubungan suami istri dan mengkaitkan dengan urusan jemaat & Kristus? Apakah ini hanya sebuah analogi (penggambaran) saja, yang tidak ada urusannya dengan masalah pemaknaan hubungan antara suami   istri dan Kristus   jemaat? Atau, sesungguhnya di dalam keluarga mengemban muatan misi, hubungan yang dibangun horizontal (suami – istri) memberikan gambaran konkrit tentang bagaimana hubungan seseorang dengan Allah? Gamblangnya, mungkinkah seseorang memiliki hubungan yg intim dg Tuhan sementara hubungan suami-istri –nya kurang baik? jp

Rabu, 02 Februari 2011

GAMBARAN YANG TERABAIKAN
SUAMI   ISTRI

28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. (Efesus)

S
ebagai seorang pelayan Tuhan yang dipasrahkan kehidupan jemaat, nampaknya 50% lebih pelayanan yang dilakukan berada di sekitar keluarga, bahkan lebih dari angka tersebut. Ada kalanya urusan orangtua  anak yang menjadi topic pembicaraan; ada kalanya tentang hubungan mertua dan menantu, yang selalu rindu untuk “disehatkan” dari penyakit pikiran negative; ada kalanya juga membahas hubungan suami dan istri. Yang mengherankan bila berbicara tentang hubungan ini, masing-2 pihak selalu mengaitkan bahwa dirinya kurang mendapatkan perhatian yang proporsional dan pasangan yang egois & mementingkan diri sendiri. Karena diri sendiri merasa tidak diurus oleh pasangannya, maka mulai mengurus diri sendiri dan mengabaikan/meninggalkan pasangannya, dan mempersilahkan pasangan mengurus dirinya sendiri. Ruwet juga ya!
Bila saja pasangan yang bermasalah ini mencoba mengerti, memahami dan melakukan firman Tuhan yang menjadi perenungan kita? Sangat besar kemungkinan mereka akan menemukan solusi perselisihan di antara mereka yang memperdebatkan siapa memperhatikan siapa, siapa mengurus siapa, apalagi bila berpikir bahwa memperhatikan & mengurus merupakan beban tersendiri. Firman Tuhan ini menawarkan paket 2 in 1, antara menuntut dan dituntut merupakan satu paket yang dapat dikerjakan bersama dan saling mempengaruhi. Simak saja, Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Dengan kata lain, barang siapa yang “menuntut & mengharapkan” pasangannya mengasihinya, maka kasihilah pasangannya itu, atau barang siapa yang senantiasa mengasihi pasangannya, maka ia-pun akan mendapatkan kasih dari pasangannya. Sebelum seseorang menuntut kasih dari pasangannya, tuntutlah dahulu diri sendiri untuk mengasihi pasangannya, maka ia akan mendapatkannya

DOA Biarlah kami belajar mengasihi pasangan kami dengan tulus. Amin jp

Kamis, 03 Februari 2011

GAMBARAN YANG TERABAIKAN
ORANGTUA   ANAK

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur)

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kolose)

S
ebagai orang-2 percaya, sadar tidak sadar kita telah dan selalu menggunakan istilah dan sebutan keluarga untuk mengungkapkan hubungan yang kita bangun di dalam dan kepada Tuhan. Misalnya, kita menyebut orang-2 percaya dengan istilah saudara seiman. Seseorang yang membimbing kita disebut dengan bapak rohani atau kakak rohani, sebaliknya ada adik rohani dan anak rohani. Demikian halnya kepada Tuhan, kita memanggil-Nya Bapa. Sebuah panggilan yang akrab dan intim, dan memiliki kedekatan yang tidak dapat kita bayangkan bahkan memiliki hubungan secara khusus karena adanya pertalian yang membuat IA menjadi Bapa kita, dan kita sebagai anak-2Nya. Pemazmur mengumpamakan TUHAN sebagai Bapa yang sayang kepada anak-2Nya. Bukan hanya itu, Allah menyatakan diri-Nya sebagai Allah Tritunggal dalam hubungan Allah Bapa dan Anak (Yesus Kristus).
Pdt. Eddy Leo dengan pengajaran Hati Bapa mencoba mendalami hubungan ini, yang tentu saja ada kait mengkaitnya dengan relasi yang kita bangun terhadap anak-anak kita. Figur kita sebagai bapak secara jasmani bagi anak-2 kita akan membrikan kesan yang dalam bagi anak-2 kita membangun pengenalan mereka kepada Allah sebagai Bapa. Bila kita melakukan tugas kita dengan baik sebagai bapak jasmani, maka kurang lebih seperti itulah kesan pertama anak-anak dalam mengenal Allah sebagai Bapa (Tentu saja melalui proses waktu dan pertumbuhan Iman anak-2 ini akan mengenal secara pribadi siapakah Allah itu. Allah sebagai Bapa yang tidak dapat dibandingkan dengan bapak kita secara jasmani).
Sadarkah kita bahwa hubungan yang kita bangun dengan anak-2 kita merupakan sebuah gambaran yang sering kali kita abaikan, yakni gambaran awal bagi anak-2 kita membangun image-nya tentang Allah yang adalah Bapa? Mungkin saja ada di antara kita yang mengalami kesulitan untuk memahami kebaikan Allah sebagai Bapa yang baik, Bapa yang memperhatikan, Bapa yang menopang? jp

Jumat, 04 Februari 2011

GAMBARAN YANG TERABAIKAN
ANAK   ORANGTUA

20:12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Keluaran)

3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. (Kolose)

D
alam bimbingan pranikah tidak jarang saya mengajak pasangan untuk memikirkan kompleknya kehidupan sebuah keluarga. Banyak variable yang harus kita kemas menjadi satu, dan yang harus dipikirkan secara komprehensif. Baik itu pasangan, mertua & orangtua, saudara & ipar, teman-2 & sahabat, terutama keturunan – anak. Anak membawa berkat dan pergumulan tersendiri. Nampaknya hampir setiap keluarga pernah mempertengkarkan soal anak; bahkan mungkin bertengkar dengan anak ketika kita sedang mendidik mereka.

Minimalnya saya memiliki dua pemaknaan ketika diberikan pengalaman memiliki dan mendidik anak, yaitu:
 Dulu ketika remaja saya sulit untuk mendengar nasehat orangtua, dan menganggapnya sebagai omongan yang sulit untuk dimengerti dan dipahami, bahkan tidak perlu di dengar. Setelah saya berkeluarga dan memiliki anak-2 baru-lah saya diingatkan tentang perkataan & nasehat mereka, dan meng-AMIN-kan kebenarannya.
 Saya tidak terlalu peduli terhadap perasaan orangtua saya ketika saya bandel, tetapi sekarang saya merasakan bagaimana perasaan mereka dulu setelah saya berhadapan dengan sikap anak-2 kepada saya. Lebih dari itu, saya mencoba memahami isi hati Allah terhadap kita, khususnya ketika kita sebagai anak-2Nya ini tidak mau taat, bahkan memberontak dan mencoba lepas dari-Nya. Bukankah IA adalah Bapa kita?

Sadarkah kita, bagaimana kita menyikapi hubungan yang terjadi antara kita dengan anak-2 kita, atau dengan orangtua kita dapat menolong kita untuk menyelami lebih jauh isi hati Allah terhadap kita. IA begitu mengasihi kita, dan rela mati bagi kita anak-anak-Nya, sekalipun kita berdosa. jp

Sabtu, 05 Februari 2011

RAHASIA ALLAH DALAM KELUARGA

5:32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
Efesus

B
ulan lalu kami menaikkan syukur bersama anak-2 dalam rangka Tuhan memelihara pernikahan kami sampai tahun ke 16. Sepertinya ini masalah sepele, buktinya banyak orang yang telah mengarungi bahtera rumah tangga sampai tahun emas. Biar “kelihatannya” sepele tetapi kami tetap menganggap bahwa perjalanan rumah tangga ini adalah sesuatu yang luar biasa, dan campur tangan Tuhan pasti terjadi di dalamnya.

Berangkat untuk bertumbuh dalam cinta dengan keperbedaan yang kami miliki, dan justru ini menjadi berkat tersendiri karena kami melihat cara Tuhan memperkaya hidup kami melalui perbedaan tersebut. Sampai kami diberkati oleh Tuhan dengan anak-2 yang semua ada dalam rencana Tuhan, walaupun kami tidak merencanakan. Bukan sekedar Tuhan menugaskan kami untuk membesarkan dan mendidik mereka di dalam Tuhan, tetapi ternyata Tuhan juga “menugaskan” mereka untuk mendidik kami di dalam Tuhan. Yang paling indah ketika Tuhan memampukan dan memberi hikmat sehingga kami melihat setiap hubungan dalam keluarga itu penting dan mencerminkan hubungan kami dengan DIA, Sang Pemelihara keluarga. Dan masih banyak lagi rahasia-rahasia Allah disingkapkan melalui kehidupan keluarga.

Pada Minggu ke-3 bulan ini, kita akan membahas secara khusus tentang janji, berkat dan didikan Tuhan yang berbasis keluarga. IA memberikan amanat Agung kebudayaan dalam konteks keluarga; IA menjanjikan keselamatan-Nya dalam konteks keluarga pula, “keturunan-nya (perempuan itu) akan meremukkan kepalamu.” Seorang istri yang takut akan Tuhan maka keluarganya diberkati (Amsal 31); seorang laki-2 yang takut akan Tuhan maka istri dan anak-2nya akan diberkati (Maz.128); kehidupan orang benar maka keturunannya tidak akan pernah meminta-2 roti (Maz.37:25); penggenapan perjanjian Allah dengan Abraham diberlakukan dalam konteks keluarga – Engkau & keturunanmu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu.

Seharusnya setiap kita mengucap syukur karena memiliki Allah yang kreatif yang menitipkan rahasia-Nya yang rindu untuk disingkapkan agar kita senantiasa diberkati oleh Tuhan. Nikmatilah keluarga anda. jp

Minggu, 06 Februari 2011

KELUARGA UTUH – GEREJA TANGGUH

“Tetapi aku & seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”
Yosua 24:15

B
erbicara tentang gereja-gereja yang kuat (tangguh) maka sering kali pikiran kita akan terpusat kepada siapa hamba Tuhan-nya, apakah seorang yang visioner atau tidak, berhati bapa dan berhati gembala atau tidak; atau siapa dan bagaimana kemajelisannya, apakah mereka perpaduan yang solid antara para thinker, kaum praktisi lapangan & orang-2 yg dapat menjadi teladan di tengah-2 jemaat. Atau mungkin kita langsung melongok bagaimana system bergerejanya, apakah cukup mapan utk menggelindingkan berbagai program di berbagai jaman, ditambah dg control yg kuat & evaluasi yg akurat. Atau, menelisik kekuatan dananya shg mampu membiayai berbagai kegiatan, mulai dari yg rutin sampai ke dana utk menolong mereka yg berkekurangan.
Sementara di sisi lain, dalam lingkup dan cakupan pelayanan, ada komisi-2 yang merasa “berjasa” karena memberikan kontribusi terhadap ketangguhan sebuah gereja. Komisi Anak merasa telah mempersiapkan generasi gereja akan dating; komisi Remaja merasa telah menggarap calon pemimpin masa depan; komisi Pemuda bangga dengan predikat sebagai calon pilar-2 gereja; kelompok dewasa muda bangga karena merekalah pemegang fungsional pelayanan gereja; kaum setengah baya merasa merekalah contributor dana terkuat dalam gereja; sampai komisi lansia-pun akan mengatakan bahwa mereka-lah yang telah menabur pelayanan sehingga gereja menjadi tangguh. Dasyat bukan, tatkala setiap komisi dan bidang bangga dengan apa yang mereka kerjakan?!
Apapun yg mereka kerjakan adalah baik & patut disyukuri. Tetapi bila kita menyimak, mulai dari sekolah minggu sampai yg lanjut usia adalah bagian integral dari sebuah lembaga Allah yg disebut KELUARGA. Dari keluarga-2 kristen yang sehat-lah akan melahirkan generasi-2 yang baik, dan salah satu indicator keluarga yang sehat adalah keluarga yang menjaga keutuhannya di dalam Tuhan (bukan sekedar di depan manusia).
Sebaliknya ketahuilah, cara mudah menghancurkan gereja Tuhan adalah dg cara memporakporandakan keluarga-2 kristen ini. Terkadang iblis bekerja dg cara membuat kita bekerja & melayani dengan giat dan lupa waktu untuk pasangan & anak-2, sehingga melahirkan generasi yang membenci gereja dan pelayanan. Mau? jp

Senin, 07 Februari 2011

PERANAN LAKI-LAKI DALAM KEUTUHAN KELUARGA

128:1 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! 2 Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! 3 Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! 4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
Mazmur

U
tuh lawan katanya tercerai-berai,pecah.hari ini kita bersama merenungkan tentang peranan laki-laki dalam keutuhan keluarga. Apa itu keluarga, disebut keluarga karena ada anggotanya, orangtua dan anak. Tidak ada yang berdiri sendiri, itu berarti keutuhan sebuah keluarga melibatkan setiap pribadi, laki-laki (suami),wanita (istri), anak.

Ayat diatas sangat jelas memaparkan kepada kita tentang tanggung jawab yang besar yang Tuhan tuntut dari seorang laki-laki, karena Ia adalah kepala Istri sama seperti Kristus adalah Kepala jemaat.
Keluarga akan menjadi utuh bila sang lelaki mempunyai hati yang takut akan Tuhan, karena dari hati yang takut akan Tuhan akan menghasilkan berkat berupa,keadaan hidup (bisa kedamaian,ketenangan,atau pekerjaan,materi),isteri yang terberkati,anak-anak yang diberkati. Waouw!! Siapa yang tidak mau?

Tidak ada keluarga yang sempurna, namun kalau para pria berjalan sesuai keinginan hati Tuhan, maka akan melahirkan keluarga yang terberkati.
Seseorang ketika menikah maka biasanya keinginannya adalah untuk lebih baik,,namun dalam perjalanan berumah tangga ada saja ketidakcocokan, hal itu bukan berarti menjadikan semua berakhir, lalu kemudian kita menggunakan alasan itu untuk tidak setia pada peranan kita.

Kalau para pria menemukan ada istri yang”sulit”, tetaplah untuk setia pada Tuhan, maka apa yang menjadi bagian-Nya akan Dia kerjakan.yang pasti lebih dasyat.

Mari membawa hati terus kepadaNya, takutlah akan Dia, jangan mempertimbangkan untuk tidak setia,tapi pertimbangkanlah ketika kesetiaan itu hendak berlalu dari dirimu.
Doa: Tuhan tolonglah aku untuk menjalani FirmanMu,supaya keluargaku,istri dan anak-anakku terberkati, Amin Hp
Selasa, 08 Februari 2011

PERANAN WANITA DALAM KEUTUHAN KELUARGA

31:10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
31:30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
Amsal
I
jinkan saya mengutip beberapa kalimat yang berupa percakapan by email dari buku maksimal bukan dominan.
“agak sulit dipecaya memang bahwa seorang isteri bisa menjadi sedemikian berharga. Seringkali seorang wanita merasa paling berharga ketika ada begitu banyak pria yang berebut untuk mendapat hatinya. Bahkan ada sebagian besar wanita mendefenisikan berharga dengan kecantikan fisik dan kecerdasan.

Pernikahan seringkali dilihat oleh perempuan sebagai akhir dari keberhargaannya. Apalagi setelah memiliki anak. Seorang anak bukan saja mengubah seorang Wanita secara psikologis, tetapi juga penampilan fisiknya.tidak menarik lagi seperti dulu. Itu sebabnya seringkali wanita mudah merasa cemas dengan penampilannya. Takut tidak lagi disayang suami seperti dulu.takut tidak lagi berharga.

Penulis amsal rupanya mau menyingkirkan pemikiran yang sedemikian, karena disini jelas dia melukiskan tentang seorang wanita yang luar biasa berharganya, melebihi permata, adalah seorang wanita yang sudah berkeluarga. Justru dia menjadi begitu berharga karena melakukan tanggung jawabnya sebagi seorang istri bagi suaminya, seorang ibu bagi anak-anaknya, seorang tuan bagi pegawainya. . Waouw!!

Isteri yang takut akan Tuhan akan di puji-puji, dia tidak terlalu memerlukan banyak aksesoris,perhiasan, make up yang tebal atau mahal. Karena itu hanya tempelan, yang akan digunakan untuk penampilan dan bersifat sementara, sedangkan hati yang takut akan Tuhan akan melekat di hatinya dan akan keluar dari karakternya, cara ia menjadi istri bagi suaminya, cara ia menjadi ibu bagi anak-anaknya, bahkan cara ia berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Sungguh luar biasa.
Seorang wanita yang takut akan Tuhan, ia tidak akan mengeserkan posisi suaminya sebagai kepala, dia juga tidak akan tidak peduli dg anak-anaknya,dia akan santun pada orang lain, karena ia mempunyai hati yg takut akan Tuhan. Mari serahkan hatimu kepada Tuhan. Hp.

Rabu, 09 Februari 2011

PERANAN ORANGTUA DALAM KEUTUHAN KELUARGA

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan

S
etiap kita menyadari peranan orangtua itu tidaklah mudah.kita disebut-sebut sebagai Wakil / patner Allah bagi mereka dalam kehidupan di dunia ini. Hal ini tentu saja makin tidak mempermuda kita untuk menjalaninya. Karena ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar.
Itulah sebabnya tuntutan yang petama yang kita terima adalah berawal dari diri sendiri;meneladani Yesus.jauh sebelum kita menjadi seorang yang berkeluarga kita telah mempunyai tanggung jawab dalam menjalani hidup kita, begitupun setelah kita telah berkeluarga kita harus menjadi pasangan yang bertanggung jawab, karena ketika kita dipercayakan menjadi “orangtua”, tugas kita itu “mewakili Allah”.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan . Harus diperhatikan karena sifatnya ini “pasti”, merupakan warisan yang tidak boleh tidak harus diturunkan. Dan sifatnya long time (lama ),seumur hidup kita. Karena kalau diajarkan sekali saja itu tidak bisa,pengajaran yang harus berulang-ulang dan terus-menerus.
Sungguh Tuhan itu luar biasa segala sesuatu sudah dipersiapkan terlebih dahulu.tetapi hanya untuk mereka yang taat lah itu dapat dikerjakan.
Orangtua yang takut akan Tuhan, yang mempunyai dedikasi dalam hidupnya, kasih, akan membangun sebuah keluarga yamg kokoh dan diberkati.akan melahirkan generasi yang menjadi berkat dalam hidup mereka. Membekali dengan uang,ilmu itu bisa habis, namun tidak dengan kebenaran Firman Tuhan.itu warisan kekal yang membawa mereka pada Terang yang benar. Diberkatilah orangtua yg takut akan Tuhan. Hp.
Kamis, 10 Februari 2011

PERANAN ANAK DALAM KEUTUHAN KELUARGA

20:12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Keluaran

F
enomena anak-anak sekarang membuat banyak orangtua mengeluh dan mengeleng-gelengkan kepala mereka. Kenapa? kata para kebanyakkan orangtua: “anak-anak sekarang tidak bisa diberitahu!”. Mungkin sebagian kita membenarkan pernyataan ini.perkataan yang lain yang sering terdengar; “kalau dulu kita tidak berani dg orangtua kita, sekarang mereka sangat berani menantang kita, bahkan kalau ditegur, bukannya menunduk menunjukkan rasa salah tetapi malahan menatap kita, seolah menantang!”

Tahukah kita betapa banyak anak-anak yang juga hatinya terluka, karena mereka berpikir “kita,orangtua tidak mengenal mereka,tidak mengerti mereka!”.
Terhadap yang sedemikian apa yang akan kita katakan kepada mereka, atau kepada diri kita sendiri?!”, ketika mereka mulai mengeluh, mencaci orgtua, menjauhi dll.
Kami ketika diperhadapkan dengan situasi yang demikian, ketika ada anak-anak yang datng menyampaikan atau bercerita kepada kami, jawabannya, “bagaimanapun mereka orangtua, mereka harus di hormati”.titik , tidak ada alasan. Mereka akan menjawab “iya sih, tapi…….”,atau “loh tapi mereka itu,……”
Itulah sebabnya betapa penting warisan iman bagi anak-anak kita, karena keutuhan sebuah keluarga itu juga bagian dari peranan anak atau anak-anak dalam keluarga. Bila ada anak-anak yang tidak akut akan Tuhan maka mereka akan melukai orangtua mereka dan banyak orang disekeliling mereka, bahkan mereka akan melukai hati Tuhan

Mungkin tidak akan banyak anak-anak muda atau kecil yang baca renungan ini, mari kita yang membaca, siapapun kita , tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, baik dari diri kita sendiri ataupun kepada anak-anak yang Tuhan titipkan pada kita.
Kiranya kasih dan penyertaan Tuhan menolong kita untuk menjadi anak-anak yang menghormati orangtua kita bagaimanapun keadaan mereka,dan biarlah kita menjarkan kebenaran Firman Tuhan kepada mereka untuk bekal mereka bagi keturunan mereka selanjutnya,amin Hp.
Jumat, 11 Februari 2011

MENEMPATKAN TUHAN DENGAN TEPAT
DI DALAM KELUARGA

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Kolose

M
engasihi Allah dan mengenal Allah bukan suatu tindakan yang dilakukan pada hari Minggu saja. Karena Allah selalu ada di sisi kita, dimanapun kita berada, apapun yang sedang kita kerjakan Dia ada selalu bersama kita. Ia ada dalam rutinitas kita sehari-hari. Setiap detail hidup kita Allah terlibat di dalamnya.

Kebanyakkan orang akan menghargai keberadaan Allah ketika melihat pemandangan yang indah,atau suatu mujizat yang terjadi. Namun saat ini kita diingatkan Allah itu bukan sekedar Allah yang Universal, tetapi dia juga Allah secara pribadi.

Kalau kita bisa menyadari kehadiran Allah secara pribadi , maka kita juga akan merasakan kehadiran Allah dalam keluarga kita. Pertanyaannya, dimana posisi Allah?dimana kita menempatkan Dia dalam keluarga kita, dalam rumah kita?

Ketika kita menempatkan Allah dalam hal-hal detail di kehidupan keluarga, maka akan terasa luar biasa kehidupan keluarga itu. Dan tentu saja itu berdampak kepada setiap pribadi yang ada dalam keluarga. Tanpa melibatkan allah dalam hal-hal detail di keluarga, maka yang terasa adalah kebosanan, suasana yang monoton, setiap yang terjadi seolah-olah memang harus bergulir saja. Tetapi lain halnya ketika kita menyadari Allah terlibat di dalam semuanya, ada dalam setiap sudut ruangan kita, dapur, kamar mandi, ruang tidur, ruang makan, ruang keluarga, sudut rumah,sudut halaman dll.
Kalau sudah demikian maka setiap hal yang terjadi, setiap apa yang kita kerjakan akan terasa bukan hal yang umum lagi tetapi “luar biasa”!!
Ketika suami melihat istri, ketika istri melihat suami, ketika orangtua melihat anak dan anak melihat orangtua, yang ada adalah rasa syukur. Perbedaan pendapat mungkin tetap ada, namun hal yang pasti selalu ada bila Allah dilibatkan, yaitu kasih, pengampunan,saling memahami dan menjadi berkat Kiranya Tuhan menolong kita senantisa.amin hp.
Sabtu, 12 Februari 2011

MEMBANGUN BUDAYA KRISTIANI DALAM KELUARGA

6:2 supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. 8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan

M
embangun itu sesuatu yang di mulai dari bawa, ada dasarnya ada struktur bangunannya, ada bangunan yang didirikan. Untuk membangun yang paling utama adalah dasarnya, dasar yang kokoh maka akan ada bangunan kokoh yang berdiri di atasnya.
Untuk meliki keluarga Kristiani yang takut akan Tuhan, kita harus memulai dari dini, didasari akan kebenaran Firman Tuhan, di kokohkan dengan doa-doa, dibangun dengan kasih.

Bagaimana caranya kita membangun budaya Kristen dalam keluarga kita? Firman Tuhan menjelaskan kepada kita dimulai dari orangtua yang mempunyai hati takut akan Tuhan, lalu kemudian di turunkan kepada generasi berikutnya dengan membicarakan tentang Tuhan, mengajarkan tentang Tuhan, dalam segala situasi, ketika membicarakan tentang sekolah, tentang teman bergaul mereka, tentang masa depan mereka, bahkan ketika menegur mereka, selalu menyertakan Firman Tuhan. Namun ingat bukan sebagai hakim yang menghakimi tetapi dinyatakan dengan hikmat Tuhan. Caranya? Tentu saja melalui diri kita terlebih dahulu yang harus memiliki hubungan dengan Tuhan secara pribadi. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, ketika Ia berfirman maka Ia akan memampukan kita untuk sanggup melakukannya. Apakah kita mau? Mari jadikan itu menjai budaya hidup kita, yaitu Tuhan, bukan yang lain, bukan menurut Sang motivator A atau B, sang penulis A atau B tapai apa yang Tuhan Firmankan. Dan FirmanNya itu sempurna adanya. Amin Tuhan memberkati kiita senantiasa. Hp
Minggu, 13 Februari 2011

Berkat Tuhan Berbasis Keluarga
128:4 Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
Mazmur

K
eluarga menjadi bagian yang penting dalam gereja. Paling tidak inilah yang dibahas dalam khotbah di minggu terakhir bulan Januari. Bulan ini kita mengangkat tema seputar gereja dan hari ini kita membahas tentang “Berkat Tuhan Berbasis Keluarga”. Dari tema ini kita akan melihat signifikansi keluarga dan pribadi-pribadi yang ada dalam keluarga tersebut. Pada hari yang pertama ini, saya ingin mengajak kita untuk melihat seorang pria sebagai kepala keluarga. Ayat yang kita baca di atas mengindikasikan hal tersebut. Dikatakan berbahagialah setiap orang yang takut akan Tuhan. Dalam beberapa terjemahan memang tidak dituliskan dengan jelas gender orang yang takut akan Tuhan. Akan tetapi apabila kita telisik lebih dalam khususnya budaya yang berkembang dalam tradisi budaya Yahudi maka dapat dikatakan orang yang takut akan Tuhan ini adalah laki-laki. Institusi keluarga yang dibentuk oleh Allah menjadikan laki-laki sebagai kepala keluarga dan ditinjau dari tema kita maka dapat kita katakan bahwa seorang kepala keluarga yang takut akan Tuhan dan yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhanlah yang akan mendapatkan berkat. Berkat yang hanya bukan untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk seisi rumahnya. Seorang suami atau seorang ayah yang takut akan Tuhan, akan membawa seisi rumahnya untuk datang kepada Tuhan dan taat kepada Tuhan. Seorang suami atau seorang ayah yang takut akan Tuhan, akan membawa mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran kepada seisi rumahnya. Seorang suami atau ayah yang takut Tuhan akan menjalankan peranannya sebagai seorang imam dengan benar.
Perenungan:
• Sebagai seorang suami atau ayah, apakah Anda sudah melakukan peran Anda dengan benar? Sudahkah seisi rumah Anda menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan? Sudahkah seisi rumah Anda, dibawa dekat pada Tuhan?
Saudaraku, maukah Anda memiliki keluarga yang diberkati oleh Tuhan? Marilah tetapkan hati Anda untuk menjadi seorang laki-laki yang menjalankan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan kepada Anda sebagai seorang imam dalam keluarga. Percayalah bahwa berkat Tuhan akan turun atas keluarga Anda ketika keluarga Anda menjadi keluarga yang takut akan Tuhan hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada keluarga. Amin. Jho
Senin, 14 Februari 2011

Ayah yang Berdoa
1:5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
Ayub

R
enungan kita pada hari ini memperlihatkan kepada kita tentang sosok teladan seorang ayah yang menjalankan perannya sebagai imam dengan baik. Ayub, tentunya nama tokoh ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Mungkin selama ini kita hanya mengetahui sosok Ayub sebagai seorang tokoh yang berhasil melewati ujian hidup yang tidak mudah dan ia berhasil melaluinya. Kitab Ayub ini adalah kitab yang berakhir dengan happy ending. Dalam kitab ini Ayub diperkenalkan sebagai seorang yang orang saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Kalau kita perhatikan ayat yang di atas maka kita bisa melihat sosok ayah seperti apakah Ayub ini. Ia adalah seorang ayah yang sangat memperhatikan kehidupan keluarganya. Dia sangat memperhatikan kehidupan anak-anaknya bukan saja tentang kehidupan keseharian mereka bahkkan kehidupan rohani mereka. Hal ini dapat kita ketahui dari apa yang dilakukan oleh Ayub seusai anak-anaknya berpesta. Sebagai orang kaya, anak-anak Ayub sering melakukan pesta di rumah mereka. Mereka mengundang saudara-saudara yang lain dan teman-teman mereka. Mereka makan dan minum menikmati kesenangan mereka. Melihat hal ini, Ayub sebagai seorang ayah yang takut akan Tuhan dan yang menjauhi kejahatan memanggil anak-anaknya dan menguduskan mereka serta memohonkan ampunan dari Tuhan atas anak-anaknya. Ia mempersembahkan korban dan meminta ampun atas diri semua anaknya. Ayub tidak ingin anak-anaknya hidup di dalam dosa dan mengalami kebinasaan akibat dosa tersebut.

Saudaraku, sebagai seorang ayah kita harus memperhatikan kehidupan anak kita bukan saja dalam hal jasmani tetapi rohani. Adakah kita menjadi ayah yang mengajarkan kebenaran bagi anak-anak kita? Adakah kita menjadi ayah yang mengingatkan anak-anak kita untuk menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan? Adakah kita menjadi ayah yang mendoakan anak-anak kita? Mari ikuti teladan Ayub sehingga kita pun bisa membawa anak-anak kita semakin dekat pada Tuhan. Amin, Jho
Selasa, 15 Februari 2011

Lupa Peran = Kegagalan
2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN, 2:29b… mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?
1 Samuel
K
isah ini boleh kita katakan sebagai kita yang ironis. Kenapa? Bagian ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga seorang imam yang dipilih untuk melayani Tuhan di tengah-tengah bangsa Israel. Imam Eli melakukan tugas keimamannya dengan baik di tengah-tengah bangsa Israel tetapi ia gagal melakukan tugasnya sebagai imam di tengah-tengah keluarga. Buktinya adalah dari ayat yang baca di atas. Dikatakan bahwa anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila. Kata “dursila” di sini mengandung makna jahat, berdosa. Bahkan yang lebih parah lagi dikatakan mereka tidak mengindahkan TUHAN. Frasa “tidak mengindahkan TUHAN” dalam beberapa terjemahan dituliskan mereka tidak mengenal TUHAN, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang TUHAN. Alangkah ironisnya karena anak seorang imam yang mengajarkan tentang Tuhan kepada umat tetapi anak-anaknya sendiri tidak mengenal Tuhan yang diajarkan oleh ayahnya kepada umat Israel. Oleh karena itulah tidak heran kita memukan mereka melakukan dosa-dosa yang sangat-sangat mendukakan hati Tuhan. Pada ayat 13-16 dituliskan dosa mereka adalah mengambil lemak binatang persembahan yang seharusnya dipersembahkan dulu kepada TUHAN. Ayat 22 menuliskan bahwa mereka melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan yang melayani di kemah pertemuan. Sebenarnya apa yang terjadi dalam keluarga ini sehingga anak-anak Eli berbuat perbuatan yang mendukakan TUHAN? Jawabannya adalah karena Eli lupa akan peranannya di tengah-tengah keluarga. Ia melayani dan mengajarkan tentang TUHAN kepada umat tetapi ia lupa mengajarkan apa yang diajarkannya itu di dalam keluarga. Ia tidak juga menjadi orang yang tidak menghormati Tuhan tetapi ia lebih menghormati anak-anaknya. Ia tidak takut pada Tuhan tetapi ia lebih takut kepada anak-anaknya.

Saudaraku, mari kita bercermin dari kisah ini. Jangan kita menjadi seperti imam Eli yang lupa tugasnya karena itu berakibat fatal bagi keluarga kita. Jangan lupa untuk terus membicarakan tentang Tuhan dalam keluarga kita sehingga anak-anak kita pun akan menjadi anak-anak yang mengenal Tuhan, takut akan Tuhan, menghormati Tuhan dengan cara menjauhi kejahatan. Amin. Jho
Rabu, 16 Februari 2011

Berkat Tuhan = Kebahagiaan Dalam Keluarga
128:5 Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, 128:6 dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!
Mazmur
2:31 Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu.
1 Samuel
D
ari firman Tuhan yang kita baca hari ini, kita mendapatkan bahwa takut akan Tuhan itu mendatangkan berkat dalam kehidupan keluarga. Dalam renungan sebelumnya saya menuliskan bagaimana akhirnya Tuhan memberkati keluarga Ayub dengan kebahagiaan. Ia mendapatkan kembali segala sesuatu yang menjadi miliknya mula-mula. Dan bukan hanya itu, ia mendapatkan kekayaannya 2 kali lipat dari sebelumnya. Keluarga dipulihkan kembali. Ia mendapatkan tujuh anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Bukan hanya itu, ada berkat lain yang diberikan yaitu kecantikan kepada ketiga anak perempuan Ayub. Keluarga Ayub berakhir dengan kebahagiaan karena Ayub adalah seorang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

Lain halnya dengan keluarga imam Eli. Ketidak hormatannya kepada Tuhan membuatnya kehilangan berkat atas jeluarganya. Ketidak takutannya kepada Tuhan membuatnya harus menerima konsekuensi yang sangat menyesakkan hati. Eli harus menerima kenyataan bahwa anak-anaknya yaitu Hofni dan Pinehas mati pada saat orang Filistin merebut Tabut Perjanjian (ps. 4). Eli harus menerima kenyataan bahwa ia mati tanpa pernah menjadi seorang kakek (2: 31). Eli harus menerima kenyataan bahwa kaumnya habis sehingga ketugas keimaman pun berakhir dari kaumnya. Bukan anak-anaknya yang menajdi imam menggantikan dia yang sudah tua, tetapi Samuel mengambil alih tugas tersebut. Bahkan Eli sendiri pun harus mati. Eli mendapatkan semuanya itu karena ia tidak takut dan tidak menghormati Tuhan.

Saudaraku, rasa takut dan hormat kepada Tuhanlah yang menjadi kunci kebahagiaan di dalam keluarga. Rasa takut dan hormat kepada Tuhanlah kunci untuk mendapatkan berkat dalam keluarga kita. Oleh karena itu, sebagai kepala keluarga yang dipercaya oleh Tuhan marilah kita membangun rasa takut dan hormat ini. Jangan sampai kita kehilangan berkat Tuhan oleh karena kelalaian dan ketidaktaatn kita. Amin. Jho
Kamis, 17 Februari 2011

Penolong yang Sepadan

2:18. TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Kejadian
31:10. Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 31:11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. 31:23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.
Amsal
S
etelah kita membahas panjang lebar mengenai peranan seorang laki-laki sebagai imam dalam keluarga maka sekarang kita beralih kepada pribadi yang juga tidak kalah penting peranannya di dalam keluarga yaitu istri. Di dalam grand design penciptaan yang dibuat oleh Tuhan bagi seorang perempuan adalah sebagai ezer atau penolong yang sepadan bagi seorang laki-laki. Seorang penolong yang seharusnya menjadi pendukung bagi seorang untuk menjadi seorang imam yang menjalankan peranannya dengan baik. Amsal 31: 10-31 adalah gambaran seorang istri yang menjalankan perannya di tengah-tengah keluarga. Seorang istri yang bukan saja memikirkan kepentingannya sendiri tetapi juga kepentingan suami dan anak-anaknya. Seorang istri yang tidak menjadi perongrong bagi suaminya tetapi menjadi seorang penolong yang sepadan. Hal ini membuat suaminya pun percaya kepadanya dan suaminya tidak kekurangan keuntungan sedikitpun. Anak-anaknya pun memuji dia karena dia adalah seorang ibu yang bukan saja cantik tetapi penuh dengan hikmat dan menjaga bibirnya dari ucapan-ucapan yang tidak perlu diucapkan. Apa yang dilakukan oleh sang istri ini bukan saja menjaga dirinya tetapi ia menjaga kehormatan suaminya. Pada ayat 23 dituliskan bahwa suaminya dikenal di pintu gerbang ketika ia duduk dengan tua-tua negeri. Yang artinya suaminya juga dihormati orang lain.

Saudaraku, seorang istri mempunyai peranan yang cukup besar dalam kehidupan kita para suami. Mari kita mendukung para istri untuk menjalankan peran mereka dengan baik. Hai istri-istri, ketahuilah bahwa Anda dipanggil untuk menjadi penolong bagi suami Anda. Anda tidak dipanggil untuk membawahi suami Anda tetapi untuk menolongnya sehingga peran yang dipercayakan kepadanya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Marilah kita suami dan istri saling mendorong satu sama lain sehingga grand design yang telah ditetapkan Allah di dalam keluarga dapat terealisasi dengan baik dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin. Jho
Jumat, 18 Februari 2011

Istri yang Peduli Keluarga

25:2. Ketika itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang itu sangat kaya: ia mempunyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Ia ada di Karmel pada pengguntingan bulu domba-dombanya.25:3 Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb.
1 Samuel

K
isah ini mungkin sudah tidak menjadi kisah yang asing lagi bagi kita. Dalam kisah ini diceritakan tentang seorang kaya yang bebal yang bernama Nabal. Dia adalah seorang kaya yang sangat kasar dan jahat kelakuannya. Pada saat Daud dan pasukannya melarikan diri dari kejaran Saul yang ingin membunuhnya, Daud mengirimkan utusan kepada Nabal untuk meminta belas kasihan dari Nabal agar mereka diberikan bekal makanan karena persediaan makanan mereka telah menipis. Nabal bukan saja menolak untuk mengabulkan permintaan Daud tersebut bahkan ia menghina Daud. Perbuatan Nabal ini membuat Daud marah dan dia mengambil keputusan untuk memusnahkan Nabal dan seisi rumahnya. Ternyata perbuatan Nabal ini diketahui oleh Abigail dan sebagai seorang istri yang bijak dan sangat mengasihi keluarganya, ia mengambil tindakan untuk menyelamatkan keluarganya dari rencanan pembinasaan yang telah dirancangkan Daud untuk keluarganya. Tanpa sepengetahuan suaminya Nabal, Abigail pergi menemui Daud dan membawa makanan yang dibutuhkan oleh Daud dan pasukannya. Baca dan renungkan baik-baik ucapan Daud dalam ayat 32-35. Apa yang dilakukan oleh Abigail ini ternyata memberikan dampak yang sangat luar biasa bukan saja bagi keluarganya tetapi juga bagi Daud sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh Abigail ini melindungi keluarganya dari kebinasaan dan mencegah Daud melakukan perbuatan dosa.

Saudaraku, ketika kita membaca kisah Abigail ini, maka kita akan melihat betapa bijsaksananya Abigail dalam keluarganya. Abigail menjadi pribadi yang menjagai keluarganya dengan sebaik-baiknya. Apa yang dilakukan Abigail itu mendatangkan berkat bagi keluarga, orang lain dan dirinya sendiri. Kisah ini menjadi kisah happy ending di mana Abigail akhirnya menjadi istri Daud setelah Nabal meninggal dunia.

Perenungan: Sudahkan Anda para istri menjadi istri-istri yang mengasihi keluarga dan menjaga keluarga Anda dengan sebaik-baiknya? Amin. Jho
Sabtu, 19 Februari 2010

Berkat Tuhan Atas Rumah Tangga yang Beribadah
119:9. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Mazmur
B
erkat Tuhan atas keluarga akan terjadi apabila semua orang yang ada di dalamnya hidup takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Mulai dari ayah sebagai imam dalam keluarga, istri sebagai penolong yang sepadan sampai pada anak. Itulah sebabnya tidak heran kita menemukan perintah untuk mendidik anak yang diberikan Tuhan kepada para orangtua orang Yahudi ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang ke tanah Kanaan. ulangan 6: 5 tentunya sudah tidak asing lagi bagi setiap kita. Inilah yang diajarkan pada orang tua hangsa Israel kepada anak-anak mereka supaya mereka akhirnya menjadi seperti yang dituliskan dalam Mazmur 119: 9 di atas. Ada tahapan pendidikan yang menjadi kebiasaan dari orang Israel. Usia 0-12 tahun, seorang anak secara mutlak berada dalam tanggung jawab pengawasan dari orang tuanya. Lalu usia 12 tahun, ia akan dikirimkan ke sinagoge dan sepenuhnya ia menjadi tanggung jawab imam yang melayani di sinagoge sampai dia dewasa. Suatu proses pendidikan yang sedemikian rupa sehingga anak-anak tersebut menguasai hokum Taurat yang diajarkan oleh rabi mereka. Bukankah contoh ini yang kita saksikan dalam diri rasul Paulus? Kalau kita bertanya, dari manakah ia mendapatkan semua pengajaran tersebut kalau bukan dari proses pembelajaran yang didapatkannya dari sejak dia kecil sampai dewasa.

Saudaraku, anak-anak adalah titipan yang diberikan Tuhan kepada kita. Tuhan memberikan mereka kepada kita supaya kita menjagai dan merawat mereka dengan baik. Bukan saja kebutuhan jasmani yang kita perhatikan tetapi juga kebutuhan rohani dari anak-anak kita. Pendidikan kerohanian di rumah sangatlah penting. Bangunlah kerohanian bersama-sama. Jadilah keluarga yang takut akan Tuhan dan yang menjauhi kejahatan. Mungkin kita bertanya, HOW? Mulailah dengan mezbah keluarga yang di dalamnya kita bersama memuji Tuhan, membaca firman bersama, berdoa bersama. Jangan berkecil hati dan minder karena mungkin sebagai orangtua kita tidak bisa bernyanyi dengan benar. Mungkin kita takut tetapi singkirkan semuanya itu karena dampak yang akan kita dapatkan sangatlah besar. Dan bukan hanya itu saja, berkat Tuhan pun sedang menanti untuk setiap kita. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memulainya dan marilah bentuk anak-anak kita menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan, menajuhi kejahatan serta menjadi anak yang menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Amin. Jho

Minggu, 20 Pebruari 2011

Serupa tetapi tak sama

1: 27,” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.”
Kejadian

D
i masa sekarang ini, beberapa pasangan acap kali merasa bahwa hal-hal yang mereka nikmati bersama saat berpacaran tidakk cukup kuat untuk mempertahankan hubungan mereka selanjutnya. Kesamaan hobi mendengarkan musik Beatles dan Elvis Presley, mungkin membawa kegembiraan pada masa pacaran. Namun lima tahun kemudian, ketika anak-anak mereka masih kecil menjerit-jerit minta perhatian, Beatles tidak akan berarti lagi.

Namun sebanyak apapun kesamaan mereka, suatu pasangan pasti punya perbedaan. Kerap kali perbedaan dapat mempererat pernikahan. Namun, sebaliknya perbedaan terkadang justru menambah persoalan.

Kalau kita membaca bagaimana perpedaan pasangan tokoh-tokoh dunia, seperti Johann dan Magdalena Bach, Jonathan dan Sarah Edwards, Adoniram yang keras kepala dan Ann Judson yang mandiri, dalam banyak hal mereka memiliki kesamaan, baik latar belakang keluarga maupun kegemaran.

Namun, betapa berbedanya mereka. Namun, justru perbedaan itu yang membuat pernikahan mereka begitu berhasil. Perbedaan tidak bisa dihindari karena Tuhan mennciptakan manusia itu unik satu dengan yang lainnya. Alkitab mengungkapkan bahwa Allah menciptakan manusia, yakni laki-laki dan perempuan. Berbeda jenis kelaminnya, dan perbedaan ini berpengaruh kepada bidang kehidupan lainnya. Jadi yang perlu dilakukan adalah bagaimana memaksimalkan perbedaan itu agar menuju kepada saling melengkapi, lebih sempurna dan indah ? fd

Senin, 21 Pebruari 2011

Persahabatan dalam kebersamaan

1: 27,” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.”
Kejadian

F
rancis dan Edith Schaeffer adalah penulis yang hebat dan terbesar pada abad ke-20. Tiga puluh buku hasil karya mereka telah terjual jutaan eksemplar. Pertama sekali mereka bertemu pada Minggu sore, saat mereka sama-sama tersinggung oleh perkataan pria muda yang berkhotbah tentang “ Bagaimana saya tahu Yesus bukan Anak Allah.”

Setelah pria muda itu selesai khotbah, lalu ada kesempatan bertanya yang diberikan kepada setiap pendengar. Edith Schaeffer langsung mengajukan pertanyaan karena tersinggung dengan apa yang diungkapkan oleh pengkhotbah. Lalu kemudian Francis juga mengajuga pertanyaan yang hampir sama dan dengan perasaan yang sama, yakni karena tersinggung dengan ungkapan bahwa Yesus bukan Anak Allah.

Selesai kebaktian mereka bertemu dan berkenalan. Perasaan tidak senang Yesus dikatakan bukan Anak Allah dan sama-sama berjuang mempertahankannya, membuat mereka semakin akrab, pacaran, lalu kemudian menikah. Selama membangun rumah tangga itulah mereka saling menopang satu dengan lainnya, sehingga mereka dapat menghasilkan karya yang begitu terkenal.

Memang ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya, tetapi kita sama dalam hal diciptakan Allah serta diberikan mandat “manaklukan bumi.” Artinya, melalui mandat ini Allah mau kita sama-sama, satu dengan yang lainnya bekerja untuk mengerjakan pekerjaan Allah di bumi ini selama hidup kita. fd

Selasa, 22 Pebruari 2011

Mengungkapkan perasaan

10: 19,” Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”
Amsal
S
uatu sore, sewaktu suaminya pulang kerja, bu Nani menyambut suaminya dengan mesra. Setelah sang suami mandi dan duduk-duduk sambil menikmati teh hangat yang disediakan serta menonton TV, bu Nani mendekati suami sembari bertanya bagaimana keadaan di kantor. Belum banyak tutur kata yang keluar dari mulut sang suami, bu Nani terus ngerocos untuk melaporkan tentang perasaannya karena kucing memecahkan piring, pembantu yang susah di atur, anak yang tidak mau nurut, dan seambrek peristiwa yang di alami sepanjang hari ini. Tetapi seolah suaminya tidak peduli karena kecapean.

Akhirnya, kemarahan ibu Nani memuncak kemudia berkata dengan kasar,” Memangnya saya ngomong seperti ayam berkotek, tidak diperhatikan, tidak di dengar? Lalu suami juga marah dengan mengatakan,” Kamu wanita yang tidak mengerti keadaan orang lain, yang hanya ngomong tok!”

Hasil riset para ahli Psikolog mengungkapkan bahwa perempuan sering kali ingin bercerita secara panjang lebar dan cukup mendetail. Itulah sebabnya perempuan ( rata-rata ) bicara banyak. Rata-rata mengucapkan 25. 000 kata per hari, 45-60 menit perhari lamanya perempuan bicara. Sedangkan laki-laki hanya 15-20 menit setiap minggu. Suatu hal yang sangat kontras dengan lawan bicaranya.

Dengan kondisi yang demikian, terbuka kemungkinan lebih besar bahwa wanita bisa melukai pasangannya dengan kata-kata. Atau bisa saja mengatakan hal-hal yang tidak berkenan, seperti dalam cerita di atas. Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan kita anak-anakNya agar lebih banyak mendengar dari pada berkata-kata. Sebab dengan demikian kita lebih bijak. fd

Rabu, 23 Pebruari 2011

Tidak berani memikul tanggung jawab

20: 2, 11,” Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, isterinya,” Dia saudaraku,” maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara. Lalu Abraham berkata,” Aku berpikir: takut akan Allah tidak ada di tempat ini, tentulah aku di bunuh karena isteriku.”
Kejadian

A
braham terkenal dengan sebutan “Bapak orang beriman,” tetapi di dalam bagian firman Tuhan yang kira baca memaparkan bagaimana Abraham menjadi takut karena isterinya Sara. Memang Alkitab mencatat bahwa Sara sangat cantik. Hal inilah yang membuat Abraham menyembunyikan hubungan dia dan Sara yang sebenarnya sebagai suami-isteri, agar tidak terbunuh oleh orang-orang yang iri kepadanya karena memiliki isteri secantik Sara.

Secara Psikhologi, ada orang yang punya kelemahan yakni cari aman saja, tidak berani mengambil resiko. Itulah yang terjadi kepada Abraham, sehingga menimbulkan masalah yang cukup serius: isteri kesayangannya di ambil orang. Memang Alkitab tidak menjelaskan apakah mereka bertengkar. Tetapi jelas, di dalam keluarga ini pasti timbul masalah.

Keadaan semakin runyam karena Sara sepertinya oh….oh saja.
Bersyukur, Allah tidak tinggal diam. Ia turut tangan agar perjanjianNya tetap terlaksana. Semestinya Sara berpegang pada satu kebenaran, pada Janji Allah sehingga ia melengkapi suaminya yang lemah dan tentu tidak akan terjadi peristiwa yang memalukan serta menyedihkan ini. Keluarga utuh, jika saling melengkapi di dalam kekurangan dan kelebihan. fd

Kamis, 24 Pebruari 2011

Pria Yang Macho

2: 10,”Tetapi jawab Ayub kepadaNya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.
Ayub

M
ungkin bapak ibu pernah melihat tayangan TV7, yang memperlihatkan suami-suami yang takut terhadap isteri. Perhatikan salah satu dari suami yang takut isteri itu berpenampilan macho, berotot, tinggi besar. Sangat ideal sebagai kepala kelarga yang melindungi. Tetapi ketika isterinya bicara, suami ini tidak berkutik. Apalagi kalau dia kedapatan salah, misalnya selingkuh, telinganya dijewer dan teriak-teriak seolah tidak berdaya. Badan macho tapi mental loyo.

Mungkin kita berkata bahwa itu hanya tayangan TV, tetapi sebanarnya terjadi di dunia nyata kehidupan. Ada suami yang tidak berdaya dihadapan isteri. Sehingga kalau isteri salah, isteri mengatur dengan tidak tepat, suami tidak berani berbuat apa-apa. Tentu kemungkinan besar keluarga ini bisa terjerumus di dalam kehidupan hancur.

Ayub di dalam bagian firman Tuhan yang kita baca di atas, melakukan hal yang sangat kontras. Di tengah-tengah dia mau belajar bertekun dalam penderitaan mengikut Tuhan, isterinya punya usul yang sangat tidak wajar, yaitu mengutuki Allah. Ayub berkata dengan tegas untuk menolak usul yang tidak wajar itu, walaupun fisiknya sudah lemah digerogoti penyakit barah dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tetapi Ayub tetap memilki mental dan iman yang kuat. Pria ideal kebanggaan Tuhan. Pria yang bisa menjaga keutuhan keluarga sehingga tidak masuk ke dalam lembah kehancuran. fd

Jumat, 25 Pebruari 2011

Wanita Bijak

4: 24-26,” Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar membunuhnya. Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian di sentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: “Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.” Lalu Tuhan membiarkan Musa. “ Pengantin darah ,” kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu.
Keluaran

W
anita bijak yang dimaksud di sini, bukanlah karena telah mengikuti acara wanita bijak dan di nyatakan lulus. Bukan juga karena telah mendapat gelar S1, S2 atau mungkin SS lainnya. Tentu juga wanita yang katanya kepenuhan roh lalu berbahasa roh. Tetapi wanita yang bertindak bijak di kala suami, keluarga mengalami sesuatu hal yang bisa merugikan bahkan bisa menghancurkan kelurganya.

Itulah yang di lakukan Zipora, isteri dari pada Musa. Karena Musa berdebat dengan Allah ketika ia di utus membebaskan bangsa Israel dari Mesir, maka Allah murka. Di tengan jalan menuju Mesir, waktu mereka bermalam, Allah mau membunuh Musa. Zipora melindungi Musa dengan dengan mengambil kulit khatan anak mereka dan menyentuhnya dengan kaki Musa sehingga Musa selamat. Wanita yang sangat bijaksana, yang sensitif melihat kekurangan, kendala terlebih berani bertindak demi adanya jalan keluar di dalam permasalahan yang ada.

Pada jaman yang edan ini, dibutuh wanita-wanita yang demikian. Wanita yang tidak hanya bersolek. Wanita yang tidak hanya suka berpelesiran ke mall. Tetapi wanita yang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Yang sangat memperhatika kekurangan suami serta berikhtiar menutupinya dengan tindakan yang tepat. fd

Sabtu, 26 Pebruari 2011

Menjembatani Perbedaan

Kej. 1: 27,” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah di ciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan di ciptakanNya mereka.”
Kejadian

Secara garis besar boleh di katakan bahwa dalam percakapan, perempuan lebih menginginkan terciptanya perasaan dekat dan harmonis. Perempuan membutuhkan pengakuan, ingin di mengerti dan di terima. Dalam percakapan dengan suaminya, sering kali bercerita panjang lebar dan cukup mendeteil. Tetapi suami menginginkan hal yang lebih praktis, sehingga tidak sabar mendengar cerita istrinya, lalu memotong pembicaraan. Hal ini bisa di salah tafsirka isteri sebagai penolakan. Dengan demikian konflik sangat mungkin terjadi.

Sewaktu menghadapi persoalan, wanita lebih senang membicarakannya, sedangkan laki-laki lebih senang menarik diri dan berdiam diri. Bagi perempuan bercerita dengan orang lain merupakan ekspresi adanya keterikatan dan mendengarkan merupakan suatu tanda adanya ketertarikan dan kepedulian. Berbagi rasa dan bertukar informasi merupakan dasar yang paling fundamental dari keintiman perempuan. Tetapi isteri yang ingin menceritakan masalahnya dengan mendeteil dianggap suami sebagi orang yang cerewet dan tidak dewasa. Di lain pihak, suami yang berdiam diri dianggap sebagai orang dingin dan tidak menganggap isterinya. Maka terjadilah konflik.

Untuk itu suami perlu bersabar, belajar mendengar dan tidak memotong pembicaraan. Isteri perlu belajar menerima perbedaan pola komunikasi dan belajar berpikir baik-baik sebelum berbicara. Isteri perlu belajar membedakan antara berbagi rasa dengan mengomel. Berbagi rasa penting bagi perempuan, tetapi suka mengomel sama sekali tidak dibenarkan. Hal ini juga ditegaskan dalam sabda Tuhan. Keperbedaan kita jembatani dengan saling mengalah. Kalau tidak, akan terjadi konflik. fd

Minggu,27 Februari 2011

MEMBANGUN KEUTUHAN KELUARGA

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:5-6).

P
ersoalan-persoalan dalam keluarga memang tidak pernah bisa habis untuk dibicarakan. Satu persoalan belum selesai, sudah muncul persoalan lain, dan selalu berkaitan satu dengan yang lain. Tatkala masalah ini semakin rumit, masing-masing pribadi mulai membangun zona aman untuk dirinya sendiri dan cenderung memojokkan dan menyalahkan anggota keluarga yang lain. Akibatnya suasana di rumah menjadi tidak nyaman dan saling curiga, padahal mereka yang tinggal di dalam rumah adalah anggota keluarga sendiri.

Persoalan inipun semakin rumit tatkala masing-masing pribadi sudah sangat “dingin” dalam berelasi, berinteraksi dan berkomunikasi. Tinggal seatap namun merasa asing dengan anggota keluarga lainnya. Suami istripun mulai mencari tempat tidur sendiri-sendiri alias pisah kamar. Alasan yang dipakaipun sederhana, yaitu untuk menenangkan diri. Pada puncaknya, masing-masing pribadi akan mempunyai pikiran untuk melepaskan diri dari pasangannya, yaitu ingin CERAI ! Alasan yang dipakaipun sangat ringan, yaitu sudah tidak ada kecocokan.

Ketika pikiran cerai sudah ada di benak masing-masing pribadi, maka sangat sulit untuk mencari jalan pemulihan, sebab masing-masing pribadi sudah membentuk “zone aman” untuk dirinya sendiri. Padahal tatkala ia menikah, itu adalah pilihannya sendiri. Bahkan Firman Tuhanpun mulai diabaikan dan digantikan dengan sejuta alasan. Pikiran dan sikap demikian harus dijauhkan dari benak dan ranah berpikir kita. Belajarlah untuk mengampuni, mengerti, menerima meskipun itu sangat sulit. Bukan karena kita bisa, namun Tuhan yang memampukan. “Ya Tuhan, jagailah keluarga kami, agar kami tetap bersatu dan memuliakan nama-Mu” AS

Senin, 28 Februari 2011

MEMBANGUN KEUTUHAN KELUARGA (2)

Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. (Mat 19:7-8)

P
ersoalan tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan baik tatkala kita hanya diam atau mendiamkan masalah itu. Kadang harus kita akui bahwa kita “agak sungkan” atau “sudah bosan” untuk membicarakan masalah yang sedang mengganjal. Dan dampaknya, masalah-masalah ini akan seperti “api dalam sekam” yang sedang menunggu waktu untuk benar-benar terbakar dan menghanguskan lainnya.

Kita sering mendiamkan dan tidak membicarakan karena merasa bahwa mereka akan mengerti dan tahu dengan sendirinya atas kesalahan yang sedang dilakukan. Namun ternyata tidaklah demikian, banyak orang tidak tahu kesalahan yang dibuatnya (tahupun kadang malah bersikap tidak mau tahu) dan terus melakukan kesalahan yang sama. Tidak heran, persoalan yang terus dibiarkan pada waktunya dapat meledak, bagai “bom” yang menghancurkan segalanya. Misalnya, ada keluarga yang nampak baik, hangat dan harmonis namun secara mengejutkan mereka berpisah (bercerai) yang membuat heran banyak orang.

Kekerasan sikap hati bukan saja ditunjukkan dalam hal tidak mau mengalah, namun juga tidak pernah membicarakan secara terbuka di dalam terang kuasa Firman Tuhan. Hampir setiap persoalan tidak pernah diselesaikan dalam doa dan hikmat Tuhan, artinya melihat persoalan dari sudut pembentukan Tuhan. Padahal ketika kita membuka hati kita pada terang Firman-Nya, maka kitapun akan diberikan hikmat ilahi untuk menyelesaikan persoalan itu bukan dari kemampuan dan kekuatan kita sendiri, melainkan pimpinan Tuhan yang membawa kedamaian. “Ya Bapa, lembutkanlah hatiku untuk mengasihi dan mengampuni” AS

Keluarga Utuh, Gereja Tangguh. Aku Begini… Engkau Begitu…

KELUARGA UTUH, GEREJA TANGGUH
AKU BEGINI… ENGKAU BEGITU…
1 Korintus 7:3-4; 1 Petrus 3:1-7
By Pdt. Andreas Sugianto

Kata alm Broery Pesolima dalam lagunya yang terkenal “aku begini… engkau begitu… sama saja” menyatakan bahwa sering kali sebuah hubungan menjadi retak karena masing-masing pihak terlalu kuat dalam mempertahankan “keegoisan diri” dan tidak mampu untuk menyelami dan melihat kebutuhan orang lain. Memang harus kita akui, keretakan dan kehancuran sebuah keluarga terjadi karena masing-masing pribadi (suami atau istri) tidak mau mengalah dan merasa diri yang paling benar. Komunikasi yang diharapkan dapat menjadi jembatan dalam menyelesaikan beberapa persoalan ternyata tidak mampu memberikan solusi yang baik, malah sebaliknya saling menyakiti dan menghina. Hal ini terjadi karena dalam komunikasi ternyata tidak nyambung, sang suami menghendaki A, sementara pasangannya menghendaki yang B, dan hasilnya C yaitu “cheos” (kekacauan).
Komunikasi tidak nyambung karena komunikasi yang terjadi adalah komunikasi “monologis” di mana si pembicara tidak lagi mau mendengar dan melihat secara obyektif apa yang terjadi dengan lawan bicaranya. Misalnya seorang istri menjadi marah besar dan tidak mendasarkan kemarahannya pada sesuatu yang nyata terhadap berita yang didengar dari orang lain tentang perilaku suaminya dan tidak mau melihat alasan yang mendasar. Ketidak nyambungan terjadi karena masing-masing berbicara dalam pihak yang merasa benar dan lawan bicaranya dianggap salah, demikian juga sebaliknya.
Hal yang cukup mendasar yang sering kita lupakan adalah bahwa sebenarnya antara pria dan wanita ada perbedaan dalam hal melihat segala sesuatu dan khususnya dalam menilai dan menentukan sikap terhadap apa yang dilihat atau didengar atau dialaminya. Bagi seorang pria mungkin apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasakan adalah sesuatu yang kecil, sederhana, tidak perlu dipikirkan lebih lanjut, dan cenderung “easy going” saja, namun ternyata tidak demikian dengan kaum perempuan yang justru melihatnya sebagai sebuah persoalan yang serius dan tidak bisa disepelekan. Jika salah satu pihak tidak memahami hal ini dan tidak melihat segala sesuatu secara obyektif, maka yang terjadi adalah pertengkaran.
Ketidakjelasan komunikasi yang berdampak pada ketidak-nyambungan berbicara adalah akar dari sebuah masalah yang tidak boleh dianggap sepele. Misalnya, bagi seorang suami yang sedang pergi keluar kota dalam waktu yang cukup lama dan bagi dirinya ketika sedang melakukan tugas pekerjaan adalah segalanya maka ia tidak menelpon istrinya. Mungkin bagi sang suami, berpikir bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak perlu repot telpon istrinya. Namun ternyata tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh sang istri, ia merasa kuatir dan cemas apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya. Lalu muncullah pikiran-pikiran yang negatif terhadap suaminya dan anda dapat menebak bagaimana berikutnya ketika mereka sedang berkomunikasi.
Dalam hal inilah seharusnya kedua belah pihak dapat saling memahami kebutuhan pasangannya dan mengkomunikasikan dengan baik dan benar. Memahami perbedaan adalah kunci untuk menyatukan sebuah hubungan. Dalam hal ini setiap pihak harus mampu menempatkan dirinya pada orang lain (pasangannya) demikian juga pasangannya mampu menempatkan dirinya pada pasangannya yang sedang berbicara kepadanya sehingga komunikasi dapat nyambung.
PERBEDAAN PERANAN SUAMI DAN ISTRI
Dalam kitab Kejadian 1:27 menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Artinya gambaran Allah ada pada diri manusia saja dan bukan pada ciptaan lainnya. Manusia adalah gambar Allah yang mencerminkan kemuliaan Allah. Disinilah setiap manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah gambar Allah. Lalu Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan.
Dalam Kejadian 2:18, 21 menyatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan menjadi satu pasangan yang seimbang. Allah mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah pasangan yang sepadan, dimana keduanya dapat saling melengkapi, menopang dan menumbuhkan. Kesepadanan bukan berarti antara laki-laki dan perempuan menjadi sama dalam segala hal, kesepadanan tetap menyatakan adanya perbedaan, dan di dalam perbedaan itulah keduanya dapat menjadi sepadan.
Secara riset memang ditemukan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan (secara fisik memang sudah berbeda). Perbedaan itu bukan semata-mata perbedaan fisik dan penampilan saja. Misalnya tulang tengkorak dan kulit tubuh laki-laki lebih tebal dari perempuan, sel darah merah dan jaringan-jaringan tubuh laki-laki yang 20% lebih banyak dari perempuan. Meskipun dengan tubuh yang kelihatan agak lemah, namun ternyata perempuan mempunyai daya tahan lebih besar terhadap panas dan dingin bahkan pada umumnya berumur lebih panjang daripada laki-laki.
Perempuan mempunyai paru-paru yang lebih kecil, tetapi perut, hati dan ginjal yang lebih besar daripada laki-laki. Perempuan mempunyai kebutuhan komunikasi verbal yang lebih besar daripada laki-laki (perempuan rata-rata mengucapkan 25.000 kata per hari dan laki-laki setengahnya). Sebuah riset dilakukan di New York terhadap pasangan-pasangan usahawan dan usahawati menemukan bahwa istri-istri mempunyai kebutuhan bicara dengan suaminya rata-rata 45-60 menit setiap hari, sedangkan suami-suami merasa cukup antara 15-20 menit setiap minggunya. Dikatakan sejak kecil bayi-bayi perempuan mempunyai gerakan-gerakan mulut yang lebih banyak daripada bayi laki-laki.
Allah menciptakan laki-laki berbeda dengan perempuan, oleh karena Allah mempunyai maksud dan tujuan yang agung dalam penciptaan. Perbedaan –perbedaan itu adalah untuk saling melengkapi karena mereka menjadi pasangan yang sepadan. Laki-laki dipanggil untuk menjadi “kepala” dan perempuan sebagai “penolong”nya. Dalam hal ini kita harus melihat bahwa Allah menetapkan suatu pola dalam tujuan sebuah pernikahan yang tidak didasarkan pada prasangka bahwa laki-laki lebih baik dan lebih mampu daripada perempuan. Allah menciptakan laki-laki menjadi “kepala” bukan oleh karena ia yang mencari nafkah, atau lebih kuat otot-ototnya atau lebih tinggi pendidikannya. Namun penetapan Allah adalah penetapan yang didasarkan pada kebijaksanaan dan kemahatahuan-Nya (kedaulatan Allah) saja. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan segala keunikan dan kodratnya masing-masing adalah Allah yang mempunyai rencana di balik semua karya penciptaan.
Seorang suami harus menghidupi panggilannya menjadi kepala dan istri menjadi penolong adalah merupakan suatu proses yang panjang dan membutuhkan penyangkalan diri secara terus menerus. Artinya baik laki-laki maupun perempuan harus dapat mengerti panggilan dan kewajibannya untuk dapat saling menumbuhkan. Inilah keunikan pernikahan Kristen yang terus menerus bergumul untuk mengerjakan rencana Allah atas hidup mereka, khususnya dalam pernikahan. Seorang suami tidak akan pernah mengerti panggilan Allah di balik keringat yang diperasnya setiap hari jikalau ia belum berada dalam proses menghidupi panggilannya sebagai kepala. Demikian juga dengan istri, tidak mungkin dapat memahami panggilan Allah di balik tugas rutinnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga jikalau ia belum berperan sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya.
Jadi sangat tepat apa yang ditulis oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:3-4 yang kita baca “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya” Singkatnya, seorang suami harus menjalankan panggilannya menjadi kepala sama seperti Kristus yang menjadi kepala bagi gereja-Nya, di mana Ia rela menyerahkan diri-Nya untuk jemaat yang dikasihi-NYa. Suamipun demikian, harus dapat memberikan rasa aman bagi isterinya yang adalah penolong yang sepadan bagi dirinya. Istripun demikian dapat menjadi penolong dan memberikan dirinya untuk pertumbuhan suaminya yang adalah kepalanya.
Membangun komunikasi yang sehat; KOMUNIKASI YANG DIALOGIS
Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa pertengkaran sering terjadi karena komunikasi yang tidak nyambung antara suami istri. Komunikasi hanya bersifat monologis, yaitu percakapan yang hanya menuntut lawan bicara untuk menerima apa yang sedang ia bicarakan. Komunikasi monologis adalah komunikasi yang sebenarnya bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, dan ia hanya mau mendengar apa yang senang ia dengar dan tidak akan pernah mendengarkan apa yang orang lain (pasangannya) katakan jika tidak sesuai dengan apa yang menyenangkan dirinya.
Komunikasi monologis selalu menuntut teman bicara (pasangannya) untuk menanggalkan keunikan-keunikan identitas pribadinya, baik keunikan pikirannya, maupun identitasnya. Artinya komunikasi ini bertujuan agar lawan bicaranya menerima dan menuruti apa yang dibicarakan tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengajukan pendapat. Jika ini sering terjadi dalam komunikasi suami istri maka yang terjadi adalah tidak adanya keakraban dan kemesraan yang sejati. Inilah yang membuat seorang suami atau istri berkata “Saya malah lebih senang dan bebas berbicara dengan teman atau sahabat saya dari pada berbicara dengan suami atau istri saya” Dalam hal ini hubungan suami istri sudah mulai hambar, dan merupakan biang keributan berikutnya. Tidak menutup kemungkinan ketika ia berbicara dengan orang lain yang lebih mengerti dirinya, maka akan terjadi perselingkuhan.
Komunikasi yang sehat antara suami istri adalah komunikasi yang “Dialogis” yaitu komunikasi atau percakapan yang mau menghargai dan menerima orang lain sebagai lawan bicaranya. Komunikasi ini lebih memusatkan pada “pribadi” lawan bicara ketimbang “bahan pembicaraan” itu sendiri. Maka disini, percakapan akan lebih hidup sebab siapa yang berbicara akan selalu menghargai “perasaan” lawan bicaranya, begitu juga sebaliknya. Dalam Dialog akan terjadi “saling menumbuhkan” dan bukan “menjatuhkan”, maka komunikasi dialogis akan menciptakan kehangatan bagi suami istri dalam berbicara.
Jadi inti dari komunikasi dialogis adalah “I and thou relationship” (aku dan hubunganku dengan pasanganku) yang menuntun mereka pada “harta terpendam” kekayaan ciptaan Allah yang tak ternilai harganya, yaitu manusia seutuhnya, yang adalah peta dan gambar Allah yang kita dapatkan melalui pasangan kita.
UNSUR-UNSUR PENTING DALAM KOMUNIKASI DIALOGIS
Untuk dapat menciptakan komunikasi yang dialogis maka kita perlu memperhatikan unsur-unsur yang perlu kita kembangkan. Unsur-unsur ini membutuhkan kerelaan hati kita untuk melakukannya. Ada 4 unsur penting, yaitu;
1. Listening
Listening adalah kesediaan kita untuk mendengar apa yang betul-betul mau diucapkan. Kita cenderung untuk menjawab atau mengeluarkan kata-kata tanpa kita mengerti secara utuh apa yang kita dengar dan kita langsung berbicara. Kadang keduanya sama-sama berbicara tanpa pernah mau mengalah untuk sejenak mendengar apa yang diucapkan. Maka yang terjadi, persoalan semakin rumit, tidak jelas dan kehilangan inti persoalan. Komunikasi menjadi terhambat dan merusak relasi karena merasa tidak diperhatikan atau tidak dihargai.
2. Empaty
Empaty adalah kerelaan untuk menempatkan diri di tempat orang tersebut. Jadi ketika kita bericara kita harus memikirkan apakah yang kita ucapkan dapat melukai orang lain (pasangan) atau tidak, bagaimana jika apa yang saya katakan itu terjadi pada saya, apakah saya juga akan “sakit hati” Komunikasi akan menjadi sehat apabila kita dapat mengerti perasaan orang lain, karena itu dapat menumbuhkan orang tersebut.
3. Understanding
Understanding adalah kerelaan untuk mengerti sama seperti pengertian orang itu (lawan bicara kita). Kadang kita terlalu ngotot membicarakan sesuatu dengan orang lain dan berharap adanya tindakan, namun kita tidak menyadari bahwa apa yang kita bicarakan ternyata tidak dimengerti oleh yang bersangkutan. Dalam hal inilah kita perlu untuk memiliki kerelaan untuk mengerti dan menjadi sama dengan lawan bicara kita, khususnya dengan pasangan kita. Sejauh mana ia mengerti, dan disinilah kita membicarakan sama seperti yang ia mengerti. Sering pembicaraan kita tidak nyambung karena kita tidak tahu bahwa lawan bicara kita ternyata tidak mengerti apa yang kita bicarakan.
4. Accptance
Acceptance adalah kerelaan untuk menerima dia sebagaimana adanya. Sering kita memaksakan apa yang kita bicarakan dan meminta orang lain untuk mengerti sementara kita sendiri tidak mau mengerti orang lain. Salah satu kebutuhan mendasar dalam diri manusia adalah perasaan untuk diterima. Demikian juga dalam komunikasi, kita harus belajar untuk menerima apa yang diucapkan oleh orang lain terlebih jika kita tahu bahwa kita salah.
REFLEKSI DIRI
Pertengkaran sering terjadi karena antara suami istri tidak dapat memahami perkataan pasangannya. Komunikasi yang tidak nyambung dan “bahasa yang tidak sama” (berbicara melihat dari sudut yang berbeda) adalah sering menimbulkan masalah baru yang tidak sedikit semakin memperkeruh suasana. Ketika setiap kita menyadari bahwa memang ada perbedaan dalam cara berkomunikasi, maka kita harus belajar untuk mengerti apa yang sedang dikomunikasikan oleh pasangan kita. Salah satu cara adalah dengan “mendengar” dengan baik apa yang sedang dibicarakan.
Jadi tepat apa yang ditulis dalam kitab Amsal “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas dipinggan perak” (Amsal 25:11) dan kita harus memperhatikan apa yang juga ditulis dalam kitab Amsal “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Amsal 18:13). Hal senada ditulis oleh Yakobus dalam 1:19 “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah”
Jika kita tidak memahami bagian ini dengan baik, maka sebenarnya kita sedang menciptakan suasana yang keruh yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam rumah kita. Komunikasi yang baik, tentu akan membuat keluarga menjadi utuh dan harmonis.

Catatan: gambar diatas adalah tambahan dari redaksi, bukan dari penulis

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.